Betapa Meruginya Kaum yang Belum Mencoba Mi Goreng Kuah – Terminal Mojok

Betapa Meruginya Kaum yang Belum Mencoba Mi Goreng Kuah

Artikel

Avatar

Cukup paradoks tampaknya, namun menjadi salah satu penganut sekte mi goreng kuah merupakan sebuah pencapaian hidup yang cukup bermanfaat bagi saya. Pasalnya, mi goreng kuah menjadi salah satu cara untuk survive, bahkan dalam kondisi krisis perang dunia sekalipun.

Sedikit saya ceritakan bagaimana sejarahnya saya menjadi penganut sekte mi goreng kuah ini. Awal mulanya kejadian ini saya alami ketika masih hidup di lingkungan pondok pesantren. Hidup di pondok pesantren menurut yang saya alami ibarat hidup di tengah hutan belantara. Hanya ada satu hukum yang dipercayai di sana, “siapa yang kuat, dia yang akan bertahan”.

Makna kuat sendiri menurut yang saya pahami dan alami, “kuat” nggak selalu bermakna otot, yang biasanya sering dikaitkan dengan baku hantam, kebrutalan, atau apa pun itu yang berbau kekerasan. Pondok pesantren nggak sekeras itu, seperti penjara yang begitu mengerikan.

Arti “kuat” yang saya pahami di sini yakni dapat dimaknai sebagai kuat dalam aspek mental, kuat dalam aspek kecerdasan, kuat dalam artian manajemen hidup, dan lain sebagainya. Sedangkan untuk yang bertahan sendiri memiliki arti bahwa tetap betah hidup di lingkungan pondok pesantren, alias nggak boyong.

Bagi mereka yang nggak kuat, tentunya nggak lama kemudian mereka akan keluar dari pondok pesantren secara pribadi, alias boyong. Oleh karena itu, berbahagialah kalian yang lulus dari pondok secara legal, kalian merupakan orang yang kuat, yang mampu bertahan hidup di tengah hutan belantara.

Salah satu contoh yang menerapkan hukum tunggal di dalam pondok pesantren tersebut yakni mengenai makan. Wabil khusus makan ketika dalam kondisi kere, atau dompet sedang sekarat.

Ketika sedang mengalami krisis moneter seperti ini, biasanya saya dan beberapa komplotan saya hanya makan mi instan seadanya, itu pun terkadang mi instan tersebut hasil dari mengemis ke santri lain.

Maklum, solidaritas paling kuat yang saya temui hanya di pondok pesantren. Jadi, susah senang dilakukan bareng-bareng, apa pun kondisinya. Meskipun terkadang ada beberapa santri yang nggak solid, tapi menurut saya hidupnya cukup hampa dan nggak asing sama sekali. Namun, santri yang seperti ini sering jadi target mengemis komplotan saya, terutama mengemis mi instan.

Mi instan menjadi makanan pokok para santri. Dapat digeledah setiap lemari santri, pasti menyimpan mi instan setidaknya satu bungkus sebagai cadangan makanan. Jadi, sudah seperti unta yang menyimpan makanan cadangan.

Kenapa mi instan? Pasalnya mi instan ini cukup mudah untuk dimasak, meskipun nggak se-instan yang dibayangkan seperti namanya “ mi instan”. Harganya juga cukup terjangkau, bahkan gratis jika hasil mengemis.

Kembali pada krisis moneter tadi, jadi demi menunjang kepuasan perut kenyang tapi dengan hanya memakan mi instan, maka saya bersama komplotan saya bersepakat dalam meja bundar, agar memakan mi instan menggunakan kuah. Apa pun jenis dan nama mi tersebut, bahkan mi goreng sekalipun tetap akan diberi kuah.

Nah, kelakuan tersebut akhirnya menjadi tradisi yang keterusan hingga saya kuliah dan tinggal di kos, bahkan menjadi sekte yang saya percayai mampu memuaskan perut saya.

Menjadi anak kos sendiri menurut saya sebelas dua belas hampir sama dengan hidup di pondok pesantren, dalam artian untuk bertahan hidup. Jika nggak benar-benar mampu memanajemen finansial, pemborosan pun terjadi.

Sedangkan, untuk alasan mengapa saya lebih jatuh cinta dengan mi goreng yang diberi kuah terutama mi Sedaap goreng, yakni rasanya yang pas sesuai selera saya.

Jadi mi Sedaap goreng yang tanpa kuah, menurut saya rasanya agak terlalu asin dan bumbunya terlalu nendang, bahkan bau bumbunya saja tercium dari jauh. Oleh karena itu, pemberian kuah dalam mi sedap goreng selain mengenyangkan, juga menetralisir bumbunya yang terlalu nendang.

Lah lantas kenapa lebih memilih mi Sedaap goreng? Kenapa nggak mi merek lain seperti Indomie goreng? Kalau boleh jujur, Indomie goreng itu nggak cocok banget jika diberi kuah, meskipun saya pernah memberinya kuah ketika masih di pondok pesantren. Namun, semenjak lulus dari pondok pesantren, saya beridealis untuk konsisten dengan mi Sedaap goreng saja yang diberi kuah.

Menurut saya Indomie goreng memiliki bumbu yang nggak begitu nendang layaknya mi Sedaap goreng yang mampu tercium ratusan kilometer. Bumbu Indomie goreng sudah pas jika tanpa kuah menurut saya. Lantas jika Indomie goreng diberi kuah, maka rasanya seperti di ruang angkasa yang hampa tak terasa.

Oleh karena itu, saya menyarankan kepada para pembaca terutama bagi kalian yang hidup di perantauan yang harus ekstra survive-nya, maka terapkanlah sekte mi goreng kuah. Pasalnya, sekte tersebut sangat bermanfaat bagi kalian, terutama secara finansial dan kepentingan perut kalian. Ingat, “Siapa yang kuat, dia yang bertahan.”

BACA JUGA Pasar Malam Sebagai Alternatif Hiburan Warga dan Keluarga atau tulisan-tulisan Mohammad Maulana Iqbal lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
4


Komentar

Comments are closed.