Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Masa Lalu Kelam Takbir Keliling di Desa Saya

Fatimatuz Zahra oleh Fatimatuz Zahra
22 Mei 2020
A A
Tradisi Kupatan sebagai Tanda Berakhirnya Hari Lebaran Masa Lalu Kelam Takbir Keliling di Desa Saya Sunah Idul Fitri Itu Nggak Cuma Pakai Baju Baru, loh! Hal-hal yang Dapat Kita Pelajari dari Langgengnya Serial “Para Pencari Tuhan” Dilema Mudik Tahun Ini yang Nggak Cuma Urusan Tradisi Sepi Job Akibat Pandemi, Pemuka Agama Disantuni Beragama di Tengah Pandemi: Jangan Egois Kita Mudah Tersinggung, karena Kita Mayoritas Ramadan Tahun Ini, Kita Sudah Belajar Apa? Sulitnya Memilih Mode Jilbab yang Bebas Stigma Kenapa Saf Tarawih Makin Maju Jelang Akhir Ramadan? Kenapa Kita Sulit Menerima Perbedaan di Media Sosial? Masjid Nabawi: Contoh Masjid yang Ramah Perempuan Surat Cinta untuk Masjid yang Tidak Ramah Perempuan Campaign #WeShouldAlwaysBeKind di Instagram dan Adab Silaturahmi yang Nggak Bikin GR Tarawih di Rumah: Ibadah Sekaligus Muamalah Ramadan dan Pandemi = Peningkatan Kriminalitas? Memetik Pesan Kemanusiaan dari Serial Drama: The World of the Married Mungkinkah Ramadan Menjadi Momen yang Inklusif? Beratnya Menjalani Puasa Saat Istihadhah Menghitung Pengeluaran Kita Kalau Buka Puasa “Sederhana” di Mekkah Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita? Kenapa Saf Tarawih Makin Maju Jelang Akhir Ramadan? Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita? Mengenang Serunya Mengisi Buku Catatan Ramadan Saat SD Belajar Berpuasa dari Pandemi Corona Perlu Diingat: Yang Lebih Arab, Bukan Berarti Lebih Alim Nonton Mukbang Saat Puasa, Bolehkah? Semoga Iklan Bumbu Dapur Edisi Ramadan Tahun Ini yang Masak Nggak Cuma Ibu
Share on FacebookShare on Twitter

Takbir keliling merupakan salah satu tradisi tahunan yang biasa kita saksikan di akhir bulan Ramadan dalam rangka menyambut datangnya hari raya Idul Fitri. Maklum, jika suasananya begitu semarak karena jumlah umat muslim di Indonesia lebih dari 70%. Lantaran kesamaan identitas itu, umat muslim yang merupakan mayoritas di Indonesia memiliki rasa solidaritas yang tinggi sehingga perayaan hari besar akan terlihat sangat meriah, termasuk tradisi takbir keliling jelang Idul Fitri.

Takbir keliling biasanya identik dengan obor, iring-iringan anak kecil bersarung yang melantunkan takbir keliling kampung, serta kendaraan truk atau pick up yang mengangkut sound system. Bersamaan dengan menggemanya takbir keliling, biasanya ada beberapa kembang api menghiasi langit dan beberapa panitia zakat yang masih keliling menjemput maupun mengantar zakat. Menyenangkan sekali, ya?

Akan tetapi desa saya pernah punya cerita kelam tentang takbir keliling ini. Tepatnya pada malam perayaan Idul Fitri tahun 2008, ada sekelompok pemuda yang menggelar takbir keliling berangkat dari desa saya dan seperti biasa akan mengelilingi desa-desa sebelah. Kelompok ormas berbasis Islam di desa saya memang beragam, mulai dari yang moderat sampai yang militan pun ada. Dan memang biasanya mereka membentuk kelompok takbir kelilingnya masing-masing.

Namun, perayaan takbir keliling pada waktu itu memang terbilang minim penjagaan. Entah mungkin karena dianggap kegiatan tahunan yang biasanya aman-aman saja, maka petugas hanya berjaga di pintu-pintu masuk tiap desa. Tidak seperti biasanya yang mengawal masing-masing rombongan takbir.

Sayangnya, cerita hari itu tidak semulus tahun-tahun sebelumya. Salah satu rombongan takbir dari sebuah ormas mengeroyok sekumpulan pemuda yang tengah bermain gitar di halaman rumah. Usut punya usut, pelaku pengeroyokan menyangka bahwa sekelompok pemuda tersebut sedang melakukan pesta miras, karena terdapat beberapa botol berjajar yang mirip dengan miras. Tanpa pikir panjang, kelompok takbir keliling tersebut menyerang para pemuda dengan menggunakan tongkat dan alat-alat lain yang mereka bawa.

