Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Kenapa Sih Mau Bergembira dengan Panjat Pinang Kok Dilarang?

Ulul Azmi Afrizal Rizqi oleh Ulul Azmi Afrizal Rizqi
8 Agustus 2019
A A
panjat pinang

panjat pinang

Share on FacebookShare on Twitter

Sebentar lagi kita menyambut ulang tahun negara tercinta. Berbagai persiapan hingga perayaan siap meramaikan seluruh sudut negeri hingga ke pelosok. Bendera merah putih mulai terlihat gagah di depan rumah-rumah penduduk.

Belum lagi kantor pemerintahan hingga pusat keramaian dengan baliho-baliho bertemakan merah putih. Tak mau kalah, para pelaku bisnis juga berpartisipasi dengan mengadakan promo bertemakan kemerdekaan. Mulai dari promo nama Agus, hingga promo bagi yang lahir tanggal 17 Agustus.

Semua bergembira, semua bersuka cita menyambut hari kemenangan Indonesia. Sebuah hari bersejarah dimana 74 tahun lalu para tokoh pejuang kemerdekaan memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Hasil jerih payah ratusan tahun berjuang melawan penjajah.

Sebuah perayaan harus kita sambut dengan penuh suka cita. Masing-masing daerah memiliki cara tersendiri untuk menyambut hari kemerdekaan. Mulai dari karnaval, festival seni budaya, berbagai macam perlombaan, hingga yang tak boleh ketinggalan upacara detik-detik Proklamasi 17 Agustus.

Salah satu perlombaan yang sering dilombakan menyambut 17 Agustus yaitu panjat pinang.  Kalau di daerah saya orang biasa menyebut jambeyan. Pada beberapa daerah kalau saya boleh koreksi sebenarnya nama yang paling tepat yaitu panjat bambu. Karena yang dipanjat adalah sebatang pohon bambu, bukan pohon pinang.

Saya sendiri pernah dua kali mengikuti jambeyan ini. Kesempatan pertama ikut pada tahun 2015, saya dan tim gagal total. Namun, kami berhasil meraih puncak dan mengibarkan bendera merah putih di kesempatan berikutnya di tahun 2016.

Berbagai macam hadiah kami peroleh, mulai dari pakaian, alat-alat dapur, minuman bersoda, hingga uang tunai. Meski badan penuh dengan oli bekas, semua itu tak terasa saking antusiasnya  menyambut hari kemenangan bangsa. Apalagi mampu menjadi pemenang dalam lomba panjat bambu tersebut. Sebuah momen yang kini sangat saya rindukan. Momen yang belum mampu saya temui kembali di perantauan.

Sebenarnya, bagaimana sih sejarah perlombaan panjat pinang? Konon katanya, panjat pinang merupakan sebuah perlombaan yang diadakan Belanda dengan peserta dari orang pribumi. Mereka saling berlomba untuk merebut hadiah sementara pihak Belanda hanya menonton dari bawah sembari tertawa dan menghina para peserta. Katanya sih begitu.

Baca Juga:

Jangan Salah! Lebih dari 95% Penduduk Indonesia Tidak Mendukung Kemerdekaan

Budaya di FBSB UNY: Sekadar Tambahan Nama atau Beneran Punya Makna?

Okelah, dari narasi tersebut dapat dilihat orang Belanda terkesan melecehkan orang pribumi. Mereka seolah tertawa melihat penderitaan rakyat yang saling berebut untuk hadiah yang tak seberapa. Tapi ya kita tidak tau juga tujuan sebenarnya permainan itu, apakah memang benar-benar untuk melecehkan atau sekadar hiburan dan permainan semata.

Namun sayangnya, kini hal itu seakan diungkit kembali. Sejak tahun lalu (atau sudah sejak tahun-tahun sebelumnya namun saya tidak tahu) menjelang 17 Agustus banyak beredar postingan mengenai sejarah panjat pinang hingga makna di balik perlombaan itu. Bahkan ada himbauan agar tak melakukannya lagi karena panjat pinang merupakan sebuah penghinaan kaum penjajah terhadap rakyat Indonesia. Lihat saja dalam beberapa waktu ke depan, di sosial media pasti juga bakal dijumpai postingan serupa.

Gimana ya, mbok ya jangan baper gitu ah. Emang yang membuat postingan seperti itu dulu saat masih ada penjajah ikut menjadi pesertanya? Kalau saya sih lebih memilih mengambil sisi positifnya saja. Jangan samakan gambaran kini dan masa lalu.

Faktanya, semua orang menyambut 17 Agustus khususnya perlombaan panjat pinang dengan penuh suka cita. Dari peserta, dan saya sendiri yang pernah mengalami langsung tak pernah sama sekali merasa dilecehkan. Justru ada kebanggaan tersendiri ketika mampu meraih kemenangan. Rasa bangga walau hanya sekadar bergembira menyambut kemerdekaan bangsa.

