#2 Permainan politik kantor, nggak cocok untuk orang yang lurus-lurus aja
Ini alasan kedua karier PNS nggak cocok buat orang yang niatnya cuma kerja, pulang, lalu nunggu gajian kayak saya. Memang, permainan seperti ini nggak cuma ada di lingkungan PNS. Di tempat kerja lain pun pasti ada.
Namun, di birokrasi, hal-hal seperti ini kadang terasa lebih rumit dan melelahkan. Apalagi buat orang yang nggak suka cari muka atau ikut arus politik kantor.
Dari cerita saudara, saya mulai menyadari kerja di birokrasi juga berhadapan dengan situasi yang tidak selalu nyaman secara moral. Ada momen ketika seseorang memilih ikut arus atau tetap memegang prinsipnya. Makanya, nggak lolos CPNS malah saya syukuri.
#3 Saat memilih berubah, Saya jadi tahu, ada yang diam-dam nggak suka sama saya
Mungkin terdengar lucu, tapi karena alasan ini saya justru bersyukur pernah ikut seleksi CPNS meskipun gagal. Nggak cuma jadi tahu alur dan deg-degannya sampai susah tidur selama seleksi. Saya jadi tahu dinamika pertemanan ketika memutuskan untuk berubah ke arah yang lebih baik.
Waktu itu, ketika teman dekat saya mengetahui bahwa saya hendak daftar CPNS. Respon dia terdengar biasa saja.
Tapi anehnya, saat di chat grup, dia mempermalukan saya. Dia menuduh saya mendaftar CPNS pakai orang dalam. Menurutnya, CPNS itu hanya untuk lulusan S1 atau jenjang yang lebih tinggi. Padahal, ada beberapa posisi yang memang menerima lulusan SMA.
Bahkan ada yang bercanda kalau suatu hari semisal saya menjadi PNS, saya akan korupsi. Walaupun awalnya merasa kesal, tapi terkadang saya maklum ketidaktahuan mereka.
Mereka menganggap lulusan SMA haram hukumnya daftar CPNS. Saya jadi sadar, ketika saya memutuskan untuk berubah, ada beberapa orang yang tidak suka dengan perubahan tersebut.
#4 Gagal tes CPNS malah bikin saya lebih menikmati masa muda
Dengan gagal CPNS, saya jadi punya kesempatan untuk menjelajahi, menikmati, dan membangun pengalaman seperti anak muda pada umumnya. Mulai dari ikut organisasi, magang, sampai part time sambil kuliah. Saya justru lebih menikmati proses itu untuk berkembang dan membangun pengalaman hidup.
Ternyata, jalur hidup yang berbeda membuat saya lebih bisa memahami diri sendiri. Selain itu, mata saya jadi terbuka. Bahwa lingkungan yang memaksa “aman” belum tentu memahami diri saya sepenuhnya. Kegagalan itu menyelamatkan saya dari hidup yang sebenarnya tidak saya inginkan sepenuh hati.
Penulis: Sonya Mawardani
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Jangan Keburu Jatuh Cinta sama PNS, Dunianya Tidak Semudah dan Semulus yang Kalian Kira
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













