Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Pendidikan

Bersekolah di SMA Muhammadiyah Adalah Salah Satu Keputusan Terbaik yang Pernah Saya Ambil Dalam Hidup Ini

Faris Firdaus Alkautsar oleh Faris Firdaus Alkautsar
22 Januari 2026
A A
Bersekolah di SMA Muhammadiyah Adalah Salah Satu Keputusan Terbaik yang Pernah Saya Ambil Dalam Hidup Ini

Bersekolah di SMA Muhammadiyah Adalah Salah Satu Keputusan Terbaik yang Pernah Saya Ambil Dalam Hidup Ini

Share on FacebookShare on Twitter

Kalau hidup berjalan sesuai rencana, mungkin saya tidak akan pernah bersekolah di SMA Muhammadiyah. Waktu itu, rencana saya sederhana dan sangat umum: masuk SMA negeri. Seperti kebanyakan siswa SMP lain, SMA negeri dianggap tujuan paling “normal”, paling aman, dan paling diakui.

Sayangnya, sistem zonasi berkata lain. Nama saya tidak terpanggil, jarak rumah kalah hitung, dan harapan pun ikut gugur. Bukan karena nilai kurang, tapi karena peta. Di titik itulah saya sadar, dalam sistem pendidikan, kadang usaha tidak selalu sejalan dengan hasil.

Di waktu yang mepet, saya dihadapkan pada pilihan yang awalnya terasa seperti opsi cadangan yaitu sekolah swasta. Salah satunya SMA Muhammadiyah. Jujur saja, waktu itu saya tidak punya ekspektasi tinggi. Yang penting sekolah dulu.

Dua tahun setelah lulus, saya justru bisa berkata dengan yakin yaitu bersekolah di SMA Muhammadiyah adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah saya ambil, meskipun awalnya bukan pilihan pertama.

Guru yang membuka pikiran, bukan menutup pertanyaan

Hal pertama yang paling saya syukuri adalah kualitas guru-gurunya. Banyak dari mereka masih relatif muda, segar secara pemikiran, dan tidak alergi pada pertanyaan kritis. Di kelas, saya tidak merasa dipaksa menelan jawaban mentah-mentah. Diskusi justru didorong, bahkan kadang dipancing.

Meskipun sekolah berbasis keagamaan, saya tidak menemukan ceramah kosong, apalagi pseudo-sains yang sering ditakuti orang saat mendengar istilah “sekolah agama”. Yang saya temui justru pendekatan rasional: agama dijelaskan berdampingan dengan ilmu pengetahuan, bukan saling meniadakan.

Di sinilah daya pikir kritis saya pelan-pelan terasah. Bertanya tidak dianggap melawan. Berbeda pendapat tidak langsung dicap kurang iman. Saya belajar bahwa berpikir kritis dan beragama tidak harus saling curiga.

Lingkungan religius SMA Muhammadiyah yang membentuk, bukan menekan

Pembiasaan seperti tadarus, salat duha, dan latihan ceramah awalnya terasa biasa saja. Bahkan kadang terasa melelahkan. Namun efeknya baru benar-benar terasa setelah saya keluar dari lingkungan SMA Muhammadiyah.

Baca Juga:

Pengalaman Menyenangkan Saya Menjadi Anak dari Bapak NU dan Ibu Muhammadiyah

Saya Menemukan Ketenangan Bersama Muhammadiyah

Lingkungan religius ini pelan-pelan membentuk disiplin, kepercayaan diri, dan kemampuan berbicara di depan umum. Latihan ceramah, misalnya, ternyata menjadi bekal public speaking yang manfaatnya masih saya rasakan sampai sekarang. Saya jadi lebih berani bicara, lebih terstruktur menyampaikan gagasan, dan tidak kaku ketika harus berdiri di depan orang banyak.

Ini bukan pembentukan karakter yang instan atau penuh tekanan. Tidak ada paksaan menjadi “suci”. Yang ada adalah pembiasaan. Pelan, konsisten, dan manusiawi.

