Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Mohon Maaf, Didikan VOC di Rumah Bukan Membentuk Mental Baja, tapi Menambah Antrean di Psikiater

Najla Salsabila Muthi oleh Najla Salsabila Muthi
14 Maret 2026
A A
Mohon Maaf, Didikan VOC di Rumah Bukan Membentuk Mental Baja, tapi Mempercepat Antrean di Psikiater

Mohon Maaf, "Didikan VOC" di Rumah Bukan Membentuk Mental Baja, tapi Mempercepat Antrean di Psikiater (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Gini, sebelum kalian (terutama para orang tua) mulai narik napas buat ceramah, saya mau pasang disclaimer besar-besaran: saya belum jadi orang tua. Saya belum ngerasain gimana mumetnya ngurus cicilan sambil dengerin anak tantrum. Jadi, saya paham kalau argumen saya bakal dianggap “teori doang” atau “anak kemarin sore tau apa?”. Tapi, sebagai mahasiswa yang tiap hari dicekokin jurnal psikologi, saya ngeliat ada yang nggak beres sama kebanggaan kita soal “Didikan VOC”.

Itu lho, gaya asuh yang dikit-dikit ngebentak, main fisik, atau minimal kalau ngomong volumenya kayak lagi perang, yang tujuannya katanya demi bikin anak punya mental baja. Masalahnya, secara sains, yang terbentuk itu bukan mental baja, tapi mental yang lagi mode bertahan.

Kita harus jujur, zaman sudah ganti spek. Mendidik anak zaman sekarang pakai cara tahun 80-an itu ibarat maksa Windows 11 jalan di komputer tabung yang RAM-nya cuma seuprit. Pasti blue screen.

Secara neurologis, anak yang sering dikerasin itu amigdalanya (bagian otak yang ngurusin rasa takut) bakal jadi super reaktif. Bukannya jadi pinter, otak si anak malah capek karena harus terus-menerus nyalain radar bahaya. Mereka nggak belajar cara ambil keputusan, mereka cuma belajar cara “gimana biar nggak kena amuk hari ini”. Jadi didikan VOC tidak membentuk orang jadi pinter beneran, tapi cuma pinter menghindar dari sandal keras orang tuanya.

Hasil didikan VOC: penurut karena takut, bukan karena patut

Banyak orang tua bangga banget kalau anaknya diem dan penurut. Padahal, itu bukan tanda soleh atau solehah, tapi Emotional Shutdown. Anak milih diem karena mereka tahu, ngomong itu nggak aman. Ya itu semua karena didikan VOC yang kalian banggakan itu.

Komunikasi itu otot, harus dilatih lewat dialog. Kalau dari kecil ototnya nggak pernah dipake karena setiap mau ngomong langsung “dipangkas”, ya jangan kaget kalau pas gede mereka jadi gagap emosi. Mereka jago akting baik-baik saja di depan meja makan, tapi hancur sendirian di dalam kamar.

BACA JUGA: Ilmu Parenting Bukan Ajang untuk Menyalahkan Orang Tua, tetapi untuk Bekal Menjadi Orang Tua yang Baik!

Cicilan psikiater: investasi yang nggak terencana

Inilah ironi paling horor. Banyak orang tua ngerasa sukses karena anaknya jadi “orang”—punya jabatan keren atau gaji gede. Tapi mereka nggak tahu, kalau sebagian gaji itu habis buat bayar sesi psikiater tiap bulan.

Baca Juga:

Mindfulness Parenting Mengajari Saya untuk Tidak Menurunkan Trauma kepada Anak Masa Depan Saya

30 Kosakata Parenting yang Njelimet, tapi Sebaiknya Dipahami Orang Tua Zaman Sekarang

Kita-kita ini, produk didikan VOC, akhirnya harus keluar duit banyak buat re-parenting, alias mendidik ulang diri sendiri buat nyembuhin luka batin yang dulunya dianggap sebagai “didikan sukses”. Investasi orang tuanya di kedisiplinan keras, tapi biaya “perbaikan”-nya ditanggung sendiri sama si anak pas udah gede.

Sering kali, hubungan orang tua dan anak terjebak dalam kompetisi ‘siapa yang paling benar’. Orang tua menuntut anak harus mengerti sulitnya cari uang, sementara anak menuntut orang tua harus mengerti kesehatan mental. Padahal, hubungan ini bukan soal menang-menangan. Kita nggak bisa terus-menerus saling menuntut tanpa mau saling mengevaluasi diri.

Sebagai anak, saya belajar bahwa orang tua adalah manusia yang juga punya luka masa lalu. Tapi sebagai orang tua, mereka juga perlu sadar bahwa didikan VOC bukan satu-satunya jalan ninja. Evaluasi itu harus dua arah. Kalau cuma satu pihak yang berjuang memperbaiki diri sementara yang lain tetap merasa paling benar, ya jembatan komunikasinya nggak bakal pernah nyambung.

