Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Sinetron

Sinetron Indonesia dan Pola Pikir Tokoh Utamanya yang Selalu Bodoh dan Kalahan

Gusti Aditya oleh Gusti Aditya
15 September 2020
A A
Alasan Pola Pikir Tokoh Utama Sinetron Indonesia Selalu Bodoh dan Kalahan terminal mojok.co

Alasan Pola Pikir Tokoh Utama Sinetron Indonesia Selalu Bodoh dan Kalahan terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Badai kembali datang, yakni kala stasiun televisi kesayangan masyarakat Indonesia, RCTI, menelurkan sinetron terbarunya. Judulnya adalah Perempuan Pilihan. Nggak tahu pilihannya siapa, yang jelas sinetron ini nggak kalah menjengkelkan. Mungkin tebersit pertanyaan, “Kalau menyebalkan, matikan saja televisinya”. Tidak semudah itu ketika saya memiliki nenek yang begitu menyukai sinetron Indonesia yang berkembang pesat ini.

Walau sinetron Perempuan Pilihan tergolong baru, sebenarnya premis-premis yang dihadirkan nggak baru-baru amat. Saya teringat sebuah sinetron, judulnya Cinta yang Hilang. Walau nggak plek sama, tapi ada beberapa premis yang nggak pergi ke mana-mana. Selain ada seorang perempuan yang ditinggal suaminya untuk nikah lagi, menjadi makin aneh ketika tokoh utamanya dibuat selalu lemah, kalah, dan—seakan—nggak bisa berpikir secara rasional.

Tidak hanya berkutat kepada dua sinetron di atas. Ada pula beberapa sinetron yang tokoh utamanya bisa dikatakan menyebalkan lantaran nggak bisa apa-apa yang cenderung mengarah ke arah nggak logis: terlalu baik, agamis, dan sopan yang sejatinya nggak bisa menjadi alasan untuk selalu kalah. Walau ending-nya berakhir dengan indah—entah tamat di episode berapa—tapi, jika ditotal, kemenangan sang antagonis lebih banyak ketimbang si protagonis.

Haji Sulam entah berapa kali kalah di hadapan Haji Muhidin. Walau di beberapa part Haji Muhidin kena batunya, tetap saja kemenangan Haji Muhidin selalu lebih banyak kala melihat jumlah episode yang disajikan sinetron ini. Dalam Perempuan Pilihan juga sama. Kala mengejar orang, protagonis berlari dan antagonis naik mobil. Lantas, mengapa tidak mengambil pilihan bahwa si protagonis ini catat saja nomor plat yang tercantum di kendaraan tersebut?

Saya nggak akan membandingkan dengan drama Thailand, Jepang, India, atau bahkan Korea. Selain jawabannya sudah jelas bahwa kualitas jadi landasan utama. Sinema elektronik negara lain, sudah mulai keluar dari mengocok-ngocok emosi pemirsanya dari ranah jengkel. Mereka memilih untuk membangun logika, perasaan, dan segala elemen yang tidak pernah ada di sinetron Indonesia.

Mengapa sinetron kita betah menggunakan pola macam ini? Dan mengapa yang menonton selalu banyak walau disajikan tayangan sampah tiap hari? Jawabannya ada banyak. Pertama, agar jumlah episodenya banyak, iklan masuk, cuan didapatkan dengan mudah. Ya, jangan heran ketika ada adegan si pemeran sinetron minum susu, tiba-tiba bilang, “Wah, minuman ini enak sekali….” Nah, itu tanda-tandanya sang tokoh utama di sinetron akan dibuat makin lemah.

Semakin lemah, adegannya bakal kayak gitu-gitu aja. Sliwar-sliwer padahal beberapa kali si protagonis dipertemukan dengan jawaban inti sari cerita tersebut. Kalau meminjam istilah Fiersa Besari, semesta belum merestui mereka. Ndasmu! Itu mah bukan semesta yang merencanakan, tapi penulis skripnya disuruh bikin alur cerita muter-muter biar makin banyak iklan yang masuk.

Kedua, kecurigaan bahwa di dunia nyata, yang jahat memang lebih pintar. Walau sampai saat ini takaran baik dan buruk itu masih rumpang, tapi melihat polarisasi penokohan yang disajikan sinetron, saya bisa ambil kesimpulan secara sembarangan, si jahat ini memang pintar. Si jahat ini lebih manusiawi, bisa menggunakan otak dan pikirannya dengan benar walau tak melulu baik.

Baca Juga:

Preman Pensiun 9 Sebaik-baiknya Sinetron Ramadan, Bikin Saya Nonton TV Lagi 

5 Rekomendasi Drama Korea yang Tokoh Utamanya Mati, Dijamin Bikin Banjir Air Mata!

Bayangkan saja, semisal si tokoh jahat ini nggak bernalar selayaknya tokoh utama (yang kebanyakan protagonis), mau jadi apa cerita ini? Selesai. Credit title pun keluar. Dengan syarat, tidak ada cuan karena ratingnya telanjur naik. Halah.