BACA JUGA: Alasan Sekolah-sekolah Muhammadiyah Enggan Pakai Istilah ‘Islam Terpadu’

Organisasi yang mengajarkan struktur dan tanggung jawab

Di sekolah Muhammadiyah, kehidupan organisasi tidak berhenti di OSIS dan pramuka. Ada Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) sebagai pengganti peran OSIS dan Hizbul Wathan (HW) sebagai gerakan kepanduan, dengan struktur yang rapi dari tingkat ranting hingga pusat.

Lewat organisasi ini, saya belajar tentang kepemimpinan, koordinasi, dan tanggung jawab. Bukan sekadar nama jabatan, tapi benar-benar bekerja. Rapat, program, evaluasi—semuanya dijalani dengan serius. Saya belajar bahwa berorganisasi bukan soal keren-kerenan, tapi soal melayani dan menyelesaikan masalah.

Pengalaman ini membuat saya lebih siap menghadapi dunia setelah lulus, di mana kerja tim dan tanggung jawab bukan lagi teori.

Pertemanan yang bukan sembarangan

Hal lain yang baru saya sadari setelah menjalaninya adalah kualitas pertemanan. Ternyata bukan saya saja yang mengalami nasib serupa. Banyak teman-teman saya di SMA Muhammadiyah adalah anak-anak yang sebenarnya pintar, punya potensi besar, tetapi tidak diterima di SMA negeri bukan karena kemampuan, melainkan karena zonasi.

Dari situ saya masuk ke lingkungan belajar yang unik: kompetitif, tapi tidak saling menjatuhkan. Kami sama-sama sadar bahwa kami “terdampar” di tempat yang sama. Alih-alih larut dalam kekecewaan, kami justru saling mendorong untuk berkembang. Suasana kelas jadi hidup. Diskusi berjalan. Bercanda ada, tapi belajar tetap serius.

Di titik ini saya belajar bahwa sekolah bukan cuma soal gedung dan label, tapi soal siapa saja orang-orang yang tumbuh bersama kita di dalamnya. Berteman dengan orang-orang yang mau belajar dan mau berkembang itu pengaruhnya panjang—bahkan setelah lulus.

BACA JUGA: SMA Muhi Jogja: Sempat Bubar Karena Perang Sebelum Sukses Lahirkan Tokoh-tokoh Besar

SMA Muhammadiyah: dari opsi cadangan menjadi tempat bertumbuh

Hal lain yang patut dicatat adalah soal toleransi. Di sekolah saya, ada teman-teman yang berlatar belakang Nahdlatul Ulama, bahkan ada yang aktif di LDII. Tidak ada tekanan untuk “harus jadi Muhammadiyah”.

Pelajaran kemuhammadiyahan diberikan sebagai pengenalan, bukan doktrin. Kami diajak memahami sejarah dan nilai, bukan dipaksa mengafirmasi. Bagi saya, ini justru cerminan pendidikan yang sehat: mengenalkan nilai tanpa menghilangkan kebebasan berpikir.

Pada akhirnya, bersekolah di SMA Muhammadiyah terasa seperti masuk ke sebuah workshop kehidupan. Tempat belajar akademik, sekaligus ruang membangun karakter.

Saya masuk karena gagal zonasi. Saya keluar dengan versi diri yang lebih siap menghadapi dunia. Kadang, hidup memang bekerja seperti itu: rencana gagal, tapi justru membuka jalan yang lebih tepat.

Dan untuk itu, saya bersyukur pernah menjadi bagian dari SMA Muhammadiyah.

Penulis: Faris Firdaus Alkautsar
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 7 SMA Muhammadiyah Terbaik di Indonesia Ada di DIY dan Jawa Tengah

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 22 Januari 2026 oleh

Tags: ikatan pelajar muhammadiyahMuhammadiyahsekolah muhammadiyahSMA Muhammadiyah
Faris Firdaus Alkautsar

Faris Firdaus Alkautsar

Mahasiswa Akuntansi Universitas Terbuka. Punya motto hidup "walau berjalan di atas bumi, ingatlah bahwa kita hidup di bawah langit".

