Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Beberapa Hal pada Sinetron Indonesia yang Bikin Ruwet

Nuriel Shiami Indiraphasa oleh Nuriel Shiami Indiraphasa
22 Desember 2020
A A
Beberapa Hal pada Sinetron yang Nggak Pernah Absen Bikin Ruwet Terminal Mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Menantikan sinetron Indonesia dengan cerita yang nggak cuma soal kawin-selingkuh-cerai-kawin lagi atau cinta-cintaan anak sekolah yang nggak pernah kelihatan kapan belajarnya, rasanya sama kayak menunggu Upin dan Ipin masuk SD. Kapan?

Meski begitu, sinetron sendiri cukup menghibur dan harusnya memang seperti itu karena sinetron dapat membangkitkan sejumlah rasa yang penonton miliki. Tetapi, bagi saya pribadi, kenapa rasa ruwet dan cringe yang sering mendominasi, ya? Sama? Tos dulu kita~

Di mana ada scene nangis, di situ biasanya saya menggerutu dalam hati, “Apaan, sih?” Dan itu kerap terjadi karena jalan cerita sinetron Indonesia yang alamak… Saya juga bingung nontonnya. Tapi, nggak apa-apa, masih saya teruskan. Kalau jalan cerita selanjutnya malah bikin pengin banting TV, biasanya saya ganti channel atau matiin TV saja.

Memang sih jalan cerita sinetron Indonesia yang hampir seragam ini merupakan hal yang sering saya sesali. Namun, berharap untuk mendapatkan insight lain atau bahkan mengubahnya, sepertinya nggak mungkin. Seolah dikhianati, rasanya saya sudah muak berharap lebih. Mending berhenti.

Meski demikian, nggak adil jika usai mengkritik nggak memberi solusi. Jika memang merasa aman untuk memproduksi sinetron dengan tema yang nggak ada bedanya, setidaknya perhatikanlah hal-hal kecil lainnya yang sering kali bikin penonton otomatis pengin banting remote.

Dah, lah. Auk ah gelap~

Oh, nggak, nggak. Nggak bisa. Kalau saya sudah tahu, tapi pura-pura nggak tahu rasanya kayak cinta dalam hati: nyesek. Jadi, inilah hal-hal kecil yang bikin penonton ruwet nonton sinetron Indonesia.

Bangun dan tidur dengan wajah full make-up

Saya yakin artis-artis Indonesia pasti pada perawatan, dan perawatannya pun bukan main. Tapi, kenapa? Kenapa komuk mereka bisa seharian full make-up, bahkan pada saat mau dan bangun tidur? Apakah se-insecure itu dengan wajah sendiri? Jadi, perawatan yang sering dilakukan itu bermakna apa? Apakah nggak ada hasilnya? Ayolah, lebih natural dan logis saja. Kalian itu cantik dan tampan, wahai para artis.

Baca Juga:

Preman Pensiun 9 Sebaik-baiknya Sinetron Ramadan, Bikin Saya Nonton TV Lagi 

5 Alasan yang Membuat Sinetron Indonesia Semakin Membosankan. Produser dan Sutradara Perlu Lebih Kreatif!

Beberapa adegan yang memang nggak perlu make-up tebal atau bahkan nggak perlu make-up sama sekali, rasanya harus dinormalisasi. Kalau situ bangun tidur, muka dempulan, alis sudah kayak pedang, bulu mata anti badai sudah terpasang, bibir gincuan, apa iya bisa begitu gara-gara mimpi habis kondangan?

Tidak memanfaatkan nomor darurat

Berkali-kali saya nonton, berkali-kali pula saya melihat nomor darurat yang jarang atau bahkan sama sekali nggak digunakan pada situasi yang genting. Begini, suatu waktu saya nonton sinetron, eh sebut nggak, ya? Oke, waktu itu saya nonton satu sinetron inisialnya Samudra Cinta.

Ada adegan di mana mamanya Samudra kecelakaan, tepat di hari yang sama dengan pernikahan Samudra dan Cinta. Pertama, dia telepon nomor keluarganya, tapi nggak diangkat. Terus begitu sampai akhirnya dia dinyatakan mati (padahal mah hilang, ajig nggak tuh?)

