Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Merasa Ditaksir Teman Satu Kantor Itu Bikin Perempuan Merasa Serbasalah

Janneta Filza Auladwasasyah oleh Janneta Filza Auladwasasyah
23 Mei 2020
A A
UU ITE Hampir Sama Bahayanya dengan Naksir Teman Sendiri terminal mojok.co

UU ITE Hampir Sama Bahayanya dengan Naksir Teman Sendiri terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Beberapa hari ini chatroom WhatsApp saya dipenuhi oleh curhatan teman-teman perempuan yang kurang lebih memiliki permasalahan klise asmara mereka yang kepentok pada urusan pekerjaan. Saya memiliki dua teman yang memiliki rasa terhadap teman satu kantor mereka. Kalau orang Jawa bilang, “Witing tresno jalaran saka kulino.” Iya begitulah benih-benih asmara timbul pada hati mereka ini. Sayangnya, terlalu lama menjalin obrolan hanya berdasar kepentingan pekerjaan, gelisah akhirnya menerpa tatkala hubungan pekerjaan itu telah usai.

Menuliskan kalimat “Lagi ngapain?” atau ”Sudah makan belum?” mungkin bisa saja, namun untuk sampai memencet tombol kirim, mustahil! Chat yang telanjur berisi bahasan berbobot tidak mungkin mereka banting dengan omongan basa-basi belaka. Yang ada semuanya pasti akan terlihat aneh, begitu kata teman saya.

Kode-kode tidak jelas dari si teman satu kantor, seperti dicari saat menghilang dari kantor, memulai percakapan dengan bertanya seputar pekerjaan yang seperti diada-adakan, atau sekadar menanyakan keadaan kantor, membuat teman-teman saya ini kegirangan sesaat dan sakit kepala kemudian.

Bagaimana tidak jadi semakin pusing jika tingkah laku aneh namun tetap dalam koridor pekerjaan ini membuat mereka sedikit baper dan banyak GR-nya. Kata teman saya, “Nggo opo jal aku digoleki neng kantor padahal aku jane ora duwe urusan langsung?” Selain itu, menurutnya, chatting dari doi ini terkadang terasa dibuat-buat saja agar hubungan mereka tetap terjalin setiap hari. Pun diakuinya, kadang ia memulai terlebih dahulu untuk membuka topik, “Ya nek ora ana chat, rasane gemes dewe cah, piye maneh,” begitu tuturnya.

Seiring berjalannya waktu, hubungan pekerjaan mereka berakhir. Chatting pun akhirnya kandas. Topik yang biasanya dicari, sekarang benar-benar habis. Rasa yang telah terpupuk semakin tinggi, namun saat itu juga dirasa tak ada yang bisa diperjuangkan kembali.

Kawan saya ini sering dibuat kesal sendiri jika menyadari bahwa perasaan asmara mereka digantungkan. Mereka sering mengeluh, “Kok ya laki-laki itu nggak confess sih? Pura-pura nggak tahu apa emang dia nggak ada rasa?” Ya, saya sebagai pendengar cuma bisa mengiyakan dong, padahal di hati yang terdalam saya juga bertanya kenapa teman-teman perempuan saya ini tidak menyatakan perasaan mereka terlebih dahulu.

Setelah berbincang lama, saya akhirnya paham. Seperti menyukai sahabat sendiri, mereka takut jika mengungkapkan perasaan secara langsung kepada teman satu kantor dan ternyata realitas tidak seindah yang mereka bayangkan, semua hubungan tak akan lagi sama. Tak hanya hubungan secara personal, pekerjaan pun atmosfernya akan berbeda. Teman-teman saya ini tidak sanggup jika harus ditolak dan mendapat proyek yang sama dengan pujaan hati mereka itu.

Akhir dari perbincangan kami memunculkan satu tindakan, yaitu menghilang atau istilah kerennya, ghosting. Dengan pertimbangan status yang tidak jelas, hubungan pekerjaan yang mengikat, serta intensitas obrolan yang begitu-begitu saja, akhirnya kedua teman saya ini sama-sama memilih ghosting ketimbang memperjuangkan lebih lanjut.

Baca Juga:

Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta

Membayangkan Film “Ada Apa dengan Cinta” Tidak Pernah Ada

Salah satu teman saya berucap, “Wes lah mending golek liyo seng raono sangkut-paut profesionalitas.” Katanya lebih baik ia pergi mencari laki-laki lain yang berbeda kantor sehingga sedari awal tidak ada modus berkedok pekerjaan yang membuat semuanya terasa formal. “Kalau suka dan berniat mendekati pakai obrolan biasa sajalah biar perhatiannya lebih terasa,” begitu lanjutnya.

