Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Buat Pemburu Lomba, Tolong Ketentuan Lombanya Dibaca dengan Saksama

Muhammad Arsyad oleh Muhammad Arsyad
29 November 2020
A A
Buat Pemburu Lomba, Tolong Ketentuan Lombanya Dibaca dengan Saksama terminal mojok.co

Buat Pemburu Lomba, Tolong Ketentuan Lombanya Dibaca dengan Saksama terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Menurut sebuah penelitian yang dikeluarkan Central Connecticut State University (CCSU), Indonesia berada di peringkat kedua dari bawah untuk urusan minat baca. Indonesia hanya mampu mengungguli Botswana di peringkat 61 dari 61 negara yang dipilih dalam penelitian tersebut. Sementara, survei lain yang dikeluarkan Program for International Student Assessment (PISA), Indonesia boleh sedikit bernapas lega karena berada di peringkat 62 dari 70 negara yang disurvei.

Akan tetapi, apa pun itu surveinya saya mantap kalau negara tercinta ini sudah betul-betul krisis minat baca. Keyakinan saya seolah bertambah setelah menyaksikan polah netizen +62 di media sosial.

Bagaimana mereka dengan gampangnya berkomentar, tanpa tahu apa yang sedang mereka komentari. Hal ini bukan hanya menjangkiti netizen yang gabut, melainkan juga para pemburu lomba, tak terkecuali pemburu lomba menulis.

Saya termasuk orang yang sampai hari ini hobi berburu lomba menulis, meski jarang sekali menyabet juara favorit. Acap kali di sebuah postingan info lomba, saya menjumpai orang yang kelihatannya effort abis di dunia menulis. Namun, dari komentarnya sama sekali tak menunjukkan bahwa ia cuma netizen biasa, atau tipikal penulis atau blogger yang malas membaca.

Memang, sih, menulis nggak harus membaca buku. Begitu pula kalau mau jadi penulis juga nggak perlu menjadi seorang kutu buku. Namun, mbok ya jangan memperlihatkan kalau males baca juga kelesss.

Apalagi yang diikuti lomba menulis. Kendati peminat lomba-lomba di luar kepenulisan juga banyak yang males baca sebenarnya. Padahal pihak penyelenggara atau admin medsos sudah terang-terangan mencantumkan segala ketentuan dan persyaratan.

Saya menduga, para pemburu lomba ketika melihat poster lebih memilih langsung tanya ke admin lewat komentar daripada membaca poster atau minimal caption. Lantaran hal itu, admin jadi kerja dua kali. Selain posting pamflet, ia juga harus meladeni pertanyaan netizen soal lomba yang di-share. Itu kalau memang lombanya dari admin yang bersangkutan, gimana jadinya jika admin itu cuma share info lomba?

Zaman sekarang banyak banget di Instagram dan Facebook, orang atau admin membagikan info lomba tapi bukan lomba yang diadakan oleh yang bersangkutan. Biasanya kiriman dari orang lain. Nah, karena itulah, kadang si admin ini atau yang membagikan juga males baca. Jadi sering menjawab pertanyaan di komentar dengan jawaban diplomatis, “Tanya ke CP saja, Kak.”

Baca Juga:

Uang Pembinaan, Kebohongan Panitia untuk Menarik Peserta Lomba

5 Alasan Tinggal Dekat Lapangan Desa Itu Nggak Enak Banget

Selain males baca, mungkin si admin itu juga kesal. Pamflet sudah jelas, caption sudah panjangnya seperti cerpen, ketentuannya lengkap, masih ada pula yang nanya. Lucunya pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakan sudah terjawab di poster atau caption.

Sering saya nemu pertanyaan di kolom komentar begini, “Hadiahnya apa ya, Min?”, “Bayar nggak lombanya?”, “Ngirim tulisannya ke mana?” Padahal di poster dan caption sudah dijelaskan. Duh, bikin saya pengin menghadapkan layar hape ke muka orang itu dan bilang, “Kie loh woconen!”

Itu bukan sekali-dua kali, tapi hampir di semua postingan info lomba. Kalau begitu terus, pekerjaan desainer pamflet jadi sia-sia. Gimana lagi ya, maksudnya dibikin poster atau pamflet itu biar info lomba jadi ringkas. Selain itu juga agar saat nge-share ke media sosial jadi lebih mudah, tanpa perlu bikin caption panjang sampai pamer diksi segala.

Saya jadi kasihan sama para admin yang membagikan info lomba. Mereka harus kerja keras supaya netizen yang males baca tapi hobinya langsung nanya itu bisa mengerti. Sayangnya, terkadang niat baik tersebut malah dimanfaatkan netizen untuk bertanya tiada henti, alih-alih mulai fokus untuk mengikuti lomba tersebut atau tidak.

Jika si admin bukan penyelenggara lomba, kemungkinan besar bakalan kesal sama orang yang tanya melulu dan males baca. Namun, keadaannya lain kalau si admin, yang menyebar pamflet lomba sekaligus menjadi panitianya. Mereka pasti senang setengah mampus ada yang antusias mengikuti lomba.

Saking senangnya, tak jarang sampai dibikinkan grup WhatsApp calon peserta lomba segala. Mungkin pikir panitia, grup WhatsApp akan membantu mengakomodir pertanyaan sehingga memudahkan untuk menjawabnya dalam satu kali mengetik pesan. Namun, membuat grup untuk calon peserta lomba bukanlah cara brilian.

