Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

5 Alasan Tinggal Dekat Lapangan Desa Itu Nggak Enak Banget

Dhimas Muhammad Yasin oleh Dhimas Muhammad Yasin
16 Juli 2022
A A
Lapangan desa. (Unsplash.com)

Lapangan desa. (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Umumnya, orang mengira kalau punya rumah dekat lapangan desa itu asyik. Alasannya, kalau mau olahraga ya tinggal nyebrang atau jalan kaki. Alasan lainnya, kalau ada pertandingan sepak bola atau event lainnya tinggal duduk manis atau nonton dari rumah. 

Nah, sebagai orang yang tinggal di rumah dekat lapangan desa selama dua dekade, tidak berlebihan rasanya menyebut bila saya sudah kenyang pengalaman. Pengalaman ini akan membuat kalian menyadari bahwa sesuatu yang sekilas mengasyikkan secara lahiriah belum tentu menenteramkan secara batiniah.

Berikut beberapa kemungkinan terburuk yang akan kalian alami selama tinggal di rumah dekat lapangan desa.

#1 Berisik

Bila kalian adalah tipe yang membenci keramaian, sebaiknya segera buang jauh-jauh impian untuk tinggal di rumah dekat lapangan desa. Bagi saya, lapangan adalah pusat peradaban. Di sana ada lomba, pertandingan, pelatihan, atau segala sesuatu yang berlangsung secara kolosal. Ada juga kerumunan hewan ternak, seperti kambing dan sapi, yang turut menyemarakkan lapangan.

Setiap pagi, kalian akan mendengarkan keriuhan anak-anak dari berbagai sekolah yang mengikuti pelajaran olahraga. Setiap siang, kalian akan mendengarkan pikuk orang-orang yang menjemur batik, gabah, atau organisasi tertentu yang lagi latihan diksar. 

Setiap sore, kalian akan mendengarkan ingar-bingar orang-orang dari berbagai kampung yang bermain dan berolahraga. Bahkan setiap malam, kalian akan mendengarkan raungan orang-orang yang berlatih bela diri dan nyinyiran orang-orang yang nongkrong.

Belum lagi kalau saat ada pasar malam. Di tempat saya, pasar malam digelar setahun sekali selama dua minggu di lapangan desa. Di sana, kalian akan benar-benar merasakan kombinasi antara suara genset, musik dengan sound system nyaring, sorak-sorai para pengunjung, dan wahana permainan. Gabungan suara itu tidak sekadar menggetarkan jendela rumah, tapi juga gendang telinga dan mood kalian.

Setiap ada event ini, saya selalu mendengar keluhan khas dari orang-orang sekitar. Ada yang sambat karena nonton televisi sampai nggak kedengaran suaranya. Ada yang pekewuh karena tamunya berkunjung ngobrol jadi nggak nyaman. Ada yang jengkel karena bayinya nangis terus nggak bisa tidur. Ada pula yang pasrah karena jalan di depan rumahnya terdampak lokasi pasar malam.

Baca Juga:

Rumah Dekat Lapangan Padel Adalah Lokasi Tempat Tinggal Paling Nggak Ideal

5 Hal yang Perlu Diperhatikan Pemula Sebelum Ikut Kelas Pilates selain Persiapan Uang

Bayangkan dampak dari event yang sekilas tampak mengasyikkan dan temporal ini. Ada yang sampai ngungsi ke rumah saudara atau kerabatnya. Ada yang sampai beli alat penutup telinga. Ada yang kamarnya sampai direnovasi, diberi peredam ala studio musik. Ada pula yang sampai rumahnya dikontrakkan atau dijual. Jadi, sebegitu besar, kan dampaknya tinggal dekat lapangan desa.

#2 Jadi penanggung jawab kebersihan jalan dan selokan

Bila kalian pembenci persampahan, sebaiknya segera pendam dalam-dalam impian untuk tinggal di dekat lapangan desa. Ada kerumunan, berarti ada yang jualan. Ada barang yang dijual, berarti ada pula sampah yang dihasilkan. 

Lapangan desa tidak sama dengan stadion yang selalu sedia tempat sampah. Kalian akan menjumpai manusia-manusia tanpa dosa di sana: membuang sampah sesuka hati.

Kalian pikir sampah-sampah plastik itu hanya akan berdiam diri dengan rerumputan di lapangan? Kalian lupa bahwa di dunia ini masih ada angin. Ia akan menerbangkan sampah hingga mendarat di jalan, selokan, halaman, hingga teras rumah.

Pernahkah terpikirkan oleh kalian bahwa saat membuka pintu rumah, justru sampah-sampah plastik yang menyambut? Kalian pikir orang-orang sekitar atau ketua RT acuh tak acuh saja melihat mereka berserakan di selokan atau jalan depan rumah? Ya, orang-orang ini akan sibuk mengkritik seolah-olah kalianlah pelakunya. Kebersihan selokan dan jalan depan rumah adalah tanggung jawab pemilik rumah tersebut.

