Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Alasan Anak Petani Tidak Bercita-cita Menjadi Petani

Muhammad Khozin oleh Muhammad Khozin
20 Oktober 2020
A A
Alasan Anak Petani Tidak Bercita-cita Menjadi Petani terminal mojok.co

Alasan Anak Petani Tidak Bercita-cita Menjadi Petani terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Saat sedang berada di kebun untuk memanen daun pisang, saya terpikirkan sebuah pertanyaan yang langsung saya layangkan kepada Ibu tentang masa depan saya menjadi petani. Sambil sibuk memisahkan daun pisang dari akar daunnya menggunakan pisau, ia menyimak pertanyaan saya.

“Buk, jika nanti njenengan sudah tak ada, siapa yang meneruskan menggarap kebun?”

Jawabnya lugas, “Ya kamu.” Padahal, saya merasa tak ada passion menjadi petani meski sesekali suka menanam pisang dan memanen buahnya. Saya akui, setelah menanam dan merawatnya, memanen adalah bentuk kepuasan tersendiri. Tapi, menjadi petani untuk sekadar memenuhi kebutuhan hidup, saya rasa tidak.

Saya menimpali balik jawaban Ibu tadi dengan jawaban jujur bahwa saya tak begitu tertarik menghabiskan hidup untuk bertani. Tak ada bayangan masa depan yang terlintas di benak bahwa saya akan menjadi petani seperti yang dilakukan oleh orang tua.

Mengapa saya bersikap demikian? Padahal Bapak dan Ibu memiliki beberapa lahan untuk berkebun. Dari lahan tersebutlah mereka bisa membiayai semua anak-anaknya sekolah sekaligus masuk pesantren. Meski tak jarang telat bayar SPP, daftar ulang, atau iuran-iuran lainnya.

Mungkin tulisan ini sedikit bisa menjawab pertanyaan umum mengapa anak-anak dari para petani tidak meneruskan profesi mulia itu. Berikut alasan-alasan berdasarkan amatan pribadi dan apa yang terjadi di lingkungan tempat tinggal saya.

#1 Orang Tua Tak ingin

Saya yakin sekali banyak orang tua berpikir demikian. Di kampung saya sendiri generasi-generasi petani mayoritas berhenti di orang tua. Anak-anaknya lebih memilih kuliah (walau salah jurusan) atau bekerja sebagai buruh pabrik.

Ijazah yang diperoleh dari bangku kuliah dielu-elukan oleh para orang tua agar anaknya memiliki pekerjaan yang layak. Minimal menjadi guru atau menjadi staff kantoran di perusahaan. Mereka juga berpikiran sederhana, bekerja di pabrik lebih jelas penghasilannya dibanding dengan bertani yang memiliki banyak risiko.

Baca Juga:

5 Alasan Jurusan Pertanian Nggak Akan Pernah Bisa Dihapus, meski Lulusannya Banyak yang Jadi Pegawai Bank

Blora, Kabupaten yang Bingung Menentukan Arah Pembangunan: Industri Belum Jadi, tapi Malah Ikutan Menggarap Lahan Pertanian

Semua orang tua menginginkan yang terbaik, minimal lebih baik dari apa yang mereka lakukan sebelumnya. Generasi milenial atau generasi sebelumnya sudah banyak yang memutuskan untuk tidak menjadi petani. Sebab, orang tuanya sendiri yang seorang petani kebanyakan juga tidak menginginkan anaknya menjadi petani.

Termasuk Ibu saya, sebenarnya juga tidak menginginkan. Menjadi petani adalah pilihan “apa boleh buat”. Pilihan jika memang hanya itu yang bisa saya kerjakan suatu saat nanti.

#2 Tak Suka

Bertani terlihat sebagai kegiatan yang membosankan. Menanam bibit, memupuk, menyemprot rumput dan hama serangga, sampai pada memanen adalah pekerjaan yang lumayan melelahkan. Meski terlihat sepele, tapi bertani butuh kesabaran dan ketelatenan agar panennya berhasil.

Proses ini menurut saya sangat ribet. Petani harus selalu mengontrol hal-hal yang berkaitan dengan apa yang ditanam. Misalnya jika tanaman padi berarti perlu diperhatikan airnya. Jika tak ada air? Ini persoalan. Belum lagi hama keong, tikus, dan burung yang merusak. Belum masalah cuaca dan lain-lain.

Selain itu banyak kegiatan yang menurut saya jauh lebih menarik daripada bertani. Tapi, bukan berarti pilihan menjadi petani itu buruk atau salah, ini hanya soal kecenderungan atau passion. Jika tak begitu suka ya mau bagaimana?

Orang-orang yang sok menyayangkan anak muda enggan bertani itu menurut saya amat naif. Harusnya hal prinsip seperti ini mereka tahu.

#3 Biaya Tak Sedikit

Untuk hal ini, seharusnya sudah menjadi pengetahuan umum. Bertani modalnya tak sedikit bagi petani itu sendiri. Pernah mendengar harga pupuk? Jika belum silakan cek sendiri. Bagi saya harga segitu mahal. Ini saya membicarakan pupuk subsidi yang sering langka itu ya, kalau yang non subsidi jelas bukan level kami.

Ini kok meloncat langsung membicarakan pupuk? Lahan sawah atau kebun juga mahal. Ini modal utama. Jika tak memiliki warisan tanah dari orang tua, saran saya jangan menjadi petani. Tapi, jika anda serius, menabunglah dengan sangat rajin dari sekarang untuk membeli sawah atau kebun. 

