Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Bantul Tidak Butuh Mall untuk Bisa Disebut Beradab dan Maju, Standar Konyol kayak Gitu Wajib Dibuang!

Supriyadi oleh Supriyadi
15 April 2026
A A
3 Dosa Jalan Bantul yang Membuat Warga Lokal seperti Saya Sering Apes ketika Melewatinya Mojok.co

3 Dosa Jalan Bantul yang Membuat Warga Lokal seperti Saya Sering Apes ketika Melewatinya (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Bantul, yang juga sering disebut dengan Jogja Selatan alias Jogsel, sering dibilang sebagai kabupaten yang ketinggalan kalau dibandingkan dengan Jogja Kota dan Sleman. Meski masih mendingan daripada Gunungkidul dan Kulonprogo, Bantul kerap dianggap sebagai sebuah kabupaten yang tidak “ngota”.

Persoalannya sederhana: Bantul tidak seramai Jogja Kota dan Sleman, terlebih lagi tidak ada mall yang kata orang-orang sebagai standar suatu daerah yang sudah “ngota”, “berperadaban”, atau “tidak ndeso.” Standar yang aneh, memang. Sudah aneh, dipegang begitu erat lagi.

Tapi, bagaimanapun kondisinya, Bantul sebenarnya tidak butuh mall. Buat apa mall kalau banyak mall pun sekarang sudah sepi pengunjung?

Mall sepi, live streaming ramai

Dulu, mall adalah lambang kemajuan yang paling mudah dikenali. Bangunannya besar, lampunya terang, dan yang paling penting: penuh. Orang datang bukan hanya untuk belanja, tapi juga untuk sekadar terlihat punya rencana hidup.

BACA JUGA: Bantul, Sentra Industri UMKM sekaligus Penghasil Utama Gondes di Jogja

Sekarang, coba datang ke mall di hari biasa. Bahkan di akhir pekan pun, tidak semua sudutnya seramai yang kita bayangkan. Beberapa toko di dalamnya tutup, beberapa lainnya bertahan dengan diskon yang semakin kreatif. Ada yang tetap hidup, tentu saja, tapi auranya sudah tidak segarang dulu. Sementara itu, di waktu yang sama, ribuan orang justru berkumpul di dunia maya yang tidak punya pintu otomatis: live streaming Shopee dan TikTok.

Di sana, orang tidak perlu parkir, tidak perlu jalan kaki dari lantai ke lantai, dan yang paling penting: tidak perlu menjaga gengsi. Tinggal rebahan, lihat diskon, dengar teriakan “checkout sekarang!”, lalu transaksi selesai bahkan sebelum sempat berpikir.

Kalau pola belanja sudah bergeser seperti ini, pertanyaannya sederhana: buat apa membangun mall baru?

Baca Juga:

Sleman jadi besar dan hebat justru karena tidak punya “pusat kota”, kemajuan tersebar merata di segala penjurunya

Menikmati hari Minggu di Sewon: Alternatif wisata underrated Jogja

Banguntapan saja sudah cukup, itu pun nyaris bukan Bantul

Kalau mau jujur, satu-satunya wilayah di Bantul yang “nyaris cocok” untuk dibangun mall adalah Banguntapan. Itu pun bukan karena Bantulnya, tapi karena lokasinya yang mepet dengan Jogja Kota. Di sekitar sana ada Jogja Expo Center, akses jalan relatif ramai, dan yang paling menentukan: dekat dengan Plaza Ambarrukmo.

Nah, di titik ini, logikanya jadi agak lucu. Kalau di perbatasan saja sudah ada mall besar yang mapan, lalu untuk apa membangun yang baru di wilayah yang karakternya berbeda? Mau bersaing? Terlalu dekat. Mau beda konsep? Ujung-ujungnya tetap jualan hal yang sama.

ADVERTISEMENT

Daya beli warga Bantul: antara realitas dan harapan developer

Mall butuh satu hal yang tidak bisa ditawar: daya beli.

Masalahnya, daya beli masyarakat Bantul tidak selalu sejalan dengan bayangan developer yang mungkin terlalu optimis. Bukan berarti tidak ada yang mampu belanja, tapi mayoritas tidak menjadikan mall sebagai tujuan utama. Belanja, iya. Tapi tidak harus di tempat yang lampunya terang dan musiknya terlalu semangat.

Ada prioritas lain yang lebih dekat dengan kebutuhan sehari-hari. Ada pertimbangan yang lebih realistis daripada sekadar “jalan-jalan ke mall”. Dan yang paling penting, ada kesadaran bahwa harga di mall sering kali datang dengan tambahan biaya yang tidak tertulis: parkir, pajak, dan kadang gengsi.

Di titik ini, mall bukan lagi tempat yang praktis. Ia lebih mirip pengalaman—yang sayangnya tidak semua orang merasa perlu mengalaminya secara rutin.

Ketika petani tidak butuh eskalator

Ada satu hal yang sering dilupakan ketika membicarakan pembangunan: siapa yang sebenarnya akan menggunakan fasilitas itu?

