Bagaimana Jadinya Jika Generasi Z Jadi Orang Tua? – Terminal Mojok

Bagaimana Jadinya Jika Generasi Z Jadi Orang Tua?

Artikel

Avatar

Sebagai generasi yang menyukai kebebasan dan tidak suka diperintah, deretan kaum generasi Z sangat anti dengan pengekangan. Wajar saja kalau kami (karena saya juga anggota generasi Z) sering merasa mendapat pola asuh yang tidak sesuai dari orang tua. Banyak sekali peraturan yang diterapkan orang tua dan wajib hukumnya untuk dipatuhi, kalau sekali saja melanggar, angel wes angel.

Mungkin para orang tua mengira kalau peraturan yang dibuat bisa memberikan perasaan nyaman untuk anaknya, tetapi kami para generasi Z menganggapnya sebagai garis pembatas yang menghalangi hak kebebasan yang kami miliki. Salah satu peraturan yang meresahkan adalah diberlakukannya jam malam, apalagi kalau yang batas jam malamnya hanya sampai pukul 18.00, itu sih bukan jam malam, tapi jam petang. Belum juga malam, sudah disuruh pulang.

Pulang malam bukan berarti kami anak nakal yang buang-buang waktu dengan keluyuran ke sana sini. Ada yang mengerjakan tugas kelompok sampai larut malam, ada yang ikut kepanitiaan dan harus rapat sampai malam, ada banyak kegiatan lain yang harus dikerjakan saat malam hari, dan memang tidak bisa dikerjakan sendirian di rumah. Akan tetapi, sering kali orang tua tidak memahami hal itu, ujung-ujungnya salah paham lagi, lagi, dan lagi. Salah paham terjadi karena kurangnya keterbukaan, betul tidak? Sebagai anak dengan tipikal orang tua yang “straight”, rasanya mustahil untuk mengutarakan pendapat, mustahil untuk berterus terang tentang apa yang sebenarnya sedang dirasakan. Kalau sudah begitu, sangat sulit untuk berteman dengan orang tua.

Lagi curhat tentang percintaan bisa-bisa langsung diminta putus. Cerita kalau lagi down, berharap bisa didengar dan diberi semangat, eh malah dibilang kurang ibadah. Bukan salah generasi Z kalau pada akhirnya lebih dekat dengan teman atau sahabat daripada dengan orang tua sendiri. Apalagi di masa pandemi seperti sekarang yang membuat semua kegiatan jadi online. Sering diteriaki “HP terooosss”, padahal HP juga dibuat sekolah, cari materi pembelajaran. Seharian sekolah online di kamar, dikira rebahan doang, angel wes angel. Ada banyak aspek di kehidupan anak yang bisa menjadi objek pengekangan bagi orang tua.

Misalnya saya, saya memang tidak mendapat batasan perihal waktu. Semalam apa pun saya pulang ke rumah, orang tua saya tetap membukakan pintu tanpa dibumbui dengan omelan. Bahkan saya juga diizinkan untuk menginap di rumah teman walaupun tanpa alasan yang jelas. Saya bebas traveling kemana pun dengan teman-teman saya. Teman-teman saya sampai iri karena saya selalu mendapat kebebasan. Tetapi tetap saja, saya juga merasakan yang namanya dikekang, di balik kebebasan waktu yang saya miliki, saya juga menerima banyak tuntutan. Saya bebas secara waktu, tapi saya tidak bebas secara pilihan. Saya dituntut untuk mengikuti pilihan orang tua, alhasil, saya tumbuh menjadi anak yang sulit mengambil keputusan sendiri.

