Bagi banyak orang, bulan puasa (termasuk Lebaran) menjadi momen yang mungkin paling ditunggu-tunggu. Bulan puasa jadi momen untuk berkumpul dengan keluarga, menghidupkan tradisi-tradisi khas bulan puasa yang hanya muncul setahun sekali. Bulan puasa jadi momen yang penuh kehangatan, sukacita, dan kebersamaan. Seakan-akan menjalani bulan puasa harus dengan rasa bahagia, nggak boleh sebaliknya.
Akan tetapi, bagi saya, momen bulan puasa (termasuk Lebaran) kini memiliki makna yang berbeda dalam hidup. Bulan puasa yang seharusnya jadi momen penuh kehangatan, penuh kebahagiaan, dan momen yang istimewa, berubah jadi bulan yang biasa saja. Saya sudah nggak merasakan kehangatannya, kebahagiaannya, dan keistimewaannya. Semuanya karena sudah nggak ada lagi beberapa orang tersayang dalam hidup saya.
Sudah 13 tahun lamanya saya ditinggal oleh ayah dan nenek (ibunya ayah). Keduanya meninggal pada 2013 dan hanya berselang beberapa bulan saja. Dan, sejak tahun itu hingga sekarang ini, saya merasa bulan puasa termasuk Lebaran jadi kehilangan makna, kehilangan daya magisnya.
Selama 13 tahun ini, setiap menjelang bulan puasa, rasa gundah selalu menghampiri. Bukan karena saya benci bulan puasa, melainkan karena saya harus menjalani bulan puasa dengan perasaan yang aneh, perasaan yang campur aduk lagi. Saya senang karena bisa berjumpa dengan bulan suci, tapi juga sedih karena saya harus menjalani bulan suci ini tanpa adanya orang-orang tersayang, nggak bisa lagi menghidupkan “tradisi-tradisi” yang pernah kami lakukan sebelumnya.
Bukber keluarga jadi momen yang aneh, momen yang sarat akan kemuraman
Salah satu momen yang paling nggak enak ketika menjalani puasa tanpa orang-orang tersayang adalah ada buka bersama (bukber) dengan keluarga. Bukber seharusnya menjadi momen yang penuh kehangatan, kebahagiaan, momen di mana seluruh keluarga besar saling berkumpul, malah jadi momen yang aneh. Bukber menjadi momen yang penuh rasa awkward, momen yang penuh kemuraman, terutama di tahun-tahun pertama setelah kehilangan.
Di keluarga saya, tepatnya di keluarga besar ayah, bukber sudah jadi agenda rutin selama bertahun-tahun. Tempatnya selalu di rumah nenek (rumah induk keluarga), dan nenek akan masak banyak makanan. Mulai dari rawon (rawon buatan nenek saya adalah rawon terbaik sedunia), segala macam sayur, hingga berbagai macam lauk. Bagi saya, momen bukber ini adalah momen yang paling saya tunggu-tunggu.
Akan tetapi, setelah ayah dan nenek meninggal, momen bukber jadi terasa aneh. Kebahagiaan dan kehangatan yang dulu pernah ada kini sudah sirna. Nggak ada lagi masakan nenek, nggak ada lagi guyonan receh ayah. Rasa makanannya jadi terasa biasa saja, dan rasa kebersamaannya juga nggak sehangat dulu. Inilah yang bikin bulan puasa saya jadi terasa nggak lagi spesial.
Nggak ada lagi agenda mbakso sekeluarga setelah tarawih
Di lingkup yang lebih kecil, tepatnya di keluarga inti, ada “tradisi-tradisi” yang juga sudah nggak hidup semenjak ayah meninggal. Salah satu “tradisi” di keluarga saya adalah mbakso atau pergi makan bakso sekeluarga setelah tarawih.
Sejak saya kecil sampai bulan puasa terakhir sebelum ayah meninggal, kebiasaan mbakso ini sudah berjalan terus, dan selalu kami lakukan minimal seminggu sekali ketika bulan puasa. Jadi, setelah tarawih, kami berempat (saya, ayah, ibu, dan adik) langsung pergi ke warung bakso langganan kami, namanya Bakso Arief, yang letaknya nggak terlalu jauh dari rumah. Pesanan saya selalu sama: semangkuk bakso dengan isi pentol besar, dan sebotol fruit tea.
Akan tetapi, setelah ayah meninggal, tradisi itu sudah nggak bisa saya lakukan lagi. Seakan tradisi itu mati bersamaan dengan meninggalnya ayah. Sebenarnya saya bisa saja melanjutkan tradisi itu, dengan mengajak ibu dan adik, tapi entah mengapa ada perasaan janggal ketika saya pengin menghidupkannya lagi. Kayak aneh aja gitu. Dan, kalaupun terjadi, bakal jadi momen yang berat, sedih, dan penuh haru. Makanya, saya biarkan saja tradisi itu mati.
Tanpa ayah dan nenek, Lebaran juga jadi momen yang biasa saja, momen yang kurang spesial
Setelah ayah dan nenek meninggal, nggak hanya bulan puasa yang jadi biasa saja. Lebaran juga jadi momen yang juga biasa saja, momen yang kehilangan magis dan spesialnya dalam hidup saya. “Berkumpul merayakan lebaran tapi dengan keluarga yang sudah nggak lengkap ya buat apa?” Begitu batin saya.
Maksudnya begini. Ketika momen Lebaran, selain kumpul dengan keluarga, saya selalu menunggu seenggaknya dua hal: masakan nenek, dan sungkeman dengan ayah dan nenek. Setelah mereka berdua meninggal, saya jadi kehilangan keduanya. Saya jadi nggak bisa merasakan masakan nenek, dan nggak bisa sungkeman ke nenek serta ayah. Saya hanya sungkeman ke ibu, dan itu pun rasanya kayak kurang lengkap. Rasanya kayak aneh aja gitu, meskipun kalau lebaran, kami ngumpulnya ya di rumah nenek yang sekarang jadi rumah induk keluarga besar.
Menjalani puasa dan lebaran tanpa orang-orang tersayang memang nggak bisa dibilang mudah. Di balik kemeriahan dan kehangatan bulan puasa dan lebaran, ada terselip perasaan ganjil, perasaan aneh, perasaan yang sedih. Tapi saya juga nggak bisa ngapa-ngapain. Saya nggak bisa protes juga, cuma bisa menerima dan menjalani semuanya dengan perasaan yang legowo. Saya cuma bisa mencoba untuk tetap kuat.
Tentunya saya bukan satu-satunya yang merasakan hal ini. Di luar sana, ada banyak yang merasakan hal serupa, bahkan lebih parah, lebih dalam dari yang saya alami. Dan di bulan puasa tahun ini, saya, dan orang-orang lain yang senasib, mau nggak mau harus menjalani momen ini lagi, mengulangi perasaan semacam ini lagi. Aneh? Tentu. Berat? Jelas. Tapi ya nggak ada pilihan lain selain tetap menjalaninya.
Penulis: Iqbal AR
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













