Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Pendidikan

Apa Salahnya Belajar dari Lucinta Luna?

Ade Vika Nanda Yuniwan oleh Ade Vika Nanda Yuniwan
6 Agustus 2019
A A
lucinta luna

lucinta luna

Share on FacebookShare on Twitter

Menjadi manusia bertalen jelas menjadi agenda wajib bagi manusia semasa hidup. Lebih-lebih bagi seorang seniman, atau ya kita sebut saja artis. Selain menjadi ladang komersilnya, bertalenta—adalah salah satu cara bagi mereka agar tetap dikenal khalayak luas.

Seperti salah satu artis yang kita kenal—Lucinta Luna. Jangan kaget! Artis yang sering mampang di pemberitaan gosip layar tv dan layar timelime instagram kita ini adalah satu dari sekian banyak artis yang saya kagumi. Ya terlepas dari isu ber-evolusinya artis satu ini dari pria ke pria (Perempuan Riang gembirA). Melihat mbak Lucinta Luna, saya justru bisa mengevaluasi diri saya sendiri.

Lucinta Luna yang sering diberitakan karena ulah kontroversialnya, saya pikir lebih baik daripada trendingnya challenge saya pamit yang diperkenalkan Ria Ricis pada aksinya 27/7/19 lalu. Atau trending kembalinya Atta Halilintar di sosial media Twitter yang menuai respon penolakan dari jagad maya Twitter. Aksi blunder mereka justru menunjukkan para vlogger itu payah demi menggaet subscribe.

Hal berbeda justru saya rasakan saat pemberitaannya muncul secara berkala di akun instagram gosip. Di sebuah video yang tersebar, terlihat Lucinta Luna sedang mengata-ngatai rekan seperartisannya yang ia sebut band tokai. Hal itu ia lakukan lantaran ia merasa kesal karena oknum band ini terindikasi menjiplak lagu dari band luar. Entah perihal apa masalahnya dengan okum band sebelum video itu banyak beredar.

Dalam videonya dengan bahasa lo-gue nya, Lucinta terlihat sangat geram. Sesekali ia juga mengakui bahwa dirinya kini merintis bisnis barunya dalam industri permusikan sebagai seorang produser. Wow, ini luar biasa! Bayangkan saja bagaimana pandainya sosok Lucinta Luna dalam mengambil batu loncatan sejak kemunculannya yang dianggap penuh kontroversi oleh jagad pergosipan.

Dilhat dari melejitnya seorang Lucinta melalui karir di dunia hiburan, meskipun ia tidak mendapat Silver Play Button atau Gold Play Button dari YouTube berkat vlog prank, grebek rumah, atau unboxing squishy pun, seorang Lucinta akan sukses dengan caranya. Tentunya kesuksesan ini tidak lepas dari kecerdasan intrapersonalnya.

Kita tentu tahu, kecerdasan interpersonal tidak semua orang memilikinya. Kecerdasan ini merupakan kecerdasan yang melibatkan seorang manusia dengan perasaan dan pikirannya sendiri. Sebagai seorang yang pemberani untuk mengkespresikan apa yang tengah dipikirkannya, tentu ini merupakan sebuah kelebihan bagi Lucinta Luna.

Pribadi yang banyak dikenal sebagai seorang transgender ini bahkan berani tampil apa adanya sebagai sosok sanguinis. Perilakunya sebagai seorang sanguinis ini ditunjukkan dengan kegemaran berkatarsisnya. Sebuah aksi yang ditujukan sebagai pembebasan diri, dari segala ketegangan pikiran.

Baca Juga:

Working Mom Mending Tinggal di Perumahan agar Terhindar dari Tetangga Nyinyir

Dear Pak Zulhas, Bapak dan Partai Bapak Tolong Jangan Sering-sering Bikin Emosi

Bayangkan saja jika seorang manusia tanpa memiliki kecerdasan interpersonal. Dunia tentu akan dipenuhi para hipokrit. Mereka (para hipokrit) sudah pasti tidak memiliki kecerdasan interpersonal seperti yang dimiliki Lucinta Luna. Bagi orang tanpa kecerdasan intrapersonal, akan sulit untuk mengutarakan maksud dan keinginannya secara terbuka atau terus terang.

