Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Derita Orang Bekasi Seperti Saya Hidup di Solo, Dibilang Sok Jawa sampai Susah Nimbrung di Tongkrongan

Ridhwan Nabawi oleh Ridhwan Nabawi
10 Mei 2026
A A
Derita Orang dengan Logat Bekasi yang Hidup di Solo (Unsplash)

Derita Orang dengan Logat Bekasi yang Hidup di Solo (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Ada satu hal yang cepat saya sadari setelah merantau dari Bekasi ke Solo. Identitas seseorang kadang lebih dulu dinilai dari cara bicaranya.

Gimana tidak? Setiap kali bilang saya berasal dari Bekasi, respons orang-orang hampir selalu sama. Mereka tertawa, lalu muncul candaan soal “beda planet” yang entah kenapa tidak pernah pensiun dipakai.

ADVERTISEMENT

Tapi setelah itu, biasanya muncul permintaan yang lebih melelahkan. Saya disuruh ngomong pakai logat Bekasi. Lucunya, orang Solo sering lebih penasaran dengan logat saya daripada kehidupan saya sebagai anak rantau itu sendiri.

Dari situ saya mulai sadar kalau hidup sebagai anak rantau ternyata bukan cuma soal menyesuaikan tempat baru, tapi juga soal menghadapi bayangan orang lain terhadap identitas kita sendiri. Terutama lewat bahasa.

Orang-orang Solo lebih penasaran dengan logat Betawi daripada kehidupan anak rantau

Setelah urusan beda planet selesai, biasanya mereka mulai penasaran apakah cara bicara saya benar-benar se-“Bekasi” itu. Masalahnya, orang-orang punya bayangan tertentu tentang cara bicara anak Bekasi. Pokoknya harus nyablak, keras, dan terdengar siap debat kapan saja. Kalau bicaranya biasa saja, mereka malah kecewa.

Bahkan ada juga yang heran karena cara bicara saya dianggap kurang “Betawi”. “Kok nggak ada Betawi-betawinya sih?” begitu kata mereka. Seolah-olah semua orang Bekasi harus punya logat yang sama dan langsung terdengar seperti karakter di sinetron Si Doel.

Padahal saya juga ngobrol normal seperti orang pada umumnya. Nggak setiap kalimat harus terdengar seperti anak tongkrongan pinggir jalan. Nggak juga kayak lagi mantun di palang pintu acara lamaran.

Kadang saya merasa bukan sedang diajak ngobrol, tapi sedang diminta tampil. Seolah-olah logat Bekasi adalah hiburan yang harus dipraktikkan di depan umum.

Baca Juga:

Derita orang Bojonegoro yang selalu jadi bahan bullying ketika nongkrong gara-gara bahasa yang dianggap aneh

Sebagai orang Sunda, jujur saya iri banget sama orang Jawa

Pengen nimbrung tongkrongan, tapi bingung mereka ngomong apa

Salah satu momen paling awkward jadi anak Bekasi di Solo adalah ketika nongkrong bareng orang Jawa lalu mereka mulai ngobrol full bahasa Jawa. Awalnya obrolannya masih campur Indonesia. Saya masih bisa ikut nimbrung dan ketawa.

Tapi semakin lama tongkrongan berjalan, Bahasa Jawa-nya makin keluar natural. Saya yang tadinya ikut ngobrol perlahan berubah jadi pendengar. Kadang saya merasa mereka ngobrol seru banget, tapi saya cuma bisa senyum sambil pura-pura ngerti. 

ADVERTISEMENT

Mau minta diterjemahin juga nggak enak karena takut memotong suasana. Akhirnya saya cuma duduk sambil ketawa telat beberapa detik setelah yang lain ketawa duluan.

Di situ saya sadar kalau jadi perantau bukan cuma soal pindah kota. Ada rasa asing yang muncul ketika semua orang di sekitar bisa nyambung satu sama lain lewat bahasa, sementara kita masih sibuk menerka-nerka arti obrolannya.

Ketika mulai medok malah dibilang: Jangan sok Jawa!

Karena tinggal cukup lama di Solo, pelan-pelan saya mulai terbiasa dengan cara bicara orang sekitar. Ada beberapa kata Jawa yang akhirnya ikut masuk ke percakapan sehari-hari tanpa sadar.

Menurut saya itu adalah hal yang wajar. Orang yang hidup lama di lingkungan baru pasti akan ikut menyesuaikan diri.

Tapi anehnya, ketika saya mulai mengikuti bahasa sini, agak medok, justru banyak yang komentar. “Jangan sok Jawa gitulah,” kata mereka. “Aneh dengernya. Pakai Bahasa Indonesia aja udah, kita tetap paham kok.”

Di situ saya mulai bingung. Saya tinggal di Solo dan mencoba beradaptasi, tapi ketika proses itu mulai terlihat, malah dianggap aneh. Rasanya seperti saya tidak diberi ruang untuk berubah. Orang-orang lebih menikmati versi “Anak Bekasi” yang ada di kepala mereka.

