Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kuliner

Botok Tawon, Makanan Unik Jawa Timur yang Rasanya Enak, tapi Saya Tak Sudi kalau Disuruh Makan Lagi

Intan Permata Putri oleh Intan Permata Putri
26 Februari 2026
A A
Botok Tawon, Makanan Unik Jawa Timur yang Rasanya Enak, tapi Saya Tak Sudi kalau Disuruh Makan Lagi

Botok Tawon, Makanan Unik Jawa Timur yang Rasanya Enak, tapi Saya Tak Sudi kalau Disuruh Makan Lagi

Share on FacebookShare on Twitter

Botok tawon memang enak. Tapi kalau suruh nyoba lagi, nggak dulu deh, saya masih sayang nyawa saya sendiri

Pengalaman ini bermula saat saya berkunjung ke rumah bude di Jawa Timur. Tujuan saya sederhana, hanya ingin bersilaturahmi dan menikmati suasana kampung yang tenang. Rumah bude berada di lingkungan yang masih asri, tetangga-tetangganya ramah, dan tradisi berbagi makanan masih sangat terasa.

Siang itu, salah satu tetangga bude datang membawa bungkusan daun pisang yang masih hangat. Aromanya harum, khas masakan kukus dengan campuran kelapa dan bumbu dapur. Saya pikir itu hanya botok biasa mungkin botok tahu atau teri yang sering saya makan. Namun ketika bungkusan dibuka, bude tersenyum dan berkata santai, “Ini botok tawon.”

Saya langsung terdiam.

Di kepala saya langsung terbayang sarang lebah yang menggantung di pohon, suara dengung lebah, dan sengatannya yang menyakitkan. Makan tawon? Rasanya seperti sesuatu yang hanya ada di acara survival atau uji nyali kuliner ekstrem.

Botok tawon cukup terkenal

Tetangga bude kemudian menjelaskan bahwa botok tawon adalah makanan tradisional yang cukup dikenal di beberapa daerah. Sarang lebah yang masih berisi larva diambil, lalu dicampur dengan parutan kelapa, bawang merah, bawang putih, cabai, dan bumbu lainnya. Setelah itu dibungkus daun pisang dan dikukus seperti botok pada umumnya.

Jujur saja, awalnya saya menolak halus. Saya bilang belum terlalu lapar. Dalam hati saya benar-benar ragu. Bagi saya yang belum pernah melihat langsung prosesnya, membayangkan makan larva tawon terasa sangat asing.

Namun suasana saat itu begitu hangat. Kami makan bersama di ruang tengah, duduk lesehan. Ponakan saya yang masih kecil justru makan dengan lahap. Dia tidak terlihat takut atau jijik. Bahkan bilang rasanya enak dan nambah lagi.

Baca Juga:

4 Makanan Khas Surabaya yang Sebaiknya Kamu Hindari: Baunya Menyengat dan Kayak Makan Pasir

3 Makanan Khas Jawa Timur Paling Red Flag, Cukup Sekali Dicoba atau Sekalian Nggak Usah Dicoba Sama Sekali

Melihat dia santai, rasa penasaran saya perlahan mengalahkan rasa takut. Saya berpikir, masa anak kecil saja berani, saya tidak? Akhirnya saya mengambil sedikit, benar-benar sedikit, sekadar untuk mencicipi.

Saat suapan pertama masuk ke mulut, saya kaget.

BACA JUGA: Pengalaman Pertama Saya Mencoba Kuliner Ekstrem di Jogja, Rasa Tongseng Ular Tak Semenyeramkan Wujudnya

Rasanya ternyata…

Rasa botok tawon ternyata gurih dan lezat. Bumbu kelapanya meresap, ada sensasi lembut dari larva lebah yang justru tidak seaneh bayangan saya. Tidak ada rasa pahit atau amis berlebihan. Kalau saja saya tidak diberi tahu sebelumnya, mungkin saya tidak akan langsung sadar sedang makan sarang lebah.

Di situ saya merasa prasangka saya runtuh. Ternyata tidak semua makanan yang terdengar ekstrem benar-benar menakutkan. Banyak kuliner tradisional yang lahir dari kearifan lokal dan memanfaatkan sumber protein alami di sekitar.

Saya memang tidak mengambil banyak, hanya beberapa suap. Tapi cukup untuk mengatakan bahwa saya sudah pernah mencoba. Kami pun melanjutkan makan siang dengan obrolan santai dan tawa.

Malam harinya, tubuh saya mulai terasa gatal. Awalnya saya pikir hanya digigit nyamuk. Tapi lama-lama muncul bentol merah di tangan dan kaki. Semakin lama semakin banyak dan menyebar ke leher. Rasanya panas dan gatal sekali.

Saya panik karena belum pernah mengalami seperti itu sebelumnya. Setelah berpikir-pikir, kemungkinan besar itu reaksi alergi dari larva tawon yang baru pertama kali saya konsumsi. Ponakan saya baik-baik saja, bude juga tidak kenapa-kenapa. Sepertinya hanya tubuh saya yang kurang cocok.

Jangan asal menilai

Saya akhirnya minum obat antihistamin untuk meredakan biduran. Bentolnya memang tidak sampai menyebabkan sesak napas atau kondisi serius, tapi cukup membuat saya tidak bisa tidur nyenyak. Sepanjang malam saya sibuk menggaruk dan mencoba menahan rasa gatal.

