Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Polban, “Adik Kandung” ITB Tempat Mahasiswa Jenius tapi Kurang Hoki

Muhamad Akbar Maulana oleh Muhamad Akbar Maulana
18 Januari 2026
A A
Polban, "Adik Kandung" ITB Tempat Mahasiswa Jenius tapi Kurang Hoki

Polban, "Adik Kandung" ITB Tempat Mahasiswa Jenius tapi Kurang Hoki (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Kadang kalau ada pertanyaan kuliah di mana, saya bingung menjelaskan bahwa Polban itu nama kampus. Bukan satuan unit bantuan polisi di Bandung. Saking capeknya menjelaskan, akhirnya saya jawab saja, “Itu lho, adiknya ITB.” Anehnya orang-orang langsung paham dan manggut-manggut.

Kenyataan ini memang ironis, kadang bikin nyesek tapi membanggakan juga. Polban alias Politeknik Negeri Bandung adalah salah satu politeknik terbaik di Indonesia yang identitasnya masih saja berada di bawah bayang-bayang sang kakak kandung, ITB.

ADVERTISEMENT

Jika menilik sejarah, klaim itu memang valid. Polban pernah jadi bagian dari Sekolah Vokasi ITB. Bahkan di gedung Teknik Sipil masih ada prasasti batu bergambar Ganesha duduk, lambang sakral tetangga sebelah, dengan tulisan yang teramat jelas “Politeknik ITB”.

Dulu kampus ini berdiri untuk mencetak lulusan diploma yang lebih unggul dalam keahlian praktis demi menambal kesenjangan antara kebutuhan industri dan lulusan perguruan tinggi. Setelah beberapa tahun “diasuh”, sang adik akhirnya dilepas agar bisa berdiri di atas kaki sendiri sebagai kampus yang mandiri.

Tapi ya namanya juga adik, apalagi kalau kakaknya sukses banget, pamornya tetap kebanting. Di Bandung sendiri siapa sih yang nggak tahu ITB? Dari tukang cukur asgar depan rumah sampai bapak bupati kenal betul nama besar kampus teknik itu. Di level nasional pun menteri-menteri kita banyak lulusan sana. Sedangkan Polban? Masih sering dikira kantor polisi.

Baca juga: Kampus ITB Ganesha di Mata Mahasiswa UI Depok: Cantik, Unik, dan yang Jelas, Keliling Kampus Nggak Pake Capek

Polban itu konon singkatan dari Politeknik Backburner, jarang jadi pilihan pertama tapi stresnya sama!

Ini rahasia umum di kalangan mahasiswa Polban. Kami, termasuk saya, adalah kumpulan orang-orang yang ditolak Top PTN. Kebanyakan sih dari ITB, dan betul termasuk saya juga, hahaha. Polban sering jadi pilihan kedua, ketiga, bahkan keempat di UTBK dan seleksi masuk lainnya. Namun kalau ada pertanyaan soal beban akademik, sebenarnya stresnya sama atau malah lebih parah.

Teman-teman saya banyak yang sudah berencana untuk semigap atau semi gap year. Mereka bikin grup WhatsApp belajar bareng sampai begadang tiap malam agar bisa tembus PTN impian di tahun berikutnya. Ironisnya obrolan panas tentang semigap ini sudah hangat diperbincangkan bahkan ketika PKKMB atau ospek baru saja dimulai.

Baca Juga:

4 kesalahan pembeli saat menyantap cuanki yang membuat rasanya kurang nikmat 

4 kuliner Bandung yang bikin orang Semarang gagal paham. Nama dan tampilan mirip, tapi rasanya berbeda

Basa-basi untuk mendapatkan teman baru pun sering menggunakan topik sensitif ini. Saya pernah iseng bertanya ke teman satu kompi pas awal PKKMB, “Masuk Polban jalur apa, A? Pilihan ke berapa?”

Dia menjawab dengan nada sedikit pasrah, “Jalur UTBK, A. Pilihan dua. Aslinya mah saya teh mau Unpad. Aa sendiri gimana?”

Dan ya, saya menggunakan template pertanyaan yang sama persis untuk berkenalan dengan puluhan teman baru lainnya. Sebuah awal pertemanan yang dibangun di atas fondasi kegagalan bersama.

