Aturan Tidak Tertulis di Masyarakat Sebaiknya Ditulis Saja – Terminal Mojok

Aturan Tidak Tertulis di Masyarakat Sebaiknya Ditulis Saja

Artikel

Muhammad Farih Fanani

Setelah menginjakkan kaki di Jogja beberapa tahun silam, saya dihadapkan pada masalah baru yang bagi saya cukup rumit.  Masalah ini bukan perkara bingung memburu makanan murah dan mencari nasi pecel di angkringan. Lebih daripada itu. Saya dihadapkan pada lingkungan yang menjunjung tinggi aturan tidak tertulis yang berlaku di masyarakat.

Sebagai orang yang tidak pandai bersosialisasi, saya tidak begitu memahami konsep-konsep dasar bersosialisasi. Dalam pandangan saya, bersosial itu seperlunya saja. Tapi di Jogja, semua terasa berbeda.

Petuah-petuah mahasiswa senior di lingkungan kos membikin saya semakin sadar bahwa bersosial merupakan sebuah keharusan. Selain aturan tertulis, ada aturan tidak tertulis yang sebaiknya kami pelajari dan taati.

Mahasiswa senior kerap kali berucap bahwa berhubungan baik dengan warga saja tidak cukup. Kami harus akrab, ngangkring bareng, minum kopi bareng, dan bahkan ngerokok bareng (tidak peduli kami perokok atau bukan). Setidaknya, begitulah pesan pertama yang harus kami jalankan demi menjadi mahasiswa yang baik dan benar.

Namun, ini bukan perkara mudah. Menaati aturan tidak tertulis itu sama beratnya dengan membaca naskah kuno yang amburadul, bahkan lebih berat. Pasalnya, tanpa membacanya, kami diharuskan menaatinya. Kami mungkin tidak akan dipenjara kalau mengelak, tapi stigma masyarakat terhadap mahasiswa seperti kami akan berubah kalau aturan tidak tertulis itu tidak benar-benar kami indahkan.

Perjumpaan dengan budaya yang berbeda mengharuskan saya untuk menyesuaikan diri. Tapi sekali lagi, ini bukan perkara mudah. Titik kesadaran saya berpuncak ketika saya sudah bersinggungan secara langsung dengan masyarakat Jogja. Saya menjadi tenaga pengajar di salah satu madrasah swasta di Jogja.

Sebagian besar guru dan pegawainya adalah masyarakat asli Jogja. Mereka sangat humble dan gemar bercanda. Tapi, yang tidak saya sadari (betul kata mahasiswa senior) bahwa di dalam lubuk hati yang paling dalam para bapak-bapak ini sangat memegang kuat aturan-aturan yang tidak tertulis.

Saya benar-benar dibuat bingung ketika dihadapkan pada situasi yang cukup mencekam diri saya. Saya tidak mengerti harus baca buku apa untuk memahami karakter bapak-bapak ini supaya saya bisa bergaul dengan sempurna.

Apa saya bersikap elit? Saya rasa tidak. Saya punya pembelaan. Saya cenderung lebih ndeso daripada blio-blio. Bahkan dalam beberapa kesempatan, saya sudah bersikap sangat sopan. Dalam lingkungan itu, saya seperti seonggok kerikil yang berusaha menyatu dengan lembutnya pasir. Bisa halus jika dipukul keras-keras, tapi tetap kelihatan bedanya. Dalam benak saya, saya harus bisa bergaul, tapi bagaimana cara memulainya?

Saya tidak tahu harus bersikap seperti apa kalau blio-blio sedang bercanda, saya sangat kesulitan memahami letak lucunya. Tertawa yang dibuat-buat itu sangat kelihatan. Saya juga kebingungan kalau harus memulai pembicaraan dengan blio-blio. Apa yang harus saya bahas? Apa saya harus membahas podcast terbarunya Deddy Corbuzier? Atau sekedar sambat kalau lampu merah di perempatan jalan ringroad sangat menyita waktu perjalanan saya? Saya sangat kelabakan. Tapi biasanya, saya memilih diam.