Bayangkan kalian yang seharusnya pagi hari duduk manis di teras rumah sambil menikmati sarapan. Kalian yang seharusnya sore hari gegoleran di sofa atau kasur sepulang kuliah atau kerja. Rupanya kalian masih mempunyai satu pekerjaan rumah konyol: membereskan kekacauan yang tidak pernah kalian lakukan. Membagongkan juga, kan jadinya.

#3 Jadi sasaran bola atau layangan nyasar

Bila kalian pembenci kebrutalan, sebaiknya segera luluh lantakkan impian untuk tinggal di dekat lapangan desa. Kebetulan rumah saya berada di sebelah barat daya gawang. Artinya, rumah saya termasuk rawan akan serangan bola nyasar.

Masih mending bolanya menerjang tembok, pintu, atau gerbang. Lah kalau yang kena sampai tanaman, kaca jendela, dan genting? Pernah, rumah saya kena bola nyasar sampai-sampai bagian atas pagar besi yang runcing itu putus. Bolanya tetap utuh nggak gembos, tapi pagarnya malah ambyar. Busyet, itu bola karet apa meriam, sih?

Lalu, layangan nyasar. Terkadang ada masanya saya geleng-geleng sendiri. Kok bisa, ya lapangan segitu luasnya, tapi masih ada saja layangan nyangkut di kabel listrik atau atap rumah. Saya membayangkan kalau mereka lagi main layangan di padang rumput Afrika. Badainya pasti sangat brutal hingga banyak layangan yang terempas keluar jalur.

Masih mending orangnya itu tipe manusia legawa yang mengikhlaskan layangannya bersarang di rumah. Lah kalau orangnya itu tipe manusia yang ambis? Mereka biasanya menarik paksa layangannya. Masih mending kalau yang jatuh layangannya. Lah kalau yang jatuh malah gentingnya? Waduh, bisa berabe tuh.

Bayangkan kalian yang lagi asyik mandi sore, tiba-tiba gerbang kalian digedor-gedor oleh orang-orang asing. Lalu, mereka mengendap-endap masuk ke halaman rumah mengambil bola atau layangannya yang nyasar.

Ada juga, loh beberapa kasus yang malah orangnya nyuruh-nyuruh sang pemilik rumah untuk mengambilkan. Mereka yang bikin ulah, tapi kalian yang harus direpotkan. Kira-kira apa makian yang lebih pantas bagi mereka selain semprul?

#4 Jadi tempat nongkrong

Bila kalian pembenci pengintaian, sebaiknya segera urungkan impian untuk tinggal di dekat lapangan desa. Kalian akan menjumpai sekelompok ABG yang nongkrong di depan rumah seolah-olah tempat itu merupakan warisan leluhurnya. Ada yang duduk-duduk di jok sepeda atau jok motor. Bahkan ada juga, loh yang sampai njereng tikar sambil bawa camilan dan minuman segala.

Saya sering menjumpai kalau mereka yang nongkrong di depan rumah nggak sekadar ngobrol. Mereka juga tampak mengamati bagian-bagian rumah. Sesekali mereka juga menunjuk-nunjuk bagian rumah. Hal ini tentu membuat saya dan anggota keluarga lainnya risih, seperti buronan yang lagi diintai oleh para intel.

Pernah pada suatu waktu saya tegur. Saya juga menyarankan mereka untuk nongkrong di tempat lainnya yang lebih lapang. Eh, malah saya dipisuhi sambil ditinggal pergi oleh mereka. Selang waktu sekitar seminggu, mereka balik lagi, kumat lagi, bikin gaduh lagi. Kadang ada yang malah nyetel musik di gadget keras-keras, sampai bawa mercon terus diledakkan di jalan atau selokan segala. Wealah…

Bayangkan kalian saat malam keluar sekadar beli sesuatu di warung atau toko. Terus mereka yang lagi asyik di depan rumah mengamati pergerakan kalian sambil terdengar casciscus. Bagi saya, kerap merasa diawasi dan dibicarakan oleh orang lain adalah hal yang paling tidak mengasyikkan.

#5 Jadi tempat parkir

Bila kalian pembenci kemacetan, sebaiknya segera angin kubur impian untuk tinggal di dekat lapangan desa. Kalian akan menjumpai deretan mobil bak dealer. Ya, mereka adalah sekelompok orang yang kebelet punya mobil, meski tak punya garasi. Mereka biasa menjadikan sepanjang jalan pinggir lapangan desa sebagai tempat parkirnya. Mereka yang tergolong manusia tanpa dosa ini juga turut menyumbangkan sampah-sampah mobilnya ke jalan.

Bayangkan kalian akan berangkat-pulang kuliah atau kerja, tapi terhalang oleh beberapa mobil yang terparkir di depan rumah. Sudah jalannya kecil, mobilnya besar, terus parkirnya nggak canggih lagi, sampai memakan badan jalan.