Kenapa, Bu? Kenapa? Kenapa malah teleponin orang-orang yang lagi pada ribet di hajatan? Kalau sudah tahu sekali telepon nggak diangkat, ya berarti lagi pada sibuk! Lagian juga kenapa sih kudu kecelakaan segala? Aduh, Gustiii…

Padahal di saat seperti itu, menunjukkan penggunaan nomor darurat, misal 112, dapat membantu warga Indonesia saat didera situasi genting yang kadang kebingungan mau minta tolong ke siapa selain ke keluarga.

Diagnosis penyakit yang nggak pernah upgrade

Hal ini juga sama seperti hal-hal sebelumnya, hampir semua sinetron Indonesia pasti ada scene yang berlatar tempat di rumah sakit. Ya mau gimana lagi, wong episodenya juga sampai berjuta-juta miliar begitu. Pasti rada pusing kali mikirin setting tempatnya di mana lagi.

Oke, nggak apa-apa sakit. Tapi yang bikin ruwet adalah kenapa diagnosis penyakitnya yang beuh… Auk ah, emosi aing!

Sakitnya apa, ujung-ujungnya amnesia. Apa pun penyakitnya, namanya tetap penyakit keras. Apa pun sakitnya, harus segera operasi. Dan suara andalan dokter yang niatnya mau dibuat sedih, malah si komuk jadi kikuk dengan nada canggung bilang, “Maaf, kami sudah berusaha sekuat mungkin.”

Potongan adegan begini awet digunakan pada sejumlah sinetron dan bertahan bertahun-tahun.

Kalau kata Bang David Naif mah, “Mengapaaa… Aku WNI?”

Angkat telepon pakai HP apa, terima chat pakai HP apa

Anak SD yang ngerti HP juga tahu kalau tampilan WhatsApp iPhone 11 itu beda dengan Android. Ini paling parah, sih. Apa susahnya ambil adegan telepon dan balas chat dengan HP yang sama? Maksudnya, kalau tokoh A dari awal cerita memang sudah pakai iPhone, ya pas scene terima telepon atau balas chat, tampilan HP-nya juga kudu iPhone, dong. Ini mungkin kelihatannya sepele, tapi pernah nggak kepikiran kalau hal yang sepele saja disepelekan, gimana yang lain?

Sebagai orang yang memperhatikan hal-hal di atas, saya mencoba untuk bodo amat, tapi nggak bisa. Tiap lihat adegan yang seperti itu saya berpikir keras, lantas mengelus dada sampai kayaknya mau rata, dan berdoa, “Ya Tuhan, kapan adegan yang kayak gini musnah dari sinetron Indonesia?”

Saya nggak berharap banyak pada sinetron Indonesia untuk dapat memberikan edukasi pada masyarakat. Setidaknya, kurangi-kurangi mengkadali kami lah~

BACA JUGA Liburan ke Bandung Nggak Melulu Soal Terowongan dan tulisan Nuriel Shiami Indiraphasa lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 23 Desember 2020 oleh

Tags: Sinetronsinetron indonesia
Nuriel Shiami Indiraphasa

Nuriel Shiami Indiraphasa

Jangan terlalu ngambis, nanti malah nangis.