Saya juga sering dibanding-bandingkan. Bicara tentang dibandingkan, sepertinya bukan cuma saya. Saya yakin seratus persen, pasti para generasi Z pernah dibandingkan, entah sama anak tetangga atau bahkan dengan saudara kandung sendiri. Gimana rasanya dibandingkan? Mantap, kan? Dari sini akhirnya saya menyadari kalau parenting itu perlu dipelajari, bukan sekadar meneruskan tradisi. “Saya akan mendidik anak saya seperti orang tua mendidik saya,” anggapan seperti itu sudah seharusnya dihentikan. Kita belajar saja dari pengalaman, pola asuh itu tidak cuma ada satu. Ada beberapa tipe pola asuh yang bisa kita pelajari dan kita terapkan.

#1 Pola asuh otoriter

Orang tua tipe otoriter biasanya cenderung membatasi dan menghukum. Mereka menuntut anak untuk patuh pada perintah. Orang tua dengan pola ini sangat ketat dalam memberikan batasan dan kendali yang tegas terhadap anak-anak. Komunikasi yang terbentuk antara anak dan orang tua hanya komunikasi satu arah. Orang tua merasa “lebih tahu” mana yang terbaik bagi anak-anaknya.

#2 Pola asuh demokratis/otoritatif

Orang tua tipe otoritatif mendorong anak untuk mandiri, tapi tetap memberi batasan-batasan. Orang tua tipe ini cenderung memberi kebebasan. Pendekatan yang dilakukan orang tua pada anak bersifat hangat. Komunikasi yang terbentuk adalah komunikasi dua arah antara anak dan orang tua.

#3 Pola asuh permisif

Orang tua tipe permisif bisa dibilang tidak memiliki peran dalam kehidupan anaknya. Mereka memberi kebebasan penuh pada anak, tanpa melakukan pengawasan. Orang tua tidak memberikan teguran atau peringatan, dan sedikit sekali memberi bimbingan pada anaknya.

Sebagai pengguna TikTok, saya pernah beberapa kali menjumpai konten TikTok yang isinya tentang curhatan generasi Z tentang orang tua mereka. Intinya, ada banyak hal yang tidak bisa diungkapkan dengan mudah, orang tua tidak tahu kalau anaknya susah tidur tiap hari karena overthinking. Mereka tidak tahu kalau anaknya lagi insecure, mereka tidak tahu kalau anaknya bisa tertawa lepas saat nongkrong sama teman-temannya.

Belakangan ini, TikTok memang jadi tempat curhat bagi penggunanya yang didominasi oleh generasi Z. Ada konten menarik yang beberapa kali muncul di fyp saya, kontennya berkaitan dengan konten sebelumnya. Masih tentang hubungan antara orang tua dan anak. “Bayangin kalau generasi Z jadi orang tua,” kira-kira seperti itu kata-kata yang pertama muncul di konten yang berhasil membuat saya ikut berandai-andai.

Katanya, kalau generasi Z menjadi orang tua, mereka tidak akan mengekang anaknya, mereka akan memberi izin untuk pulang malam asalkan alasannya jelas, pergi ke mana dan dengan siapa. Mereka juga tidak melarang anaknya untuk berpacaran, asal mereka memperkenalkan pacarnya. Mereka akan memberi dukungan penuh pada anaknya, tidak akan membanding-bandingkan anaknya, dan berjanji akan menjadi tempat curhat untuk anak-anaknya.

Kelihatannya menyenangkan sekali, ya, punya orang tua yang berasal dari jajaran generasi Z. Kalau diperhatikan, sepertinya para generasi Z lebih memilih tipe pola asuh demokratis, memberi kebebasan tetapi juga tatap memberi pengawasan. Coba bayangkan, bagaimana kalau semua generasi Z memiliki pemikiran yang sama, dan kemudian di masa depan anak-anak bisa dididik dengan cara yang demokratis? Hmmm, sepertinya tentram sekali kehidupan ini. Yaaa, kita lihat saja nanti, bagaimana eksekusinya? Kalau sekarang, sih, cuma bisa berandai-andai.

BACA JUGA Saya Gen Z dan Bukan Bagian dari Generasi Cashless Society

Baca Juga:  Ibu Dijual Seharga 10 Ribu Karena Penyakitan: Maunya Apa Sih?
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
7


Komentar

Comments are closed.