Belum lagi kalau pengendara yang tersendat laju kendaraannya akibat parkir sembarangan itu malah ngomelin kalian. Yang suruh ganti mobilnya, lah. Yang suruh pindahkan mobilnya, lah. Padahal, yang punya mobil mereka, tapi yang jadi sasaran amukan malah kalian. Sontoloyo, kan namanya.

Nah, itulah beberapa kemungkinan terburuk selama tinggal di rumah dekat lapangan desa. Namanya juga kemungkinan, artinya pendapat ini tidak mewakili suasana di lapangan desa secara keseluruhan. 

Kalau kalian sudah baca baik-baik dan paham atas segala konsekuensinya, saya ucapkan salam semangat dan sukses. Lagi pula, saya percaya kalau tidak ada tempat di dunia ini yang terus-terusan asyik, bukan?

Penulis: Dhimas Muhammad Yasin

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Kasta Tempat Berdiri di Lapangan Sepak Bola Tarkam.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 16 Juli 2022 oleh

Tags: lapanganlapangan desalayangan putuslombaolahraga
Dhimas Muhammad Yasin

Dhimas Muhammad Yasin

Sarjana sastra yang enggan disebut sastrawan, tinggal di Sukoharjo.

ArtikelTerkait

8 Rekomendasi Film yang Wajib Ditonton para Pencinta Gunung

4 Tipe Pendaki Toksik yang Ulahnya Bikin Geregetan

4 September 2020
Belajar Menjadi Perempuan Mandiri dari Kisah Layangan Putus

Belajar Menjadi Perempuan Mandiri dari Kisah Layangan Putus

4 November 2019
Hanya Netizen Bacot yang Ngeributin Jenis Kelamin Aprilia Manganang mojok.co/terminal

Hanya Netizen Bacot yang Ngeributin Jenis Kelamin Aprilia Manganang

11 Maret 2021
alasan selalu kalah giveaway cara menang giveaway pengalaman tips trik mojok.co

3 Alasan yang Membuatmu Selalu Kalah Giveaway

28 Mei 2020
nggak suka olahraga

Menanggapi Tulisan Kita Semua Suka Pelajaran Olahraga: Maaf Mas, Saya Nggak Suka

15 Agustus 2019
5 Hal yang Perlu Diperhatikan Pemula Sebelum Ikut Kelas Pilates selain Persiapan Uang Mojok.co

5 Hal yang Perlu Diperhatikan Pemula Sebelum Ikut Kelas Pilates selain Persiapan Uang

12 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Kuliner Terbaik Demak yang Wajib Dicicipi Setidaknya Sekali Seumur Hidup Mojok.co

5 Kuliner Terbaik Demak yang Wajib Dicicipi Setidaknya Sekali Seumur Hidup

23 April 2026
Tanda-tanda Rumah Jamet Madura, Pasti Bising dan Jadi Titik Kumpul Satria FU

Tanda-tanda Rumah Jamet Madura, Pasti Bising dan Jadi Titik Kumpul Satria FU

27 April 2026
Dibanding Surabaya dan Semarang, Jogja Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Kuliah Mojok.co

Dibanding Surabaya dan Semarang, Jogja Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Kuliah

28 April 2026
Outfit Kabupaten, Hinaan Orang Kota pada Pemuda Kabupaten yang Nggak Adil, Mereka Juga Berhak Berekspresi!

Outfit Kabupaten, Hinaan Orang Kota pada Pemuda Kabupaten yang Nggak Adil, Mereka Juga Berhak Berekspresi!

25 April 2026
Mengenal Nasi Bu’uk, Menu Tradisional Bondowoso yang Penuh Kisah, tapi Kini Dilupakan

Mengenal Nasi Bu’uk, Menu Tradisional Bondowoso yang Penuh Kisah, tapi Kini Dilupakan

25 April 2026
Satria FU Sudah Tak Pantas Disebut Motor Jamet, Yamaha Aerox lah Motor Jamet yang Sebenarnya

Alasan Mengapa Satria FU Masih Digandrungi ABG di Madura, Membuat Pria Lebih Tampan dan Bikin Langgeng dalam Pacaran

23 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • YUHU. Rilis Single Baru “Bertemu Di Sini”: Definisi Rindu Itu Bersifat Universal
  • Magang di Jakarta Terkesima Terima Gaji 2 Kali UMR saat Kerja di Jogja, Hidup Bisa Foya-foya dan Tak Menderita
  • Klaten International Cycling Festival 2026: Gowes Asyik Sepeda Klasik di Klaten bareng Pencinta Sepeda Mancanegara
  • Tidak Diakui, Harga yang Harus Saya Bayar karena Menolak Keinginan Orang Tua untuk Jadi PNS
  • Membiasakan Ngasih Tip Kurir ShopeeFood meski Kita Bukan Orang Mapan: Uang 5 Ribu Nggak Bikin Jatuh Miskin, Tapi Sangat Berarti buat Mereka
  • Kasih Tip Rp5 Ribu ke Driver Ojol Tak Bikin Rugi tapi Bikin Hidup Lebih Bermakna di Tengah Situasi Hidup yang Kacau

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.