Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Ra srawung rabimu suwung adalah jokes tongkrongan yang sudah tidak relevan dan sebaiknya tidak usah disampaikan

Dyan Arfiana Ayu Puspita oleh Dyan Arfiana Ayu Puspita
16 Agustus 2026
A A
Orang Kampung yang Sekolah Tinggi Malah Paling Jarang Srawung Mojok.co

Orang Kampung yang Sekolah Tinggi Malah Paling Jarang Srawung (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Tinggal di kampung itu penuh dinamika sosial. Soalnya, selalu saja ada bahan untuk disambatkan. Mulai dari tetangga yang hobi bakar sampah sembarangan, banyaknya pritilan iuran, hingga tradisi srawung yang terasa seperti kewajiban. Sampai-sampai, ada istilah ra srawung rabimu suwung.

Bagi siapa pun yang lahir dan besar di tanah Jawa, jokes ‘Ra srawung rabimu suwung’ tentu sudah tidak asing lagi. Secara harfiah, kalimat tersebut menyiratkan sebuah peringatan bahwa jika kamu jarang bergaul atau malas nimbrung dengan warga sekitar, bersiaplah menghadapi risiko hajatanmu bakalan sepi. Sepi di sini bisa berarti sepi tamu yang datang, yang berarti sepi pula amplop sumbangan, atau bisa pula berarti sepinya uluran tangan dari tetangga.

ADVERTISEMENT

Kalau mau jujur, sebetulnya ada nilai-nilai positif yang tersanding dalam kata ‘srawung’. Bagaimanapun juga, srawung atau berkumpul adalah wujud nyata persatuan warga di tingkat akar rumput. Cocok nih dengan Pancasila sila ke-3. Tapi, kalau srawung dijadikan sebagai suatu kewajiban? Duh, maaf-maaf aja, nih. Sudah nggak relevan.

Srawung antara dulu dan sekarang

Dulu, ritme kehidupan berjalan jauh lebih lambat dan longgar. Pekerjaan orang-orang di desa pada masa itu umumnya dagang di pasar, atau pergi ke sawah untuk menggarap tanah. Setelah dhuhur, biasanya mereka sudah pulang ke rumah untuk beristirahat. Sehingga, mereka punya banyak energi untuk berkumpul bersama warga di sore hari ataupun malam hari.

Pola yang kurang lebih sama juga dijalani oleh yang perempuan. Pagi hari dihabiskan untuk merampungkan pekerjaan domestik sekaligus membantu mencari tambahan nafkah, lalu sorenya sambil nunggu maghrib atau anak pulang mengaji, bisa haha hihi dengan tetangga dulu. Srawung masih relevan.

Kalau sekarang?

Bagi sebagian besar orang hari ini, mencari sesuap nasi sudah menyita seluruh energi. Sialnya, meski energinya tersita habis, kehidupan tetap saja jauh dari kata manis. Gimana bisa manis kalau untuk sekadar beli beras yang layak saja dompet sudah kembang kempis?

Lalu dengan kondisi seperti itu ada tuntutan sosial untuk selalu hadir si setiap tongkrongan? Wah, sungguh terdengar seperti suatu siksaan.

Baca Juga:

Orang Kampung yang Sekolah Tinggi Jarang Srawung karena Lingkungannya Toxic dan Pemikirannya Jalan di Tempat!

Orang Kampung yang Sekolah Tinggi Malah Paling Jarang Srawung

Paksaan atas nama kebersamaan

Kalian tahu apa hal yang paling bejat ketika ada seorang warga yang absen dari kegiatan srawung dengan alasan kerja? Mereka bilang, “Memangnya kamu doang yang kerja?” atau kalimat senada seperti, “Iya, iya. Sekampung ini yang kerja kamu doang yang lain nganggur~”. Tentu saja diucapkan dengan nada yang membuat darah orang yang dirasani jadi mendidih.

Bejat, memang.

Dengan harga-harga yang mahal seperti saat ini, ada orang mau kerja untuk sekadar menyambung hidup kok malah dimusuhi? Kan nggak ngotak.

Padahal, kalau mau jujur pada kenyataan, apa sih substansi dari acara srawung itu? Sering kali kegiatannya tidak jauh-jauh dari ngobrol ngalor-ngidul yang tidak jelas juntrungannya, atau sekadar gibahin kebijakan pemerintah. Lha daripada gitu ya mending kerja, sudah jelas dapat duit. Misal ngepasi libur pun bukan berarti wajib datang untuk kumpul-kumpul. Asli, nggak make sense orang yang bilang, “Ayo kumpul mumpung libur,”

ADVERTISEMENT

Mumpang-mumpung. Justru mumpung libur ya mending turuu~

Ada pihak ketiga

Selain hidup yang sudah semakin berat, ancaman klasik “ra srawung rabimu suwung” juga sudah tidak relevan karena karena peradaban yang terus berjalan. Dulu, kita memang sangat bergantung pada tenaga tetangga untuk urusan rewang—mulai dari memarut kelapa, merajang bumbu, hingga mendirikan tenda dadakan. Maka, wajar jika absen bergaul dianggap sebagai dosa besar yang bakal membuat hajatan berantakan karena tidak ada yang mau membantu.