Justru hal itu bisa menjadi bumerang untuk panitia. Bukannya mempermudah, panitia akan kepayahan membalas pesan anggota grup WhatsApp yang masih calon peserta lomba itu. Saya katakan calon peserta karena mungkin-mungkin saja belum sempat mengirim karya untuk diikutsertakan lomba, mereka bakal mengundurkan diri.

Di samping merepotkan panitia, dengan adanya grup WhatsApp tadi malah semakin menunjukkan bahwa para pemburu lomba ini males membaca. Pokoknya mumpung ada grup, tanya apa saja. Pertanyaan-pertanyaan soal ketentuan lomba pun akhirnya juga ditanyakan di grup. Hadehhh~

Kadang kala admin grup WhatsApp sudah menyiasatinya. Admin akan menaruh ketentuan lomba di deskripsi grup dan mengganti ikon grup dengan poster lomba. Akan tetapi, tetap saja ada yang males buat membaca deskripsi pada grup ataupun pada poster yang dijadikan ikon grup.

Indonesia kayaknya memang lagi krisis minat baca. Nggak usah terlalu berharap ada banyak orang di tanah air mau membaca Tetralogi Buru, lah wong baca ketentuan lomba yang sepele saja ogah-ogahan. Ayolah, kalau ada info lomba itu dibaca dulu ketentuannya secara detail, jangan malas!

BACA JUGA Lomba Cipta Lagu Corona dan Lelahnya Kita dengan Semua Omong Kosong Ini dan tulisan Muhammad Arsyad lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 26 November 2020 oleh

Tags: ketentuanlomba
Muhammad Arsyad

Muhammad Arsyad

Warga pesisir Kota Pekalongan, penggemar Manchester United meski jarang menonton pertandingan. Gemar membaca buku, dan bisa disapa di Instagram @moeharsyadd.

ArtikelTerkait

Lapangan desa. (Unsplash.com)

5 Alasan Tinggal Dekat Lapangan Desa Itu Nggak Enak Banget

16 Juli 2022
Lomba Gratisan di Instagram Sukses Membuat Saya Jadi Manusia yang Emosian

Lomba Gratisan di Instagram Sukses Bikin Saya Jadi Manusia yang Emosian

20 Agustus 2021
lomba video new normal pemerintah mojok.co

Daripada Kemendagri Repot Bikin Lomba Video New Normal, Mending Bikin 4 Lomba Ini

23 Juni 2020
alasan selalu kalah giveaway cara menang giveaway pengalaman tips trik mojok.co

3 Alasan yang Membuatmu Selalu Kalah Giveaway

28 Mei 2020
Lomba yang Pemenangnya Ditentukan Jumlah Like Terbanyak Itu Menyebalkan terminal mojok.co

Lomba yang Pemenangnya Ditentukan Jumlah Like Terbanyak Itu Menyebalkan

30 Oktober 2020
kompetisi liga fpl mojok berhadiah rp2 juta fantasy premiere league mojok.co lomba fpl

Liga FPL Mojok Berhadiah Rp2 Juta: Syarat dan Ketentuan Peserta

14 September 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gambar Masjid Kauman Kebumen yang terletak di sisi barat alun-alun kebumen - Mojok.co

5 Stereotip Kebumen yang Sebenarnya Nggak Masuk Akal, tapi Terlanjur Dipercaya Banyak Orang

31 Januari 2026
Lawang Sewu, Destinasi Wisata Semarang yang Nggak Perlu Diulang Dua Kali Mojok.co

Lawang Sewu, Destinasi Wisata Semarang yang Nggak Perlu Diulang Dua Kali

1 Februari 2026
Pro Tips Bikin Sate Taichan Jadi Lebih Enak (Wikimedia Commons)

Pro Tips Bikin Sate Taichan Jadi Lebih Enak: Sebuah Usaha Menghapus Cap Makanan Nggak Jelas dari Jidat Sate Taichan

7 Februari 2026
Julukan “Blok M-nya Purwokerto” bagi Kebondalem Cuma Bikin Purwokerto Terlihat Minder dan Tunduk pada Jakarta

Purwokerto Memang Kota Wisata, tapi Wisatawan Tak Diberi Petunjuk dan Dibiarkan Bingung Mau ke Mana

5 Februari 2026
Duka Menikah di KUA, Dikira Hamil Duluan padahal Cuma Pengin Hemat Mojok.co

Duka Menikah di KUA, Dikira Hamil Duluan padahal Cuma Pengin Hemat

5 Februari 2026
Harga Nuthuk di Jogja Saat Liburan Bukan Hanya Milik Wisatawan, Warga Lokal pun Kena Getahnya

Saya Memutuskan Pindah dari Jogja Setelah Belasan Tahun Tinggal, karena Kota Ini Mahalnya Makin Nggak Ngotak

3 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti
  • Surat Wasiat Siswa di NTT Tak Hanya bikin Trauma Ibu, tapi Dosa Kita Semua yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak
  • Tak Menyesal Ikuti Saran dari Guru BK, Berhasil Masuk Fakultas Top Unair Lewat Golden Ticket Tanpa Perlu “War” SNBP
  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.