Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Siapa Kita kok Ngatur-Ngatur Tuhan?

Aly Reza oleh Aly Reza
29 Mei 2020
A A
ngatur-ngatur tuhan ritual agam islam mojok.co

Siapa Kita Kok Ngatur-Ngatur Tuhan?

Share on FacebookShare on Twitter

Beberapa hari terakhir, wajah Misbah, entah kenapa selalu tampak gusar. Pemandangan yang membuat kawan baiknya—Kang Salim—terpantik untuk menanyakan; apa hal yang sebenernya tengah dirisaukan oleh Misbah?

“Ada masalah apa tho, Mis, coba cerita,” pancing Kang Salim membuka obrolan sore itu, seperti biasa, di cangkruk bambu depan rumah.

“Begini loh, Kang, saya kok ngerasa setiap doa-doa saya nggak didengar sama Gusti Allah.”

Mendenger keluh Misbah yang demikian itu, Kang Salim agak terperanjat. “Loh, atas dasar apa kamu bilang gitu, Mis?” tanya Kang Salim kalem.

“Ya sekarang coba pikir tho, Kang, saya ini kalau berdoa perasaan sudah sepanjang mungkin, sudah sambil mengiba-ngiba loh, Kang. Tapi masih aja nggak ada jawaban. Satu pun nggak ada yang terkabul.”

“Hahaha Mis, Mis, sejak kapan ada aturan kalau doa itu harus begitu? Kata siapa berdoa itu harus panjang-panjangan?”

“Ya kan biar detail gitu, Kang. Maksudnya sudah saya jelasin sejelas-jelasnya kepada Gusti Allah kalau saya lagi butuh ini, ini, dan ini. Masa iya doa saya nggak sampai, Kang?”

Kang Salim menghela nafas. Matanya menelisik raut wajah Misbah yang sepertinya sudah sangat kecewa.

Baca Juga:

Membongkar Konsep Tasawuf pada Lagu Dewa 19 yang Berjudul “Satu”

Selamat Ulang Tahun Kota Malang, Jangan Jadi Kota yang Problematik

“Mis, kalau kamu cermati, kira-kira doa kamu ada yang balik ke rumah, nggak?” tanya Kang Salim.

“Hah? Maksudnya, Kang?”

“Kata Gus Dur, Mis, kalau doamu nggak ada yang balik ke rumah, berarti sudah sampai ke tempat tujuan hahaha.”

“Yaaahhh, malah bercanda, saya ini lagi bener-bener gelisah, Kang,” respon Misbah sambil mbesengut. “Lagian, kalau doa saya sampai ke Gusti Allah, mana coba hasilnya? Satu pun nggak ada yang hasil, hmmm.”

Menyadari situasi hati Misbah sedang tidak bisa diajak ngobrol dengan bahasa jenaka, maka inilah saat di mana Kang Salim harus menggunakan bahasa ruhani.

“Mis, begini, ini harus kamu catat. Sesekali cobalah curiga sama doa yang kamu panjatkan.” Mendengar keterangan Kang Salim, Misbah mengernyitkan dahi, tanda belum sepenuhnya mengerti. Maka, Kang Salim dengan senang hati melanjutkan penjelasannya.

“Kita emang harus curiga dengan doa yang kita panjatkan. Karena bisa jadi, doa-doa tersebut, kalau merujuk apa kata Ibnu Athaillah, justru merupakan bentuk ittiham; tuduhan kepada Gusti Allah. Secara nggak langsung kita ini menuduh bahwa Gusti Allah nggak tahu apa yang sedang kita butuhkan. Apalagi kalau doamu bertele-tele, itu malah ngawur lagi. Lha emangnya kita ini lebih maha tahu dari Allah apa kok berani-beraninya jelasin panjang lebar apa yang kita butuh. Nggak usah didetail-detailkan, Dia sudah tahu kali.”

“Loh, loh, Kang, tapi kan Gusti Allah sendiri yang bilang dalam Alquran; Berdoalah (meminta) kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan. Jadi ya nggak salah tho, kalau saya mengajukan macem-macem. Hla wong instruksinya begitu, kok.”

