Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Mengutip Media Sosial Tanpa Izin Itu Hukumnya Makruh

Herdanang Ahmad Fauzan oleh Herdanang Ahmad Fauzan
19 Oktober 2020
A A
Mengutip Media Sosial Tanpa Izin Itu Hukumnya Makruh jurnalistik etika jurnalisme wartawan terminal mojok.co

Mengutip Media Sosial Tanpa Izin Itu Hukumnya Makruh jurnalistik etika jurnalisme wartawan terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Pada suatu pagi, seorang editor meminta saya menulis artikel tentang epidemiolog yang mengkritik penerapan PSBB di Indonesia. Si Epidemiolog ini kebetulan memang sudah ngetwit perihal itu. Perintah editor saya sederhana, yaitu untuk mengutip media sosial Epidemiolog tersebut yang mencuitkan tema-tema yang akan diangkat, lalu jadikan satu artikel pendek.

Saya berangkat, meraih gawai, lalu berkirim DM ke si Epidemiolog. Intinya saya minta izin untuk mengutip media sosialnya sebagai bahan berita.

Sepuluh menit berlalu, tidak dibalas, 20 menit lewat, belum juga. Sampai ketika sudah lewat 30 menit, editor saya menelepon.

“Gimana naskahnya?”

“Belum, Mas, belum dijawab DM saya.” balas saya lirih.

“Ngapain DM segala. Udah langsung kutip saja twitnya. Buruan ya, lima menit. Aku tunggu.”

Hening, telepon ditutup.

Daripada dipecat, saya akhirnya menuruti perintah editor. Saya mengutip media sosial yang isinya cuitan tersebut dan jadilah satu naskah sesuai permintaan. Tapi, hati saya berkecamuk. Rasane blas ora tenang.

Baca Juga:

4 Jasa yang Tidak Saya Sangka Dijual di Medsos X, dari Titip Menfess sampai Jasa Spam Tagih Utang

Drama Cina: Ending Gitu-gitu Aja, tapi Saya Nggak Pernah Skip Menontonnya

Dulu, di tempat kerja sebelumnya saya selalu diwanti-wanti mantan redaktur agar minta izin dulu setiap mau mengutip media sosial seseorang yang berisi cuitan atau status. Kecuali dia itu presiden. Atau panglima kombatan ISIS. Atau tokoh penting dunia yang memang sudah mustahil untuk dimintai konfirmasi.

Masalahnya, si Epidemiolog ini, menurut saya, nggak masuk ke kategori tersebut. Twitternya belum centang biru. Followersnya juga masih 0,01 persennya jumlah followers Cristiano Ronaldo (maaf ya, saya pilih Ronaldo ketimbang Messi karena saya bukan cah nangisan). Intinya, saya berpikir dia masih approachable buat saya kontak atau sekadar dimintai izin.

Drama batin itu lantas berakhir antiklimaks. Sore harinya, DM saya dibalas dan si Epidemiolog mengizinkan. Tapi, tetap saja ada rasa bersalah karena saya kadung mengutip pernyataan blio tanpa izin di awal. Saya tahu bahwa media tempat saya bekerja itu komersial. Dapat duit dari iklan yang muncul karena pemberitaan-pemberitaannya. Saya jadi merasa seperti habis mencuri makanan dari meja tetangga untuk mengisi perut kosong saya sendiri. Saya minta maaf dan untungnya blio memaafkan.

Kegelisahan itu akhirnya saya suarakan ketika ketemu editor saya beberapa hari kemudian. Pelan-pelan saya tanya, “Memangnya nggak apa-apa, Mas, saya melakukan yang seperti kemarin?”

Dengan segala teori yang ndakik-ndakik, saya diberitahu kalau itu bukan masalah. “Lagi urgent,” kata blio, “mumpung belum kalah cepat dari media lain.”