Dari kalangan penonton pun juga tidak ada yang terlihat melecehkan para peserta. Mereka bersuka cita, tertawa karena melihat tingkah lucu para peserta. Ada yang celananya melorot, ada yang tergelincir karena batang bambu terlalu licin, dan kebahagiaan-kebahagiaan yang mungkin tak didapat oleh mereka yang hanya bisa nyinyirin perlombaan ini.

Sudahlah, tidak perlu sedikit-sedikit cocoklogi mengaitkan setiap  kegembiraan rakyat dengan ini itu, apalagi hingga ancaman dosa. Masyarakat kita butuh hiburan. Masyarakat sudah jenuh dengan keadaan bangsa kita akhir-akhir ini. Masyarakat sudah capek dengan hiruk pikuk pesta demokrasi yang melelahkan. Sudah saatnya kita bergembira bersama, kembali berangkulan menyambut kemenangan bangsa Indonesia. Buah perjuangan para pahlawan bangsa. Dan jangan lupa ikut lomba panjat pinang ya, rasakan keseruannya. (*)

 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) yang dibikin untuk mewadahi sobat julid dan (((insan kreatif))) untuk menulis tentang apa pun. Jadi, kalau kamu punya ide yang mengendap di kepala, cerita unik yang ingin disampaikan kepada publik, nyinyiran yang menuntut untuk dighibahkan bersama khalayak, segera kirim naskah tulisanmu pakai cara ini.

Terakhir diperbarui pada 9 Februari 2022 oleh

Tags: Budayalomba agustusanpanjat pinangperayaan kemerdekaan indonesiasejarah indonesia
Ulul Azmi Afrizal Rizqi

Ulul Azmi Afrizal Rizqi

Tukang Sensus, tinggal di Ambon. Bercita-cita kembali ke Banda Naira(lagi).

ArtikelTerkait

daftar tamu undangan pernikahan ra srawung rabimu suwung seserahan adik nikah duluan gagal nikah dekorator pernikahan playlist resepsi pernikahan mojok

Menolak Falsafah ‘Ra Srawung Rabimu Suwung’

6 Juli 2021
es teh

Mengapa Air Putih Kalah Pamor Dibanding Es Teh Manis?

12 Juli 2019
Tradisi Ater-ater di Momen Ramadan yang Menguntungkan Sekaligus Merugikan. #TakjilanTerminal18

Tradisi Ater-ater di Momen Ramadan yang Menguntungkan Sekaligus Merugikan. #TakjilanTerminal18

21 April 2021
kafir

Nonton Drama Korea tidak Termasuk Bagian dari Kafir

10 September 2019
kapten Raymond Paul Pierre Westerling pembantaian sulsel 1946-1947 kekejaman kudeta sukarno mojok.co

Westerling, Percobaan Kudeta, dan Candaannya tentang Nyawa Sukarno

13 September 2020
Cheers! Menelusuri Budaya Minum soju di Korea Selatan terminal mojok

Cheers! Menelusuri Budaya Minum Alkohol di Korea Selatan

16 April 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Saya Memilih Pindah dari Indonesia dan Hidup di Jepang, Salah Satunya karena Kepastian Hidup yang Lebih Jelas

Saya Memilih Pindah dari Indonesia dan Hidup di Jepang, Salah Satunya karena Kepastian Hidup yang Lebih Jelas

19 Mei 2026
Sumbersari Malang yang Overrated Masih Jadi Daerah Paling Masuk Akal bagi Maba yang Baru Pertama Kali Merantau Mojok.co

Sumbersari Malang yang Overrated Masih Jadi Daerah Paling Masuk Akal bagi Maba yang Baru Pertama Kali Merantau

16 Mei 2026
Gempa Jogja Adalah Guru yang Tidak Kita Inginkan, tapi Kita Perlukan

Gempa Jogja Adalah Guru yang Tidak Kita Inginkan, tapi Kita Perlukan

22 Mei 2026
8 Tipe Pengguna Toilet Mal Paling Red Flag di Mata Cleaning Service, Semoga Kalian Bukan Salah Satunya Mojok.co

8 Tipe Pengguna Toilet Mal Paling Red Flag di Mata Cleaning Service, Semoga Kalian Bukan Salah Satunya

19 Mei 2026
Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus: Teriak Melawan Penindasan di Luar, tapi Seniornya Jadi Aktor Penindas Paling Kejam organisasi mahasiswa eksternal organisasi kampus

Organisasi Mahasiswa Itu Candu, dan Jabatan di Kampus Itu Jebakan yang Pelan-pelan Mematikan

18 Mei 2026
Jadi MUA di Desa Sulit Cuan karena Selalu Dimintai “Harga Tetangga” kalau Menolak Dicap Pelit Mojok.co

Jadi MUA di Desa Sulit Cuan karena Selalu Dimintai “Harga Tetangga” kalau Menolak Dicap Pelit

18 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.