Namun seperti yang sudah saya singgung di awal, kuliah di Polban capeknya nggak main-main. Sebab banyak dosen lulusan ITB, mereka cenderung menuntut kami sepintar dan sedisiplin almamater mereka. Terkadang sampai di tahap membanding-bandingkan. “Yaudah, deh. Nilai baik kok nggak ditiru?” pikir saya sih gitu awalnya.

Akhirnya saya terpacu belajar lebih keras meski untuk beberapa matkul, jujur saja saya merana secara perlahan. Mata kuliah seperti Fisika Terapan dan Kimia Terapan itu punya dua dunia, yaitu praktikum dan teori dengan bobot 55 banding 45. Kami belajar teori di kelas seberat anak teknik universitas, tapi di sisi lain kami juga harus andal menggunakan alat lab setiap minggunya.

Masalahnya laporan praktikumnya susahnya kebangetan. Bahkan untuk Fisika Terapan, tenggat waktunya itu besok pagi setelah praktikum selesai. Kabar buruk lainnya, laporan itu harus sepenuhnya ditulis tangan. Bye-bye tidur nyenyak.

Isinya kebanyakan anak jenius yang lagi apes

Menggunakan istilah “hoki” mungkin akan menimbulkan pro dan kontra. Sebab bagaimana pun anak yang lolos Top PTN pasti jenius dan pekerja keras. Namun di Polban, saya banyak menemukan mahasiswa yang pintar banget dan saya yakin betul dia masih bisa bersaing di kampus sekaliber UGM atau UI.

Ada teman saya yang dapat skor UTBK 719 dengan subtes PK dan PM di atas 800. Dia hanya kurang terlatih di subtes Bahasa Inggris dan akhirnya terlempar dari pilihannya di FTMD ITB. Padahal kalau di kelas, dia itu jago banget kalau masalah hitung-hitungan.

Saya jadi menyadari bahwa nggak selamanya kampus pelarian itu isinya mahasiswa “buangan” yang biasa saja. Banyak juga monster-monster akademik yang cuma kurang beruntung masuk kampus impian. Mereka inilah yang akhirnya membangun budaya persaingan sehat.

Meski bersaing, di Polban solidaritas tetap kuat bahkan sampai ke tingkat ikatan alumni. Sebuah hal positif kalau kita bandingkan dengan kampus-kampus lain yang iklim individualismenya kental banget.

Baca juga: Sekolah Hanya Bangga pada Muridnya yang Keterima di Kampus Negeri, Sisanya Remah-remah, Dianggap Saja Tidak!

Adu outfit bukan budaya kami, pakai kaos partai juga gas

Karena bobot praktikumnya lebih banyak, terkadang di Polban kami lebih sering pakai wearpack atau jas lab seharian. Makanya kami santai saja pakai kaos dari rumah atau kosan.

Mungkin sudah jadi kultur kampus Teknik kalau outfit itu bukan nomor satu untuk diperdebatkan. Kemeja flanel atau kaos oblong sudah cukup. Yang penting pakai jins, jaket himpunan, dan sepatu safety. Kami sudah pede berangkat ngampus.

Saya juga awalnya kaget karena banyak teman saya pakai kaos doang dan tidak pernah kena tegur. Padahal teman-teman saya di kampus lain minimal harus berkemeja rapi. Selain itu rambut gondrong seperti sudah jadi ciri khas tersendiri di sini.

Polban eksis, kok!

Meskipun kerap ada di bawah bayang-bayang kampus tetangga, Polban sebenarnya sudah eksis baik di mata HRD perusahaan atau anak-anak SMA yang lagi bingung daftar SNBP. Di UTBK 2025 kemarin saja Polban jadi satu-satunya politeknik yang masuk 20 besar kampus dengan pendaftar terbanyak. Peringkat 16 dengan 41 ribu lebih pendaftar! Ini angin segar sekaligus menegaskan bahwa mahasiswa di sini juga berkualitas meski pada akhirnya banyak yang memutuskan semigap juga.

