Saya ini tipe orang yang kalau isi dompet tinggal selembar uang lima ribu rupiah, rasanya sudah seperti sedang menghadapi krisis moneter pribadi. Kemarin sore, demi menyambung hidup, saya mampir ke sebuah minimarket di sudut Kota Tasikmalaya cuma buat beli air mineral seharga tiga ribu.
Pikir saya simpel: masih ada kembalian dua ribu buat beli gorengan satu, lumayan buat mengganjal perut yang dari siang cuma diisi harapan palsu.
Waktu datang dan memarkirkan motor butut saya, lahan parkir kosong melompong. Tidak ada tanda-tanda kehidupan, apalagi manusia berompi. Tapi, ajaibnya, begitu saya keluar pintu minimarket dan baru saja memasukkan kunci motor… PRIIIITTT!
Suara peluit itu membelah keheningan. Dari balik tiang listrik, muncul seorang akang-akang dengan gerakan secepat kilat, tiba-tiba sudah memegang bagian belakang motor saya yang sebenarnya tidak perlu ditarik sama sekali. Uang dua ribu kembalian air mineral saya pun melayang. Selamat tinggal, gorengan impian. Saya cuma bisa mengelus dada sambil membatin: juru parkir di Tasikmalaya ini ilmu halimunnya belajar dari mana yak?
Tukang parkir memenuhi tiap sudut Tasikmalaya
Kalau dipikir-pikir, fenomena juru parkir khususnya yang liar dan tanpa karcis resmi di Tasikmalaya ini memang sudah sampai tahap surealis. Rasanya, hampir setiap meter persegi aspal di kota ini ada penunggunya. Beli seblak, di parkiran ada jukir. Beli fotokopian dua lembar, ada jukir. Jangan-jangan nanti berhenti bentar di pinggir jalan buat ngikat tali sepatu pun bakal ditagih dua ribu.
Awalnya, sebagai rakyat jelata yang sama-sama sedang boncos, saya sering ngedumel. Kok bisa orang-orang ini kerjaannya cuma modal peluit sama rompi oren, tapi penghasilannya mungkin lebih stabil dari freelancer kayak saya?
Tapi, setelah amarah karena kehilangan uang gorengan itu mereda, saya sadar satu hal. Da gimana lagi atuh, lur. Mereka ini sebenarnya bukan sedang menjajah kita. Mereka cuma korban dari sebuah misteri besar di Kota Tasikmalaya: gaibnya lapangan pekerjaan.
Mari kita jujur-jujuran. Cari kerja formal di Tasikmalaya itu susahnya minta ampun. Pabrik besar bisa dihitung jari. Perusahaan rintisan bergaji UMR Tasik plus-plus? Boro-boro. Mau buka usaha sendiri juga butuh modal, sementara pinjol sudah mengintai di mana-mana. Lowongan kerja yang ada sering kali syaratnya tidak masuk akal untuk rakyat kecil: “Dibutuhkan admin toko, pendidikan minimal S1, berpenampilan menarik, berpengalaman 3 tahun, maksimal umur 22 tahun.” Yeuh, itu mau cari admin apa cari anggota girlband?
Ketika sistem ekonomi kota tidak mampu menyediakan lapangan kerja yang layak bagi warganya, apa lagi katup pengaman sosial yang tersisa? Ya jalanan.
Profesi paling inklusif (?)
Menjadi juru parkir adalah profesi paling demokratis dan inklusif di saat negara sedang absen memberi solusi. Tidak perlu ijazah, tidak perlu tes psikotes suruh gambar pohon, dan tidak perlu wawancara HRD yang nanya, “Apa kelemahan terbesar Anda dalam 5 tahun ke depan?” Modal mereka cuma keberanian, paru-paru yang sehat buat niup peluit, dan sedikit muka tebal.
Pada akhirnya, keberadaan juru parkir liar yang bertebaran di setiap sudut Tasikmalaya ini adalah cermin dari ekonomi kita sendiri. Mereka adalah pengingat visual bahwa kota ini masih punya banyak PR dalam menghidupi warganya.
Jadi, sekarang kalau saya dengar suara priiittt yang mengagetkan itu, saya coba untuk tidak terlalu sakit hati—meskipun dompet saya tetap menangis lirih. Saya dan akang jukir itu sebenarnya sama saja: dua orang kecil yang sedang sama-sama bertahan hidup di kota yang lapangan kerjanya masih misteri.
Penulis: Zain Ahdan
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Tasikmalaya, Kota dengan UMK Imut yang Penuh Coffee Shop Baru
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.