Di Bantul, sebagian besar masyarakatnya masih punya kedekatan dengan dunia pertanian. Ritme hidupnya berbeda, kebutuhannya juga tidak selalu selaras dengan gaya hidup yang ditawarkan mall. Bagi banyak orang, mall itu bukan kebutuhan mendesak. Tidak ada urgensi untuk menghabiskan waktu di sana, apalagi menjadikannya bagian dari rutinitas.

Katakanlah kalian tidak setuju Bantul itu begitu dekat dengan pertanian. Pertanyaannya jadi makin sederhana: seberapa butuh mall bagi orang Bantul, ketika mall yang ada saja bisa ditempuh dengan begitu mudah meski beda kabupaten?

Kalian pasti sudah tahu jawabannya. Ya, Bantul tidak (begitu butuh) mall, setidaknya untuk sekarang. Masih banyak hal yang lebih urgent untuk dipenuhi. Misal, peningkatan daya beli, infrastruktur yang lebih memadai, dan sebagainya, dan sebagainya. Jadi, lupakan standar lucu macam daerah yang maju itu harus punya mall.

ADVERTISEMENT

Yang betul itu sebenarnya satu: daerah yang daya belinya besar, baru bisa punya mall. Pertanyaannya, Bantul gimana?

Penulis: Supriyadi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Menerka Alasan Bantul Tidak Kunjung Memiliki Mal

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 15 April 2026 oleh

Tags: banguntapan bantulBantulDI Yogyakartamall di jogja
Supriyadi

Supriyadi

Seorang yang lahir di Bantul bagian selatan, berdomisili di Bantul bagian utara, dan ber-KTP Cirebon.

ArtikelTerkait

Penderitaan Orang Bantul yang Kuliah di Sleman (Unsplash)

Orang Bantul Kalau ke Sleman Rasanya Dekat, tapi Orang Sleman ke Bantul Rasanya Jauh Banget: Penderitaan Mahasiswa Nglaju PP

20 November 2025
Jetis Jogja dan Jetis Bantul: Dua Daerah Berbeda dengan Nama dan Nasib yang Mirip Mojok.co

Jetis Jogja dan Jetis Bantul, Dua Daerah Berbeda dengan Nama dan Nasib yang Mirip

24 Oktober 2025
Jalan Ambarbinangun Bantul Adalah Sebaik-baiknya Lokasi Uji Kemampuan Berkendara, Segala Rintangan Bisa Ditemukan di Sini!

Jalan Ambarbinangun Bantul Adalah Sebaik-baiknya Lokasi Uji Kemampuan Berkendara, Segala Rintangan Bisa Ditemukan di Sini!

18 November 2024
Nggak Ada Perubahan dari Dulu, Sampai Kapan Saya Harus Memaafkan Kekurangan Jalan Bugisan Selatan Jogja?

Nggak Ada Perubahan dari Dulu, Sampai Kapan Saya Harus Memaafkan Kekurangan Jalan Bugisan Selatan Jogja?

28 Januari 2025
Kisah Kasihan Bantul: Legenda Skincare Jawa dan Trik Licik demi Kekuasaan

Kasihan Bantul, Saksi Bisu Tipu Daya Licik Panembahan Senopati untuk Menghabisi Ki Ageng Mangir

22 Februari 2024
5 Privilese Tinggal di Sleman Utara yang Bakal Sulit Dipahami oleh Warga Bantul Mojok.co

5 Privilese Tinggal di Sleman Sisi Utara yang Bakal Sulit Dipahami oleh Warga Bantul

8 September 2024
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Pengalaman ikut trail run, olahraga yang dahulu saya anggap aneh, tapi akhirnya ketagihan juga Mojok.co

Pengalaman ikut trail run, olahraga yang dahulu saya anggap aneh, tapi akhirnya ketagihan juga

20 Agustus 2026
Setahun merantau di Medan membuat saya bersyukur akhirnya bisa pulang ke Surabaya Mojok.co

Setahun merantau di Medan membuat saya bersyukur akhirnya bisa pulang ke Surabaya

21 Agustus 2026
Untuk Warga Surabaya, Stop Menormalisasi Bayar Parkir kepada Juru Parkir di Toko Atau Minimarket yang Bertuliskan 'Parkir Gratis'!

Ganti pemimpin Surabaya ternyata nggak makin berbenah: lahan parkir selalu saja jadi masalah pelik meski berkali-kali dikritik

15 Agustus 2026
Daerah Ngagel penuh coffee shop, menunjukkan minimnya ruang publik di Surabaya

Daerah Ngagel penuh coffee shop, menunjukkan minimnya ruang publik di Surabaya

16 Agustus 2026
Kuliah S2 itu cuma lanjutan, kualitas asli seseorang justru terlihat saat kuliah S1 Mojok.co

Kuliah S2 itu cuma lanjutan, kualitas asli seseorang justru terlihat saat kuliah S1

18 Agustus 2026
Nostalgia Stasiun Kabat Banyuwangi yang pernah berjaya pada masanya Mojok.co

Nostalgia Stasiun di Kecamatan Kabat Banyuwangi yang pernah berjaya pada masanya

19 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.