“Yang harus kamu perhatikan, Mis, pertama, Gusti Allah hanya memerintah untuk berdoa atau meminta, titik. Nggak ada bagian harus panjang. Sepintas kelihatannya emang baik berdoa dengan redaksi yang panjang lebar. Tapi dalam pandangan tasawuf, ternyata doa yang bertele-tele, meminta macem-macem, itu malah dianggap tindakan yang kurang patut. Seolah Gusti Allah masih perlu keterangan dari kita tentang kebutuhan kita. Kata Gus Baha, kalau mau berdoa panjang silakan, tapi yang diperbanyak dan diperpanjang itu istighfar atau memuji-memuji Gusti Allah dan Kanjeng Nabi. Ada pun permintaannya, satu sampai dua kalimat udah cukup. Gus Baha menyontohkan, misalnya kita beroda; Ya Allah, Panjenengan Tahu apa yang saya butuh. Gitu aja Dia udah paham, kok, Mis.

“Kedua, coba anggap perintah berdoa tersebut sebagai apa adanya perintah. Artinya, kalau diperintah, ya tugas kita hanya memenuhi, tanpa mengharap imbalan apa-apa. Diperintah berdoa ya sudah kita berdoa, nggak harus minta hasil doanya gimana. Anggap doamu itu bukan sebagai permintaan, tapi sebagai bentuk ibadah dan ekspresi manembah atau menghamba. Dan selayaknya seorang hamba, menyembah adalah suatu kewajiban.”

“Loh, tapi kan misalnya, nih, ada anak yang diperintah orang tuanya terus minta imbalan kan nggak masalah, Kang. Sama nggak masalahnya kalau kita berharap sesuatu dari doa kita kepada Gusti Allah,” sela Misbah.

“Nggak masalah, Mis, tapi nggak etis aja. Nggak tahu diuntung. Ibarat kata nih, ya, apa masih kurang perjuangan orang tua buat kita sampai-sampai disuruh aja harus ada upahnya? Sama dengan apa masih kurang segala kenikmatan dari Gusti Allah, sampai diperintah buat doa aja harus ada timbal baliknya?

“Kalau ngambil contohnya Gus Baha; untuk mengakui suatu kebenaran mutlak, harusnya kita nggak butuh imbalan, dong. Misal, kita mengakui 1+1=2  sebagai kebenaran mutlak saja nggak butuh pamrih apa-apa. Hla kok buat mengakui kalau Gusti Allah itu Maha Segalanya kita butuh imbalan pahala, surga, atau dikabulkannya doa-doa? Bener nggak, Mis?”

Kali ini Misbah hanya terlongo-longo mendengar pemaparan dari Kang Salim. Seberkas cahaya kesadaran mulai menyentuh ruang gelap dalam nuraninya.

“Tapi yang namanya manusia dengan iman tanggung seperti saya ini, Kang, agaknya nggak bakal bisa lepas deh dari kemungkinan nggak mengharapkan ada timbal balik yang nyata dari setiap doa yang kita haturkan. Susah, Kang. Secara, saya kan punya hasrat gitu.” protes Misbah.

“Pernyataan bagus, Mis. Kondisi seperti itu memang nggak bisa kita mungkiri. Saya jadi teringat dengan nasehat dari Syekh Abdul Aziz al-Mahdawi. Katanya kurang lebih begini; Barang siapa yang berdoa dan mengatur-ngatur Tuhan dengan cara apa permintaannya itu harus dipenuhi, doanya mungkin saja dikabulkan, tapi mungkin hanya sebagai bentuk istidraj. Tahu apa itu istidraj, Mis?”

“Gimana tuh, Kang.”

“Ibaratnya kayak ada peminta-peminta, seseorang akan gercep ngasih si peminta-minta ini uang biar segera pergi karena risih. Kurang lebih kayak gitu. Mungkin Gusti Allah memenuhi permintaan kamu seketika. Eh tapi, jangan seneng dulu. Jangan-jangan Gusti Allah malah risih sama kamu mangkanya langsung dikabulin. Hayooo pilih mana? Segera dipenuhi atau nunggu sak karep-karepe Gusti Allah wae?”

“Waduh, jangan sampai tho, Kang, Gusti Allah risih sama saya.” ucap Misbah panik.

