Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Profesi

Bagi Tenaga Honorer seperti Saya, Mampu Bertahan di Tengah Negara yang Absurd Adalah Sebuah Pencapaian 

Pratma Yandrefo oleh Pratma Yandrefo
6 Juni 2026
A A
Bagi Tenaga Honorer seperti Saya, Mampu Bertahan di Tengah Negara yang Absurd Adalah Sebuah Pencapaian  Mojok.co

Bagi Tenaga Honorer seperti Saya, Mampu Bertahan di Tengah Negara yang Absurd Adalah Sebuah Pencapaian (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Di negara ini, tenaga honorer bak peribahasa sudah jatuh tertimpa tangga alias sulit.

Bulan November nanti, umur saya resmi menyentuh angka 28 tahun. Bagi sebagian anak muda, akhir usia dua puluhan adalah masa-masa matang. Kebanyakan punya karier mapan, menikah, sering nongkrong di coffee shop mahal, dan mulai memikirkan investasi. 

Akan tetapi, bagi seorang tenaga honorer salah satu instansi pemerintah di Kabupaten Bungo, usia 28 terasa seperti masa-masa mencekam. Terlebih kondisi negara ini makin kian tak masuk akal. 

Sebagai tenaga honorer dengan gaji Rp1 juta sebulan yang tanggal pembayarannya tidak menentu, saya langsung bertukar seragam menjadi driver Maxim selepas pulang kantor demi menyambung hidup. 

Pendapatan dari driver tidak banyak, Rp40-50 ribu per hari. Itu pun masih dipotong ongkos bensin sekitar Rp25-30 ribu per dua hari. Sebuah perjuangan melelahkan yang harus saya jalani, semata-mata agar di usia menjelang kepala tiga ini saya tidak lagi meminta uang atau memberatkan orang tua.

Seni bertahan hidup sebagai tenaga honorer

Tinggal bersama orang tua memang sebuah privilese yang menyelamatkan saya dari teror tagihan ibu kos tiap bulan. Namun, saya tetap punya kewajiban bulanan seperti iuran BPJS, wifi, paket internet, token listrik, hingga biaya servis motor biar lancar narik Maxim. Belum lagi ditambah cicilan paylater. 

Bicara soal paylater, kaum urban mungkin menggunakannya demi menunjang flexing gaya hidup atau kredit iPhone boba biar kelihatan kaya di media sosial. Namun, saya menggunakannya untuk urusan yang jauh lebih krusial, menyambung hidup. Sebuah cara yang membuat saya merasa menjadi sultan selama lima menit, lalu setelah itu menjadi horor jangka panjang yang durasinya terasa lebih lama ketimbang menunggu hilal kepastian status PNS.

Fenomena ini sekaligus menjadi bukti betapa lucunya (dan ironis) masyarakat kita hari ini. Ketika sebagian orang rela berutang demi terlihat kaya di media sosial, ada juga tenaga honorer seperti saya yang terpaksa berutang di aplikasi yang sama hanya agar token listrik di rumah tidak mendadak berbunyi tit-tit-tit tengah malam.

Baca Juga:

Bersyukur Tidak Lolos CPNS Setelah Lulus SMA karena Difitnah Teman Dekat kalau Saya Ikut Seleksi Pakai Ordal

Nasib Guru PNS Muda di Sekolah Boomer: Dianggap Dewa Teknologi, Berakhir Jadi Kurikulum Abadi

Sisi terang yang tidak pernah saya sesali

Apabila kalian mengira tulisan ini hanya berisi kutukan dan penyesalan terhadap nasib, kalian salah besar. Di atas semua kehidupan ini, saya tidak pernah menyesal sedikit pun telah memilih jalan menjadi seorang tenaga honorer.

Dari ruang birokrasi dan meja kerja yang sederhana ini, saya justru mendapatkan ruang tumbuh yang luar biasa. Saya berkesempatan bertemu dengan banyak orang hebat dari berbagai latar belakang, menyerap berbagai ilmu, dan mengumpulkan pengalaman berharga yang tidak akan bisa saya beli dengan uang satu juta rupiah per bulan.

