Niat kata ingin membuka usaha rumahan, usaha kecil-kecilan, tapi malah mendapat drama dan terancam jadi korban penipuan. Bikin pusing saja.
Sebelumnya, saya pernah menulis tentang pengalaman kurang menyenangkan saat tinggal di sebuah apartemen Jaktim. Tulisan tersebut berjudul “Tinggal di Apartemen Nggak Seindah Imajinasi Saya, 4 Tahun Sewa Apartemen Jaktim Bikin Saya Stres dan Akhirnya Pindah!” Silakan baca di sini.
Nah, selain menyewa unit apartemen untuk tempat tinggal, di sana saya juga sempat menyewa kios di lantai dasar gedung apartemen untuk membuka usaha rumahan berupa warung makan.
Ketika Covid-19 berjalan hampir 2 tahun, sekitar 2021, saya mencoba peruntungan dengan menyewa kios untuk usaha rumahan berjualan makanan. Saya dan ibu, diajak 2 penghuni apartemen lain ikut berjualan di kios yang sama. Niat kamu supaya bisa membagi biaya sewa.
Saat itu, saya dan ibu saya, berjualan cuma selama 6 bulan. Saat itu, kami sekeluarga berencana pindah dari apartemen. Sambil menunggu masa sewa apartemen habis, serta sambil cari-cari hunian baru, kami memutuskan menyetujui ajakan tersebut. Selama menjalankan usaha rumahan ini, banyak pengalaman pahit terjadi.
Terjebak di antara pertengkaran 2 rekan bisnis
Selain biaya sewa dibagi rata, ada beberapa kesepakatan antara saya dan ibu dengan 2 rekan kami. Bodohnya, poin-poin kesepakatan hanya secara lisan. Kami nggak membuatnya menjadi perjanjian tertulis dengan tanda tangan. Bahkan, dokumen bermaterai saja nggak ada.
Saya dan ibu patuh, 2 rekan kami banyak melanggarnya. Mulai dari menjual produk di luar kesepakatan, yang mana seharusnya ranah saya atau rekan yang lainnya. Sampai puncaknya, 2 rekan usaha rumahan saya dan ibu bertengkar dan berkonflik.
Sampai sekarang, saya masih kurang mengerti akar masalah perseteruan mereka. Tiba-tiba saja, mereka perang dingin. Katanya karena saling tersinggung. Padahal, keduanya sama-sama sering melanggar kesepakatan. Harusnya, yang marah saya dan ibu saya, karena kami yang paling rugi dari usaha rumahan bersama ini.
Rendahnya daya beli masyarakat di apartemen bikin usaha rumahan kami kurang laku
Untuk sewa selama 6 bulan, saya membayar Rp6.000.000. Total sewa kios selama 6 bulan, saya dan 2 rekan saya membayar seharga Rp18.000.000. Untuk satu tahun, berarti Rp36.000.000. Lalu ada biaya deposit Rp2.000.000. Jumlah tersebut lebih mahal dibanding harga sewa sebuah unit apartemen dengan 2 kamar tidur dan 1 kamar mandi.
Sebenarnya, sewa kios tersebut nggak boleh cuma 6 bulan. Kami harus menyewa satu tahun penuh. Tapi, kepada 2 rekan saya, saya sudah bilang di awal kalau hanya bisa 6 bulan karena mau pindah. Mereka setuju. Untuk sewa seterusnya, akhirnya cuma salah satu dari rekan saya aja yang mengambil alih.
Mahalnya harga sewa, terlebih ketika itu kondisi perekonomian sedang kurang bagus karena COVID-19, ternyata nggak sebanding dengan daya beli masyarakat apartemen. Bukan cuma sekali, dagangan saya nggak ada yang membeli. Akhirnya, saya dan ibu memutuskan untuk berganti-ganti menu jualan supaya usaha rumahan kami lebih laku.
Mengganti dan menambah menu menjadi cara mempertahankan usaha rumahan ini
Awalnya, saya dan ibu berjualan batagor. Lalu, kami menambah menu pempek dos dan mie instan. Karena jarang ada peminatnya, batagor akhirnya kami tiadakan. Setelah itu, kami mencoba menjual soto dan pecel.
Sayangnya, pecel juga sepi peminat. Mubazir, karena sering membuang bahan baku. Agar tetap bisa mendatangkan pembeli, akhirnya kami menambahkan nasi goreng, mi goreng, dan mie godok ala abang-abang gerobakan sebagai menu jualan.
Setiap ada kios makanan yang menjual menu baru, banyak yang berbondong-bondong mencoba. Apalagi, kalau ada embel-embel harga promonya.
Tapi esoknya, ketika menu itu sudah bukan pertama kali dijual, bisa langsung sepi pembeli. Makanya, saya dan pemilik kios makanan lain sering berganti-ganti menu jualan demi bertahan. Demi bisa tetap mendatangkan pembeli ke usaha rumahan kami.
Menu baru selalu ditiru kios makanan lain
Ada satu hal yang agaknya menyesakkan bagi saya. Menu-menu jualan saya, selalu ditiru oleh kios lain. Bukan cuma satu, tapi hampir semua kios yang sederetan kios saya. Padahal sebelumnya, nggak ada yg menjual menu-menu itu sama sekali.
Nggak lama saya jualan suatu menu, kios lain juga ikut-ikutan karena dianggapnya bisa mendatangkan pembeli. Padahal, jika dikatakan menu baru saya laris manis, nggak juga. Bukannya nggak mau bersaing, tapi janggal.
Saat saya berjualan pempek, nggak lama beberapa kios lain juga berjualan pempek. Saya jualan pecel, lagi-lagi ada kios yang ikut menjualnya. Soto, nasi goreng, mie goreng, selalu ada saja kios yang ikut menjual menu tersebut nggak lama setelah saya mulai menjualnya.
Saya dan ibu pasrah. Toh, rezeki sudah ada yang mengatur. Tapi yang bikin sebal, awalnya menu jualan kami dihina. Katanya nasi goreng akan lebih laku dijual gerobakan dibandingkan di kios apartemen.
Ada lagi pemilik kios yang curhat kepada ibu saya. Bahwa dia kesal menu jualannya ditiru kios lain. Ironis karena dia juga meniru beberapa menu jualan di usaha rumahan kami.
Pembeli penipu
Beberapa pembeli sudah terkenal suka menipu. Modusnya memesan makanan, makan di tempat, lalu beralasan nanti akan dibayar oleh kenalannya yang merupakan penghuni apartemen. Atau, beralasan ambil uang dulu di unit apartemennya. Bahkan, ada yang mendekati untuk pinjam uang. Untungnya, saya selamat dari segala bentuk penipuan.
Selain merugi, pengalaman membuka usaha rumahan ini terasa penuh drama. Tapi, pasti ada hikmah di balik semuanya.
Di satu sisi, pengalaman itu bikin saya masih berat hati kembali menyewa kios untuk berjualan. Apalagi, kalau rekan bisnis. Di sisi lain, saya masih ingin membuka kios makanan lagi. Malah jadi pusing sendiri.
Penulis: Arsyindah Farhan
Editor: Yamadipati Seno
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













