Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Apa pun Kejahatan di Surabaya, Orang Madura Selalu Dijadikan Kambing Hitam

Arief Rahman Nur Fadhilah oleh Arief Rahman Nur Fadhilah
14 September 2024
A A
Apa pun Kejahatan di Surabaya, Orang Madura Selalu Dijadikan Kambing Hitam jawa timur

Apa pun Kejahatan di Surabaya, Orang Madura Selalu Dijadikan Kambing Hitam

Share on FacebookShare on Twitter

“Tuhan sudah menciptakan selat, malah dibangun jembatan”

Kalimat di atas sedikit banyak menggambarkan kekesalan teman saya terhadap beberapa aksi kriminal yang belakangan terjadi di Surabaya. Menurutnya, sejak dibangunnya Jembatan Suramadu yang menghubungkan Kota Surabaya dan Pulau Madura, angka kriminalitas di Surabaya semakin meningkat. Mulai dari aksi curanmor, begal, perampokan, maling besi, dan masih banyak lagi. 

Prasangka seperti ini tidak hanya dimiliki teman saya, melainkan juga kebanyakan warga Surabaya. Setiap ada berita kejahatan di Surabaya, pikiran masyarakat selalu menjurus ke sana. Contohnya ketika beberapa waktu lalu viral video yang menunjukan sebuah bangku taman yang terbuat dari besi dipotong bagian sandaran tangannya. Postingan video tersebut penuh dengan komentar seperti, “Pasti kelakuan orang meksiko” atau “Ulah warga negeri seberang itu” dan sejenisnya. Entah benar atau tidak, yang jelas saya jadi ikut bertanya-tanya. Memangnya benar kejahatan di Surabaya banyak dilakukan orang Madura?

Diawali dari kejadian nyeleneh

Pertama, prasangka buruk yang sudah terbangun saat ini diawali dari beberapa kejadian pencurian yang dianggap cukup nyeleneh di mata orang Surabaya. Bila membahas soal aksi pencurian, targetnya pasti tidak jauh-jauh dari barang seperti laptop, handphone, perhiasan, dan motor. Herannya, beberapa tahun kebelakang marak pencurian barang-barang yang terbuat dari besi. Seperti tiang listrik PLN, besi penambat rel kereta api milik KAI, hingga baut-baut di Jembatan Suramadu. Setelah para pelakunya ditangkap dan ditanya alasannya, ternyata untuk dijual kembali atau disalurkan ke pedagang besi bekas. 

Masalahnya, profesi pedagang besi bekas sendiri memang sudah sangat melekat pada identitas Warga Madura. Banyak yang menjadi saudagar kaya dari hasil menjual besi bekas. Bukan berarti mereka ini kaya dari hasil curian ya. Tetapi hal-hal inilah yang akhirnya dijadikan dasar oleh Warga Surabaya untuk melakukan cocoklogi hingga akhirnya muncul stereotip buruk.

Kedua, perilaku para pencuri ketika dipergoki oleh warga. Jawaban mereka ini sungguh mengherankan dan di luar nalar. Contohnya ketika ada yang terpergok berusaha mencuri tiang besi. Mereka membawa-bawa nama agama dan beranggapan bahwa tiang tersebut milik Gusti Allah. Sehingga bagi mereka, wajar kalau diambil karena bukan milik negara.

Perilaku seperti ini lagi-lagi dikaitkan dengan orang Madura karena memang mereka ini sangat islami. Banyak pondok pesantren di sana. Mulai dari desa hingga kota. Bahkan sudah menjadi pemandangan wajar ketika di tempat umum melihat warga madura beraktivitas di luar rumah menggunakan sarung dan kopiah. Kedua hal diatas bisa dibilang cukup unik sampai melekat di pikiran. Dampaknya, bila ada tindak pencurian serupa, orang Madura lah yang disalahkan. 

Padahal ya, jelas nggak nyambung.

Klaim terhadap orang Madura tak bisa dijadikan dasar

Stereotip buruk yang muncul ini dipertebal oleh persepsi masyarakat Surabaya terhadap perilaku orang Madura sehari-hari yang bisa dibilang cukup berbeda. Salah satu contohnya adalah maraknya toko kelontong yang dijaga oleh orang Madura dan mampu buka 24 jam. Kelakuan mereka ketika menjaga toko juga kerap mengundang tanda tanya. Seperti tampak sering melayani pelanggan sambil ngobrol lewat telpon. Perilaku ini pernah saya bahas dalam tulisan saya yang berjudul “Menguak Alasan Orang Madura Selalu Telponan Saat Jualan”. 