Keadaan ghosting yang memutuskan komunikasi secara sepihak dan tanpa penjelasan menjadi pilihan terbaik agar tidak mengganggu hubungan personal maupun profesionalitas mereka. Terlebih semua akan kembali normal seperti sedia kala tanpa perlu klarifikasi apa pun. Diakui kedua teman saya, mengurangi dan menghentikan komunikasi itu sulit, apalagi jika masih dalam satu lingkungan. Namun mereka juga tidak tahan jika harus memikirkan perasaan mereka yang tidak jelas arahnya tersebut. Mereka memilih ghosting dengan harap bisa cepat melupakan teman sekantornya itu dan mencari laki-laki lain yang lebih tidak membahayakan kehidupan sosial mereka jika tertolak serta tidak mendapat kejelasan.

Saya yang notabene hanya pendengar cerita mereka, tidak bisa melakukan intervensi apa pun, seperti mendorong mereka untuk lebih bersabar dengan keadaan atau memperjuangkan kisah asmara penuh konsekuensi itu dengan lebih keras. Saya hanya merasa pernah berada pada situasi yang sama, yaitu menyukai lawan jenis yang masih dalam lingkup pekerjaan sama. Jika tanya pendapat saya, apakah sulit dalam keadaan seperti itu, tentu saja iya. Saya bisa merasakan kekhawatiran teman-teman saya. Bahkan saya pun melakukan ghosting yang saya rasa cukup berhasil setelah satu tahun lamanya. Mungkin jika saya dan teman-teman berjuang lebih keras, perasaan kami mungkin saja berbalas. Hanya saja kami memilih meninggalkan risiko besar untuk menemukan risiko lain yang lebih kecil, mungkin bisa dikatakan seperti itu.

BACA JUGA Pacaran dengan Teman Sekantor atau Teman Sekelas? Yakin, Nih?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 23 Mei 2020 oleh

Tags: CintaPacaranteman satu kantor
Janneta Filza Auladwasasyah

Janneta Filza Auladwasasyah

Mahasiswa yang terkadang suka iseng nulis.

ArtikelTerkait

film dubbing film hollywood film korea subtitle tidak suka film dubbing dubber profesional terminal mojok.co

Pelajaran Hubungan Pranikah dari 3 Film Hits Shah Rukh Khan

25 Mei 2020
rasa bosan

Dalam Suatu Hubungan, Seharusnya Tidak Ada Kata dan Rasa Bosan

8 Juni 2019
nembak gebetan

Mungkinkah Nembak Gebetan dengan Tingkat Keberhasilan Sampai 99,99%?

31 Juli 2019
soal finansial

Sudahkah Terbuka Soal Finansial dengan Pacar?

15 Oktober 2019
Meskipun Nggak Pernah Pacaran Saya Ogah Ikut Gerakan Indonesia Tanpa Pacaran terminal mojok.co

Meskipun Nggak Pernah Pacaran Saya Ogah Ikut Gerakan Indonesia Tanpa Pacaran

4 Mei 2020
secret admirer

Rasanya Jadi Secret Admirer, Nyesek Sek Sek Sek

7 Maret 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mahasiswa UIN Nggak Wajib Nyantri, tapi kalau Nggak Nyantri ya Kebangetan lulusan UIN

Lulusan UIN Sulit Cari Kerja Itu Mitos, Kenyataan Membuktikan Sebaliknya!

5 Juni 2026
Suzuki GSX-R150, Motor Sport untuk Kalian yang Muak dengan Honda CBR dan Yamaha R15 suzuki hayate 125 motor suzuki shogun 110 suzuki access 125 motor suzuki nex crossover suzuki nex II

Suzuki Nex II Benar-benar Nggak Tahu Diri, Harganya Lebih Mahal dari Honda BeAT, tapi Fiturnya Masih Saja Tertinggal  

6 Juni 2026
4 Hal yang Bakal Saya Rindukan setelah Lulus dari UM Malang kkn

UM BBM: Program KKN ala UM Malang yang Punya Banyak Celah dan Penuh Masalah!

7 Juni 2026
4 Saran dari Warlok Jogja untuk Para Pendatang Biar Cepet Betah (Unsplash)

Sebagai Warga Jogja, Saya Punya Empat Permintaan Kecil untuk Pendatang agar Bisa Beradaptasi dengan Baik

8 Juni 2026
Di Balik Sekolah Elit yang Eksploitatif dan Manipulatif Ada Guru yang Menderita karena (Terpaksa) Jadi Ojek dan ART untuk Yayasan  Terminal

Di Balik Sekolah Elit yang Eksploitatif dan Manipulatif Ada Guru yang Menderita karena (Terpaksa) Jadi Ojek dan ART untuk Yayasan 

8 Juni 2026
Blora Bukan Tempat Tinggal yang Tepat untuk 4 Orang Ini

Mampukah Blora Bangkit dari Julukan Pelosok dan Daerah Tersepi?

10 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.