Hal-hal yang bikin saya menyesal
Setelah lulus, siswa program akselerasi biasanya nggak diberi bukti tertulis dari sekolah yang menunjukkan bahwa kami lulus dalam waktu 2 tahun. Padahal seharusnya menurut saya pihak sekolah memberikan bukti tertulis, entah berupa sertifikat atau surat, karena siswa akselerasi adalah ikon sekolah dan telah melewati proses pembelajaran ekstra yang lebih berat dari siswa reguler.
Nah, lantaran lulus lebih cepat, kami memiliki usia lebih muda dari teman seangkatan di dunia kuliah. Rata-rata kami lulus pada usia 16-17 tahun. Hal ini juga berpengaruh pada mereka yang ingin melanjutkan ke dunia militer ataupun sekolah kedinasan yang mensyaratkan usia minimum pada seleksinya. Akhirnya ada juga yang harus menunggu 1 tahun agar bisa mendaftar.
Selain itu, siswa akselerasi yang sudah lulus sekolah dan ingin langsung bekerja juga belum bisa. Karena kebanyakan dari mereka belum mempunyai KTP dan SIM. Harus tunggu minimal 17 atau 18 tahun dulu.
Siswa akselerasi juga banyak mengalami masalah sosial, baik di lingkungan sekolah maupun setelah lulus dari sekolah. Di sekolah, kami cenderung dikucilkan dari angkatan karena dianggap adik kelas dan tidak pantas bergabung di angkatan. Banyak warga sekolah yang tidak suka dengan keberadaan siswa akselerasi. Hal itu disebabkan siswa program ini biasanya dianakemaskan sekolah.
Setelah lulus pun kami merasa terbebani apabila terpaksa gap year atau kuliah di kampus kurang terpandang. Sebab di mata masyarakat, kami ini anak genius yang bisa segalanya. Lantaran pandangan tersebut, banyak dari kami yang merasa frustrasi dan mulai menutup diri dari lingkungan sosial.
Harus punya tekad dan metal kuat
Selain hal-hal yang saya sampaikan di atas, kemungkinan terburuk yang dialami siswa lulusan program akselerasi adalah dari sisi kedewasaan diri. Lantaran masih muda dibandingkan teman seangkatan, tak sedikit dari siswa program ini yang belum matang untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Ibaratnya buah yang masih mentah tapi terpaksa dipanen.
Meski begitu, banyak juga siswa program ini yang kemudian sukses dan bisa menata kehidupan secara mandiri. Mental dan tekad kuat adalah hal yang paling penting untuk memulai hidup secara serius. Karena sejatinya mental dan sosial setiap orang berbeda, kita tidak bisa memberi ekspektasi lebih terhadap mereka.
Penulis: Muhammad Kasa Warda Syakbani
Editor: Intan Ekapratiwi
BACA JUGA Anggapan Keliru soal Anak Kelas Akselerasi yang Selalu Keren. Aslinya Ya Begitulah.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















