Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Dibanding Surabaya dan Semarang, Jogja Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Kuliah

Nur Khabib Fitriansyah oleh Nur Khabib Fitriansyah
28 April 2026
A A
Dibanding Surabaya dan Semarang, Jogja Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Kuliah Mojok.co

Dibanding Surabaya dan Semarang, Jogja Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Kuliah (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Belakangan banyak kabar miring soal Jogja sebagai tempat kuliah. Salah satu penulis Terminal Mojok sampai membahasnya dalam Jangan Terbuai Romantisme Jogja, Kota Ini Punya Seribu Jebakan buat Mahasiswanya. Namun, sebagai perantau yang sudah merasakan asam garam hidup di Jogja, tempat ini masih lebih baik daripada daerah-daerah lain. 

Saya amati, bagi masyarakat yang hidup di Pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur, muncul 3 kota besar yang menjadi kandidat kuat yakni Surabaya, Semarang, dan Jogja

Maaf-maaf sebelumnya buat arek-arek Suroboyo dan warga Semarang. Berbicara tentang paket lengkap sebagai tempat kuliah, saya rasa Jogja masih unggul. Tulisan ini akan memberikan beberapa alasan kenapa Jogja adalah pilihan terbaik dibandingkan 2 kota lainnya tadi.

Baca juga Saya Tidak Pernah Merasa Bangga Kuliah di UIN Jogja, tapi Kampus Ini Sama Sekali Tidak Layak Dicela.

Banyak perguruan tinggi berkualitas berlokasi di Jogja

Mari bicara fakta di atas kertas. Surabaya punya UNAIR dan ITS yang gagah, Semarang punya UNDIP dan UNNES yang disegani. Tapi Jogja? Jogja punya “Avengers” di semua kategori. Jogja memiliki UGM sebagai standar emas PTN nasional. Butuh kampus Islam negeri terbaik? Ada UIN Sunan Kalijaga yang memegang takhta top PTKIN. 

Mau jalur swasta? Ada UII sebagai salah satu PTS tertua dan UMY yang memuncaki klasemen kampus Muhammadiyah se-Indonesia. Bahkan untuk jiwa seni, Jogja punya ISI (kategori yang jarang ditemukan di kota lain di Indonesia)

Mau negeri, swasta, umum, agama, sampai seni, semua pemegang sabuk juaranya kumpul di sini. Saking padatnya, ibarat kata hampir di setiap sudut kota ini kamu bisa nemu kampus. Kamu melipir sedikit ke utara ada kampus, geser ke selatan ketemu kampus lagi, bahkan di dalam gang pun kadang ada plang sekolah tinggi.

Memilih Jogja berarti kamu sedang memasukkan dirimu ke dalam ekosistem pendidikan yang paling lengkap. Di sini, kamu nggak cuma kuliah di satu kampus, tapi kamu bertetangga dengan keunggulan dari berbagai disiplin ilmu.

Baca Juga:

Jalanan Surabaya yang “Liar” Bikin Jiper Pengendara Tertib, Terlalu Banyak Pemotor yang Melanggar Lalu Lintas

Warlok Semarang Muak dengan Mal Baru, Lebih Butuh Ruang Terbuka Hijau yang Terjangkau 

Suasana yang mendukung untuk mengembangkan diri

Di Surabaya atau Semarang, kalau kamu ingin mencari diskusi berat pilihannya terbatas di kawasan sekitar kampus. Di sana, mahasiswa cenderung “terkurung” di menara gading masing-masing karena jarak antar kampus yang berjauhan. 

Akan tetapi, di Jogja? Berkat jarak kampus yang saling berdekatan, ide-ide itu berpindah lebih cepat daripada gosip artis. Pemandangan mahasiswa Fisipol UGM yang sedang serius membahas problem birokrasi negara, lalu tiba-tiba argumennya dipatahkan oleh mahasiswa Siyasah Syar’iyyah UIN Sunan Kalijaga lewat perspektif tata negara Islam adalah hal lumrah di sini.

