Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Arsenal dan Nilai yang Pupus, Saga Mesut Ozil dan Posisi Kia Joorabchian

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
14 Agustus 2020
A A
Arsenal Mesut Ozil, Mohon Maaf, Sudah Waktunya Kamu Pergi MOJOK.CO

Arsenal Mesut Ozil, Mohon Maaf, Sudah Waktunya Kamu Pergi MOJOK.CO

Share on FacebookShare on Twitter

Gooners UIN Jakarta mengingatkan saya tentang salah satu kalimat Arsene Wenger ketika meninggalkan Arsenal. Wenger nitip pesan ke semua orang yang mencintai Arsenal: “Tolong jaga nilai-nilai yang ada di klub ini….”

Sayang sekali. Ketika fans berusaha sekuat tenaga untuk menghidupi nilai-nilai dan tradisi yang ada di klub ini, manajemen Arsenal gagal menunjukkan usaha serupa. Saya rasa, seiring waktu, nilai luhur yang dijaga dan “dikampanyekan” setiap hari itu tidak lagi ada. Nilai luhur sebuah klub bernama Arsenal sudah pupus.

Saya berusaha melacak perubahan itu dari sudut pandang Mesut Ozil. Sosok pemain yang “disingkirkan” oleh manajemen dan pelatih Arsenal, Mikel Arteta. Sudut pandang yang akan saya pakai memang sudut pandang subjektif dari seorang pemain. Artinya, ini sudut pandang pribadinya. Ketika kalimat-kalimat Ozil menemui kebenarannya, maka bisa dipastikan segala nilai luhur Arsenal memang sudah waktunya untuk diralat.

Kita tahu klub berusaha mengurangi beban gaji di neraca keuangan. Dan Ozil, pemain dengan gaji tertinggi, 350 ribu paun per pekan, adalah sasaran pertama. Apalagi, sebelum project restart dimulai, Ozil sudah “membangkang” dengan menolak pemotongan gaji. Sikap ini seperti dimanfaatkan manajemen untuk membenturkan sang pemain dengan fans.

Sikap manajemen seperti apa yang dimaksud? Manajemen Arsenal mendiamkan Ozil, bahkan mengasingkannya dari skuat. Sikap diam ini membuat segala tafsir menjadi sangat liar. Dengan diam, manajemen membiarkan fans membentuk opininya sendiri. Opini yang ternyata menyudutkan Ozil.

Sikap ini jauh dari usaha menjaga keharmonisan skuat. Dan benar saja, setelah Ozil angkat suara melalui The Athletic, kita bisa membayangkan suasana ruang ganti Arsenal yang pasti canggung dan penuh curiga. Ozil menegaskan bahwa bukan dirinya saja yang menolak pemotongan gaji. Ada pemain lain yang mengambil sikap serupa. Namun, Ozil mempertanyakan sikap publik dan manajemen yang menjadikannya satu-satunya sasaran tembak.

Ozil sendiri menegaskan dirinya siap menerima pemotongan gaji. Bahkan tidak masalah menerima pemotongan dengan nilai lebih besar ketimbang pemain lain. Yang dibutuhkan Ozil adalah kejelasan. Mau disalurkan ke mana uang itu? Sikap ini justru benar adanya dan tidak ada hubungannya dengan usaha membantu staf yang terancam karena pandemi.

Uang di dalam kontrak Ozil adalah haknya, yang disanggupi oleh klub ketika memberikan kontrak baru. Maka wajar jika dia butuh kejelasan. Apalagi, Ozil menggunakan Sebagian besar uangnya untuk aksi amal yang tidak dipublikasikan. Ketika uang gajinya dipotong, adalah hak dari karyawan untuk mendapat kejelasan. Hal ini perlu kita pahami dulu.

