Jatinangor itu Sumedang, bukan Bandung, full stop.
Semua ini bermula saat saya berkunjung ke kampus Universitas Padjadjaran (Unpad) di Jatinangor. Sebagai orang yang jarang main ke daerah sana, saya tentu mengumumkan ke rekan-rekan kerja saya. Menariknya, respons mereka semua sangat seragam, “Oh, ke Bandung ya?”.
Mendengar itu, saya hanya bisa menghela napas panjang menahan heran. Saat saya mencoba meluruskan, seorang rekan justru menyahut enteng, “Ya sama saja, Jatinangor kan Bandung”. Di sinilah ego kedaerahan saya langsung bergejolak hebat.
Mari kita perjelas satu hal penting sejak awal agar tidak ada lagi salah paham yang berlanjut. Jatinangor itu masuk wilayah Kabupaten Sumedang, bukan Kota maupun Kabupaten Bandung. Mau didebat pakai argumen apa pun, secara hukum, KTP warga sana berlogo tahu sumedang. Namun, entah kenapa, kesesatan ini terus dipelihara seperti sebuah kebenaran mutlak.
Ilusi Bandung coret dan angkutan umum yang menipu
Alasan utama kenapa banyak orang salah kaprah adalah masalah sarana transportasi dan kemiripan atmosfer. Kalau berangkat dari arah Jakarta atau luar kota lewat jalan tol, keluar di gerbang tol Cileunyi langsung dihadapkan pada papan petunjuk arah Jatinangor yang jaraknya ngemper sedikit.
Batas antara Kabupaten Bandung (Cileunyi) dan Sumedang (Jatinangor) memang tipis, hampir tidak terasa. Ditambah lagi, banyak angkutan umum atau bus antarkota yang menuliskan rute mereka berakhir di Bandung, padahal ngetem dan bongkar muat penumpangnya di Jatinangor.
Secara tidak sadar, bentukan visual dan kebiasaan transportasi ini menanamkan doktrin di kepala orang awam bahwa daerah ini adalah bagian dari tanah Pasundan metropolitan, alias Bandung.
Magnet kampus gede yang menyamarkan identitas
Harus diakui, Jatinangor adalah daerah yang sangat seksi karena menjadi rumah bagi berbagai kampus raksasa nasional. Mulai dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Institut Teknologi Bandung (ITB) Kampus Jatinangor, hingga Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) berkumpul di sini. Keberadaan kampus-kampus besar ini membuat Jatinangor memiliki atmosfer akademik yang sangat hidup dan modern, mirip sekali dengan kawasan pendidikan di kota besar.
Sayangnya, kemegahan deretan kampus besar ini justru sering kali disalahgunakan untuk mendongkrak gengsi. Banyak mahasiswa Unpad, ITB, maupun IPDN yang lebih memilih menyebut diri mereka kuliah di Bandung saat pulang kampung.
Alasan klasik mereka biasanya malas menjelaskan letak Sumedang ke kerabat jauh. Padahal, secara geografis nyata, mereka itu sedang menempuh pendidikan di atas tanah Sumedang, bukan di bawah asuhan Wali Kota Bandung.
Administrasi Jatinangor tetap Sumedang, biar sejarah yang bicara
Padahal, kalau mau menengok aspek administratif, Jatinangor sepenuhnya tunduk pada pemerintahan yang berpusat di pusat Kota Sumedang. Urusan pajak, perizinan bangunan, hingga plat nomor kendaraan memiliki jalurnya sendiri.
Secara kultural dan geografis, Jatinangor memang magnet pendidikan yang mandiri. Wilayah ini tidak perlu menempel pada nama besar Bandung untuk terlihat hidup dan berkembang, perputaran ekonomi di sana sudah sangat masif berkat geliat ribuan mahasiswa dari berbagai kampus nasional tersebut.
Menyamakan Jatinangor dengan Bandung sama saja dengan menafikan keberadaan pemerintah daerah Sumedang yang sudah lelah mengurus wilayah subur tersebut.
Jadi, stop menyebut Jatinangor sebagai Bandung. Menyamakan keduanya hanya karena jarak yang dekat dan kepraktisan lidah adalah bentuk kemalasan geografis yang nyata.
Jatinangor adalah Jatinangor, sebuah kecamatan maju yang bangga berdiri di bawah naungan Kabupaten Sumedang, lengkap dengan pesona dan identitasnya sendiri yang tidak perlu meminjam nama besar Kota Kembang.
Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA 6 Alasan Jatinangor Selalu Berhasil Bikin Kangen walau Punya Banyak Kekurangan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













