Merantau jadi salah satu fenomena lumrah yang sudah membudaya di masyarakat NTT. Alasan merantau ya karena ingin mencari kerja atau mencari ilmu, bisa sekolah atau kuliah. Tentu sebaran untuk daerah tujuan merantau bisa sangat luas, tapi khusus untuk pendidikan, dalam hal ini adalah kuliah, Jogja jadi kota favorit yang dipilih.
Tiap tahun ajaran baru, orang dari NTT yang datang ke Jogja untuk kuliah jumlahnya bisa ratusan orang. Entah itu yang statusnya sudah diterima di kampus tertentu atau masih proses mencari kampus tujuan. Pada intinya, Jogja memang jadi primadona. Ada kebanggaan tersendiri ketika berhasil menginjakan kaki di kota tersebut.
Kalau dibedah, ada beberapa alasan mengapa Jogja jadi pilihan utama ketimbang kota lain seperti Malang, Semarang, Surabaya, Bandung, atau Jakarta. Saya coba ulas satu per satu ya:
#1 Branding Jogja sebagai Kota Pendidikan
Kita bisa saja berdebat soal kota mana yang sebenarnya dianggap sebagai Kota Pendidikan. Tapi, bagi orang NTT, kota pendidikan itu ya Jogja. Sebab, bagi mereka, ekosistem pendidikannya begitu jelas. Kampusnya banyak, budaya belajar terlihat kuat, memang punya historis sebagai ruang para pelajar dan intelektual itu tumbuh.
Misalnya dalam konteks kampus, ketika seseorang gagal di UGM, pilihan untuk tetap bisa berkuliah masih terbuka lebar. Sebab masih banyak pilihan kampus berkualitas lainnya yang bisa dijajaki di Jogja.
Tentu label sebagai Kota Pendidikan ini juga sering digunakan seseorang untuk meyakinkan orang tuanya bahwa dia memang pergi untuk kuliah. Sehingga orang tuanya yang melepas pun jadi rela dan meyakini bahwa anaknya merantau untuk belajar. Meski pada kenyataannya gak selamanya seperti itu.
Baca juga Kuliah di Jogja Adalah Perjalanan Hidup yang Paling Saya Syukuri.
#2 Daya tarik UGM
Nggak bisa dikesampingkan, UGM memang jadi daya tarik mengapa orang NTT ingin kuliah di Jogja. Banyak keluarga di NTT mengenal UGM bahkan sebelum mengetahui nama kampus-kampus lain. Pokoknya daftar UGM dulu yang secara otomatis menjadikan Jogja sebagai kota pilihan.
UGM jadi semacam label yang mengangkat reputasi dari Jogja itu sendiri. Kuliah di Jogja berarti kuliah di UGM. Ya meski sekali lagi, nggak selalu orang-orang NTT beneran semuanya kuliah di UGM.
#3 Budaya Jawa masih kental, tapi nggak kaku
Jogja dengan kultur budayanya yang halus dan nggak kaku menjadi daya tarik tersendiri bagi orang NTT. Orang NTT memang punya nada bicara agak keras, tapi sama sekali tidak kasar. Hal itu membuat warga setempat jadi lebih mudah menerimanya.
Budaya mahasiswa yang cair tumbuh dari banyaknya komunitas, organisasi, diskusi, dan warung yang begitu membaur dan plural. Selain itu, suasana Jogja yang ritmenya pelan membuat orang-orang NTT bisa beradaptasi secara bertahap. Terlebih bagi orang NTT yang terbiasa dengan cara bicara yang lugas, ekspresif, dan sering langsung ke inti.
#4 Nilai gotong royong
Satu nilai di Jogja yang sama dengan nilai yang ada di NTT atau orang timur adalah gotong royong dan solidaritas. Bagi mereka, orang Jawa di Jogja itu ramah sehingga gak sungkan untuk saling membantu dan gotong royong.
Mahasiswa perantau dari NTT yang datang dengan nilai komunal dan sosial menjadikan mereka makin lengket dengan pola atau kultur dari masyarakat atau mahasiswa asli Jogja yang juga terbiasa hidup kolektif. Semua Itu tercermin dari banyaknya organisasi, komunitas, sampai kultur nongkrong yang panjang. Semua itu membuat perantau mahasiswa dari NTT seperti menemukan versi baru dari rumah.
Baca juga Jogja Makin Bebas, Mahasiswa Baru Muslim Lebih Baik Tinggal di Pondok daripada Ngekos.
#5 Makanan Jogja cocok di lidah mahasiswa perantau
Sejauh pengamatan saya, orang NTT itu nggak terlalu suka dengan makanan yang terlalu pedas, asin, dan gurih. Mereka suka dengan cita rasa makanan yang agak manis. Itu mengapa, lidah mereka tidak perlu susah payah menyesuaikan diri dengan kebanyakanan kuliner Jogja. Tidak semua memang, tapi cukup banyak kok makanan yang cocok. Misal, pecel, gudeg, kudapan, olahan ikan atau ayam, gorengnya, dan makanan lain yang di angkringan.
Selain itu, akses dan pilihan makanan di Jogja sangat banyak sehingga nggak bikin cepat bosan. Terutama bagi mahasiswa perantau NTT yang nggak suka atau males masak.
#6 Pengaruh teman/ senior di sekolah
Semua aspek di atas menciptakan sebuah jalur informasi yang disebarluaskan secara masif dan terus menerus dari senior yang sudah kuliah di Jogja ke teman atau saudara mereka yang ada di NTT. Ketika ada saudara ada senior yang sudah lebih dulu hidup di Jogja, kota itu jadi tidak terasa asing dan berisiko lagi.
Ada yang bisa jadi sumber informasi seputar cara daftar kuliah, kampus rekomendasi, cari kos-kosan, daerah mana yang aman dan nyaman, tempat makan yang murah, rute naik kendaraan, sampai hal remeh tapi penting seperti kalau sakit harus minta tolong ke siapa atau kalau uang bulanan habis, harus pergi ke siapa.
Keberadaan senior jadi semacam pemandu yang membuat perantau tidak merasa seperti masuk ke hutan belantara tanpa tahu harus ke arah mana. Inilah yang membuat Jogja jadi yang paling diprioritaskan, bukan karena paling modern tapi dirasa paling ramah dan jelas.
7 Komunitas NTT/Timur di Jogja sudah mapan
Karena banyak senior dan saudara yang sama-sama dari NTT atau Timur, membuat komunitas NTT atau Timur pun jadi masif dan mapan. Banyak organisasi daerah atau paguyuban yang bisa menjadi keluarga ketika berada di Jogja. Hal itu membuat perantau mahasiswa dari NTT jadi nggak mulai dari nol lagi.
Setidaknya ketika tiba di Jogja, ada semacam wadah yang membantu mereka mengetahui banyak hal selain dari senior atau saudara.
Itulah beberapa alasan yang menjadikan Jogja dilirik sebagai kota tujuan belajar bagi orang-orang NTT. Tentu banyak kota lain yang mungkin punya daya tawar yang serupa, tapi sekali lagi, Jogja memang punya sesuatu yang berbeda dari yang lain.
Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Saya Tidak Pernah Merasa Bangga Kuliah di UIN Jogja, tapi Kampus Ini Sama Sekali Tidak Layak Dicela.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















