Arti Hormat Tiga Jari oleh Demonstran di Thailand ala 'The Hunger Games: Mockingjay Part I' – Terminal Mojok

Arti Hormat Tiga Jari oleh Demonstran di Thailand ala ‘The Hunger Games: Mockingjay Part I’

Artikel

Marshel Leonard Nanlohy

Demonstrasi yang sedang terjadi di Bangkok merupakan salah satu aksi terbesar yang pernah dilakukan oleh Thailand sejak beberapa tahun belakangan. Salah satu tuntutannya adalah reformasi monarki. Nah, yang menarik dari demonstrasi ini adalah hormat tiga jari ala film The Hunger Games: Mockingjay Part I yang dilakukan oleh para demonstran. Memang apa sih artinya?

Sebagai sebuah negara yang nggak pernah dijajah bangsa Eropa, Thailand bisa saja dinobatkan “abang jago” oleh negara-negara lain di ASEAN. Dengan dikelilingi oleh para penjajah dari Eropa pada waktu itu di wilayah Asia Tenggara, bisa-bisanya Thailand lolos dari lingkaran kolonialisme. Sebagai negara yang memiliki bentuk monarki konstitusional, Thailand melesat menjadi negara dengan tim sepak bola yang selalu ditakuti warga Indonesia ketika harus berhadapan secara langsung dengan kesebelasan Indonesia di Piala AFF.

Negara produsen iklan-iklan ciamik yang bikin penontonnya mbrebes mili ini memiliki cara yang unik dalam menyampaikan suara lewat demonstrasi. Tapi, jangan disamakan kayak goyang tiktok-nya mahasiswa Indonesia di tengah demo lho yaa, alias nggak substansial sama sekali xixixi..

Di Thailand, masyarakat menyampaikan aspirasi secara simbolik, yaitu dengan mengacungkan tiga jari ke atas (seperti orang Indonesia ketika membuat gestur angka tiga). Hal ini menarik bagi masyarakat di seluruh dunia bahkan hingga di Indonesia. Soalnya, gerakan mengacungkan tiga jari tersebut adalah suatu gestur yang terdapat dalam sebuah scene film.

Tepat, film tersebut adalah The Hunger Games. Sebuah film yang diadaptasi dari novel karya Suzanne Collins. Lebih spesifik lagi, gestur mengacungkan ketiga jari tersebut ada di salah satu scene dalam sequelnya yang berjudul The Hunger Games: Mockingjay Part I. Di film itu, karakter utamanya adalah seorang perempuan bernama Katniss Everdeen.

Tokoh Katniss dalam film tersebut diperankan oleh sang aktris cantik Jennifer Lawrence Dalam dialognya, Katniss sempat bilang, “if we burn, you burn with us,”  kepada kelompok yang memegang peran antagonis di film tersebut. Adegan ini menjadi salah satu momen yang paling epic dalam film. Singkatnya, Katniss, dkk berperan sebagai kelompok yang melawan organisasi otoriter.

Di situasi ini, masyarakat Thailand bisa kita analogikan sebagai Katniss dan teman-temannya dalam film The Hunger Games. Mereka memiliki keresahan kolektif dan pada akhirnya disampaikan melalui cara-cara yang unik. Tuntutan warga Thailand antara lain meminta PM Prayuth Chan-ocha mundur dari jabatannya, mengadakan reformasi monarki, sekaligus membuat sebuah konstitusi baru.

Situasi itu dipicu oleh pembubaran partai oposisi dengan alasan pinjaman uang yang diberikan oleh ketua partai. Di pengadilan, sang ketua juga dijerat hukuman berupa larangan berpolitik selama 10 tahun.

Weh, rumangsaku kepenak ket mbiyen wes dadi kerajaan yen raono masalah. Jebule pancen ruwet og masalah e. Ternyata menjadi sebuah negara yang tidak pernah dijajah sekalipun memiliki masalahnya tersendiri saat ini. Dilihat dari kacamata seorang awam, dengan pertimbangan bahwa terbentuknya Thailand dari awal udah kerajaan, tuntutan demonstrasi  yang pro-demokrasi akan terasa sulit. Namun, jauh lebih baik ketika kita menyesal karena sudah melakukan, daripada menyesal karena belum pernah dilakukan.

Demonstrasi di Thailand diikuti oleh lebih dari sepuluh ribu orang. Seluruh komponen masyarakat mulai dari kelas pekerja hingga pelajar secara khusyuk mengikuti jalannya demonstrasi. Perlu dipertanyakan apakah Menteri Pendidikan Thailand memberikan surat peringatan terhadap para pelajar yang ikut demonstrasi? Ealah kok beda ya, nggak kayak di sini.. 

Usut demi usut, hormat tiga jari ini ternyata sudah digunakan oleh masyarakat Bangkok sejak 2014 silam. Tahun yang sama ketika film The Hunger Games: Mockingjay Part I dirilis.

Di Indonesia sendiri, hormat (atau salam) tiga jari juga pernah digunakan. Bahkan hormat tiga jari bisa dibilang sering digunakan oleh para elit politik. Biasanya, simbol dalam hormat tiga jari di Indonesia merujuk pada Sila ke-3 dalam Pancasila, yaitu Persatuan Indonesia.

Biasanya salam kayak gitu di Indonesia cuman buat gimmick yang fungsinya buat meredam dikotomi dua binatang (cebong dan kampret) yang kerap kali menimbulkan masalah jika terus dibiarkan berselisih. Hadeh mesakke.

Berbeda dengan di Thailand, hormat tiga jari melambangkan kebebasan, keadilan, dan persaudaraan. Konsep yang merujuk pada ketiga buah dari revolusi Prancis, yaitu liberté, égalité, fraternité.

Dengan demikian, kita harusnya belajar menyampaikan aspirasi secara substansial gitu loh, kayak Thailand. Semoga hormat tiga jari tersebut dapat menjadi simbol bagi perjuangan seluruh masyarakat dunia. Hidup Katniss Everdeen! Hidup Jennifer Lawrence!

BACA JUGA Selain Harta Benda, Narasi Juga Tak Kalah Penting untuk Diwariskan

Baca Juga:  Ingat! Mohon Maaf Lahir Batin Jangan Hanya Saat Lebaran

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
11


Komentar

Comments are closed.