Hanya di Jogja ada anomali di mana orang-orang berbondong-bondong ke masjid bukan cuma buat salat, tapi buat dengerin pembahasan Socrates sampai Nietzsche. Ya, kalian tidak salah dengar, Ngaji Filsafat Fahruddin Faiz adalah sebuah anomali intelektual yang hanya bisa dirasakan di Jogja. 

Selain itu, ada banyak event yang mendukung gairah belajar. Jogja itu sarang festival literasi dan pemikiran. Bazar buku di sini bukan sekadar agenda tahunan, tapi sudah seperti siklus menstruasi yang datang hampir setiap bulan. Mulai dari bazar buku skala nasional hingga acara seperti festival mojok selalu berhasil mengumpulkan massa untuk sekadar mendengarkan obrolan berisi. Bahkan, budaya “belajar” ini merambah sampai ke bisnis komersial. 

Baca juga Pengalaman Pahit Menjadi Mahasiswa Rantau di Jogja ketika Motor Scoopy Saya Disangka Motornya Pelaku Klitih.

Biaya hidup Jogja memang mulai merangkak naik, tapi masih mending 

Saya pernah makan di pinggir jalan daerah Kenjeran, Surabaya. Bukannya santai, saya justru merasa seperti “anomali” yang terpinggirkan oleh kemewahan gedung tinggi dan mal di sekitarnya. 

Berbeda dengan Jogja, di mana ekosistem murah merata di setiap jengkal kota. Mau di Malioboro atau pelosok gang, uang Rp10.000-Rp15.000 sudah cukup untuk nasi ayam geprek dan es teh. Jogja tidak membuatmu merasa “miskin” karena makan di pinggir jalan adalah standar hidup yang dirayakan.

Di Jogja, selain angkringan, kamu masih bisa menemukan tempat ngopi yang merakyat. Dengan kocek Rp15.000 kamu sudah bisa mendapatkan fasilitas minuman, meja kursi ergonomis lengkap dengan wi-fi. Bahkan, jika kamu mau menambah sampai Rp20.000 kamu sudah bisa minum kopi espresso based dengan kursi sofa dan ruangan ber-AC yang ready 24 jam. 

Opsi healing dari pucuk gunung hingga pesisir

Bagi Gen Z yang sering healing,Jogja adalah tempat yang tepat. Mari objektif, Surabaya dan Semarang memang punya tempat pelarian, tapi mari bandingkan kualitasnya. Di Surabaya, kamu punya mal-mal megah yang berjejer, taman kota yang rapi, hingga Jembatan Suramadu. Semarang punya Lawang Sewu, deretan museum bersejarah, hingga Pantai Marina. Namun, semua itu masih kalah dengan Jogja. 

Di Surabaya, kamu ke mal tapi sering kali malah stres melihat harga barang. Pantai Kenjeran pun sering gagal memenuhi ekspektasi estetika karena air yang keruh, aroma polusi industri, dan hawa pengap dari padatnya pemukiman. Begitu juga Pantai Marina di Semarang yang didominasi beton reklamasi kaku tanpa pasir putih yang bisa dipijak. Jika ingin udara dingin, mahasiswa Surabaya harus menempuh perjalanan besar ke Batu dan mahasiswa Semarang ke Bandungan yang memakan waktu dan bensin.

Semantara di Jogja, saat otak lelah karena tugas, kamu cukup memacu motor ke utara menuju Kaliurang dan lereng Merapi untuk mencari suasana dingin. Kalian bisa juga gas ke selatan untuk menikmati ombak. Sepanjang pantai selatan Bantul hingga pasir putih Gunungkidul kamu bisa menikmati pantai dengan ornamen tebing yang cantik sebagai tempat rehabilitasi mental. Mau jalan-jalan di mal pun ada. 

Pada akhirnya, memilih kota untuk berkuliah bukan hanya soal membandingkan akreditasi kampus atau fasilitas laboratorium. Lebih dari itu, ini adalah soal memilih ekosistem di mana kamu akan menghabiskan masa krusial. Surabaya dan Semarang mungkin menawarkan gemerlap metropolitan dan gaji yang menggiurkan. Namun, Jogja menawarkan banyak hal yang susah kamu peroleh di tempat lain.

