Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Cocoklogi Bencana di Indonesia: Kok Salah Pak Jokowi?

Seto Wicaksono oleh Seto Wicaksono
5 Agustus 2019
A A
cocoklogi

cocoklogi

Share on FacebookShare on Twitter

Sewaktu saya kelas 4 SD tepatnya pada tahun 1999, sempat tersiar kabar bahwa dunia akan segera menghadapi akhir masanya, kalau pun berlanjut dan tidak hancur secara keseluruhan, dunia akan porak poranda, kacau balau. Intinya, pada waktu itu umat manusia akan menghadapi kiamat yang sebelumnya sudah dijanjikan oleh Allah.

Saya yang kala itu masih SD, mendengar kabar seperti itu menjadi khawatir sampai dengan takut. Untuk anak yang tergolong pemikiran abstraknya masih terbatas, mana tahu itu hoax atau bukan. Lalu, bagaimana cara memastikannya jika informasi masih lebih banyak melalui tv dan radio? Memang, saat itu internet masih sulit diakses—terbatas dalam banyak aspek.

Menurut info yang beredar saat itu, kiamat yang diramalkan sebelumnya jatuh pada tanggal 09-09-1999 pukul jam 09.09 waktu setempat. Tapi, kembali lagi itu hanya sebuah ramalan yang berasal dari seseorang dan tersebar luas sampai akhirnya membuat semua orang takut, bahkan untuk beraktivitas pada tanggal yang diramalkan. Lucunya, kala itu banyak teman saya yang sampai tidak masuk sekolah—karena takut.

Setelah lewat dari jam 09.09, semua aktivitas berjalan aman dan lancar sampai dengan pergantian hari esoknya. Kabar itu bohong belaka, dan setelah saya beranjak dewasa barulah menyadari, hal tersebut hanya bagian dari cocoklogi—atau sederhannya, narasi yang dipaksakan untuk cocok—juga dipercaya oleh banyak orang.

Skema tersebut terulang pada tahun 2012. Tentu saya akan mengajak sedikit mengingat kembali saat beberapa kelompok di beberapa wilayah meramalkan pada tahun 2012 tepatnya 21 Desember, peradaban di dunia secara keseluruhan akan musnah. Ada yang berkata tidak sampai musnah, namun terjadi kerusakan yang besar. Hal tersebut didasari dari kalender kepercayaan mereka masing-masing dan dipercaya selalu tepat dalam meramalkan sesuatu.

Beberapa narasi juga penerawangan dibentuk, bahkan sampai ada film yang dibuat bertemakan akhir dunia yang diberi judul “2012”. Pikir saya pada waktu itu, sih, film ini aji mumpung. Sebab sedang trending isu terkait akhir dunia, jadi sekalian saja dikonversi menjadi uang. Hehe. Ya, kurang lebih sama seperti insan kreatif pada masa kini lah, sedikit-sedikit dibuat konten.

Lalu, saya yang pada tahun 2012 sedang menjalani masa kuliah, tidak mau sampai mengalami kekhawatiran dua kali. Setelah dicari tahu, kembali lagi itu hanya sebuah cocoklogi berdasarkan kalender dan peristiwa sebelumnya.

Mengutip dari Kompas.com, pada tahun tersebut sepertinya di Indonesia tenang-tenang saja. Walau melalui jajak pendapat Ipsos Global Public Affairs menyebut 19% orang Indonesia percaya kiamat akan terjadi pada 21 Desember (2012). Sedangkan di waktu yang bersamaan, beberapa negara seakan sudah siap menghadapi kiamat dengan membuat bunker, bola pelindung, bahkan ada yang menyambutnya dengan berpesta.

Baca Juga:

Saya Memilih Pindah dari Indonesia dan Hidup di Jepang, Salah Satunya karena Kepastian Hidup yang Lebih Jelas

Bahasa Sunda yang Kaya Punya Banyak Istilah untuk Menyebut Hujan

Pada Jumat 02 Agustus 2019, terjadi gempa yang berpusat di kawasan Banten pada sekitar pukul 07.04 WIB. Menurut BMKG, gempa tersebut berkekuatan 7,4 SR dengan kedalaman 10 KM dan berpotensi tsunami. Oleh karenanya, warga di sekitar diharapkan waspada sampai dengan ada info lanjutan dan dihimbau agar tidak panik.

Sewajarnya, dalam situasi seperti itu baiknya satu sama lain mendoakan agar selalu dalam perlindungan Yang Maha Kuasa dan senantiasa diberi keselamatan di mana pun, kapan pun. Namun, tidak semua orang berpikir demikian. Nyatanya, dalam situasi yang terbilang rentan panik, masih ada sekelompok orang yang sempat-sempatnya menyebar kepanikan, ketakutan—dan bagi saya—sekaligus kebencian lewat cocoklogi.