Sekarang, situasinya beda. Urusan masak-memasak dan logistik hajatan kini bisa diserahkan ke vendor. Tinggal bayar sesuai paket, dan semua makanan lezat tersaji rapi tanpa perlu repot mengoordinasikan puluhan warga desa sejak subuh.

Nggak ada duit buat sewa vendor? Jangan khawatir. KUA masih berdiri tegak. Syarat wajib nikah itu nggak harus gelar hajatan, kok. Jadi, aman saja. Uang yang sedianya buat gelar hajatan malah bisa untuk pegangan. In this economy, ini sangat bijak sekali.

Ada duit buat sewa vendor tapi takut nggak ada warga yang mau kondangan?

Ah, saya sih nggak yakin soal itu. Selama kalau kita dapat undangan kita sempatkan untuk datang, saya yakin pas kita hajatan pun orang akan datang ke acara kita, walaupun kita nggak pernah kelihatan nongkrong di pos ronda atau teras tetangga.

Jadi, lupakan jokes ra srawung rabimu suwung itu. Buat apa takut hajatan bakal suwung hanya karena jarang ikut kumpul-kumpul? Di era sekarang ini, sudah bener kita kerja saja. Kerja kerja kerja. Fokus ngumpulin duit sebanyak-banyaknya. Noh, ayam potong noh, sekilo sudah 42 ribu, Bray~

Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Omong Kosong Slogan “Srawung” di Desa: Cuma Jahat ke Warga Miskin, Kalau Kamu Tajir Tak Perlu Membaur buat Dihormati

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 16 Agustus 2026 oleh

Tags: kegiatan di desakegiatan kumpul-kumpulra srawung rabimu suwungsrawung
Dyan Arfiana Ayu Puspita

Dyan Arfiana Ayu Puspita

Alumnus Universitas Terbuka yang bekerja sebagai guru SMK di Tegal. Menulis, teater, dan public speaking adalah dunianya.

ArtikelTerkait

daftar tamu undangan pernikahan ra srawung rabimu suwung seserahan adik nikah duluan gagal nikah dekorator pernikahan playlist resepsi pernikahan mojok

Menolak Falsafah ‘Ra Srawung Rabimu Suwung’

6 Juli 2021
Upah Minimum Jogja Memang Naik, tapi Bukan Berarti Buruh Nggak Boleh Protes, Ini Bukan Perkara Upah Semata, Bolo! UMP Jogja, gaji Jogja, frugal living ump jogja yogyakarta, bandung

Seburuk Apa pun Citra Jogja, Tetap Saja, Perkara Keramahan, Jogja Adalah Juaranya

21 Januari 2024
Orang Kampung yang Sekolah Tinggi Malah Paling Jarang Srawung Mojok.co

Orang Kampung yang Sekolah Tinggi Jarang Srawung karena Lingkungannya Toxic dan Pemikirannya Jalan di Tempat!

30 Mei 2026
Hidup di Desa Tetap Aman meski Tidak Srawung, asalkan Anda Mau Jadi Donatur Acara Desa

Hidup di Desa Tetap Aman meski Tidak Srawung, asalkan Anda Mau Jadi Donatur Acara Desa

15 September 2024
Orang Kampung yang Sekolah Tinggi Malah Paling Jarang Srawung Mojok.co

Orang Kampung yang Sekolah Tinggi Malah Paling Jarang Srawung

22 Mei 2026
Hidup di Desa Terkadang Tak Lebih Baik ketimbang Hidup di Kota, Bahkan Bisa Jadi Lebih Buruk

4 Jenis Manusia yang Bikin Hidup di Desa Serasa Neraka

25 Januari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sisi red flag orang-orang tahlilan yang sulit saya terima, mulai dari rasan-rasan hingga menjadikan piring sebagai asbak Mojok.co

Sisi red flag orang-orang tahlilan yang sulit saya terima, mulai dari rasan-rasan hingga menjadikan piring sebagai asbak

13 Agustus 2026
Derita orang Bojonegoro yang selalu jadi bahan bullying ketika nongkrong gara-gara bahasa yang dianggap aneh boso jonegoroan

Derita orang Bojonegoro yang selalu jadi bahan bullying ketika nongkrong gara-gara bahasa yang dianggap aneh

11 Agustus 2026
5 Kuliner Madura selain Sate yang Layak Dikenal Lebih Banyak Orang Mojok.co

Jangan cuma mengingat stereotip negatifnya, nyatanya orang Madura itu jago banget masak

10 Agustus 2026
Saya masuk desil 10, saya dianggap elite oleh negara, padahal hidup saya benar-benar mengenaskan

Saya masuk desil 10, saya dianggap elite oleh negara, padahal hidup saya benar-benar mengenaskan

13 Agustus 2026
5 penderitaan jadi peneliti lapangan yang sering dikira pekerjaan enak karena jalan-jalan dan dibayar Mojok.co

5 penderitaan jadi peneliti lapangan yang sering dikira pekerjaan enak karena isinya jalan-jalan dan dibayar

11 Agustus 2026
Bulan Agustus kebanyakan agenda, pekerja jadi kewalahan bagi waktu antara kerja dan kegiatan agustusan Terminal

Bulan Agustus kebanyakan agenda, pekerja jadi kewalahan bagi waktu antara kerja dan kegiatan agustusan

15 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.