Saya tidak puas. Saya masih berpegang pada teori di kantor lama saya bahwa seharusnya saya menunggu jawaban si Epidemiolog. Toh klaim urgent yang dia maksud cuma didasari “biar nggak kalah dari kompetitor” itu, menurut saya, wagu betul. Ketidakpuasan itu cuma saya simpan dalam hati karena saya tahu, nggak peduli saya mendebat sampai kapan pun, mustahil editor saya berubah pandangan.

Sepulang dari pertemuan itu, saya lantas berkirim pesan WhatsApp ke mantan redaktur di kantor bekas tempat saya pernah bekerja. Saya ceritakan keresahan saya, lalu mendapat jawaban bahwa tidak ada yang salah dengan jalan pikiran saya. Mantan redaktur saya itu lalu mengirim sebuah tautan artikel untuk saya baca.

“Coba kamu baca ini, setelah itu renungkan.” kata dia.

Tautan yang dikirim mantan redaktur saya mengarah ke salah satu artikel di Remotivi. Ditulis tahun 2016 oleh mas Wisnu Prasetya Utomo, salah satu peneliti Remotivi. Blio mengutip riset dua peneliti University of Amsterdam, Sanne Kruikemer dan Sophie Lecheler yang berisi persepsi publik terhadap berita-berita daring di era media sosial.

Intinya, hasil riset tersebut mengatakan bahwa tingkat kredibilitas naskah yang bersumber dari mengutip media sosial adalah yang paling rendah di mata responden. Dari skala 1-7, pemberitaan dari Facebook cuma dapat nilai 2,55 sementara Twitter 2,56. Nilai ini masih kalah dari penilaian terhadap berita dari hasil wawancara (4,7), konferensi pers (4,33) dan surel (4,25).

“Menariknya,” kata mas Wisnu dalam naskahnya, “skor untuk media sosial tersebut naik ketika para responden diberi tahu bahwa sumber dari media sosial yang digunakan sudah diverifikasi oleh jurnalis.”

Konteks yang dimaksud dalam artikel tersebut tampaknya memang berbeda dari pengalaman saya. Artikel itu menyinggung soal sumber konten-konten seperti polling sebagai sumber primer jurnalistik, sementara objek yang sedang saya cari tahu cuma sebatas kutipan pernyataan.

Tapi, saya sudah dapat poin yang dimaksud mantan redaktur saya. Bahwa memang tidak apa-apa saya berusaha melakukan verifikasi atau sekadar minta izin karena toh itu akan meningkatkan kredibilitas tulisan saya.

Yang kemudian tidak kalah menarik, dalam tulisannya, Mas Wisnu juga mengutip riset Reuters Institute yang menyatakan bahwa jumlah jurnalis yang mengandalkan sumber media sosial tengah meningkat drastis.

Riset tersebut membuat saya juga sedikit memahami posisi pandang editor saya yang menganggap verifikasi bukan persoalan besar. Barangkali, blio memang menilai bahwa si Epidemiolog yang saya maksud di awal sudah cukup kredibel. Platform Facebook dan Twitter toh tak dapat dimungkiri membuat arus informasi mengalir lebih cepat dan media dituntut lebih gesit.

Tapi, pikiran saya jatuh ke sebuah perenungan baru. Berpijak pada 2 riset itu, artinya ramai-ramai mengutip media sosial sama dengan menjatuhkan kredibilitas sendiri. Bukankah ini sama artinya media sedang merusak dirinya sendiri atas nama adu kecepatan?

Renungan itu membuat saya mulai pesimistis. Saya khawatir bila kelak apa yang saya kerjakan sekarang justru mencederai dan menjerumuskan publik ke dalam gagasan-gagasan yang keliru. Padahal, sejak awal saya sendiri bercita-cita kerja jadi wartawan karena ingin memberi pencerahan dan informasi sebaik mungkin kepada orang-orang.

Renungan itu, kemudian mengantarkan saya untuk mengibaratkan kebiasaan mengutip media sosial tanpa izin sebagai sesuatu yang makruh. Kalau kata guru ngaji saya sewaktu SD, makruh adalah hal yang dianjurkan ditinggalkan dalam ajaran agama, namun tidak berdosa bila dilakukan.