Baca Juga:

Sejak MU Menang Terus, Dunia Jadi Penuh Setan, Lebih Kejam, dan Sangat Suram bagi Fans Liverpool

Persamaan Kontroversi Feodalisme Pondok Pesantren dan Liverpool yang Dibantu Wasit ketika Menjadi Juara Liga Inggris

Sikap Ozil menemui kebenarannya ketika setelah final Piala FA, manajemen akan merumahkan 55 staf. Padahal, kebijakan pemotongan gaji sebesar 12,5 persen sebelum kompetisi berjalan ditujukan untuk mencegah perumahan staf. Artinya, manajemen ingkar janji.

“Saya bersedia gaji saya dipotong lebih besar ketimbang yang disarankan, setelah ada kejelasan. Namun, kami dipaksa segera mengambil keputusan tanpa kejelasan. Bagi siapa saja di situasi ini, berhak mendapatkan kejelasan, untuk memahami kenapa gaji kita harus dipotong dan ke mana uang itu dialokasikan,” terang Ozil.

“Situasi ini tidak adil, terutama untuk pemain muda, dan oleh sebab itu saya menolak. Saya baru saja punya anak dan punya komitmen kepada keluarga, baik di Turki, maupun di Jerman, dan kepada aksi amal yang sedang saya lakukan, juga proyek baru saya untuk membantu orang-orang di London, yang mana memang tidak dipublikasikan,” tambahnya.

“Mereka yang mengenal saya secara pribadi, pasti tahu kalau saya tidak masalah untuk berkorban. Dan sejauh yang saya tahu, bukan saya saja yang menolak pemotongan gaji. Namun, hanya nama saya yang dipublikasikan. Saya rasa, selama 2 tahun ini, ada orang-orang yang ingin menghancurkan saya, untuk membuat saya tidak bahagia, untuk mendorong sebuah agenda di mana suporter akan dibenturkan dengan saya, untuk menciptakan sebuah gambaran yang tidak benar. Mungkin, keputusan ini berefek kepada kesempatan saya bermain lagi. Saya tidak tahu. Namun yang pasti, saya tidak takut untuk memperjuangkan sesuatu yang menurut saya benar,” tegas Ozil.

Manajemen Arsenal harus menghadapi kenyataan bahwa Ozil bersikeras untuk bertahan. Jika manajemen tidak bisa menemukan solusi, citra mereka di mata fans akan semakin buruk.

Semakin buruk, terutama setelah Kia Joorabchian seakan-akan punya pengaruh yang besar kepada manajemen. Padahal, Kia hanya seorang agen. Tidak punya jabatan structural di dalam manajemen, tidak bisa urun suara, atau mengambil keputusan untuk sebuah kebijakan. Namun, Kia bisa seenak hati berbicara seakan-akan mewakili isi Arsenal.

Kia menuduh Sven Mislintat, mantan scout Arsenal, melakukan kejahatan dengan memainkan nilai kontrak beberapa pemain yang dia sarankan untuk dibeli. Tim Stillman, penulis Arseblog, berpendapat bahwa sikap ini sangat tidak terpuji. Seorang agen bisa melontarkan pendapat yang terlihat begitu “intim” dengan klub dengan level kepercayaan diri seperti ini sangat tidak baik.

Seakan-akan, Kia punya pengaruh yang sangat besar dan posisinya tidak bisa disentuh. Kita tahu, kedekatannya dengan Raul Sanllehi yang menjadi latar belakang. Sebuah kenyataan yang tidak sehat untuk Arsenal.

Saga Ozil dan posisi seorang agen yang begitu besar. Arsenal memang sudah kehilangan nilai-nilai luhur. Bahwa keharmonisan ternyata bisa disingkirkan demi menuju kemenangan. Pertanyaannya, kemenangan siapa yang akan dituju? Kemenangan Arsenal atau hanya kepuasaan dari segelintir orang saja?