Produk obat-obatan pertanian juga terbilang mahal. Baik obat buah-buahan, pembasmi rumput liar, atau serangga. Dan mayoritas para petani bergantung kepadanya. Mau tidak mau mereka harus menyisakan uang untuk membelinya.

#4 Susah kaya

Berapa banyak orang menjadi kaya karena berprofesi menjadi petani? Saya tak tahu jawabannya. Tapi, pastinya, yang miskin jumlahnya banyak. Contoh paling nyata adalah banyak keluarga yang kesulitan membiayai anaknya sekolah.

Sudah melakukan proses menanam yang ribet, memakan waktu, biaya, serta tenaga, petani masih juga tidak bisa mematok sendiri hasil panennya. Minimal yang bisa menutup modal dan tenaga yang dikeluarkan. 

Harga setiap harinya tak pasti, ikut sistem pasar. Jika terlalu banyak hasil panen di pasar dalam kurun waktu yang bersamaan, harga jadi turun dan murah meriah. Dalam kasus ini, khususnya harga sayur dan buah.

Proses yang tak sederhana ditambah risiko gagal panen dan risiko harga anjlok bahkan tidak laku, bukan hal baru bagi para petani. Ini menjadikan bertani sebagai pekerjaan untung-untungan. Hasilnya menurut saya kurang sepadan, jauh dari kata sejahtera. 

Bukan maksud menyebar pesimisme, tapi realitas hari ini menunjukkan para petani itu manusia kelas dua dari sisi kelas sosial maupun ekonomi. Ini yang kita bicarakan petani, belum lagi menyenggol siapa itu buruh tani.

Jika ada yang nyeletuk, “Itu petaninya saja yang kurang kreatif.” Iya memang, mayoritas petani di Indonesia memang belum kreatif memenuhi ekspektasi-ekspektasi kemajuan teknologi. Tapi, terlepas dari itu, hasil jerih payah keringat mereka tetap yang kalian nikmati setiap hari.

BACA JUGA Pertengkaran Keluarga Kadang Justru karena Satu sama Lain Punya Persamaan dan tulisan Muhammad Khozin lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 20 Oktober 2020 oleh

Tags: anak petanipertanian
Muhammad Khozin

Muhammad Khozin

Seorang laki-laki beradik tiga. Suka menulis dan merintis.

ArtikelTerkait

bertani

Kebiasaan Latah dalam Bertani, Jalan Pintas untuk Merugi

18 Desember 2021
Ambigunya Jurusan Agribisnis, Masuk Fakultas Pertanian tapi 80% yang Dipelajari Justru Ilmu Ekonomi jurusan pertanian

5 Alasan Jurusan Pertanian Nggak Akan Pernah Bisa Dihapus, meski Lulusannya Banyak yang Jadi Pegawai Bank

2 Mei 2026
petani

Pengalaman Saya Sebagai Anak Petani

30 September 2019
5 Rekomendasi Channel YouTube buat Kamu yang Ingin Belajar Pertanian terminal mojok

5 Rekomendasi Channel YouTube buat Kamu yang Ingin Bertani

26 September 2021
Jurusan Agribisnis: Didesain untuk Kita yang Kadar IPA-nya Rendah terminal mojok.co

Jurusan Agribisnis: Didesain untuk Kita yang Kadar IPA-nya Rendah

8 Januari 2021
Jangan Ajukan Pertanyaan Ini ke Orang Blora, Mereka Sudah Malas Menjawabnya Mojok.co

Blora, Kabupaten yang Bingung Menentukan Arah Pembangunan: Industri Belum Jadi, tapi Malah Ikutan Menggarap Lahan Pertanian

28 Juli 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tanjakan Gombel Semarang: Bukan Kerajaan Wewe, tapi Saksi Bisu Jejak Sejarah dan Nadi Utama Kota Semarang

Tanjakan Gombel Semarang: Bukan Kerajaan Wewe, tapi Saksi Bisu Jejak Sejarah dan Nadi Utama Kota Semarang

17 Mei 2026
Pintu Tol KM 99 Cipularang, Pemberi Berkah bagi Warga Purwakarta: Mobilitas Makin Mudah, Akses Pendidikan Makin Luas

Pintu Tol KM 99 Cipularang, Pemberi Berkah bagi Warga Purwakarta: Mobilitas Makin Mudah, Akses Pendidikan Makin Luas

15 Mei 2026
Betapa Lelahnya Kuliah S2 Bareng Fresh Graduate: Nggak Dewasa, Semua Dianggap Saingan Mojok.co

Betapa Lelahnya Kuliah S2 Bareng Fresh Graduate: Nggak Dewasa, Semua Dianggap Saingan

19 Mei 2026
Kos LV Jogja Menjamur: Akhlak Nanti Dulu, Kenyamanan dan Cuan Nomor Satu Mojok.co

Kos LV Jogja Menjamur: Akhlak Nanti Dulu, Kenyamanan dan Cuan Nomor Satu

17 Mei 2026
Jadi MUA di Desa Sulit Cuan karena Selalu Dimintai “Harga Tetangga” kalau Menolak Dicap Pelit Mojok.co

Jadi MUA di Desa Sulit Cuan karena Selalu Dimintai “Harga Tetangga” kalau Menolak Dicap Pelit

18 Mei 2026
Mending Naik Bluebird daripada Taksi Online untuk Lanjut Perjalanan dari Stasiun atau Bandara, Lebih Minim Drama Mojok.co

Mending Naik Bluebird daripada Taksi Online untuk Lanjut Perjalanan dari Stasiun atau Bandara, Lebih Minim Drama

14 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.