Penulis: Nur Khabib Fitriansyah
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Kuliah di Jakarta: Sebuah Anomali di Tengah Pemujaan Berlebihan terhadap Jogja dan Malang.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 28 April 2026 oleh

Tags: JogjaKuliahmerantauPendidikanSemarangSurabaya
Nur Khabib Fitriansyah

Nur Khabib Fitriansyah

Mahasiswa Biologi Kampus Jogja yang memiliki ketertarikan dengan memati fenomena kelompok sosial menggunakan kacamata orang awal.

ArtikelTerkait

Wisata Kota Lama Surabaya Sebenarnya Indah asal Oknum Fotografer Nggatheli Diberantas

Wisata Kota Lama Surabaya Sebenarnya Indah asal Oknum Fotografer Nggatheli Diberantas

22 Juli 2024
Jadi Mahasiswa Unissula Kayaknya Berat Banget, Kena Banjir, Macet, Banyak Truk Besar, Ngeri!

Jadi Mahasiswa Unissula kayaknya Berat Banget, Kena Banjir, Macet, Banyak Truk Besar, Ngeri!

21 Agustus 2023
Kuliah di Jogja Adalah Perjalanan Hidup yang Paling Saya Syukuri surabaya

Jogja (Mungkin) Masih Kota Pelajar, Surabaya Nanti Dulu

8 Maret 2023
 Terminal Janti: Gerbang untuk Pulang, Rindu, dan Patah Hati di jogja flyover janti

Pengendara Ugal-ugalan, Ruas Jalan Habis oleh Parkir, Berkendara di Jogja Lama-lama Bikin Gila

18 Agustus 2023
5 Hal Lumrah di Daerah Lain, tapi Orang Jogja Nggak Bisa Melakukannya Mojok.co

3 Hal Indah tentang Jogja yang Ternyata Hanyalah Mitos

17 Agustus 2024
Saya Justru Lega Semarang Tidak Mungkin Jadi “The New Jogja” seperti Solo dan Purwokerto Mojok.co

Saya Justru Lega Semarang Tidak Mungkin Jadi “The New Jogja” seperti Solo dan Purwokerto

5 April 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Nissan Grand Livina 2009, Mobil Sepuh yang Menemani Saya Belajar Nyetir Mojok.co

Nissan Grand Livina 2009, Mobil Sepuh Terbaik untuk Belajar Nyetir

18 Juni 2026
Kandang Ayam Datang Belakangan, Rusak Kenyamanan (Unsplash)

Rumah Saya Perlahan Kehilangan Rasa Nyaman Akibat Kandang Ayam yang Datang Belakangan

21 Juni 2026
Cara Licik Mahasiswa Mengerjakan Skripsi Full Pakai ChatGPT, Dosen Pembimbing Wajib Tahu Ciri-cirinya biar Nggak Sampai Dibohongi!

Skripsi Memang Nggak Layak Jadi Satu-satunya Syarat Lulus untuk S1

22 Juni 2026
Perjalanan Pulang Kerja Naik Bus Bekasi-Cikupa, Pahit yang Harus Dijalani Tiap Hari

Perjalanan Pulang Kerja Naik Bus Bekasi-Cikupa, Pahit yang Harus Dijalani Tiap Hari

23 Juni 2026
Saya Lulusan Ilmu Perpustakaan, tapi Saya Nggak Mau Jadi Pustakawan Sekolah, Isinya Cuma Makan Hati! perpusnas

Anggaran Perpustakaan Itu Mahal, tapi Kita Tak Pernah Peduli karena Maunya Terima Jadi

22 Juni 2026
Saat ini, Rumah dan Tanah yang Dianggap sebagai Aset Bernilai Investasi itu hanya Benda Mahal yang Susah Dijual

Saat ini, Rumah dan Tanah yang Dianggap sebagai Aset Bernilai Investasi Itu Hanya Benda Mahal yang Susah Dijual

24 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.