Beberapa di antara para pemuda tersebut berhasil melarikan diri. Namun, satu orang di antaranya terpaksa meregang nyawa di dalam amukan massa tersebut. Belakangan baru diketahui bahwa para pemuda yang sedang bermain gitar tersebut adalah panitia zakat yang sedang beristirahat dari aktivitas antar jemput zakat malam itu.

Sejak saat itu, desa saya jadi sepi dan tidak ada lagi suara anak-anak yang berkeliling mengumandangkan takbir untuk menyambut hari raya. Baru tahun 2018 atau 10 tahun setelah peristiwa memalukan itu berlalu, takbir keliling di desa saya diperbolehkan untuk menggema kembali. Itu pun hanya dalam wilayah desa dan tidak diizinkan keluar. Stigma masyarakat tentang pemuda desa kami pun kian mengerikan. Kalau ada orang yang akan menikah dengan pemuda dari desa saya, pasti pertanyaan orang tuanya tidak akan jauh-jauh dari peristiwa 2008 tersebut: Apakah ada keterkaitan atau hubungan kekerabatan dengan orang-orang yang terlibat di dalamnya atau tidak?

Takbir keliling yang seharusnya menjadi momen membahagiakan, merayakan suka cita lebaran, ternyata dapat menjadi sebuah catatan hitam bahkan hanya berbekal prasangka dan monopoli kebenaran. Coba saja perwakilan ormas yang melakukan pengeroyokan ada yang bersedia turun dari truk untuk mengucap salam dan bertanya: Sedang apa para pemuda yang terlihat nongkrong itu? Mungkin tidak perlu ada nyawa yang melayang.

Baca Juga:

Bukan karena Rasanya Enak, Biskuit Khong Guan Dibeli karena Bisa Memberi Status Sosial

Nostalgia Masa Kejayaan Bata, Sepatu Jadul yang Membuat Saya Sombong saat Lebaran

Tapi ya sudahlah, peristiwa kelam itu sudah berlalu dan menjadi catatan sejarah setidaknya di desa saya. Meskipun pada kenyataannya, sampai saat ini warga desa saya bahkan masyarakat se-kabupaten menjadi antipati pada ormas yang terlibat penganiayaan tersebut. Namun, yang sebenarnya lebih penting untuk kita pelajari adalah bagaimana kita mengontrol prasangka dan emosi diri kita sendiri.

Oleh karena itu, melalui cerita singkat ini saya benar-benar berharap bahwa kejadian ini tidak akan pernah terulang lagi di mana pun. Pasalnya, tidak ada seorang pun yang akan sanggup kehilangan anggota keluarganya dalam amukan massa, lebih-lebih di hari yang seharusnya menjadi hari bahagia.

Semoga takbir keliling dan segala tradisi penyambutan hari raya benar-benar dapat mencerminkan kesucian diri yang hendak dirayakan esok hari. Obor yang biasa dibawa berkeliling semoga menjadi doa dan semangat untuk menjadi cahaya dan penebar kebaikan bagi kehidupan banyak orang, terlebih orang-orang terdekat yang kita lewati rumahnya sambil mengumandangkan kalimat takbir.

BACA JUGA Esai-esai Terminal Ramadan Mojok lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 21 Mei 2020 oleh

Tags: LebarantakbirTerminal Ramadan
Fatimatuz Zahra

Fatimatuz Zahra

Sedang belajar tentang manusia dan cara menjadi manusia.

