Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Telat Menikah Itu Bukanlah Sebuah Masalah, dan Ini Serius

Mutabiatul Huda Az Zahro Mahdiyah oleh Mutabiatul Huda Az Zahro Mahdiyah
1 Juli 2020
A A
menikah telat menikah mojok.co

menikah telat menikah mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Beberapa waktu yang lalu seorang teman curhat pada saya bahwa dia baru saja putus. Dia kecewa karena mantannya membuang-buang waktunya yang berarti membuatnya telat menikah, mantannya bilang mereka tidak cocok. Padahal teman saya ini sebenarnya juga merasa tidak cocok, namun mengingat umur dia abaikan fakta itu.

Lalu ketika saya tanya apakah dia benar-benar ingin menikah, dia menjawab umurnya sudah memasuki 25 tahun. Teman-teman sudah banyak yang menikah, orangtua pun selalu menuntut. Saya heran karena sebelumnya dia ingin sekali lanjut kuliah. Dan ketika saya tanya bagaimana dengan rencana kuliah, dia menjawab nanti saja setelah menikah.

ADVERTISEMENT

Ketika saya tanya memang yakin setelah nikah bisa kuliah, dia terdiam dan bingung. Saya mengatakan ini karena saya mengalami sendiri, menikah dengan niat kuliah dulu, baru memikirkan anak. Nyatanya, saya hamil 2 bulan setelah menikah dan kini saya fokus pada anak.

Dibilang menyesal tidak juga, tapi saya merasa sakit hati ketika teman saya lanjut kuliah, lebih tepatnya nyesek. Bedanya saya menikah bukan karena tuntutan sosial, tapi saat itu saya berpikir bahwa hamil itu tidak semudah itu, saking polosnya, jadi ya nikah aja dulu, baru kuliah bersama suami.

Lalu saya tanya lagi sebenarnya kenapa dia ingin menikah, karena memang ingin dan siap, atau karena tuntutan sosial. Dia akhirnya menyadari bahwa keinginan itu berasal dari tuntutan sosial. Dan ini fenomena yang terjadi di masyarakat kita, lihat perempuan umur dua puluhan masih single itu rasanya gatel.

“Jangan pilih-pilih, nanti telat lho nikahnya, udah umur berapa sekarang? Nanti susah dapat jodoh lho, terus nanti susah punya anak. Si A udah punya anak lho, si B lagi hamil. Cepetan nyusul kasian orang tuamu. Apa mau dicariin?”

Memangnya kenapa kalau menikah di usia matang? Memangnya kenapa kalau menikah saat siap? Memangnya kenapa kalau telat menikah? Memangnya kita menikah untuk menyenangkan masyarakat? Kalau kita gak cocok sama pasangan karena diburu-buru nikah, situ mau tanggung jawab?

Faktanya, ada juga yang menikah muda belum dikaruniai anak, ada yang menikah usia matang langsung dikaruniai. Ada yang menikah di usia matang dapat jodoh yang baik sekali, ada yang menikah di usia muda dapat jodoh yang tidak paham kewajiban dan tanggung jawab dalam rumah tangga.

Baca Juga:

5 jurusan kuliah S2 yang sebaiknya diambil di Indonesia aja, nggak usah jauh-jauh ke luar negeri

Jangan cuma mengingat stereotip negatifnya, nyatanya orang Madura itu jago banget masak

Bukan saya mengharuskan orang agar menunda pernikahan, tapi saya harap perempuan itu menikah karena dirinya siap dan ingin menikah. Menikah dengan orang yang cocok dan bisa membina rumah tangga yang samawa. Masalahnya banyak perempuan karena tuntutan itu jadinya asal milih. Yang paling cepet nikahin aja lah, tanpa berpikir sifat, sikap, dan tanggung jawabnya.

Padahal nikah itu untuk seumur hidup, bukan seperti makanan penunda lapar. Yang penting bisa dimakan, daripada kelaperan! Helllowww!! Banyak yang menikah tanpa pikir panjang lalu akhirnya menyesal. Yang awalnya ingin hidup bahagia dengan menikah, malah menderita karena menikah.

Teman saya menikah karena sudah berkomitmen dalam usia yang sangat muda, padahal dia sudah merasa bahwa calonnya ini mulai berubah. Ia menikah karena nanggung, akhirnya? Perceraian. Seorang lainnya menikah karena sudah didesak orangtuanya. Padahal mereka tidak memiliki visi dan misi yang sama, ditambah lagi tidak punya pekerjaan. Akhirnya? Perceraian juga.

Label telat menikah terlalu melekat pada perempuan yang hampir matang. Padahal banyak perempuan yang enjoy dengan hidupnya yang single. Banyak yang masih ingin meraih mimpinya, bahkan belum menemukan passionnya sehingga mereka butuh banyak waktu untuk diri mereka sendiri.