ArtikelTerkait

Lahir di Lingkungan NU dan Tumbuh Dewasa di Lingkungan Muhammadiyah, Bikin Saya Jadi Krisis Identitas terminal mojok.co

Lahir di Lingkungan NU dan Tumbuh Dewasa di Lingkungan Muhammadiyah, Bikin Saya Jadi Krisis Identitas

8 Januari 2021
Cerita Kuliah di Universitas Siber Muhammadiyah, Universitas Terbuka Versi Muhammadiyah Mojok.co

Cerita Kuliah di Universitas Siber Muhammadiyah, Universitas Terbuka Versi Muhammadiyah

19 September 2025
Menyebut Muhammadiyah & NU Elitis Adalah Jokes Pandji Pragiwaksono yang Paling Ampas terminal mojok.co

Menyebut Muhammadiyah & NU Elitis Adalah Jokes Pandji Pragiwaksono yang Paling Ampas

24 Januari 2021
Lahir di Lingkungan NU dan Tumbuh Dewasa di Lingkungan Muhammadiyah, Bikin Saya Jadi Krisis Identitas terminal mojok.co

Culture Shock Orang Muhammadiyah yang Hidup di Lingkungan NU

5 Februari 2023
UAD universitas ahmad dahlan kuliah rasa pengalaman cara mendaftar kuliah di luar negeri mojok

UAD Cocok Untukmu yang Gagal Kuliah ke Luar Negeri

22 April 2020
Alasan Saya Tetap Mau Jadi Dosen Muhammadiyah walau Tahu Hidupnya Bakal Susah Mojok.co

Alasan Saya Tetap Mau Jadi Dosen Muhammadiyah walau Tahu Hidupnya Bakal Susah

1 Juli 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Oleh-Oleh Khas Kebumen yang Belum Tentu Cocok di Lidah Semua Orang, Jadi Terasa Kurang Spesial Mojok.co

5 Oleh-Oleh Khas Kebumen yang Belum Tentu Cocok di Lidah Semua Orang, Jadi Terasa Kurang Spesial

30 Maret 2026
WFA ASN, Kebijakan yang Bikin Negara Hemat tapi Pengeluaran ASN Membengkak Parah

WFA ASN, Kebijakan yang Bikin Negara Hemat tapi Pengeluaran ASN Membengkak Parah

27 Maret 2026
Sisi Gelap Purwokerto yang Membunuh Wisatanya Sendiri (Unsplash)

Purwokerto Murah? Murah untuk Siapa? Kenapa Warga Asli Tidak Merasakannya?

27 Maret 2026
Derita Ngontrak di Jakarta Timur, Sudah Jadi Penyewa Tertib Tetap Diusir dengan Alasan Bohong Mojok.co

Derita Ngontrak di Jakarta Timur, Sudah Jadi Penyewa Tertib Tetap Diusir dengan Alasan Bohong

30 Maret 2026
Pesimis pada Honda Beat Karbu Berubah Respek karena Bisa Awet 12 Tahun Tanpa Rewel Mojok.co

Pesimis pada Honda Beat Karbu Berubah Respek karena Bisa Awet 12 Tahun Tanpa Rewel

27 Maret 2026
Merantau ke Malang Menyadarkan Saya Betapa Payah Hidup di Bojonegoro Mojok.co

Merantau ke Malang Menyadarkan Saya Betapa Payah Hidup di Bojonegoro

28 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Resign dari Perusahaan Bergaji 3 Digit di Luar Negeri karena Tak Merasa Puas, Kini Memilih Kerja “Sesuai Passion” di Kampung Halaman
  • Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya
  • Nekat Kuliah di Jurusan Sepi Peminat PTN Top: Menyesal karena Meski Lulus Cumlaude, Ijazah Dianggap “Sampah” di Dunia Kerja
  • User Kereta Ekonomi Naik Bus Sumber Selamat karena Tak Ada Pilihan: Kursi Lebih Nyaman, Tapi Dibuat Hampir Pingsan
  • Gaji 8 Juta di Jakarta Tetap Bisa Bikin Kamu Miskin, Idealnya Kamu Butuh Minimal 12 Juta Jika Ingin Hidup Layak tapi Nggak Semua Pekerja Bisa
  • Dilema Anak Kos yang Kerja di Jogja: Mau Irit dan Mandiri tapi Takut Mati Konyol Gara-gara Cerita Seram Ibu Kos soal “Tragedi Gas Melon”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.