ArtikelTerkait

3 Alasan Kenapa Mahasiswa Jauh Lebih Pantas dan Harus Dikasih THR daripada Anak-anak

3 Alasan Kenapa Mahasiswa Jauh Lebih Pantas dan Harus Dikasih THR daripada Anak-anak

30 Maret 2025
Membela Orang-orang yang Menyewa iPhone ketika Lebaran Mojok.co

Membela Orang-orang yang Menyewa iPhone ketika Lebaran

1 April 2025
lebaran di sulawesi utara

Suasana Lebaran di Sulawesi Utara yang Perlu Kalian Tahu

6 Juni 2019
Tradisi Kupatan sebagai Tanda Berakhirnya Hari Lebaran Masa Lalu Kelam Takbir Keliling di Desa Saya Sunah Idul Fitri Itu Nggak Cuma Pakai Baju Baru, loh! Hal-hal yang Dapat Kita Pelajari dari Langgengnya Serial “Para Pencari Tuhan” Dilema Mudik Tahun Ini yang Nggak Cuma Urusan Tradisi Sepi Job Akibat Pandemi, Pemuka Agama Disantuni Beragama di Tengah Pandemi: Jangan Egois Kita Mudah Tersinggung, karena Kita Mayoritas Ramadan Tahun Ini, Kita Sudah Belajar Apa? Sulitnya Memilih Mode Jilbab yang Bebas Stigma Kenapa Saf Tarawih Makin Maju Jelang Akhir Ramadan? Kenapa Kita Sulit Menerima Perbedaan di Media Sosial? Masjid Nabawi: Contoh Masjid yang Ramah Perempuan Surat Cinta untuk Masjid yang Tidak Ramah Perempuan Campaign #WeShouldAlwaysBeKind di Instagram dan Adab Silaturahmi yang Nggak Bikin GR Tarawih di Rumah: Ibadah Sekaligus Muamalah Ramadan dan Pandemi = Peningkatan Kriminalitas? Memetik Pesan Kemanusiaan dari Serial Drama: The World of the Married Mungkinkah Ramadan Menjadi Momen yang Inklusif? Beratnya Menjalani Puasa Saat Istihadhah Menghitung Pengeluaran Kita Kalau Buka Puasa “Sederhana” di Mekkah Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita? Kenapa Saf Tarawih Makin Maju Jelang Akhir Ramadan? Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita? Mengenang Serunya Mengisi Buku Catatan Ramadan Saat SD Belajar Berpuasa dari Pandemi Corona Perlu Diingat: Yang Lebih Arab, Bukan Berarti Lebih Alim Nonton Mukbang Saat Puasa, Bolehkah? Semoga Iklan Bumbu Dapur Edisi Ramadan Tahun Ini yang Masak Nggak Cuma Ibu

Sunah Idul Fitri Itu Nggak Cuma Pakai Baju Baru, loh!

21 Mei 2020
Nostalgia Masa Kejayaan Bata, Sepatu Jadul yang Membuat Saya Sombong saat Lebaran Mojok.co

Nostalgia Masa Kejayaan Bata, Sepatu Jadul yang Membuat Saya Sombong saat Lebaran

12 Oktober 2025
Alasan Makan Bakso Menggoda Sekaligus Dicari Saat Lebaran terminal mojok.co

Alasan Makan Bakso Menggoda Sekaligus Dicari Saat Lebaran

16 Mei 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Batik Solo Trans Memang Nyaman, tapi Nggak Ramah Mahasiswa, ke Kampus Harus Transit Sampai 3 Kali Mojok.co

Batik Solo Trans Memang Nyaman, tapi Nggak Ramah Mahasiswa, ke Kampus Harus Transit Sampai 3 Kali

29 Januari 2026
4 Menu Mie Gacoan yang Rasanya Gagal, Jangan Dibeli kalau Nggak Mau Menyesal seperti Saya

Tips Makan Mie Gacoan: Datanglah Pas Pagi Hari, Dijamin Rasanya Pasti Enak dan Nggak Akan Kecewa

1 Februari 2026
MU Menang, Dunia Penuh Setan dan Suram bagi Fans Liverpool (Unsplash)

Sejak MU Menang Terus, Dunia Jadi Penuh Setan, Lebih Kejam, dan Sangat Suram bagi Fans Liverpool

1 Februari 2026
Gudeg Malang Nyatanya Bakal Lebih Nikmat ketimbang Milik Jogja (Unsplash)

Membayangkan Jika Gudeg Bukan Kuliner Khas Jogja tapi Malang: Rasa Nggak Mungkin Manis dan Jadi Makanan Biasa Saja

1 Februari 2026
Perlintasan Kereta Volvo Pasar Minggu Memakan Banyak Korban: Bukan Salah Setan!

Perlintasan Kereta Volvo Pasar Minggu Memakan Banyak Korban: Bukan Salah Setan!

27 Januari 2026
5 Stereotip Kebumen yang Sebenarnya Nggak Masuk Akal, tapi Terlanjur Dipercaya Banyak Orang Mojok.co

5 Stereotip Kebumen yang Sebenarnya Nggak Masuk Akal, tapi Terlanjur Dipercaya Banyak Orang

31 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Misi Mulia Rumah Sakit Visindo di Jakarta: Tingkatkan Derajat Kesehatan Mata dengan Operasi Katarak Gratis
  • DLH Jakarta Khilaf usai Warga Rorotan Keluhkan Bau Sampah dan Bising Truk dari Proyek Strategis Sampah RDF
  • Fakta Pahit soal Stunting. Apabila Tidak Diatasi, 1 dari 5 Bayi di Indonesia Terancam “Bodoh”
  • Indonesia Hadapi Darurat Kualitas Guru dan “Krisis Talenta” STEM
  • Kisah Pelajar SMA di Bantul Melawan Trauma Pasca Gempa 2006, Tak Mau Kehilangan Orang Berharga Lagi
  • Ironi Jogja yang “Katanya” Murah: Ekonomi Tumbuh, tapi Masyarakatnya Malah Makin Susah

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.