Hubungan yang sehat itu dibangun lewat diskusi, bukan lewat instruksi yang nggak boleh dibantah.

Anak tangguh nggak harus jadi kompeni

Nge-evaluasi cara didik itu bukan berarti durhaka atau ngatain orang tua gagal. Justru, keberanian buat bilang “Cara lama ini ternyata ngerusak” adalah bentuk kasih sayang paling tinggi. Karena pada akhirnya, kita semua pasti pengin punya anak yang kalau ada masalah, larinya pulang ke rumah, bukan malah lari sejauh mungkin buat nyari “rumah” di tempat lain.

Mencetak anak tangguh itu nggak harus jadi kompeni, kan?

Penulis: Najla Salsabila Muthi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Mindfulness Parenting Mengajari Saya untuk Tidak Menurunkan Trauma kepada Anak Masa Depan Saya

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 14 Maret 2026 oleh

Tags: cara membentuk mental anakcara mendidik anakdidikan vocParentingparenting anak
Najla Salsabila Muthi

Najla Salsabila Muthi

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

ArtikelTerkait

30 Kosakata Parenting yang Njelimet, tapi Sebaiknya Dipahami Orang Tua Zaman Sekarang Mojok.co

30 Kosakata Parenting yang Njelimet, tapi Sebaiknya Dipahami Orang Tua Zaman Sekarang

14 Juni 2024
ketakutan pada anak

Jangan Mendidik Anak dengan Ketakutan-Ketakutan

17 Juni 2019
gocar

Anak Ketinggalan di GoCar: Kok Bisa Sih?

21 Oktober 2019
Daftar Kesalahan yang Lazim Dilakukan Saat Menyuapi Anak Terminal Mojok

Daftar Kesalahan yang Lazim Dilakukan Saat Menyuapi Anak

3 Maret 2021
Mempertanyakan Mengapa Santri Dilarang Punya Rambut Gondrong terminal mojok.co

Pembelaan Atas Stigma Orang Tua yang Menyekolahkan Anaknya di Pondok Pesantren

2 Oktober 2020
Ilmu Parenting Hanya untuk Orang Kaya? Ngawur! anwar zahid

Parenting menurut K.H. Anwar Zahid: Menuntun, Bukan Menuntut

15 April 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Purwokerto Dipertimbangkan Orang Kota untuk Slow Living, Warlok: Bisa Jadi Masalah Baru Mojok.co

Purwokerto Jadi Tempat Slow Living Orang Kota, Warlok: Bisa Jadi Masalah Baru

22 April 2026
Kuliah S2 Itu Wajib Caper kalau Tidak, Kalian Cuma Buang-buang Uang dan Melewatkan Banyak Kesempatan Mojok.co

Kuliah S2 Itu Ternyata Mahal: SPP-nya Bisa Jadi Murah, tapi Akan Ada Biaya Tambahan yang Menghantam!

23 April 2026
Yamaha Aerox 155 Connected Nggak Cocok Dijadikan Motor Ojol, Bikin Resah Penumpang Mojok.co honda air blade

Honda Air Blade, Produk yang Bakal Gagal Total Menantang Dominasi Yamaha Aerox

22 April 2026
Menyalahkan Ortu yang Menitipkan Anaknya di Daycare Adalah Komentar Paling Jahat dan Tidak Perlu Mojok.co

Menyalahkan Ortu yang Menitipkan Anaknya di Daycare Itu Jahat dan Nirempati

26 April 2026
Kebumen Itu Cantiknya Keterlaluan, tapi Nggak Bisa Jual Diri (Unsplash)

Kebumen, Kabupaten yang Cantiknya Keterlaluan tapi Nggak Bisa Menjual Dirinya Sendiri

27 April 2026
Kalau Mau Ketemu Orang Baik, Coba Naik Trans Jogja (Unsplash)

Kalau Mau Ketemu Orang Baik, Coba Naik Trans Jogja

27 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Merenungi Tragedi KRL Cikarang usai Peristiwa Daycare Jogja, Potret Nyata Perempuan yang Tetap Berjuang di Tengah Stigma
  • YUHU. Rilis Single Baru “Bertemu Di Sini”: Definisi Rindu Itu Bersifat Universal
  • Magang di Jakarta Terkesima Terima Gaji 2 Kali UMR saat Kerja di Jogja, Hidup Bisa Foya-foya dan Tak Menderita
  • Klaten International Cycling Festival 2026: Gowes Asyik Sepeda Klasik di Klaten bareng Pencinta Sepeda Mancanegara
  • Tidak Diakui, Harga yang Harus Saya Bayar karena Menolak Keinginan Orang Tua untuk Jadi PNS
  • Membiasakan Ngasih Tip Kurir ShopeeFood meski Kita Bukan Orang Mapan: Uang 5 Ribu Nggak Bikin Jatuh Miskin, Tapi Sangat Berarti buat Mereka

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.