Ketahanan Cristiano Ronaldo adalah keajaiban dan kutukan dalam waktu bersamaan.
Tidak ada yang berani memungkiri, Ronaldo masih mengerikan di usia 41 tahun. Tapi orang-orang akan terbelah pendapatnya, apakah dia masih harus tetap jadi the main man untuk Portugal (atau mungkin klubnya) di usianya sekarang. Tak sedikit juga yang bilang, saat ini, harusnya Ronaldo sudah waktunya angkat kaki.
Cristiano Ronaldo, setinggi apa pun tempatnya kini, harus tahu diri.
Mungkin saja Ronaldo sebal setengah mati tiap dengar saran tersebut. Dia mungkin merasa bahwa tubuhnya masih mendengarkan apa yang dia perintahkan. Dia mungkin tidak merasakan linu-linu di pagi hari yang bikin Beckham memikirkan kelanjutan karier.
Mungkin saja, Ronaldo berpikir dia akan mendobrak stigma bahwa pesepakbola berumur masih bisa memenangkan sesuatu.
Saya tak bisa bilang saya memahami apa yang Cristiano Ronaldo. Tapi saya juga tahu betul, kenapa tahu diri itu penting, dan terkadang, mundur dan berhenti berjuang adalah keputusan yang amat dewasa.
Tahu diri itu bikin sakit hati, tapi penting
Saya memang hidup belum begitu lama. Usia 34 jelaslah angka yang masih muda, dan pengalaman tentu belum banyak. Tapi saya berani bilang saya punya banyak pengalaman hidup, terutama perkara tahu diri. Dan sebagaimana banyak orang alami, kebanyakan pelajaran saya dapat saat kuliah.
Semasa kuliah lah saya baru tahu betul bahwa gap ekonomi itu benar-benar nyata. Di masa kuliah lah saya menemui banyak momen bahwa berjuang pun ada batasnya, dan tahu diri harus mundur demi apa-apa yang dianggap baik.
Momen-momen itu tidak pernah menyenangkan. Tidak ada satu pun yang menyenangkan. Jika saya yang manusia biasa saja sulit untuk menjalankan “tahu diri”, apalagi Cristiano Ronaldo, manusia atletis yang mencurahkan diri untuk kesempurnaan?
Tapi semua momen itu membuat saya jadi manusia yang—sedikit—lebih baik. Saya bisa menerima kenyataan. Saya bisa mengalihkan energi saya untuk hal yang mungkin lebih pantas untuk diperjuangkan. Menyakitkan, tapi harus dijalani.
Sebab, kehidupan selalu meninggalkan yang seharusnya.
BACA JUGA: Bagaimanapun Juga, Cristiano Ronaldo Hanyalah Manusia Biasa
Cristiano Ronaldo dan kesempurnaan
Saya sendiri tidak ikut ke barisan manusia yang ingin Ronaldo minggat. Tidak. Saya bukan fansnya, tapi saya penasaran, sampai sejauh mana dia bertahan. Ayolah, meski kau benci dia, tapi penasaran juga kan sampai sejauh mana dia mau menyeret tubuhnya?
Ronaldo bagi saya adalah personifikasi manusia yang ideal. Sekali lagi, bagi saya. Tidak punya hari libur dalam mencari kesempurnaan, menjaga badannya dengan ekstrem, pandangan yang mantap, serta jadi yang terhebat di bidang yang dia tekuni.
Begitulah yang berkali-kali Bapak tanamkan dalam kepala saya. Jadilah pemain, bukan penonton. Jadilah yang terhebat, karena yang biasa-biasa saja akan diminta minggat. Serta, jadilah orang yang berpandangan mantap ke depan, sebab, itulah pria yang seharusnya.
Oh, saya lupa, arogansi Ronaldo itu menarik. Kalian akan merasa aneh, tapi Bapak saya bilang, kau boleh arogan jika kamu jadi yang terbaik. Itu wajar, karena kesombongan itu (baru) buruk jika kamu bukan orang yang (ter)hebat.
Tak mengagetkan kalau sekalipun saya bukan fansnya, tapi tertarik betul dengan Ronaldo. Dia adalah personifikasi nilai yang ditanamkan di kepala saya sedari kecil. Dia adalah sesuatu yang harus saya kejar, jika ingin sesuai dengan nilai yang selama ini diajarkan.
Tapi semua ada batasnya. Bahkan menjadi jahat dan brengsek, yang jelas mendobrak batas pun, ada batasnya. Cristiano Ronaldo pun tak luput dari batas ini.
Pertanyaannya adalah, apakah batas yang ada di kepala kita, sama dengan batas yang diterapkan oleh Ronaldo pada dirinya?
Kapan akan berhenti?
Cristiano Ronaldo katanya main buruk lagi melawan Colombia. Tak ada gol, tak ada hal menarik. Yang dijadikan highlight adalah keputusan buruknya yang bikin Portugal harus siap menerima hasil seri.
Maki-makian pada Ronaldo bertebaran lagi di media sosial, meski baru beberapa hari lalu manusia di bumi mengelu-elukan betapa ngerinya dia jika bermain hebat. Bahkan langkah kakinya saja dianggap yang terbaik di dunia.
Hal ini akan terus-terusan berulang jika Cristiano Ronaldo masih (dan menganggap dirinya) jadi main man di tim yang dia bela. Jika saya yang jadi Ronaldo, mungkin saya memilih untuk cabut di akhir nanti dan menikmati pundi uang yang mustahil habis itu.
Tapi saya manusia bermental cempe. Saya tidak terobsesi mengejar kesempurnaan. Saya juga bukan manusia yang dikejar brand serta kesuksesan. Jelas bukan Ronaldo. Jadi kalau saya—dan kalian—bertanya kapan berhenti, jawabannya sulit ditemukan.
Saya berani menebak, Ronaldo mungkin akan mengincar Piala Dunia 2030, atau Euro 2028. Dia merasa dirinya tidak habis, masih tidak linu setelah pertandingan, dan masih kuat melakukan ratusan push up tiap hari.
Tapi ya, lagi-lagi, mungkin ada baiknya dia mengambil satu momen sunyi di balkon rumah mewahnya itu, sambil menyesap minuman sehatnya, memikirkan bahwa mahkota tak pernah diciptakan untuk satu orang saja.
Sebab, kehidupan selalu meninggalkan yang seharusnya.
Penulis: Rizky Prasetya
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Ronaldo vs Messi: Fanatisme Paling Toxic dalam Dunia Olahraga
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













