Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Ekonomi

Memangnya kenapa kalau orang kabupaten minta gaji tinggi? Nggak boleh gitu mereka sejahtera?

Muhamad Iqbal Haqiqi oleh Muhamad Iqbal Haqiqi
16 Agustus 2026
A A
Memangnya kenapa kalau orang kabupaten minta gaji tinggi? Nggak boleh gitu mereka sejahtera?

Memangnya kenapa kalau orang kabupaten minta gaji tinggi? Nggak boleh gitu mereka sejahtera? (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Memangnya kalau orang kabupaten minta gaji tinggi? Bukannya wajar kalau skill-nya memang di atas rata-rata? Mereka nggak boleh sejahtera gitu?

Ada sebuah pertanyaan sekaligus pernyataan di Threads dari seseorang yang kira-kira begini, “sekelas orang Banyuwangi, fresh graduate, minta gaji Rp6–7 juta?” Kalimatnya berhenti di situ. Saya nggak tahu detail konteks lengkap dari kalimat itu. Apakah dia seorang HRD atau orang yang asal asbun, tapi yang jelas kalimatnya terdengar menarik, terutama frasa, “sekelas orang Banyuwangi.”

ADVERTISEMENT

Bagi saya, frasa itu menarik karena ada sedikit sisi tendensius yang mengarah pada meremehkan. Sebab begini, kalau dari awal yang dipersoalkan itu tentang fresh graduate yang minta gaji Rp6-7 juta, maka kita bisa tarik konteksnya mulai dari pengalaman, kompetensi, jenis pekerjaan, skala perusahaan, hingga standarisasi gaji di industri tersebut. Semua itu jadi jelas untuk melihat pembanding soal gaji yang diminta.

Sementara ketika pembahasan mengarah pada nama daerah kabupaten kemudian disandingkan dengan frasa bernada meremehkan karena angka 6-7 juta dianggap terlalu tinggi, maka itu jadi satu hal yang berbeda. Akan muncul pertanyaan, “memangnya orang Kabupaten tidak boleh meminta gaji tinggi?”

Tidak sepenuhnya keliru

Dari kacamata ekonomi, mengaitkan soal nominal gaji dengan daerah tertentu nggak sepenuhnya keliru. Kita mengenal standardisasi UMR atau UMK yang berangkat dari konsep local labor market. Konsep yang menyebutkan bahwa pasar tenaga kerja terbentuk berdasarkan karakteristik ekonomi dari sebuah wilayah. Jadi, struktur upah di Jakarta tentu nggak sama dengan Banyuwangi.

Kenapa bisa berbeda? Sebab struktur tersebut dibentuk dari perbedaan biaya hidup, konsentrasi dan jenis industri, ketersediaan tenaga kerja, produktivitas, hingga kemampuan perusahaan membayar upah yang berbeda antar kawasan.

Kondisi itu yang membuat perusahaan di Kabupaten Banyuwangi menawarkan upah yang bisa jadi lebih rendah daripada perusahaan dengan posisi yang sama di Jakarta. Kalau seperti ini, semuanya masih bisa diterima secara ekonomi. 

Tapi akan jadi persoalan ketika konteksnya bergeser dari soal struktur gaji dan tenaga kerja di tingkat lokal menjadi penilaian terhadap nilai ekonomi dari seseorang. Dari yang disampaikan dalam pertanyaan di atas, persepsinya seolah karena orang kabupaten, maka ia dianggap tidak layak mempunyai ekspektasi upah yang tinggi.

Baca Juga:

Nasib Buruh Banyuwangi Tak Semanis Fafifuwasweswos Netizen, Ketidakadilan Nyata Terjadi di Bumi Blambangan

Rata-rata Gaji Orang Indonesia: Data yang Perlu Kamu Tahu Biar Nggak Minder Gaji Kamu Segitu

Misalnya saya yang asalnya dari Flores dengan UMR Rp2,6 juta sekian kemudian melamar posisi manajer perusahaan sekuritas di Jakarta, tentu yang saya ajukan gajinya ya di atas UMR Jakarta. Bahkan walaupun posisi yang saya lamar ada di Flores juga, saya pun mengajukan gaji di atas UMR Flores. Sebab saya tahu nilai ekonomi dari posisi manajer sekaligus kompetensi yang saya miliki.

Bias urban, yang bikin orang kabupaten kerap dianggap tidak pantas minta gaji di atas UMR

Sesat pikir seperti ini sebenarnya punya teori yang mendasarinya. Pertama adalah kecenderungan kita yang menempatkan daerah perkotaan merupakan pusat orang yang profesional dan berpendidikan dengan perusahaan yang skalanya nasional.

Di sisi lain, kabupaten dipandang sebaliknya dan sangat lekat dengan kehidupan yang apa adanya sehingga kesempatan ekonomi di dalamnya dianggap terbatas. Hierarki kedaerahan ini menjalar ke hierarki manusia, bahkan jadi justifikasi terhadap kualitas manusia yang ada di dalamnya. Inilah disebut dengan bias urban.

Padahal, mau dia hidup di mana pun, kalau seorang programmer secara pengalaman, kompetensi, dan pekerjaan yang dilamar punya nilai ekonomi misalnya 10 juta, ya nggak peduli mau di mana pun nilainya tetap sama.

