Selain kota apel, kota bakso, dan kota pendidikan, Malang punya jargon yang identik dengan ciri khasnya yakni Kota Dingin. Sebagai orang Surabaya, dari dulu Malang di angan saya adalah kota yang punya gambaran dingin dan sejuk. Tapi semenjak saya merantau ke Malang setahun ini, ciri dinginnya kota ini perlahan menghilang karena cuaca panas yang belakangan tak masuk akal.
Walaupun intensitas panas dan gerahnya tidak separah Kota Surabaya, tapi tetap saja saya heran, karena tidak pernah terlintas dalam pikiran saya bahwa saya bisa gerah dan kepanasan di Malang.
Tapi sejak akhir Mei hingga Juni ini, mendadak cuaca Malang menjadi sangat dingin, terutama saat pagi hari. Fenomena bediding pun menjadi jawaban atas kondisi kota ini yang tiba-tiba dingin, padahal bulan Mei dan Juni adalah musim kemarau.
Menurut BPBD Kota Malang, salah satu yang membuat suhu menurun drastis adalah adanya angin muson timur dari Australia yang membawa massa udara yang lebih kering dan dingin ke wilayah Indonesia.
BACA JUGA: 5 Hal Menjengkelkan di Malang yang Nggak Kalian Temukan di Feed Instagram
Cuaca dingin di Malang itu wajar, tapi kini malah jadi anomali
Sebagai orang Surabaya yang merantau ke Malang, awalnya saya mengira cuaca dingin yang datang di tengah musim kemarau ini adalah sesuatu yang istimewa. Saya pun jadi sering mengucap “Malang dingin banget.” Sampai suatu hari ada seorang teman asli wong Ngalam meresponsnya:
“Malang, tuh seharusnya kayak gini tau, cuacanya. Dulu kalau pagi malah bisa keluar asap dari mulut, sekarang udah jarang.”
Mendadak saya sadar bahwa saya hanyalah perantau yang belum setahun tinggal di Malang, yang tidak menghabiskan masa kecil di sini. Saya menganggap cuaca dingin yang muncul belakangan ini sebagai sesuatu yang tidak biasa. Padahal bagi orang Malang nyel, justru inilah kondisi yang semestinya.
Secara geografi, Malang memang berada di dataran tinggi dengan ketinggian antara 440-467 di atas permukaan laut. Sehingga dingin dan sejuk seharusnya menjadi karakteristik alami dan natural dari kota asal penyanyi Sal Priadi ini.
Di Malang, cuaca dingin saat musim kemarau bukanlah fenomena baru. Setiap tahun, periode Mei hingga Agustus sering identik dengan udara pagi yang menusuk dan membuat banyak para pendatang kaget. Oleh sebab itu, ada istilah Musim Mahasiswa Baru saat cuaca dingin di musim kemarau ini datang.
Memang musim mahasiswa baru datang ke Ngalam
Secara kalender akademik, Mei-Agustus memang memasuki tahun ajaran baru. Banyak mahasiswa baru datang ke Malang dari berbagai daerah di kota yang punya daya tarik dari segi pendidikan ini. Mereka seolah disambut oleh udara dingin khas kota ini saat mereka baru saja menjadi mahasiswa baru.
Bagi perantau seperti saya dan mungkin bagi maba yang akan mengenyam pendidikan di Malang, cuaca dingin akhir-akhir ini mungkin terasa mengagetkan. Padahal bagi orang Ngalam dinginnya kota ini adalah hal biasa dan kini malah dirindukan.
Justru yang membuat orang Ngalam heran dan kaget adalah cuaca panas dan gerah yang beberapa waktu lalu dirasakan. Saya pun juga pernah kaget dengan cuaca panas yang saya rasakan beberapa waktu lalu. Sehingga rasanya istimewa sekaligus tidak biasa.
Sungguh perubahan iklim yang membingungkan. Membuat sesuatu yang normal terasa istimewa, sementara yang tidak biasa perlahan dianggap biasa. Tapi apa pun itu, selamat datang di Malang, kota yang akan memelukmu dengan dingin yang bikin kamu nyaman.
Penulis: Anisah Meidayanti
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Wahai para Maba, Jangan Terlena dengan Dinginnya Malang, Itu Semua Cuma Pencitraan!
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.