ArtikelTerkait

Tuntutlah Ilmu Produksi Drama Hingga ke Negeri Ginseng Korea Terminal Mojok

Tuntutlah Ilmu Produksi Drama Hingga ke Negeri Ginseng Korea

6 Maret 2021
7 Adegan Sinetron Indonesia yang paling Memuakkan Terminal Mojok

7 Adegan Sinetron Indonesia yang paling Memuakkan

13 Juli 2022
Menerka Alasan Alur Cerita Sinetron di Indonesia Banyak yang Absurd terminal mojok.co

Sisipan Iklan di Sinetron Indonesia Bikin Alur Cerita Jadi Nggak Nyambung

22 September 2020

Para Pencari Tuhan, Sinetron Ramadan Terbaik Sepanjang Masa

27 April 2020
Tradisi Kupatan sebagai Tanda Berakhirnya Hari Lebaran Masa Lalu Kelam Takbir Keliling di Desa Saya Sunah Idul Fitri Itu Nggak Cuma Pakai Baju Baru, loh! Hal-hal yang Dapat Kita Pelajari dari Langgengnya Serial “Para Pencari Tuhan” Dilema Mudik Tahun Ini yang Nggak Cuma Urusan Tradisi Sepi Job Akibat Pandemi, Pemuka Agama Disantuni Beragama di Tengah Pandemi: Jangan Egois Kita Mudah Tersinggung, karena Kita Mayoritas Ramadan Tahun Ini, Kita Sudah Belajar Apa? Sulitnya Memilih Mode Jilbab yang Bebas Stigma Kenapa Saf Tarawih Makin Maju Jelang Akhir Ramadan? Kenapa Kita Sulit Menerima Perbedaan di Media Sosial? Masjid Nabawi: Contoh Masjid yang Ramah Perempuan Surat Cinta untuk Masjid yang Tidak Ramah Perempuan Campaign #WeShouldAlwaysBeKind di Instagram dan Adab Silaturahmi yang Nggak Bikin GR Tarawih di Rumah: Ibadah Sekaligus Muamalah Ramadan dan Pandemi = Peningkatan Kriminalitas? Memetik Pesan Kemanusiaan dari Serial Drama: The World of the Married Mungkinkah Ramadan Menjadi Momen yang Inklusif? Beratnya Menjalani Puasa Saat Istihadhah Menghitung Pengeluaran Kita Kalau Buka Puasa “Sederhana” di Mekkah Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita? Kenapa Saf Tarawih Makin Maju Jelang Akhir Ramadan? Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita? Mengenang Serunya Mengisi Buku Catatan Ramadan Saat SD Belajar Berpuasa dari Pandemi Corona Perlu Diingat: Yang Lebih Arab, Bukan Berarti Lebih Alim Nonton Mukbang Saat Puasa, Bolehkah? Semoga Iklan Bumbu Dapur Edisi Ramadan Tahun Ini yang Masak Nggak Cuma Ibu

Hal-hal yang Dapat Kita Pelajari dari Langgengnya Serial “Para Pencari Tuhan”

20 Mei 2020
Dear Aris Nugraha, Jangan Sampai Preman Pensiun Jadi Kayak Ikatan Cinta

Dear Aris Nugraha, Jangan Sampai Preman Pensiun Jadi Kayak Ikatan Cinta

19 Januari 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

6 Warna yang Dibenci Tukang Bengkel Cat Mobil karena Susah dan Ribet Mojo.co

6 Warna yang Dibenci Tukang Bengkel Cat Mobil karena Susah dan Ribet

13 Januari 2026
Bekasi Justru Daerah Paling Nggak Cocok Ditinggali di Sekitaran Jakarta, Banyak Pungli dan Banjir di Mana-mana

Bekasi: Planet Lain yang Indah, yang Akan Membuatmu Betah

13 Januari 2026
Kapok Naik KA Bengawan, Sudah Booking Tiket Jauh Hari Malah Duduk Nggak Sesuai Kursi

Kapok Naik KA Bengawan, Sudah Booking Tiket Jauh Hari Malah Duduk Nggak Sesuai Kursi

16 Januari 2026
Perkampungan Pinggir Kali Code Jogja Nggak Sekumuh yang Dibayangkan Orang-orang meski Nggak Rapi

Perkampungan Pinggir Kali Code Jogja Nggak Sekumuh yang Dibayangkan Orang-orang meski Nggak Rapi

14 Januari 2026
Tugas Presentasi di Kampus: Yang Presentasi Nggak Paham, yang Dengerin Lebih Nggak Paham

Tugas Presentasi di Kampus: Yang Presentasi Nggak Paham, yang Dengerin Lebih Nggak Paham

17 Januari 2026
3 Keunggulan Kereta Api Eksekutif yang Tidak Akan Dipahami Kaum Mendang-Mending yang Naik Kereta Ekonomi

3 Keunggulan Kereta Api Eksekutif yang Tidak Akan Dipahami Kaum Mendang-Mending yang Naik Kereta Ekonomi

17 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan
  • Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu
  • Nasib Tinggal di Jogja dan Jakarta Ternyata Sama Saja, Baru Sadar Cara Ini Jadi Kunci Finansial di Tahun 2026
  • Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam
  • Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa?
  • Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.