Keesokan paginya, tetangga yang memberi botok tawon merasa tidak enak setelah tahu saya biduran. Tapi saya sama sekali tidak menyalahkan siapa pun. Itu murni reaksi tubuh saya sendiri. Setiap orang punya respons berbeda terhadap makanan tertentu.

Dari pengalaman itu saya belajar beberapa hal. Pertama, jangan langsung menilai makanan tradisional hanya dari namanya. Botok tawon mungkin terdengar menyeramkan, tapi rasanya ternyata enak dan penuh cita rasa. Kedua, penting mengenali kondisi tubuh sendiri. Mencoba hal baru memang menyenangkan, tapi kita juga harus siap dengan kemungkinan reaksi yang tidak terduga.

Namun jika ditanya apakah saya mau makan lagi, saya akan jawab dengan lantang: nggak, prei dulu.

Meski lidah saya mengakui kelezatannya, kulit saya memberikan jawaban berbeda. Dan pengalaman semalaman penuh bentol merah sudah cukup menjadi kenangan yang tidak akan saya lupakan.

Penulis: Intan Permata Putri
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 5 Kuliner Ekstrem yang Bisa Dijumpai di Surabaya

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 26 Februari 2026 oleh

Tags: botokbotok tawonlarva tawonmakanan ekstrem jawa timurmakanan khas jawa timur
Intan Permata Putri

Intan Permata Putri

Mahasiswa semester akhir Institut Teknologi Sumatera yang sedang tertarik dengan isu-isu sosial dan lingkungan. Pernah nulis di Wattpad.

ArtikelTerkait

4 Makanan Khas Surabaya yang Rasanya kayak Siksa Neraka (Wikimedia Commons)

4 Makanan Khas Surabaya yang Sebaiknya Kamu Hindari: Baunya Menyengat dan Kayak Makan Pasir

6 Maret 2026
3 Makanan Khas Jawa Timur yang Jangan Pernah Kamu Coba (Wikimedia Commons)

3 Makanan Khas Jawa Timur Paling Red Flag, Cukup Sekali Dicoba atau Sekalian Nggak Usah Dicoba Sama Sekali

12 Februari 2026
Trenggalek Menyimpan 4 Makanan Legendaris Khas Jawa Timur (Unsplash)

Makanan Khas Jawa Timur Bagian Trenggalek: Rekomendasi 4 Kuliner Legendaris

28 Agustus 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

7 Mobil Bekas Harga Rp100 Juta-an yang Paling Masuk Akal Dimiliki sebagai Kendaraan Keluarga Mojok.co

7 Mobil Bekas Harga Rp100 Juta-an yang Paling Masuk Akal Dimiliki sebagai Kendaraan Keluarga

16 April 2026
3 Tahun “Menantang Maut” di Pacitan demi Bisa Sekolah (Unsplash)

Pengalaman Saya 3 Tahun “Menantang Maut” di Pacitan Hanya demi Bisa Berangkat Sekolah

19 April 2026
Sawojajar Malang Mengingatkan akan Labirin Pogung Jogja, Sama-sama Membingungkan dan Bikin Tersesat  Mojok.co

Sawojajar Malang Mengingatkan akan Labirin Pogung Jogja, Sama-sama Membingungkan dan Bikin Tersesat 

18 April 2026
Untuk Warga Surabaya, Stop Menormalisasi Bayar Parkir kepada Juru Parkir di Toko Atau Minimarket yang Bertuliskan 'Parkir Gratis'!

Jalan-jalan di Surabaya Itu Mudah dan Murah, tapi Jadi Mahal karena Kebanyakan Tukang Parkir Liar

21 April 2026
Kelas Menengah Dimatikan dengan Pajak dan Kenaikan BBM (Unsplash)

Kenaikan Harga Pertamina Turbo dan DEX Mendorong Kelas Menengah Menuju Kemiskinan dan Kematian

20 April 2026
4 Pertanyaan yang Paling Sering Ditanyakan ke Mahasiswa Universitas Terbuka mahasiswa UT kuliah di UT

Saya Sempat Meremehkan Universitas Terbuka, Sampai Akhirnya Saya Menjalaninya Sendiri sambil Kerja

20 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Sesal Dulu Kasar dan Hina Bapak karena Miskin, Kini Sadar Cari Duit Sendiri dan Berkorban untuk Keluarga Ternyata Tak Gampang!
  • Saat Pencak Silat Dianggap Biang Kerok, Saya Bersyukur Jadi Bagian Tapak Suci Unair yang Anti Tawuran
  • Lulusan SMK Kerja di SPBU Diremehkan, Malah Jadi Tempat Ngutang buat Kuliah Anak Saudara karena Dikira Punya Segepok Uang
  • Supra Fit: Motor Honda yang Nggak Bisa Saya Banggakan Bahkan Sempat Bikin Kecewa, tapi Justru Paling Berjasa Sampai Sekarang
  • Penyebab Tokoh Agama dan Kaum Intelektual Melakukan Pelecehan Seksual
  • UKM Pencak Silat Unair Selamatkan Mimpi Atlet PSHT, Gelanggang Pertandingan Lebih “Menyeramkan” daripada Ruang Kelas Kuliah

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.