Namun, yang bikin sinetron nyaman membuat kualitas buruk adalah beberapa hal lain: budget yang tergolong sedikit, cerita yang nggak kreatif, dan cuan yang dihasilkan lebih banyak ketimbang acara lain semisal olahraga, games show, dan kuis. Jadi, kalau ada yang mudah dan menguntungkan, kenapa harus menempuh jalur sulit bernama mengedepankan kualitas?

Selain itu, langgengnya tokoh utama yang tersiksa dan monoton ini karena tidak adanya kritikus sinetron dan bodo amatnya penikmat sinetron akan hal tersebut. Dari sekian banyak drama Korea atau series Amerika, jumlah episode mereka kebanyakan padat dan merujuk kepada inti apa yang hendak mereka tuju. Dalam arti lain, series dan drama lebih punya tujuan. Sedangkan sinetron, tujuan dibuat kala rating sudah dalam genggaman.

“Kalau rating bagus, gas terus. Kalau rating jelek, berhenti di tengah jalan,” itulah pola pikir sinetron kita kini. Walau ada campur tangan dirimu—dan saya—juga, sih. Makin ditonton, makin kita mencak-mencak di depan layar kaca, bukannya jalan cerita menyelesaikan masalah, si tokoh utama nalarnya makin hilang saja.

BACA JUGA Pengalaman Jadi Figuran Sinetron selama Sehari dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 20 Januari 2022 oleh

Tags: protagonisSinetrontokoh utama
Gusti Aditya

Gusti Aditya

Pernah makan belut.

ArtikelTerkait

nussa dan rara, Alasan Serial Animasi Nussa Nggak Cocok untuk Tayangan Anak-anak di Televisi Wajah Baru Pemberi Warna Baru di Sinetron Preman Pensiun 4 Preman Pensiun 4: Sinetron Penuh Edukasi untuk Insan Pertelevisian Indonesia Rekomendasi Sinetron untuk Hibur Anies Baswedan Atas Ditundanya Formula E

Rekomendasi Sinetron untuk Hibur Anies Baswedan Atas Ditundanya Formula E

12 Maret 2020
Preman Pensiun 9 Sebaik-baiknya Sinetron Ramadan, Bikin Saya Nonton TV Lagi Mojok.co

Preman Pensiun 9 Sebaik-baiknya Sinetron Ramadan, Bikin Saya Nonton TV Lagi 

9 Maret 2025
Kalau Pengin Lebih Laris, Nussa-Rara Harus Belajar dari Animasi Omar dan Hana Pengalaman Saya Menonton Sinetron Azab di Indosiar

Pengalaman Saya Menonton Sinetron Azab di Indosiar

26 Januari 2020
Sebelum Drama Korea Menyerang, Telenovela Pernah Merajai Tontonan Indonesia

Sebelum Drama Korea Menyerang, Telenovela Pernah Merajai Tontonan Indonesia

30 April 2020
Ogah Nonton Sinetron Indonesia Tidak Membuatmu Jadi Keren Terminal Mojok

Ogah Nonton Sinetron Indonesia Tidak Membuatmu Jadi Keren

10 Desember 2020
Beberapa Hal pada Sinetron yang Nggak Pernah Absen Bikin Ruwet Terminal Mojok

Beberapa Hal pada Sinetron Indonesia yang Bikin Ruwet

22 Desember 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Low Maintenance Friendship: Tipe Pertemanan Dewasa yang Minim Drama, Cocok untuk Orang-Orang Usia 30 Tahunan Terminal

Low Maintenance Friendship: Tipe Pertemanan Dewasa yang Minim Drama, Cocok untuk Orang-Orang Usia 30 Tahunan

15 Mei 2026
8 Tipe Pengguna Toilet Mal Paling Red Flag di Mata Cleaning Service, Semoga Kalian Bukan Salah Satunya Mojok.co

8 Tipe Pengguna Toilet Mal Paling Red Flag di Mata Cleaning Service, Semoga Kalian Bukan Salah Satunya

19 Mei 2026
Penjilat Atasan Adalah Borok dalam Dunia Kerja yang Bikin Pekerja Keras Tersingkir dan Menderita Mojok.co

Penjilat Atasan Adalah Borok dalam Kantor yang Bikin Pekerja Lain Tersingkir dan Menderita

21 Mei 2026
Paris Van Java Mall Bandung: Estetik, tapi Sama Sekali Nggak Nyaman

Paris Van Java Mall Bandung: Estetik, tapi Sama Sekali Nggak Nyaman

18 Mei 2026
Pantai Glagah Disebut Bali-nya Jogja, dan Saya Tidak Tahu Harus Senang atau Khawatir

Pantai Glagah Disebut Bali-nya Jogja, dan Saya Tidak Tahu Harus Senang atau Khawatir

15 Mei 2026
Betapa Lelahnya Kuliah S2 Bareng Fresh Graduate: Nggak Dewasa, Semua Dianggap Saingan Mojok.co

Betapa Lelahnya Kuliah S2 Bareng Fresh Graduate: Nggak Dewasa, Semua Dianggap Saingan

19 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.