Hal itu jika kita tinjau dari satu sisi seorang Lucinta Luna. Kecerdasan intrapersonal itu juga terlihat padanya manakala ia dan keapatisannnya dalam menanggapi kerusuhan, ke-maha benaran para netizen. Bagi saya—seorang netizen (read: bukan follower Lucinta Luna) yang sering kepoin feed instagramnya, apapun yang diposting oleh pria (Perempuan Riang gembirA) itu sama sekali tidak menjadi masalah.

Apapun yang diunggahnya, sebagai warganet yang budiman, saya sama sekali tidak terdampak. Namun berbeda manusia berbeda juga interpretasi. Ribuan suara hujatan untuk Lucinta hampir selalu memenuhi kolom komentar. Dan yang paling bikin saya salut dengan si Lucinta adalah merasa bodoamat dengan komentar-komentar nyinyir para netizen.

Coba kita pikirkan sekali lagi. Belum tentu sikap apatis yang diperlihatkan Lucinta bisa kita ilhami sepenuhnya. Wong saya ingat benar, waktu musim kampanye, cebong—kampret cepat sekali tersulut jika salah satu kubu menyerang paslon mereka dengan wacana satir. Padahal jika dipikir-pikir mereka kebagian untung apa jika nyengot dan kobong gitu saat paslon mereka diserang? Biar jadi bagian parlemen atau kabinet?

Mereka yang dimikian itu padahal bukan objek kesatiran, melainkan sebagai tameng para paslon mereka yang sebenarnya justru menjadi objek utama. Tidak seperti Lucinta yang kecerdasan intrapersonalnya sangat luar biasa. Mengendalikan amarah meski sering dihujat tidak akan mudah dilakukan orang-orang tanpa interpersonal yang baik.

Kecerdasan intrapersonal sosok Lucinta Luna tidak berhenti sampai di situ. Kita (para netizen) yang mengikuti kabar pergosipan, tentu tau bagaimana sosok Lucinta Luna sangat percaya diri memamerkan suara teriakan seraknya ke kancah publik. Niat hati ingin menjadi manja dan centil, teriakan Lucinta justru jadi bahan cyber bullying baru bagi warganet.

Bayangkan bagaimana ia dengan percaya dirinya melantunkan sebuah lagu seperti yang terlihat dalam vlog Boy William beberapa waktu lalu. Kalian, yang memiliki suara pas-pasan dan tidak memiliki kepercayaan diri tidak akan mampu menandingi Lucinta Luna. Suara seraknya justru dijadikan maskot oleh pria yang ingin disapa dengan sebutan Ratu ini. Ihwal itu, Lucinta adalah sosok yang dapat menghargai dirinya sendiri.

Dibanding #sayapamit-nya Ria Ricis yang meninggalkan gimmick receh. Membuat para The Ricis gemas setengah mati karena vlog terakhirnya ternyata cuma trik konyol untuk mendompleng 16.000 subscribers. Lucinta, tetap melakukan apa yang jadi kesukaannya meski tak sedikit juga orang yang tidak suka. Meskipun sebenarnya sikap apa adanya itu hanya mengundang haters (bukan subscribers).

Masih terilhami dari Lucinta Luna, saya kini ikut terpikirkan sesuatu. Menjadi pribadi yang terus terang, apatis, dan ekspresif, setidaknya tidak perlu memikul beban berat soal pencitraan menjadi pribadi yang lain dari diri saya demi menyenangkan orang lain. Dan masih terilhami oleh sosok pria (Perempuan Riang gembirA) ini, bahagia adalah menjadi diri saya sendiri.

Dari sosok Lucinta pun saya menyadari jika wanita trans ini adalah sosok yang mandiri. Kenapa begitu? Lucinta Luna tetap berdiri pada kemandirian finansialnya meskipun warganet menghujatnya karena menjadi sosok wanita trans. Ia tetap menjadi sosok public figure dengan penuh percaya diri meskipun banyak memiliki haters. Tegar sekali kan? Ini terjadi karena kecerdasan intrapersonalnya bekerja dengan baik.