“Nah, Mis, coba bangun mindset seperti apa yang diajarkan Ibnu Athaillah; misalkan doa kita belum terkabul, cobalah berpikir positif, jangan-jangan Gusti Allah bakal ngabulin doa saya dengan caranya sendiri, dengan celah yang tak disangka-sangka. Bukan seperti apa yang saya mau. Karena toh Dia lebih paham mana yang terbaik buat saya.”

Iya, ya, siapa kita coba kok ngatur-ngatur Tuhan? Gumam Misbah dalam hati.

*Rujukan: Menjadi Manusia Ruhani (Ulil Abshar Abdalla), dan ceramah Gus Baha.

BACA JUGA Yang Dianjurkan Rasulullah itu Beli Baju Lebaran untuk Anak Yatim Bukan buat Diri Sendiri dan tulisan Aly Reza lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 31 Oktober 2021 oleh

Tags: doaetika berdoakhotbahtasawuf
Aly Reza

Aly Reza

Muchamad Aly Reza, kelahiran Rembang, Jawa Tengah. Penulis lepas. Bisa disapa di IG: aly_reza16 atau Email: [email protected]

ArtikelTerkait

Dewa 19: Konsep Tasawuf yang Tersembunyi di Lagu "Satu" (Instagram @officialdewa19)

Membongkar Konsep Tasawuf pada Lagu Dewa 19 yang Berjudul “Satu”

26 Agustus 2023
welas asih tuhan

Jangankan yang Cuma Berdosa, yang Nggak Beriman Saja Tetep Kebagian Welas Asih Tuhan, Kok

15 Mei 2020
mati, surga, dan neraka MOJOK

Mati Rasa pada Surga dan Neraka

3 Juli 2020
nama

Nama yang Bagus Bukan Jaminan Kelakuan Baik

8 Juli 2019
Nggak Boleh Sembarangan, Ini Doa sebelum Berhubungan Badan yang Wajib Diketahui Pasutri Terminal Mojok

Nggak Boleh Sembarangan, Ini Doa sebelum Berhubungan Badan yang Wajib Diketahui Pasutri

30 Desember 2022
sombong humblebrag merendah untuk meninggi dosa, berdosa

Jangan Sombong, Jangan Sok Suci, Kita Hanya Beda Jalan dalam Memilih Dosa

12 Juni 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Keunggulan Tinggal di Rumah Kontrakan yang Jarang Dibicarakan Banyak Orang Mojok.co

4 Keunggulan Tinggal di Rumah Kontrakan yang Jarang Dibicarakan Banyak Orang

19 Januari 2026
Ilustrasi Purwokerto dan Purwakarta, Bikin Kurir Ekspedisi Kena Mental (Unsplash)

Purwokerto dan Purwakarta: Nama Mirip Beda Provinsi yang Bikin Paket Nyasar, Ongkir Membengkak, dan Kurir Ekspedisi Kena Mental

19 Januari 2026
Rasanya Tinggal di Rumah Subsidi: Harus Siap Kehilangan Privasi dan Berhadapan dengan Renovasi Tiada Henti

Rasanya Tinggal di Rumah Subsidi: Harus Siap Kehilangan Privasi dan Berhadapan dengan Renovasi Tiada Henti

15 Januari 2026
Perkampungan Pinggir Kali Code Jogja Nggak Sekumuh yang Dibayangkan Orang-orang meski Nggak Rapi

Perkampungan Pinggir Kali Code Jogja Nggak Sekumuh yang Dibayangkan Orang-orang meski Nggak Rapi

14 Januari 2026
Jalan Dayeuhkolot Bandung- Wujud Ruwetnya Jalanan Bandung (Unsplash)

Jalan Dayeuhkolot Bandung: Jalan Raya Paling Menyebalkan di Bandung. Kalau Hujan Banjir, kalau Kemarau Panas dan Macet

17 Januari 2026
Bekasi Justru Daerah Paling Nggak Cocok Ditinggali di Sekitaran Jakarta, Banyak Pungli dan Banjir di Mana-mana

Bekasi: Planet Lain yang Indah, yang Akan Membuatmu Betah

13 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan
  • Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu
  • Nasib Tinggal di Jogja dan Jakarta Ternyata Sama Saja, Baru Sadar Cara Ini Jadi Kunci Finansial di Tahun 2026
  • Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam
  • Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa?
  • Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.