Babak Akhir dari Rivalitas Indomaret dan Alfamart

Saya juga tak begitu peduli dengan rivalitas Indomaret dan Alfamart, meskipun Indomaret tetap terbaik menurut saya. Berdasarkan pengalaman saya.

Artikel

Avatar

Saya cukup tertarik dengan beberapa tulisan mengenai perseteruan Indomaret dan Alfamart di Terminal Mojok beberapa waktu terakhir. Meski masih lebih menarik komentar-komentar para pembaca pada tulisan awal saya tentang Indomaret. Ada yang menyebut saya mainnya kurang jauh, minim riset, bahkan sampai menuduh saya adalah penulis bayaran Indomaret. Buat apa coba Indomaret bayar orang buat nulis seperti itu. Nggak penting juga sebenarnya. Bahkan ada yang kasi penjelasan status perusahaan masing-masing. Wah, terima kasih loh.

Saya berani sesumbar kalau “keributan” ini memang saya yang memulai. Bisa dilihat dari beberapa tulisan balasan yang mengaitkan dan mentautkan link tulisan saya. Saling berbalas tulisan ini menjadi “pertarungan” menarik bagi saya. Ketika ide dibalas dengan ide, tulisan dibalas dengan tulisan, maka akan terjadi diskusi yang sehat, bukan debat kusir dan saling tuduh tanpa bukti.

Sudah saya tuliskan jelas di tulisan saya awal, bahwa penilaian ini subjektif. Tahu subjektif kan? Tahu lah pasti. Perkara tidak seuju atau apa pun, ya silakan saja. Tapi jadi lucu kalau menganggap saya itu penulis bayaran Indomaret. Kalau tuduhan saya mainnya kurang jauh, saya masih bisa terima. Lha wong saya memang anak mama, yang kalau main jauh sedikit aja sudah kangen rumah.

Saya sebenarnya sempat merasa takut ketika tulisan itu naik dan ramai. Saya takut dituduh mencemarkan nama baik lah atau ujaran kebencian lah. Tapi ketika saya baca tulisan saya lagi, ya tidak ada unsur keduanya. Itu kan hanya pendapat saya pribadi, subjektif. Ada sih di kolom komentar yang ingin menghubungi saya. Ya saya kasih saja alamat email saya. Tapi sampai tulisan ini dibuat, tidak ada tindak lanjutnya. Ya saya anggap bercanda saja.

Baca Juga:  Mari Bersepakat Bahwa Indomaret Lebih Baik Daripada Alfamart

Persoalan rivalitas keduanya sih biasa saja menurut saya. Namanya penjual barang, pasti punya pasarnya masing-masing. Kalau dibilang minimarket ini membunuh usaha kecil, saya juga kurang sepakat. Ada yang tidak dijual di toko kecil, tapi dijual di minimarket. Sebaliknya, misal harga di minimarket mahal, bisa jadi harga di toko kecil lebih murah. Dinamika pasar kan seperti itu. Jadi biasa saja.

Kultur minimarker ini juga merambah pihak-pihak lain untuk membuka usaha minimarket. Meskipun banyak yang gagal, tapi beberapa ada yang cukup berhasil dan bertahan di arena pertarungan. Toh rivalitas mereka yang paling banyak diperbincangkan juga paling muter-muter di persoalan harga. Tidak lebih.

Saya sendiri tidak menyangka kalau tulisan ini bisa bercabang-cabang balasannya. Saya salut terhadap orang-orang yang memilih untuk membaca tulisan saya sampai selesai, lalu membalasnya dengan tulisan juga. Kalau yang bilang saya mainnya kurang jauh, ya ajak saya main yang jauh dong, mas, mbak!

Saya juga tak begitu peduli dengan rivalitas Indomaret dan Alfamart, meskipun Indomaret tetap terbaik menurut saya. Saya hanya menulis mengenai pengalaman saya. Tidak ada niat apapun. Tapi ya namanya netizen yang maha benar di atas segalanya, tuduhan-tuduhan di atas akhirnya datang ke saya. Jujur, saya tertawa lho baca kolom komentarnya. Lucu-lucu banget.

Lalu apa solusi untuk pertarungan keduanya? Ya biarkan saja. Lha wong mereka juga sama-sama cari uang. Kalau ada yang curang ya tinggal dilaporkan, tapi harus dengan bukti dan saksi yang benar ya. Jangan main lapor tapi bukti dan saksinya gak nyambung. Jangan seenaknya menyalahkan pihak-pihak yang lebih besar tanpa alasan. Kalau kalian merasa toko-toko kecil jadi sepi karena adanya minimarket tersebut, ya kalian kalau belanja jangan ke minimarket. Ke toko itu saja. Saya aja kalau beli rokok juga ke toko sebelah rumah kok, bukan di minimarket.

Baca Juga:  Fenomena Akun Gosip di Media Sosial

Terakhir, saya menikmati berbalas tulisan seperti ini meski tidak secara langsung. Ya mirip-mirip konten berbalas fiksinya Mojok lah. Tapi beda genre saja. Kalau kalian memang terganggu dan merasa dirugikan dengan adanya minimarket, ya jangan belanja di sana. Belanja saja di toko dekat rumah kalian. Kalau tidak setuju dengan tulisan saya, balas saja dengan tulisan. Kan lumayan nanti bisa dapat honor.

Tapi kalau kalian merasa capek di jalan, jangan lupa berhenti dan mampir di Indomaret terdekat untuk istirahat. Selain AC nya lebih sejuk, kopinya juga lebih enak.

Salam!

---
1.228 kali dilihat

31

Komentar

Comments are closed.