Entah dari siapa cocoklogi ini berasal, tapi ada pesan terusan di grup WhatsApp yang menginfokan gempa memang bersinggungan dengan beberapa hal. Kira-kira seperti ini:

Gempa berkekuatan 7,4 SR. Terjadi pada pukul 07.04, Indonesia akan merayakan HUT ke 74, Quran surat 7 ayat 4, dan pada masa pemerintahan 7okowi 4min. Ada pula yang mempermasalahkan logo angka untuk merayakan hari kemerdekaan Indonesia yang ke 74; 7 seperti pacul sedangkan 4 seperti palu arit. Mungkin orang yang menganalogikan ini sedang berusaha keras dalam membuat cocoklogi terhadap lambang partai komunis.

Selain itu, memangnya Pak Jokowi dan Pak Ma’ruf Amin alay? Kok ya bisa-bisanya huruf depan pada nama mereka diganti dengan angka. Please, deh, apa itu nggak maksa namanya? Eh, tapi cocoklogi kan memang pada dasarnya memaksakan sesuatu demi mendapatkan sesuatu, ya. Dan lagi, yang menjadi sasaran juga tujuan akhir cocoklogi adalah presiden juga pemerintah—seperti biasa dan seakan tiada bosan.

Terakhir diperbarui pada 9 Februari 2022 oleh

Tags: bencana alamgampa bumiIndonesiajoko widodopak jokowiPresiden Indonesia
Seto Wicaksono

Seto Wicaksono

Kelahiran 20 Juli. Fans Liverpool FC. Lulusan Psikologi Universitas Gunadarma. Seorang Suami, Ayah, dan Recruiter di suatu perusahaan.

ArtikelTerkait

Hidup di Indonesia Hari Ini: Makan Siang dengan Kabar Buruk, Makan Malam dengan Kecemasan

Hidup di Indonesia Hari Ini: Makan Siang dengan Kabar Buruk, Makan Malam dengan Kecemasan

21 Februari 2025
Refleksi Hari Lahir Pancasila: Merawat Kebhinnekaan

Refleksi Hari Lahir Pancasila: Merawat Kebhinnekaan

30 Mei 2019
Menebak Pekerjaan Orang Tua Susanti "Upin Ipin" di Malaysia Mojok.co

Menebak Pekerjaan Orang Tua Susanti “Upin Ipin” di Malaysia 

6 Maret 2025
Surakarta Semakin Mirip Jogja Semakin Tidal Ideal untuk Pensiun (Unsplash)

Kenaikan Tingkat Kriminalitas dan Semakin Semrawut, Surakarta Sudah Bukan Lagi Tempat yang Ideal untuk Pensiun seperti Jogja

1 Maret 2024
pelet ilmu hitam indonesia santet mojok

Indonesia Bukannya Nggak Mau, Tapi Memang Nggak Bisa Pakai Santet untuk Melawan Belanda

29 Juli 2020
Negara Panem The Hunger Games Adalah Contoh Baik bagi Sistem Pendidikan Indonesia terminal mojok

Sistem Pendidikan Negara Panem ‘The Hunger Games’ Adalah Contoh Baik bagi Indonesia

5 Juli 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Peribahasa Ada Harga Ada Rupa Tidak Berlaku untuk “MBG” Superindo yang Wujudnya Meyakinkan, Rasa Enak, dan Harganya Tetap Murah Mojok.co

Peribahasa Ada Harga Ada Rupa Tidak Berlaku untuk “MBG” Superindo yang Wujudnya Meyakinkan, Rasa Enak, dan Harganya Tetap Murah

17 Mei 2026
Kos LV Jogja Menjamur: Akhlak Nanti Dulu, Kenyamanan dan Cuan Nomor Satu Mojok.co

Kos LV Jogja Menjamur: Akhlak Nanti Dulu, Kenyamanan dan Cuan Nomor Satu

17 Mei 2026
Tulungagung Perlu Banyak Belajar dari Pacitan agar Wisata Pantainya Tidak Makin Tertinggal Mojok.co

Masalah Utama Tulungagung Bukan Wisata, tapi Tradisi Korupsi di Kursi Bupati

19 Mei 2026
Tanjakan Gombel Semarang: Bukan Kerajaan Wewe, tapi Saksi Bisu Jejak Sejarah dan Nadi Utama Kota Semarang

Tanjakan Gombel Semarang: Bukan Kerajaan Wewe, tapi Saksi Bisu Jejak Sejarah dan Nadi Utama Kota Semarang

17 Mei 2026
Sumbersari Malang yang Overrated Masih Jadi Daerah Paling Masuk Akal bagi Maba yang Baru Pertama Kali Merantau Mojok.co

Sumbersari Malang yang Overrated Masih Jadi Daerah Paling Masuk Akal bagi Maba yang Baru Pertama Kali Merantau

16 Mei 2026
Saya Memilih Pindah dari Indonesia dan Hidup di Jepang, Salah Satunya karena Kepastian Hidup yang Lebih Jelas

Saya Memilih Pindah dari Indonesia dan Hidup di Jepang, Salah Satunya karena Kepastian Hidup yang Lebih Jelas

19 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.