Bagi Warga Kabupaten, Orang Jakarta Terlihat Terlalu Buru-buru dan Terlalu Punya Tujuan

Jakarta yang Keras di Dalam Ingatan Arek Surabaya (Unsplash)

Jakarta yang Keras di Dalam Ingatan Arek Surabaya (Unsplash)

Sebagai warga Kabupaten Lamongan, sudah agak lama saya punya keinginan untuk pergi ke Jakarta sendirian. Bukan untuk nongkrong di SCBD, bukan pula buat flexing depan gedung pencakar langit sambil ngopi 80 ribuan. Saya cuma pengin ke Perpusnas dan muter-muter naik transportasi umum.

Iya, entah kenapa, bagi orang daerah seperti saya, naik MRT, LRT, dan TransJakarta itu terasa seperti pengalaman wisata tersendiri. Ada rasa penasaran yang dari dulu mengendap.

Dan tahun ini, keinginan itu akhirnya kesampaian. Saya lolos sebuah pelatihan di Jakarta yang acaranya diadakan di Perpustakaan Nasional. Yah, hidup memang ada-ada saja.

Tentu saja kesempatan itu tidak saya sia-siakan. Saya benar-benar mencoba menikmati Jakarta lewat transportasi umumnya. Pindah stasiun, naik MRT, jalan kaki dari halte ke halte untuk pindah naik LRT. Saya sengaja melakukan itu beberapa kali hanya untuk menikmati inner child saya.

Dan jujur saja, saya cukup senang. Ada sensasi aneh ketika melihat gedung-gedung tinggi yang selama ini cuma saya lihat di media sosial. Ada rasa kagum sekaligus bingung. Kota ini terasa hidup hampir sepanjang waktu. Bahkan malam hari pun masih terasa seperti jam sibuk.

Terlalu terburu-buru

Setelah beberapa hari menghirup polusi metropolitan dan berjalan di tengah manusia-manusia cepat itu, saya mulai menyadari kalau orang Jakarta terlalu buru-buru.

Serius. Di Jakarta, hampir semua orang terlihat punya tujuan yang sangat jelas. Keluar dari pintu stasiun, mereka langsung berjalan cepat menuju titik tertentu. 

Langkahnya presisi. Mukanya serius. Tangannya sibuk memegang HP atau tas kerja. Bahkan ritme jalannya seperti sudah diatur timer. Tidak ada yang benar-benar santai.

Saya sempat berdiri agak lama di salah satu sudut stasiun MRT cuma untuk memperhatikan orang lalu-lalang. Dan makin lama saya melihat, makin terasa bahwa kota ini dipenuhi manusia-manusia yang seperti sedang dikejar sesuatu. Entah target kerja, jadwal meeting, jam kantor, cicilan hidup, atau mungkin sekadar takut terlambat beberapa menit.

Sedangkan di Lamongan, saya justru lebih sering menemukan “orang bingung”. Iya, orang-orang yang jalan hanya untuk jalan itu sendiri.

Naik motor muter tanpa tujuan jelas. Tiba-tiba berhenti di warung buat beli kopi atau rokok. Lalu lanjut lagi. Kadang nongkrong di pinggir jalan sambil melihat truk lewat juga sudah cukup jadi aktivitas sore.

Bahkan ada orang yang keluar rumah cuma untuk “muter-muter”. Tanpa tujuan jelas. Dan hal itu dianggap normal. Iya, bagi warga kabupaten, tidak semua perjalanan memang harus punya tujuan besar.Nah, kultur seperti itu rasanya sulit ditemukan di Jakarta.

BACA JUGA: Jakarta Tak Cocok bagi Fresh Graduate yang Cuma “Pengen Cari Pengalaman”: Bisa Bikin Finansial dan Mental Layu Sebelum Berkembang

Orang Jakarta tak bisa santuy

Sejauh yang saya amati, semuanya terasa cepat. Bahkan ketika naik eskalator pun saya baru tahu ada aturan tidak tertulis, yakni sisi kanan harus dikosongkan untuk orang yang buru-buru. Saya sampai bengong sendiri. Lho, ini eskalator kan sudah berjalan otomatis. Ngapain masih ditambah jalan lagi?

Ternyata memang ada orang-orang yang merasa waktu beberapa detik itu sangat berharga. Jadi mereka tetap melangkah cepat di atas eskalator yang sebenarnya sudah bergerak.

Kalau perilaku seperti itu dilakukan di Lamongan, kemungkinan besar langsung ada yang nyeletuk: “Gupuh budal wingi.” Kalau buru-buru banget ya berangkat kemarin saja. Dan jujur, saya hampir refleks mengucapkan itu keras-keras. 

Sebagai anak kabupaten, saya terbiasa hidup dengan ritme yang lebih lambat. Orang ngobrol dulu sebelum masuk inti pembicaraan. Ngopi bisa sejam lebih meski yang dibahas itu-itu saja.  Sedangkan Jakarta terasa seperti kota yang tidak memberi ruang terlalu banyak untuk jeda. Semua orang sibuk bergerak. Semua orang terlihat punya agenda. 

Dan kadang saya bertanya-tanya, hidup ini sebenarnya mau mengejar apa sih? Mbok ya duduk dulu. Ngopi dulu. Napas dulu.

Meski demikian, saya cukup kerasan di Jakarta. Kota itu tetap menyenangkan untuk dikunjungi. Transportasi umumnya memudahkan, fasilitasnya lengkap, dan banyak hal membuat saya kagum.

Tapi mungkin memang ada perbedaan mendasar antara menikmati sebuah kota dan tinggal di dalamnya. Karena tiap kota punya ritmenya sendiri. Dan saya sadar, ritme hidup orang kabupaten seperti saya mungkin memang terlalu lambat untuk Jakarta. Iya, tiap daerah ternyata bukan cuma beda budaya saja, tapi juga ritme dan tujuan hidup sehari-hari.

Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 4 Tahun Merantau di Jakarta Bikin Sadar, “Orang Kabupaten” Jauh Lebih Toksik dari Anak Jaksel: Sialnya, Susah di-Cut Off

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version