Terlepas dari ke-transgenderan-nya, ada banyak hal yang patut untuk direnungi dari Lucinta Luna. Menjadi pribadi yang apa anane, dapat memotivasi diri meski banyak yang membenci. Lha kalau belajar ketegaran Lucinta Luna buat ngasah kecerdasan intrapersonal kita, apa salahnya?

Terakhir diperbarui pada 9 Februari 2022 oleh

Tags: GosipkontroversiLucinta Lunatransgender
Ade Vika Nanda Yuniwan

Ade Vika Nanda Yuniwan

Pekerja literasi yang mencintai buku, anak-anak, dan pendidikan. Suka berdiskusi sambil nulis ringan untuk isu-isu yang di sekelilingnya.

ArtikelTerkait

ghibah

Ya Tuhan, Mengapa Ghibah Itu Menyenangkan?

6 Juli 2019
akh deddy

Akh Deddy Corbuzier Masuk Islam, Emang Ukh Lucinta Luna Nggak Boleh Bersyukur Juga?

24 Juni 2019
bipolar disorder depresi penyakit mental masa lalu mojok

Masa Lalu Orang Bukan Konsumsi Umum, Gaes!

18 Oktober 2020
MasterChef Indonesia Season 11 Benar-benar Sukses. Sukses Jadi Hujatan, Maksudnya

MasterChef Indonesia Season 11 Benar-benar Sukses. Sukses Jadi Hujatan, Maksudnya

28 November 2023
lomba meme

Ada Apa dengan Lomba Meme Kemdikbud?

6 Agustus 2019
Top Chart: Program Musik kok Isinya Gosip?

Top Chart: Program Musik kok Isinya Gosip?

19 Desember 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

7 Kebiasaan Orang Kebumen yang Terlihat Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warga Lokal Mojok.co

6 Mitos di Kebumen yang Nggak Bisa Dibilang Hoaks Begitu Saja

3 Februari 2026
Es Teh Jumbo Cuan, tapi Jualan Gorengan Bikin Saya Bisa Kuliah (Unsplash)

Bisnis Kecil Seperti Gorengan dan Es Teh Jumbo Dipandang Remeh Nggak Bakal Cuan, Padahal Berkat Jualan Gorengan Saya Bisa Kuliah

2 Februari 2026
Banting Setir dari Jurusan Manajemen Jadi Guru PAUD, Dianggap Aneh dan Nggak Punya Masa Depan Mojok.co jurusan pgpaud

Jurusan PGPAUD, Jurusan yang Sering Dikira Tidak Punya Masa Depan

5 Februari 2026
Honda CRF, Motor Sok Gagah dan Menyebalkan yang Semoga Saja Segera Lenyap dari Jalanan Mojok.co

Honda CRF, Motor Sok Gagah dan Menyebalkan yang Semoga Saja Segera Lenyap dari Jalanan

1 Februari 2026
Stasiun Plabuan Batang, Satu-Satunya Stasiun Kereta Api Aktif di Indonesia dengan Pemandangan Pinggir Pantai

Bisakah Batang yang Dikenal sebagai Kabupaten Sepi Bangkit dan Jadi Terkenal?

1 Februari 2026
Pro Tips Bikin Sate Taichan Jadi Lebih Enak (Wikimedia Commons)

Pro Tips Bikin Sate Taichan Jadi Lebih Enak: Sebuah Usaha Menghapus Cap Makanan Nggak Jelas dari Jidat Sate Taichan

7 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Surat Wasiat Siswa di NTT Tak Hanya bikin Trauma Ibu, tapi Dosa Kita Semua yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak
  • Tak Menyesal Ikuti Saran dari Guru BK, Berhasil Masuk Fakultas Top Unair Lewat Golden Ticket Tanpa Perlu “War” SNBP
  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.