Baca Juga:

8 Istilah Bahasa Jawa yang Masih Bikin Sesama Orang Jawa Salah Paham

Meski Bangkalan Madura Mulai Berbenah, Pemandangan Jalan Rayanya Membuktikan kalau Warganya Dipenuhi Masalah

Padahal kalau dilihat di beberapa laporan berita, banyak sekali kejadian kejahatan di Surabaya ya dilakukan oleh warganya sendiri. Beberapa bahkan dilakukan oleh orang terdekat seperti keluarga dan tetangga. Ya memang ada sih orang Madura juga, tetapi begitu juga dengan warga-warga daerah lain sekitar seperti Gresik dan Sidoarjo. Lagipula, daripada fokus dengan latar belakang pelakunya, lebih baik fokus dengan perilaku kejahatan yang diperbuat dan memastikan perilaku tersebut tidak terulang kembali. 

Intinya, klaim bahwa orang Madura menyebabkan angka kriminalitas di Surabaya naik tak bisa dibenarkan. Klaim tadi sepertinya didasari oleh stereotip yang terlanjur dibentuk oleh warga Surabaya sendiri. Perbedaan perilaku yang ada tidak bisa dijadikan dasar untuk memandang berbeda golongan lain, apalagi sampai memunculkan stereotip buruk.

Penulis: Arief Rahman Nur Fadhilah
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Akui Saja, Kita Ini Iri dengan Madura

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 14 September 2024 oleh

Tags: angka kriminalitasKejahatanmadurastereotipSurabaya
Arief Rahman Nur Fadhilah

Arief Rahman Nur Fadhilah

Sedang menempuh S2 Psikologi Unair sembari merantau di Medan. Penikmat sunyi yang diam-diam takut ditinggal sendiri

ArtikelTerkait

5 Tempat Makan di Surabaya dengan Porsi Jumbo, Dijamin Wareg Terminal Mojok

5 Tempat Makan di Surabaya dengan Porsi Jumbo, Dijamin Wareg!

21 Januari 2023
Organisasi Mahasiswa di Bangkalan Madura Tak Mungkin Melawan Oligarki, Mereka Sudah Sibuk Melawan Teman Sendiri

Organisasi Mahasiswa di Bangkalan Madura Tak Mungkin Melawan Oligarki, Mereka Sudah Sibuk Melawan Teman Sendiri

9 September 2024
Menampik Stigma Masyarakat Madura yang Selalu Dibilang Keras dan Beringas terminal mojok.co

Di Madura, Orang Menyebut Mobil dengan Motor

2 Februari 2021
Derita Tanpa Akhir Penumpang Bus Pantura Surabaya Semarang (Unsplash)

Derita Tanpa Akhir yang Dirasakan Penumpang Bus Pantura Surabaya Semarang

22 Februari 2025
tiket.com, Solusi Miskinnya Transportasi Bandara Juanda Surabaya (Unsplash)

Bandara Juanda, Bandara Internasional yang Bikin Kecewa: Transportasi Susah, Ruang Tunggu Kurang Nyaman

12 Januari 2025
Pasar Tanah Merah, Pasar Terbesar di Bangkalan Madura yang Penuh Masalah

Pasar Tanah Merah, Pasar Terbesar di Bangkalan Madura yang Penuh Masalah

14 Mei 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dear Konsumen, Jangan Mau “Ditipu” Warung yang Mengenakan Biaya Tambahan Pembayaran QRIS ke Pembeli  Mojok.co

Dear Konsumen, Jangan Mau “Ditipu” Warung yang Mengenakan Biaya Tambahan QRIS ke Pembeli 

17 Januari 2026
5 Menu Seasonal Indomaret Point Coffee yang Harusnya Jadi Menu Tetap, Bukan Cuma Datang dan Hilang seperti Mantan

3 Tips Membeli Point Coffee dari Seorang Loyalis Indomaret, Salah Satunya Cari yang Ada Kursi di Depan Gerainya!

19 Januari 2026
Menerima Takdir di Jurusan Keperawatan, Jurusan Paling Realistis bagi Mahasiswa yang Gagal Masuk Kedokteran karena Biaya

Menerima Takdir di Jurusan Keperawatan, Jurusan Paling Realistis bagi Mahasiswa yang Gagal Masuk Kedokteran karena Biaya

14 Januari 2026
Ilustrasi Purwokerto dan Purwakarta, Bikin Kurir Ekspedisi Kena Mental (Unsplash)

Purwokerto dan Purwakarta: Nama Mirip Beda Provinsi yang Bikin Paket Nyasar, Ongkir Membengkak, dan Kurir Ekspedisi Kena Mental

19 Januari 2026
Julukan “Blok M-nya Purwokerto” bagi Kebondalem Cuma Bikin Purwokerto Terlihat Minder dan Tunduk pada Jakarta

Julukan “Blok M-nya Purwokerto” bagi Kebondalem Cuma Bikin Purwokerto Terlihat Minder dan Tunduk pada Jakarta

14 Januari 2026
Kebohongan Pengguna iPhone Bikin Android Jadi Murahan (Pixabay)

Kebohongan Pengguna iPhone yang Membuat Android Dianggap Murahan

18 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan
  • Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu
  • Nasib Tinggal di Jogja dan Jakarta Ternyata Sama Saja, Baru Sadar Cara Ini Jadi Kunci Finansial di Tahun 2026
  • Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam
  • Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa?
  • Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.