Tidak terlalu Bekasi, tapi belum jadi orang Solo, apalagi Jawa

Tinggal lama di Solo bikin saya sadar kalau identitas ternyata bisa berubah pelan-pelan. Cara ngomong berubah, kebiasaan ikut berubah, bahkan cara bercanda juga mulai menyesuaikan lingkungan sekitar.

Tapi lucunya, perubahan itu tidak selalu membuat seseorang langsung diterima. Ketika masih nyablak, saya dianggap terlalu Bekasi. Tapi ketika mulai medok, saya malah dibilang sok Jawa.

ADVERTISEMENT

Pada akhirnya saya jadi berada di tengah-tengah: tidak terlalu Bekasi, tapi juga belum benar-benar jadi orang Solo, apalagi Jawa.

Dari situ saya mulai paham kalau sebagian orang sebenarnya tidak ingin melihat saya beradaptasi. Mereka hanya ingin saya tetap jadi “anak Bekasi” versi internet: nyablak, Betawi, dan siap dijadikan bahan candaan kapan saja.

Ya mau bagaimana lagi. Mungkin memang begitulah akibatnya kalau mengenal Bekasi cuma dari meme, Entong, dan Si Doel.

Penulis: Ridhwan Nabawi

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Bekasi: Planet Lain yang Indah, yang Akan Membuatmu Betah

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 10 Mei 2026 oleh

Tags: Bahasa JawabekasiJawalogat betawiplanet bekasisolo
Ridhwan Nabawi

Ridhwan Nabawi

Pemuda asal Bekasi yang sedang merantau ke Solo dan sampai hari ini belum menemukan nasi uduk khas Betawi yang layak disebut “rumah”.

ArtikelTerkait

Kesulitan Bocah Jawa Suroboyoan Belajar Bahasa Jawa di Sekolah

Kesulitan Bocah Jawa Suroboyoan Belajar Bahasa Jawa di Sekolah

10 Januari 2023
Surakarta, Kota yang Pandai Mematahkan Harapan Orang (Unsplash)

Buat Saya, Surakarta Nggak Seindah Kata Orang. Kotanya Panas, Pengendaranya Ngawur

7 September 2024
5 Alasan Cikarang Lebih Terkenal dari (Kabupaten) Bekasi Terminal Mojok UMK

Planet Bekasi, Kota Satelit Penyangga Jakarta, tapi Sistem Transportasi Umumnya Begitu Kacau

8 September 2023
Aturan Tidak Tertulis Ketika Naik Batik Solo Trans agar Selamat dari Semprotan Supir

Aturan Tidak Tertulis Ketika Naik Batik Solo Trans agar Selamat dari Semprotan Supir

8 September 2024
Orang Solo Pasti Paham, Kepleset di Rel Kereta Jalan Slamet Riyadi Adalah Hal yang Biasa jalan slamet riyadi solo

Orang Solo Pasti Paham, Kepleset di Rel Kereta Jalan Slamet Riyadi Adalah Hal yang Biasa

11 April 2024
Solo Tidak Kalah dari Jakarta, Tidak Kalah Memprihatinkan Mojok.co

Solo Memang Tidak Kalah dari Jakarta, Tidak Kalah Memprihatinkan

18 Desember 2023
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

4 stereotip tentang orang Bumijawa Tegal yang sering saya dengar dari orang luar Terminal

4 stereotip tentang orang Bumijawa Tegal yang sering saya dengar dari orang luar

14 Agustus 2026
Kawasan Surabaya Utara: Dijuluki Mexico-nya Surabaya dan Identik dengan Hal Negatif

Sisi lain kehidupan warga Surabaya Utara, orang yang klemar-klemer tidak cocok tinggal di daerah ini

13 Agustus 2026
Bulan Agustus kebanyakan agenda, pekerja jadi kewalahan bagi waktu antara kerja dan kegiatan agustusan Terminal

Bulan Agustus kebanyakan agenda, pekerja jadi kewalahan bagi waktu antara kerja dan kegiatan agustusan

15 Agustus 2026
Sisi red flag orang-orang tahlilan yang sulit saya terima, mulai dari rasan-rasan hingga menjadikan piring sebagai asbak Mojok.co

Sisi red flag orang-orang tahlilan yang sulit saya terima, mulai dari rasan-rasan hingga menjadikan piring sebagai asbak

13 Agustus 2026
Klaten sejatinya bukan kota, tapi obat stres untuk wargi Jogja

Klaten sejatinya bukan kota, tapi obat mujarab buat wargi Jogja yang stres karena padatnya jalanan

19 Agustus 2026
Menulis sastra itu menyenangkan, tetapi menjadikannya sumber penghidupan adalah cerita yang berbeda Mojok.co

Menulis sastra itu menyenangkan, tetapi menjadikannya sumber penghidupan adalah cerita yang berbeda

18 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.