Di tengah kegelisahan yang melanda, saya sedikit tercerahkan saat membaca buku yang baru saja saya beli, Dilarang Mengutuk Hujan. Di bagian berjudul “Industrialisasi Njagong”, mas suhu Iqbal Aji Daryono sedikit menyinggung tentang aturan tidak tertulis di masyarakat. Ia menjelaskan bahwa hidup bermasyarakat mengenal yang namanya “sanksi sosial”. Memang terdengar menyeramkan, tapi setidaknya itulah yang terjadi. Konsep tersebut tidak jauh-jauh dari hubungan timbal balik. Saya mengambil kesimpulan bahwa apa yang kami tanam, maka itulah yang kami tuai.

Dari situ saya jadi ngerti kenapa bapak-bapak di lingkungan mengajar saya sering sekali melempar senyum dan selalu berbicara dengan bahasa sopan ke saya. Pasalnya, sejak awal setiap kali berpapasan dengan blio-blio, saya selalu menyuguhkan pemandangan yang tidak jauh berbeda. Padahal kalau dengan orang lain, mereka sangat luwes, ngomong pakai bahasa Jawa ngoko, dan saling lempar lelucon khas bapak-bapak.

Terbesit di pikiran untuk mengubah gaya komunikasi saya kepada mereka menjadi lebih kasual. Tapi, hati nurani saya tetap mengelak untuk berbicara ngoko dan tertawa terbahak-bahak di depan orang yang lebih tua. Saya harus tetap sopan, menjaga tingkah laku, dan tidak bersikap kurang ajar sebisa mungkin.

Kendati pun kasual dan sopan bisa berjalan beriringan, tapi kemampuan sosialisasi saya belum mencapai tahap yang sedemikian hebatnya. Bukan perkara saya tidak bisa bersosialisasi, akan tetapi skill sosialisasi saya masih berada pada level yang paling dasar. Alih-alih menggabungkan atara sopan dan kasual, berusaha sopan saja saya sudah sangat keteteran.

Melihat, mempelajari, dan berusaha memahami itu semua, saya semakin sadar bahwa aturan tidak tertulis itu cukup rumit. Satu-satunya hal yang membuat aturan itu rumit ya karena tidak ditulis. Saya sempat berpikir kenapa aturan-aturan itu tidak ditulis saja? Padahal kalau itu ditulis, semua akan jadi mudah dipahami dan tidak menimbulkan salah paham. Lagipula, babak baru sejarah manusia juga bermula ketika manusia mulai bisa menulis. Sekarang semua manusia sudah menulis, jadi menulis aturan akan menjadi pekerjaan yang sangat mudah.

Namun, sampai sekarang saya masih belum menemukan adanya proyek baru terkait penulisan aturan tidak tertulis ini. Rupanya aturan tertulis memang diciptakan untuk tidak ditulis. Saya menduga, salah satu alasan kenapa aturan tidak tertulis dibiarkan tidak tertulis adalah karena aturan itu memang njelimet. Tidak ada ukuran yang jelas tentang batas-batas yang harus dijalankan, boleh dilakukan, dan tidak boleh dilakukan. Semuanya hanya berpangkal pada pantas dan tidak pantas.

Alhasil, aturan-aturan tersebut semakin sulit untuk dipelajari. Terlebih orang-orang seperti saya sampai kapanpun akan kesulitan. Saya khawatir kalau sampai nanti aturan ini dibiarkan tidak tertulis, eksistensinya akan terusik. Kemungkinan terburuknya akan dilupakan oleh orang-orang dan hilang dari jagat raya alam semesta. Menyedihkan.

BACA JUGA Di Daerah Saya, Ngumpulin Massa Buat Sosialisasi Kondom Dianggap Mau Bagi-Bagi Bantuan dan tulisan Muhammad Farih Fanani lainnya.

Baca Juga:  Kiat-Kiat Mengobati Patah Hati di Kota Jogja
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
9


Komentar

Comments are closed.