Gaji boleh saja pas-pasan, tetapi pengalaman di instansi ini sukses membuat anak daerah seperti saya merasa jadi seorang profesional. Saya diberi ruang untuk berkembang, ikut berbagai pelatihan, hingga mampu mewujudkan mimpi masa kecil yang dulu cuma sebatas cita-cita untuk naik pesawat terbang ke Jakarta dan berkunjung ke Yogyakarta.

Sesuatu yang dulu tak pernah terpikirkan bakal jadi nyata di hidup saya. Bagi saya, momen-momen itu adalah kemewahan batin yang sangat saya syukuri. Bagaimanapun, tempat ini telah memberikan fondasi awal yang berharga tentang bagaimana dunia bekerja.

Realitas makro, tekanan politik, dan keinginan

Ironisnya, setelah masa-masa indah penuh pembelajaran itu, di tengah perjuangan bertahan hidup, realitas makroekonomi ikut menyentak. Rupiah tampaknya bakal menyentuh angka Rp19 ribu per dolar jauh lebih cepat ketimbang realisasi janji pemerintah tentang 19 juta lapangan pekerjaan. 

Alih-alih melihat lapangan kerja baru dibuka, yang terjadi saat ini justru gelombang PHK massal. Mencari pekerjaan baru zaman sekarang susahnya sudah seperti mencari jarum di tumpukan jerami.

Di saat yang sama, lingkungan instansi tempat saya mengabdi mulai berubah menjadi toksik dan penuh tekanan politik. Bertahan di dalam sistem honorer daerah membuat hidup saya mandek, sementara beban ekonomi di luar sana bergerak sangat cepat.

Namun, motivasi terbesar saya untuk berani mencari pintu keluar sebenarnya bermuara pada satu hal, saya punya niat serius untuk menikah.

Niat sakral itu sukses memaksa logika saya melek bahwa pernikahan yang sehat tidak bisa dibangun di atas fondasi stagnasi finansial. Jika ingin membangun masa depan yang kokoh bersama pasangan, diri saya sendiri yang harus di-upgrade duluan. Saya harus bergerak berkembang, menuntut ilmu, dan mendapat pekerjaan dengan gaji yang lebih layak untuk menyambung hidup yang makin ugal-ugalan ini.

Keluar dari lingkaran kenyamanan semu ini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan ruang bertumbuh yang baru untuk menjemput kesejahteraan yang lebih masuk akal. Namun, di sinilah perang batin yang saya rasakan sesungguhnya baru dimulai. 

Apakah nekat keluar dari pekerjaan honorer saat ini demi mengubah nasib adalah langkah yang bijaksana, ataukah ini cuma bentuk pelarian dari mental saya yang payah?

Tenaga honorer perlu exit plan yang lebih matang

Setelah merenung dengan kepala dingin, saya akhirnya sadar. Saya bukanlah manusia manja yang takut berjuang. Di era gempuran hustle culture yang melelahkan ini, orang malas jelas tidak akan sudi jadi driver ojek online menembus angin malam setelah seharian bekerja di kantor. 

Keinginan saya untuk keluar bukanlah pelarian impulsif akibat kutipan manis dari motivator atau standar pencapaian tiktok.  Melainkan keputusan logis untuk naik kelas.

Realitasnya, dengan tabungan yang masih nol, mengajukan surat resign tanpa pemikiran yang matang dan ketidakpastian pekerjaan baru adalah tindakan bodoh paling hakiki. Aplikasi paylater itu jelas tidak akan “tenggang rasa” untuk peduli apakah “tuannya” sedang jadi pengangguran atau tidak.

Keinginan untuk berubah memang tidak pernah salah. Namun, waktu dan cara kita berubahlah yang menentukan apakah hidup kita akan naik kelas, atau justru makin tergilas oleh keadaan.

Maka, langkah paling dewasa saat ini adalah menolak resign tanpa persiapan. Saya memilih tetap bertahan di instansi pemerintah ini sembari bergerilya mengirimkan lamaran kerja ke berbagai tempat.