BACA JUGA 8 Menit 46 Detik George Floyd Meregang Nyawa Adalah Sebuah Pengkhianatan dan tulisan Yamadipati Seno lainnya. 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 14 Agustus 2020 oleh

Tags: arsenalartetakia joorabchianliga inggrisozil
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

ArtikelTerkait

Tanpa Helmy Yahya, Premier League Tetap Aman-Aman Saja Kok! Iya Kok!

Tanpa Helmy Yahya, Premier League Tetap Aman-Aman Saja Kok! Iya Kok!

21 Januari 2020
Najwa Shihab Satu-satunya Tokoh Perempuan yang Pantas Menjadi Presiden, yang Lain Minggir Dulu!

Najwa Shihab Satu-satunya Tokoh Perempuan yang Pantas Menjadi Presiden, yang Lain Minggir Dulu!

27 Oktober 2022
liverpool

City vs Arsenal: Fans Liverpool Jangan Terlalu Berharap, Tahu Sendiri Arsenal Gimana

17 Juni 2020
manchester united manchester city liga inggris FFP david pannick MOJOK.CO

Manchester United Ternyata Kalah Kelas dari Manchester City, Si Perusak Anus UEFA

14 Juli 2020
Jati Diri Kita Adalah Liga Dangdut Indonesia Bukan Liga Inggris

Jati Diri Kita Adalah Liga Dangdut Indonesia Bukan Liga Inggris

22 Januari 2020
milan inter juventus arsenal MOJOK.CO

Fans Milan Dikeroyok Fans Inter dan Juventus, Mereka Adu Bacot Gara-gara Fans Arsenal

10 Juli 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Aerox Motor Yamaha Paling Menderita dalam Sejarah (unsplash)

Aerox: Motor Yamaha Paling Menderita, Nama Baik dan Potensi Motor Ini Dibunuh oleh Pengguna Jamet nan Brengsek yang Ugal-ugalan di Jalan Raya

8 April 2026
Hidup di Desa Nggak Selamanya Murah, Social Cost di Desa Bisa Lebih Mahal daripada Biaya Hidup Sehari-hari karena Orang Desa Gemar Bikin Hajatan

Pindah ke Desa Bukan Solusi Instan Saat Muak Hidup di Kota Besar, apalagi bagi Kaum Introvert, Bisa-bisa Kena Mental

5 April 2026
Membuka Kebohongan Purwokerto Lewat Kacamata Warlok (Unsplash)

Membuka Kebohongan Tentang Purwokerto dari Kacamata Orang Lokal yang Jarang Dibahas dalam Konten para Influencer

4 April 2026
4 Alasan yang Bikin User Kereta Api Berpaling ke Bus AKAP, Gratis Makan dan Lebih Aman Mojok.co

4 Alasan yang Bikin User Kereta Api Berpaling ke Bus AKAP, Gratis Makan dan Lebih Aman

7 April 2026
Saya Kira Jadi PPPK Bikin Hidup Tenang, Ternyata Cuma Ganti Kecemasan yang Lain

Saya Kira Jadi PPPK Bikin Hidup Tenang, Ternyata Cuma Ganti Kecemasan yang Lain

2 April 2026
Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja Mojok.co

Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja

3 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Ikut Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat sampai 4 Kali, setelah Diterima Malah Menyesal karena Nggak Sesuai Ekspektasi
  • Umur 30 Cuma Punya Honda Supra X 125 Kepala Geter: Dihina tapi Jadi Motor Tangguh buat Bahagiakan Ortu, Ketimbang Bermotor Mahal Hasil Jadi Beban
  • Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living
  • Slow Living Cuma Mitos, Gen Z dengan Gaji “Imut” Terpaksa Harus Hustle Hingga 59 Tahun demi Bertahan Hidup
  • Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 
  • Lulusan Farmasi PTS Jogja Bayar Mahal untuk Wisuda, tapi Gagal Foto Keluarga karena Ayah Harus Dirawat di Rumah Sakit Jiwa

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.