Kalau ada satu nama tempat makan yang hampir pasti muncul ketika wisatawan bertanya soal kuliner di Jogja, jawabannya adalah Kopi Klotok. Saya bahkan punya beberapa teman dari luar kota yang merasa kunjungannya ke Jogja belum lengkap kalau belum sarapan atau makan siang di sana.
Maklum, di media sosial, Kopi Klotok juga hampir selalu masuk daftar rekomendasi kuliner. Pemandangan sawah, suasana pedesaan, menu rumahan, dan konsep tradisionalnya memang menjual.
Namun, beberapa waktu lalu saya berbincang dengan sepupu saya yang tinggal di Jogja. Ketika saya menyinggung soal Kopi Klotok, responsnya justru di luar dugaan.
“Malas ke sana sekarang,” katanya singkat.
Alasannya? Malas dengan antreannya yang panjang.
Kopi Klotok tak lagi menarik untuk warga lokal Jogja
Menurutnya, kondisi Kopi Klotok sekarang jauh berbeda. Dulu, dia masih bisa datang dengan santai, menikmati kopi, makan pisang goreng, lalu pulang tanpa harus memikirkan antrean panjang atau mencari tempat duduk yang kosong.
Sekarang? Kadang baru sampai area parkir saja sudah membuat orang malas.
Sepupu saya, kalau mau ke Kopi Klotok, memilih hari kerja dan datang pagi-pagi sekali. Bukan karena suasananya lebih romantis atau udaranya lebih segar, melainkan karena peluang mendapatkan tempat duduk jauh lebih besar.
Bagi wisatawan, antrean mungkin bagian dari pengalaman. Bagi warga lokal, antrean panjang adalah alasan untuk mencari tempat lain. Dan menurut saya, di sinilah letak perbedaan cara pandang antara wisatawan dan warga setempat.
Perbedaan soal “waktu” bagi wisatawan
Wisatawan datang ke Jogja beberapa hari dalam setahun. Mereka rela menghabiskan waktu untuk mengunjungi tempat-tempat yang sudah lama masuk daftar tujuan. Kalau harus antre satu jam demi Kopi Klotok, itu masih wajar.
Sementara warga lokal, ya mereka tidak memiliki urgensi yang sama. Kalau ingin makan sayur lodeh, telur dadar, atau pisang goreng, mereka tahu masih banyak tempat lain. Bahkan tanpa harus berebut meja dengan ratusan wisatawan.
Sepupu saya bahkan bercanda. Sebagian besar warga Jogja mungkin lebih hafal jalan alternatif menuju tempat makan lain daripada hafal menu terbaru di Kopi Klotok. Tentu saja itu berlebihan. Namun ada sedikit kebenaran di dalamnya.
Karena bagi warga lokal, faktor rasa bukan satu-satunya pertimbangan ketika memilih tempat makan. Ada faktor kenyamanan, waktu, akses, harga, dan suasana.
Harga di Kopi Klotok yang jadi pertimbangan
Soal rasa, sepupu saya mengaku tidak ada masalah. Dia sudah pernah mencoba menu-menu di Kopi Klotok jauh sebelum viral. Menurutnya enak. Tetapi tidak sampai bikin warga lokal Jogja rela menghabiskan waktu berjam-jam dalam antrean.
Ada satu komentar yang menurut saya cukup menarik. Dia bilang kalau harga di Kopi Klotok itu sekarang lumayan mahal jika membandingkannya dengan warung makan lokal lainnya.
Kadang sebuah tempat makan mengalami transformasi yang menarik ketika menjadi viral. Awalnya, misalnya, Kopi Klotok melayani warga sekitar dan pengunjung biasa. Namun setelah popularitasnya meledak, fungsi tempat tersebut perlahan berubah.
Bukan lagi sekadar tempat makan. Melainkan destinasi wisata. Dan destinasi wisata memiliki aturan yang berbeda dengan warung langganan warga lokal.
Datang, bukan hanya untuk mengisi perut
Orang datang ke Kopi Klotok bukan hanya untuk makan. Mereka datang untuk merasakan pengalaman melihat pemandangan sawah yang sering muncul di media sosial.
Mereka juga datang untuk menegaskan bahwa mereka pernah ke sana. Tujuannya, ya mendapatkan foto yang sama seperti yang mereka lihat di TikTok atau Instagram. Sebuah pengakuan.
Dalam kondisi seperti itu, rasa makanan di Kopi Klotok bukan lagi aktor utama. Suasana dan pengalaman justru menjadi bintang utamanya. Itulah sebabnya saya selalu menganggap Kopi Klotok sebagai tempat yang wajib dicoba wisatawan setidaknya sekali.
Bukan pilihan utama bagi warga lokal Jogja
Kalau sedang berlibur ke Jogja, saya juga tidak akan melarang orang datang ke sana. Justru saya paham kenapa Kopi Klotok begitu populer. Pemandangannya menarik, konsepnya kuat, dan menawarkan pengalaman yang berbeda dari restoran biasa.
Namun, saya juga paham warga Jogja sendiri jarang menjadikannya pilihan utama. Mereka tak punya kemewahan waktu untuk menjadikan antrean sebagai “kegiatan seru” seperti wisatawan.
Mereka cenderung cari tempat lain. Yang bisa makan dengan nyaman. Dan itulah tanda paling jelas bahwa sebuah tempat telah benar-benar menjadi ikon wisata.
Penulis: Intan Permata Putri
Editor: Yamadipati Seno
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













