Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Beli Pertalite Pakai Aplikasi: Kalau Bisa Dibikin Ribet, Kenapa Tidak?

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
25 Juni 2022
A A
Kasihan Motor Saya jika Pertalite Beneran Dihapus

Kasihan Motor Saya jika Pertalite Beneran Dihapus (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Apa yang rumit, bertele-tele, dan banyak plot twist? Kalau Anda bilang serial One Piece, ngggak salah sih. Tapi, yang saya maksud adalah pemerintah. Salah satunya pemerintah Indonesia. Perkara melayani masyarakat selalu dibumbui oleh keputusan yang ngalor ngidul. Salah satunya adalah perkara bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi paling banyak dicari yaitu Pertalite.

Bensin hijau pengganti premium ini kini menjadi sorotan. Terutama semenjak harga Pertamax meroket, masyarakat kini berharap pada ketersediaan Pertalite. Untuk menjaga bensin subsidi ini terdistribusi sesuai sasaran, keluarlah ide canggih yang sangat revolusi 4.0. Yaitu wajib menggunakan aplikasi MyPertamina setiap pembelian Pertalite. Sebenarnya tidak hanya Pertalite, tapi solar subsidi juga termasuk dalam skema ini.

Aplikasi MyPertamina memang bukan barang baru. Aplikasi besutan BP Migas ini sudah rilis sejak 2018 dengan jumlah user aktif 2,5 juta. Aplikasi ini masih terpusat di wilayah Jawa dan sedang digenjot untuk terkoneksi di seluruh daerah di Indonesia. Maklum, produk pemerintah kan sering Jawasentris.

Banyak suara kontra terhadap rencana “brilian” ini. Suara terlantang adalah perkara makin ribetnya proses pembelian bahan bakar. Saya sih setuju dengan suara ini. Toh sejak 2018, baru ada 2,5 juta user aktif MyPertamina. Artinya, lebih banyak orang yang memilih membeli BBM secara konvensional.

Terlepas dari suara kontra tersebut, tidak ada salahnya kita mengapresiasi rencana pemerintah ini. Toh saya yakin, kepala mereka sudah kliyengan memikirkan solusi brilian. Tapi jujur saja, ada rasa skeptis terhadap rencana ini.

Pertama adalah masalah penggolongan mobil mewah. Sejauh ini, pihak BPH Migas mengajukan besar cc mesin sebagai tolok ukur. Secara logika sih masuk akal, karena mobil “mewah” berharga mahal kebanyakan memakai mesin ber-cc besar. Tapi, realitas di lapangan sering berbeda.

Realitasnya, mobil tua dengan cc besar masih umum dipakai di Indonesia. Toyota Camry tahun 2001 menggunakan mesin berkapasitas 2200 cc dibanderol harga 50-100 jutaan. Sedangkan Toyota Raize dengan mesin 1198 cc dibanderol harga 200 jutaan. Jika bicara mana yang lebih mewah, apakah para konglomerat akan memilih Camry yang kaki-kakinya sering bermasalah itu?

Logika penggunaan cc sebagai tolok ukur pelarangan juga memakai alasan konsumsi bahan bakar. Yah kalau makin besar konsumsi bahan bakarnya, mobil mewah sering lebih irit daripada mobil city car atau mobil keluarga. Alasannya: mobil mewah lebih sering dikandangkan karena boros. Apalagi dengan rencana pembatasan BBM subsidi, mobil haus bensin ini akan makin dikandangkan. Pada akhirnya, mobil cc kecil makin merajai jalanan dan mengonsumsi lebih banyak bahan bakar.

Baca Juga:

Goa Jatijajar, Objek Wisata di Kebumen yang Cukup Sekali Saja Dikunjungi

3 Sisi Gelap Jembatan Suramadu yang Bikin Wisatawan Enggan Balik Lagi ke Madura

Terlepas dari masalah penggolongan, penerapan di lapangan juga perlu disorot. Tanpa aplikasi saja antrian depo Pertalite sudah menyebalkan. Apalagi ketika ada kewajiban mengaktifkan aplikasi terlebih dahulu. Belum lagi edukasi terhadap masyarakat yang jelas akan memakan waktu. Bisa-bisa belum selesai edukasi dan sosialisasi, Nabi Isa sudah turun melawan Dajjal.

Edukasi dan adaptasi masyarakat juga harus dibarengi dengan kesiapan pihak Pertamina dan pemerintah. Apakah aplikasi MyPertamina ramah bagi semua kalangan? Apakah aplikasi dan server ini tahan banting untuk aktif sepanjang waktu? Ingat, yang dibicarakan adalah BBM yang selalu dibutuhkan masyarakat. Nggak lucu kalau tiba-tiba server aplikasi error atau dalam perbaikan saat kita panic mencari BBM. Akhirnya, lari ke Pertamax lagi.