Mengutip media sosial tanpa verifikasi barangkali memang tidak atau belum menimbulkan konsekuensi. Tak ada pula hukum yang tegas melarangnya. Namun, tampaknya memang sudah saatnya budaya semacam ini dihindari jurnalis-jurnalis seperti saya. Kecuali bila kami memang ingin meruntuhkan kredibilitas diri sendiri.

BACA JUGA Nasib Anarko: Sudah Jatuh Tertimpa Tangga pula

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini

Terakhir diperbarui pada 1 Oktober 2025 oleh

Tags: JurnalistikMedia Sosial
Herdanang Ahmad Fauzan

Herdanang Ahmad Fauzan

Jurnalis yang mulai berpikir buat banting setir.

ArtikelTerkait

Saya Lahir di Kampung PSK dan Menyadari Tatanan Masyarakat yang Unik mojok.co/terminal

Belajar dari Unggahan Fauzi Baadilla soal Pelecehan Seksual yang Dialaminya

18 Juni 2020
20 Istilah yang Harus Diketahui KOL Specialist

20 Istilah yang Harus Diketahui KOL Specialist

22 September 2023

Cara Menang Giveaway di Instagram yang Paling Ampuh

1 Juni 2021
rich brian

Kerja Sama Antara Gojek dengan Rich Brian dan Reaksi Para Warga Twitter

12 Agustus 2019
twitter

Twitter adalah Rumah dari Media Sosial

22 Juni 2019
Strategi Promosi Film 'Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas' Memang Sempat Menipu sal priadi pemeran ajo kawir marthino lio ladya cheryl eka kurniawan mojok.co

Strategi Promosi Film ‘Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas’ Memang Sempat Menipu

7 November 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bontang Naik Level: Dulu Cari Hiburan Susah, Sekarang Bingung karena Kebanyakan Tempat

Bontang Naik Level: Dulu Cari Hiburan Susah, Sekarang Bingung karena Kebanyakan Tempat

1 April 2026
Kata Siapa Tinggal di Gang Buntu Itu Aman dan Nyaman? Rasakan Sensasinya Ketika Gang Buntu itu Ditumbuhi Kos-kosan

Kata Siapa Tinggal di Gang Buntu Itu Aman dan Nyaman? Rasakan Sensasinya Ketika Gang Buntu itu Ditumbuhi Kos-kosan

1 April 2026
Penilai Properti: Profesi "Sakti" di Balik Kredit Bank yang Sering Dikira Tukang Ukur Tanah

Penilai Properti: Profesi “Sakti” di Balik Kredit Bank yang Sering Dikira Tukang Ukur Tanah

31 Maret 2026
Unpopular Opinion, Mojokerto Adalah Kota Paling Layak untuk Hidup Bahagia Sampai Tua Mojok.co

Mojokerto, Kota yang Tak Pernah Move On dari Masa Lalunya dan Tak Bisa Lepas dari Apa-apa yang Berbau Majapahit

2 April 2026
3 Alasan Stasiun Jombang adalah Tujuan Paling Rasional Menuju Malang Barat dibanding Stasiun Malang Kota

3 Alasan Stasiun Jombang Adalah Tujuan Paling Rasional Menuju Malang Barat dibanding Stasiun Malang Kota

29 Maret 2026
Kembaran Bukan Purwokerto, Jangan Disamakan

Iya Saya Tahu Purwokerto Itu Kecamatan Bukan Kota, tapi Boleh Nggak Kita Santai Saja?

28 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut dan Tagihan Shopee PayLater
  • Ambisi Beli Mobil Keluarga sebelum Usia 30, Setelah Kebeli Tetap Gagal Senangkan Ortu dan Jadi Pembelian Sia-sia
  • Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja
  • Vario 160 Adalah Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Motor Honda, tapi Sejauh Ini Menjadi Matik Terbaik yang Tahan Siksaan
  • Resign dari Perusahaan Bergaji 3 Digit di Luar Negeri karena Tak Merasa Puas, Kini Memilih Kerja “Sesuai Passion” di Kampung Halaman
  • Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.