Setelah menikah, kehidupan perempuan harus dibagi menjadi tiga, yaitu menjadi istri, ibu, dan pribadi. Tapi adakah orang-orang yang melabeli telat menikah itu berpikir bahwa meraih cita-cita itu tidak mudah ketika prioritas sudah terbagi?

Hanya karena tuntutan sosial, kehidupan seorang perempuan bisa berubah. Ada yang trauma pada lelaki, ada yang trauma pada pernikahan. Ketika perempuan sudah siap menikah, maka ia akan siap menerima tiga peran. Ia siap bahwa kehidupannya akan terbagi, prioritas dirinya dinomor duakan, cita-citanya siap tertunda.

Ketika perempuan siap menikah, ia akan memilih suami dengan rasional, bukan yang tercepat. Jangan sampai pernikahan malah jadi petaka, yang berubah bukan saja hidup ibunya, tapi anak-anaknya juga. Pernikahan bukan permainan yang kalau udah gak enak dimainin terus ditinggal. Ada risiko dan tanggung jawab. Jika terasa tidak cocok dan sekiranya setelah menikah akan terjadi masalah, lebih baik mundur.

Karena menunda 2-5 tahun atau lebih sampai siap dan dapat yang terbaik itu nggak seberapa dibanding pernikahan yang seumur hidup. Perempuan harus egois terlebih dahulu, memikirkan dirinya dan masa depannya. Karena hidup ini milik kita, bukan milik masyarakat yang keputusannya harus berdasarkan musyawarah mufakat.

BACA JUGA Pernikahan Teman Adalah Kado Perpisahan Bagi Hubungan Persahabatan.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 1 Juli 2020 oleh

Mutabiatul Huda Az Zahro Mahdiyah

Mutabiatul Huda Az Zahro Mahdiyah

Mompreneur, Gusdurian, Founder and Teacher tahsinonlinebenome

ArtikelTerkait

Serba-serbi Implan Gigi, Pengobatan Gigi yang Mahalnya Naudzubillah, tapi Kualitasnya Nggak Bisa Diragukan

Serba-serbi Implan Gigi, Pengobatan Gigi yang Mahalnya Naudzubillah, tapi Kualitasnya Nggak Bisa Diragukan

8 Februari 2025
Obat Jerawat Berbahan Sulfur, Salicylic Acid, dan Benzoyl Peroxide: Mana yang Paling Ampuh? terminal mojok.co jerawat batu

Obat Jerawat Berbahan Sulfur, Salicylic Acid, dan Benzoyl Peroxide: Mana yang Paling Ampuh?

12 Agustus 2021
Derita Menyandang Status Sarjana Pertama di Keluarga, Dianggap Pasti Langsung Sukses Nyatanya Gaji Kecil dan Hidup Pas-pasan

Derita Menyandang Status Sarjana Pertama di Keluarga, Dianggap Pasti Langsung Sukses Nyatanya Gaji Kecil dan Hidup Pas-pasan

7 Mei 2025
8 Olahan Telur Ceplok yang Enak dan Mudah Dibuat

8 Olahan Telur Ceplok yang Enak dan Mudah Dibuat

19 Oktober 2022
4 Hal yang Membuat Saya Malu Mengaku Kuliah di Jurusan Jurnalistik Mojok.co

4 Hal yang Membuat Saya Malu Mengaku Kuliah di Jurusan Jurnalistik

21 November 2023
Dear HokBen, Nasi Pulenmu Itu Ditakdirkan buat Dimakan Langsung, Bukan Dijadikan Nasi Goreng

Dear HokBen, Nasi Pulenmu Itu Ditakdirkan buat Dimakan Langsung, Bukan Dijadikan Nasi Goreng

14 November 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kalau kamu pekerja dengan gaji UMK dua juta rupiah, masa depan cerah itu hanyalah bualan sampah

Kalau kamu pekerja dengan gaji UMK dua juta rupiah, masa depan cerah itu hanyalah bualan sampah

7 Agustus 2026
Nelangsa Penderita Buta Warna di Dunia Kerja : Nggak Dilirik HRD sampai Dapat Persepsi Buruk Kolega buta warna parsial

Gara-gara buta warna parsial, saya tidak bisa jadi apa-apa karena syarat administrasi yang mendiskriminasi

9 Agustus 2026
GTM pada anak, drama paling menguji kesabaran dan kreativitas orang tua Mojok.co

GTM pada anak, drama paling menguji kesabaran dan kreativitas orang tua

9 Agustus 2026
Dear Indosiar, terima kasih sudah menghibur ibu saya lewat acara dangdut D’Academy Mojok.co

Dear Indosiar, terima kasih sudah menghibur ibu saya lewat acara Dangdut Academy

5 Agustus 2026
Ketika Buku Menebang Pohon

Ketika buku menebang pohon

4 Agustus 2026
Culture shock anak pesisir pantura lihat pantai di Maluku: ternyata pantai bisa bersih, putih, dan tanpa bau amis

Culture shock anak pesisir pantura lihat pantai di Maluku: ternyata pantai bisa bersih, putih, dan tanpa bau amis

5 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.