Botok tawon memang enak. Tapi kalau suruh nyoba lagi, nggak dulu deh, saya masih sayang nyawa saya sendiri
Pengalaman ini bermula saat saya berkunjung ke rumah bude di Jawa Timur. Tujuan saya sederhana, hanya ingin bersilaturahmi dan menikmati suasana kampung yang tenang. Rumah bude berada di lingkungan yang masih asri, tetangga-tetangganya ramah, dan tradisi berbagi makanan masih sangat terasa.
Siang itu, salah satu tetangga bude datang membawa bungkusan daun pisang yang masih hangat. Aromanya harum, khas masakan kukus dengan campuran kelapa dan bumbu dapur. Saya pikir itu hanya botok biasa mungkin botok tahu atau teri yang sering saya makan. Namun ketika bungkusan dibuka, bude tersenyum dan berkata santai, “Ini botok tawon.”
Saya langsung terdiam.
Di kepala saya langsung terbayang sarang lebah yang menggantung di pohon, suara dengung lebah, dan sengatannya yang menyakitkan. Makan tawon? Rasanya seperti sesuatu yang hanya ada di acara survival atau uji nyali kuliner ekstrem.
Botok tawon cukup terkenal
Tetangga bude kemudian menjelaskan bahwa botok tawon adalah makanan tradisional yang cukup dikenal di beberapa daerah. Sarang lebah yang masih berisi larva diambil, lalu dicampur dengan parutan kelapa, bawang merah, bawang putih, cabai, dan bumbu lainnya. Setelah itu dibungkus daun pisang dan dikukus seperti botok pada umumnya.
Jujur saja, awalnya saya menolak halus. Saya bilang belum terlalu lapar. Dalam hati saya benar-benar ragu. Bagi saya yang belum pernah melihat langsung prosesnya, membayangkan makan larva tawon terasa sangat asing.
Namun suasana saat itu begitu hangat. Kami makan bersama di ruang tengah, duduk lesehan. Ponakan saya yang masih kecil justru makan dengan lahap. Dia tidak terlihat takut atau jijik. Bahkan bilang rasanya enak dan nambah lagi.
Melihat dia santai, rasa penasaran saya perlahan mengalahkan rasa takut. Saya berpikir, masa anak kecil saja berani, saya tidak? Akhirnya saya mengambil sedikit, benar-benar sedikit, sekadar untuk mencicipi.
Saat suapan pertama masuk ke mulut, saya kaget.
Rasanya ternyata…
Rasa botok tawon ternyata gurih dan lezat. Bumbu kelapanya meresap, ada sensasi lembut dari larva lebah yang justru tidak seaneh bayangan saya. Tidak ada rasa pahit atau amis berlebihan. Kalau saja saya tidak diberi tahu sebelumnya, mungkin saya tidak akan langsung sadar sedang makan sarang lebah.
Di situ saya merasa prasangka saya runtuh. Ternyata tidak semua makanan yang terdengar ekstrem benar-benar menakutkan. Banyak kuliner tradisional yang lahir dari kearifan lokal dan memanfaatkan sumber protein alami di sekitar.
Saya memang tidak mengambil banyak, hanya beberapa suap. Tapi cukup untuk mengatakan bahwa saya sudah pernah mencoba. Kami pun melanjutkan makan siang dengan obrolan santai dan tawa.
Malam harinya, tubuh saya mulai terasa gatal. Awalnya saya pikir hanya digigit nyamuk. Tapi lama-lama muncul bentol merah di tangan dan kaki. Semakin lama semakin banyak dan menyebar ke leher. Rasanya panas dan gatal sekali.
Saya panik karena belum pernah mengalami seperti itu sebelumnya. Setelah berpikir-pikir, kemungkinan besar itu reaksi alergi dari larva tawon yang baru pertama kali saya konsumsi. Ponakan saya baik-baik saja, bude juga tidak kenapa-kenapa. Sepertinya hanya tubuh saya yang kurang cocok.
Jangan asal menilai
Saya akhirnya minum obat antihistamin untuk meredakan biduran. Bentolnya memang tidak sampai menyebabkan sesak napas atau kondisi serius, tapi cukup membuat saya tidak bisa tidur nyenyak. Sepanjang malam saya sibuk menggaruk dan mencoba menahan rasa gatal.
Keesokan paginya, tetangga yang memberi botok tawon merasa tidak enak setelah tahu saya biduran. Tapi saya sama sekali tidak menyalahkan siapa pun. Itu murni reaksi tubuh saya sendiri. Setiap orang punya respons berbeda terhadap makanan tertentu.
Dari pengalaman itu saya belajar beberapa hal. Pertama, jangan langsung menilai makanan tradisional hanya dari namanya. Botok tawon mungkin terdengar menyeramkan, tapi rasanya ternyata enak dan penuh cita rasa. Kedua, penting mengenali kondisi tubuh sendiri. Mencoba hal baru memang menyenangkan, tapi kita juga harus siap dengan kemungkinan reaksi yang tidak terduga.
Namun jika ditanya apakah saya mau makan lagi, saya akan jawab dengan lantang: nggak, prei dulu.
Meski lidah saya mengakui kelezatannya, kulit saya memberikan jawaban berbeda. Dan pengalaman semalaman penuh bentol merah sudah cukup menjadi kenangan yang tidak akan saya lupakan.
Penulis: Intan Permata Putri
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA 5 Kuliner Ekstrem yang Bisa Dijumpai di Surabaya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.