Cara terbaik menghargai ilmu di tempat lama adalah keluar dengan persiapan matang, bukan kabur sebagai buronan kelaparan. Di tengah badai PHK massal yang cuma dianggap “efisiensi biasa” oleh korporasi dan lapangan kerja baru yang telanjur jadi mitos, bertahan hidup sambil mencicil exit plan yang rapi adalah kemewahan batin tersendiri.

Malam ini, saya akan kembali menarik Maxim membelah jalanan dan merawat mimpi untuk menikah. Saya tidak sedang lari dari masalah, saya hanya sedang mengambil ancang-ancang untuk melompat lebih tinggi, dengan cara yang jauh lebih aman bagi dompet dan masa depan.

Penulis: Pratma Yandrefo
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Terima Kasih PO Sudiro Tungga Jaya Rute Surabaya-Ngawi Sudah Banyak Berjasa di Rumah Tangga Saya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 6 Juni 2026 oleh

Tags: honorerpnsresigntenaga honorer
Pratma Yandrefo

Pratma Yandrefo

Alumni Bahasa dan Sastra Arab. Saat ini bekerja pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah.

ArtikelTerkait

5 Kiat Menolak Teman PNS yang Suka Ngemplang Utang (Pixabay)

5 Kiat Menolak Teman PNS yang Suka Ngemplang Utang

9 November 2022
5 Hal yang Sering Dipamerkan PNS di Media Sosial (Shutterstock.com)

5 Hal yang Sering Dipamerkan PNS di Media Sosial

7 Maret 2022
Akbar Faisal Profesi PNS Adalah Kebanggaan Orang Tua yang Masih Abadi terminal mojok.co

Pernyataan Akbar Faizal Super Relate bagi Pemuda yang Terus-terusan Dipaksa Jadi PNS

17 Oktober 2021
resign

Bagi Para Karyawan, Semua Akan Resign Pada Waktunya

19 Juni 2019
hobi resign dari tempat kerja alasan ragu cara memutuskan menyesal mojok.co

4 Alasan yang Sering Membuat Orang Ragu-ragu Resign dari Tempat Kerja

31 Maret 2020
4 Hal yang Bikin Resah PNS Menjelang Akhir Tahun Terminal Mojok

4 Hal yang Bikin Resah PNS Menjelang Akhir Tahun

3 November 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Andai Suzuki Burgman Street 125 Ganti Logo Jadi Honda, Pasti Laris di Indonesia

Suzuki Burgman 150 Terbaru yang Rilis di Kolombia Jadi Bukti Bahwa Suzuki Makin Persetan dengan Penjualan dan Tampilan. Desainnya Jelek Banget!

5 Juni 2026
Perayaan Waisak di Borobudur: Momen Sakral yang Bawa Berkah bagi Warga Magelang

Perayaan Waisak di Borobudur: Momen Sakral yang Bawa Berkah bagi Warga Magelang

31 Mei 2026
Soto, Kuliner Solo Bukan Makanan, tapi Jimat Bertahan Hidup (unsplash)

Soto, Warisan Budaya di Khazanah Kuliner Solo yang Tidak Lagi Dianggap Makanan, tapi Cara Bertahan Hidup

31 Mei 2026
6 Lagu Sheila On 7 yang Kurang "Nyeila", Terdengar seperti Band Lain. Perlu Diputar Berkali-kali untuk Sadar Itu Memang Lagu Mereka Mojok.co

6 Lagu Sheila On 7 yang Kurang “Nyeila”, Terdengar seperti Band Lain. Perlu Diputar Berkali-kali untuk Sadar Itu Lagu Mereka 

6 Juni 2026
4 Mitos Seputar Skripsi yang Bikin Mahasiswa Stres magang skripsi kuantitatif

Tips Cepat Lulus Skripsi Kuantitatif Tanpa Jadi Tumbal Statistik dari Dosen, Dijamin Waras!

4 Juni 2026
Kopi Klotok Tidak Lagi Menarik, Warga Jogja Pilih Menghindar (Wikimedia Commons)

Kopi Klotok: Kuliner Wajib bagi Wisatawan, tapi Semakin Banyak Warga Lokal Jogja yang Memilih Menjauh dan Mencari Tempat Lain

6 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.