Dengan kondisi lapangan yang demikian, wajar jika banyak yang membangun teori konspirasi. Penggunaan aplikasi yang dianggap bertele-tele ini adalah cara membuat Pertamax lebih laku. Setidaknya, pemerintah sudah menunjukkan itikad dengan menerbitkan BBM subsidi. Tapi, pembeliannya dibuat rumit sehingga Pertamax lebih menarik di mata masyarakat.

Terakhir adalah konsistensi. Apakah semua pihak bisa konsisten dengan sistem baru ini? Atau skema pembelian serba canggih ini hanya akan hangat di depan. Toh skema beli BBM mandiri saja gagal diterapkan secara masif. Itu lho, yang kita bayar ke penjaga lalu menuangkan BBM sendiri ala luar negeri. Apalagi bicara skema lebih rumit dan perlu edukasi lebih panjang?

Skema beli Pertalite (dan solar subsidi) dengan aplikasi ini tentu patut kita sambut. Perkara sambutan itu bernada positif atau negatif, terserah kalian. Mosok aku sing kon mikir, yo wegah.

Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 4 Hal Tidak Menyenangkan Jadi Warga Kabupaten Lamongan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 25 Juni 2022 oleh

Tags: mypertaminapertalitepilihan redaksi
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

10 Pensil Alis Murah di Bawah 20 Ribu yang Nggak Kaleng-kaleng

10 Pensil Alis Murah di Bawah 20 Ribu yang Nggak Kaleng-kaleng

1 Januari 2022
Dayeuhkolot, Kecamatan Paling Meresahkan di Kabupaten Bandung. Pikir Lagi kalau Mau Menikah dengan Orang Sini

Dayeuhkolot, Kecamatan Paling Meresahkan di Kabupaten Bandung. Pikir Lagi kalau Mau Menikah dengan Orang Sini

3 Maret 2024
Daftar Warung Makanan Haram Masakan Babi di Jogja yang Rasanya Sedaaap terminal mojok

Warung Masakan Babi di Jogja yang Bikin Ngiler

30 Oktober 2021
Dulu, Seorang Anak Perempuan Bisa Dinilai Cantik Jika Pernah Menjadi Pengapit Manten terminal mojok

Dulu, Seorang Anak Perempuan Dinilai Cantik Jika Pernah Menjadi Pengapit Manten

27 Agustus 2021
Kasta Es Krim Wall’s dari Sultan hingga Legend Terminal Mojok

Kasta Es Krim Wall’s dari Sultan hingga Legend

7 Oktober 2022
Ojek Pangkalan Mempersulit Hidup Saya sebagai Perantau Mojok.co

Ojek Pangkalan Mempersulit Hidup Saya sebagai Perantau

30 November 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Alfamart Itu Terlalu Membosankan dan Sumpek, Butuh Kreativitas (Wikimedia Commons)

Alfamart Itu Terlalu Membosankan dan Sumpek, Kalau Punya Uang Tak Terbatas dan Boleh Saya Akan Ubah Alfamart Jadi “Ruang Singgah Urban”

20 Maret 2026
Daihatsu Taruna, Mobil Sok Gagah yang Berakhir Gagal Total dan Bikin Penggunanya Bingung Setengah Mati

Daihatsu Taruna, Mobil Sok Gagah yang Berakhir Gagal Total dan Bikin Penggunanya Bingung Setengah Mati

17 Maret 2026
Jangan Tanya Rekomendasi Tempat Wisata ke Orang Bandung karena Orang Bandung Asli Biasanya Nggak Tahu

Derita Menikah dengan Orang Bandung: Tidak Pernah Merasakan Drama Mudik hingga Selalu Diejek

21 Maret 2026
Honda Spacy: “Produk Gagal” Honda yang Kini Justru Diburu Anak Muda

13 Tahun Bersama Honda Spacy: Motor yang Tak Pernah Rewel, sekaligus Pengingat Momen Bersama Almarhum Bapak

18 Maret 2026
Suzuki Satria Pro Aib Terbesar Suzuki yang Tak Perlu Lahir (Wikimedia Commons)

Suzuki Satria Pro: Aib Terbesar Suzuki yang Seharusnya Tak Perlu Lahir

18 Maret 2026
KlikBCA, Layanan Internet Banking Terbaik yang Perlu Dikritisi (Unsplash)

KlikBCA, Layanan Internet Banking Terbaik yang Perlu Dikritisi

17 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit
  • Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan
  • Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya
  • Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang
  • Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia
  • Mahasiswa UGM Rela Kejar Mudik di Hari Lebaran demi Kumpul Keluarga, Lewatkan “War” Tiket karena Jadwal Kuliah

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.