Pada akhirnya saya bangga menjadi mahasiswa kampus baut ini. Bukan karena gedung vintage-nya (baca: tua) atau privilege sebagai adik ITB, tapi karena sadar bahwa di sinilah mental kami ditempa. Udara Ciwaruga yang sejuk, kosannya murah, dan biaya hidupnya terjangkau. Cukuplah untuk mengobati hati yang pernah patah karena tertolak PTN impian.

Penulis: Muhamad Akbar Maulana
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Kata Siapa Kuliah di ITB itu Keren?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 18 Januari 2026 oleh

Tags: BandungITBkampus bandungkampus ITBkampus PTNmahasiswa politeknikPolbanpoliteknikPoliteknik Negeri BandungptnPTN Indonesia
Muhamad Akbar Maulana

Muhamad Akbar Maulana

Mahasiswa semester 2 Politeknik Negeri Bandung jurusan Teknik Konversi Energi yang nggak suka fisika. Suka baca, menulis, fotografi. Rumah jaraknya cuma 18 km dari kampus tapi tetep ngekos karena alasan sayang mental health.

ArtikelTerkait

Mengenal ITERA, Kampus Teknologi Negeri Satu-satunya di Sumatra yang Sering Disebut Adik ITB

Mengenal ITERA, Kampus Teknologi Negeri Satu-satunya di Sumatra yang Sering Disebut Adik ITB

20 Desember 2025
Pengalaman Saya sebagai Mahasiswa Muslim yang Kuliah di Universitas Swasta Kristen, Banyak Sekali Cobaannya Mojok.co

Cobaan Berat Kuliah di Universitas Kristen bagi Saya Mahasiswa Muslim dan yang Paling Berat Adalah Jatuh Cinta

8 Mei 2025
Simpang Dago, Neraka di Tengah Romantisnya Kota Bandung

Tiap Sudut Kota Bandung Romantis, kecuali Simpang Dago

12 Juli 2024
4 Keunikan Mie Baso Akung Bandung yang Perlu Diketahui Pemburu Kuliner terminal mojok.co

4 Keunikan Mie Baso Akung Bandung yang Perlu Diketahui Pemburu Kuliner

19 Januari 2022
5 Hal yang Lumrah di UNS, tapi Nggak Wajar di Kampus Lain Mojok.co

5 Hal yang Lumrah di UNS, tapi Nggak Wajar di Kampus Lain

3 September 2025
Soto Bandung: Kuliner Khas Bandung yang Rasanya Normal dan Pasti Cocok di Lidah Para Pendatang

Soto Bandung: Kuliner Khas Bandung yang Rasanya Normal dan Pasti Cocok di Lidah para Pendatang

15 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 jajanan tradisional Bandung yang bikin orang Semarang gagal paham. Nama dan tampilan mirip, tapi rasanya jauh berbeda Mojok.co

4 kuliner Bandung yang bikin orang Semarang gagal paham. Nama dan tampilan mirip, tapi rasanya berbeda

16 Juli 2026
3 Kebohongan tentang Lembang yang Perlu Diluruskan

Bukan cuma soal dingin, ini 4 kejanggalan di Lembang yang bikin wisatawan Semarang heran

15 Juli 2026
Untuk Warga Surabaya, Stop Menormalisasi Bayar Parkir kepada Juru Parkir di Toko Atau Minimarket yang Bertuliskan 'Parkir Gratis'!

Jangan cintai Surabaya secara berlebihan, ia juga punya kekurangan yang patut dibicarakan

21 Juli 2026
Ironi Puncak Pulek Cilacap: Ramai Dikunjungi karena Viral, padahal Area Privat

Ironi Puncak Pulek Cilacap: ramai dikunjungi karena viral, padahal area privat

15 Juli 2026
Stop bilang orang Sunda pemalas, kami cuma tahu cara menikmati hidup tanpa harus burnout Mojok.co

Stop bilang orang Sunda pemalas, kami cuma tahu cara menikmati hidup tanpa harus burnout

17 Juli 2026
Melawan serbuan semut di kamar, drama anak kos yang tampak sepele, tapi cukup bikin puyeng Mojok.co

Melawan serbuan semut di kamar, drama anak kos yang tampak sepele, tapi cukup bikin puyeng

16 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.