ADVERTISEMENT

Kedua, sesat pikir yang disebut dengan cost-of-living fallacy, yaitu saat biaya hidup di daerah atau kabupaten tertentu dijadikan satu-satunya patokan untuk menentukan berapa gaji yang pantas. “Oh Banyuwangi makanan murah, biaya kos murah, jadi gaji 3 juta cukup lah.”

Pikiran ini kelihatannya bener tapi salah. Sebab ada perbedaan antara biaya hidup yang dibutuhkan seseorang untuk hidup dan berapa nilai ekonomi dan kompetensi yang dihasilkan. Biaya hidup seseorang di Kabupaten Banyuwangi mungkin cuma 3 juta. Tapi kalau dia programmer, ya sangat wajar dia minta gaji Rp10 juta.

Kudu adil

Ketiga adalah sesat pikir yang bersumber dari warisan struktur ekonomi center-periphery. Jadi selama ini kita diperlihatkan bahwa kantor pusat perusahaan, industri finansial, pendidikan terbaik, media, dan pekerjaan profesional, ada di kota metropolitan. Efeknya, kita jadi terbiasa mengasosiasikan profesi bernilai tinggi dengan wilayah perkotaan.

Ini yang menjadi akar lahirnya geographic salary anchoring, yaitu nominal upah secara otomatis melekat pada lokasinya. Contoh ketika disebutkan upah Rp7 juta, maka umumnya dianggap biasa ketika itu disandingkan dengan Jakarta. Lain halnya ketika angka tersebut disandingkan dengan Kabupaten Banyuwangi, yang UMR-nya lebih kecil. Rasanya lebih besar.

Padahal kalau mau adil, perubahan dan pola ekosistem tenaga kerja sekarang, membuat lokasi pekerja semakin tidak relevan dengan nilai ekonominya. Apalagi sekarang ada banyak pekerjaan digital atau remote working.

Tentu semua ini nggak berarti setiap pencari kerja bisa sesukanya menyebut nominal berapa pun dan perusahaan seolah wajib mengikutinya. Kembali lagi, permintaan upah harus tetap didasarkan pada kompetensi, pengalaman, tanggung jawab posisi, standar upah dari sebuah industri, kondisi pasar, dan kemampuan perusahaan.

Tapi ya, bukan berarti mentang-mentang di kabupaten, lalu wajib murah. Tidak, tidak seperti itu. Kalau cara pikir itu dipegang layaknya kebenaran utama, tak mengagetkan kalau brain drain akan selalu terjadi. Nggak usah kaget kalau akhirnya daerah akan selalu kekurangan talenta. Ya dihargai aja nggak, mau gimana?

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Banyuwangi Kota yang Tak Pernah Ramah bagi Pekerja, Gajinya Rata dengan Tanah!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 16 Agustus 2026 oleh

Tags: gaji di banyuwangigaji orang kabupatenrata-rata gaji orang indonesiaumr kabupaten di indonesia
Muhamad Iqbal Haqiqi

Muhamad Iqbal Haqiqi

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.

ArtikelTerkait

Banyuwangi dan Jember Terlalu Sering Disepelekan Jawa Timur (Pexels)

Nasib Buruh Banyuwangi Tak Semanis Fafifuwasweswos Netizen, Ketidakadilan Nyata Terjadi di Bumi Blambangan

10 Oktober 2025
Rata-rata Gaji Orang Indonesia: Data yang Perlu Kamu Tahu Biar Nggak Minder Gaji Kamu Segitu

Rata-rata Gaji Orang Indonesia: Data yang Perlu Kamu Tahu Biar Nggak Minder Gaji Kamu Segitu

19 November 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 penderitaan jadi peneliti lapangan yang sering dikira pekerjaan enak karena jalan-jalan dan dibayar Mojok.co

5 penderitaan jadi peneliti lapangan yang sering dikira pekerjaan enak karena isinya jalan-jalan dan dibayar

11 Agustus 2026
Manasik haji kegiatan paling sia-sia yang pernah diajarkan ke anak TK, buat apa coba? Mojok

Manasik haji kegiatan paling sia-sia yang diajarkan ke anak TK, buat apa coba? 

13 Agustus 2026
Jatinom, tempat rahasia yang bikin kamu jatuh cinta berkali-kali (Mojok.co/Audina Safira)

Jatinom, sebuah tempat rahasia yang akan membuatmu jatuh cinta berkali-kali sama Klaten

14 Agustus 2026
Pantai Alam Indah tempat wisata Tegal yang tidak spesial, cukup dikunjungi sekali saja Mojok.co

Pantai Alam Indah tempat wisata Tegal yang tidak spesial, cukup dikunjungi sekali saja

13 Agustus 2026
Saya masuk desil 10, saya dianggap elite oleh negara, padahal hidup saya benar-benar mengenaskan

Saya masuk desil 10, saya dianggap elite oleh negara, padahal hidup saya benar-benar mengenaskan

13 Agustus 2026
Takut ke Puskesmas karena malas hadepin antrean panjang (Unsplash)

Pergi ke Puskesmas itu tidak menakutkan, yang menakutkan menghadapi antrean panjang dan tidak tahu harus bertanya kepada siapa

10 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.