Ramadan selalu punya satu agenda sosial yang hampir tak terhindarkan, yaitu bukber. Dari grup keluarga, teman kuliah, rekan kerja, sampai alumni sekolah, semuanya berlomba-lomba membuat jadwal. Awalnya terdengar hangat. Tapi semakin dewasa, semakin terasa ada yang berbeda. Khusunya yang pakai tajuk “reuni” karena hanya menjadi ajang “membunuh teman”.
Bukber yang dulu sederhana cukup pesan es teh manis dan gorengan sekarang berubah menjadi ajang yang rasanya lebih mirip kompetisi tak resmi. Kadang saya merasa, bukber berkedok reuni itu seperti “scam” sosial yang dibungkus dengan kata silaturahmi.
Bukan karena acaranya buruk. Bukan juga karena orang-orangnya jahat. Tapi karena ada atmosfer tak kasatmata bernama adu outfit, gaji, pekerjaan, status, dan pada akhirnya… nasib.
Bukber berkedok reuni cuma menjadi ajang adu outfit
Sebelum hari-H bukber sekaligus reuni, obrolan di grup sudah ramai.
“Tempatnya estetik ya.”
“Outfit-nya semi formal aja.”
“Biar sekalian foto-foto.”
Lalu, datanglah hari itu. Semua tampil versi terbaiknya. Makeup flawless, tas branded (atau setidaknya terlihat branded), sepatu baru, parfum mahal. Tak ada yang salah dengan tampil rapi dan percaya diri. Tapi kadang yang terasa bukan lagi sekadar berdandan, melainkan unjuk pencapaian.
Yang dulu sederhana, kini datang dengan gaya metropolitan. Ada yang dulu cuek, sekarang tampil seperti selebgram. Saling memuji ketika bukber, tapi di balik senyum ada tatapan yang seperti sedang mengukur.
“Oh, sekarang kamu makin stylish ya.”
“Kurus banget sekarang, diet ya?”
Kalimatnya terdengar manis, tapi terasa seperti penilaian terselubung. Bukber berkedok reuni berubah menjadi panggung kecil untuk menunjukkan siapa yang paling “berhasil” glow up sejak terakhir kali bertemu.
Adu gaji
Setelah makanan datang dan suasana mulai hangat, topik yang tak pernah gagal muncul adalah pekerjaan.
“Sekarang kerja di mana?”
“Udah berapa lama di situ?”
Pertanyaan itu mungkin terdengar biasa. Tapi ketika mendengarnya dengan nada tertentu, saya malah merasa lagi wawancara kerja, bukan bukber. Apalagi kalau ada yang dengan bangga menyebut angka, fasilitas kantor, atau bonus tahunan.
Yang bekerja di perusahaan besar otomatis menjadi pusat perhatian. Tapi bagaimana dengan yang masih kontrak, belum punya kerja, dan yang sedang bertahan di pekerjaan yang tak sesuai passion?
Kami hanya bisa tersenyum, mengalihkan pembicaraan, atau menjawab sekenanya. Di tengah riuh tawa bukber, ada perasaan kecil yang pelan-pelan menggerogoti: apakah nilai diri sekarang ditentukan oleh nominal slip gaji?
Bukber yang katanya untuk mempererat hubungan, malah membuat sebagian orang pulang dengan perasaan tak cukup.
Adu kerjaan: Siapa paling bergengsi jadi pusat perhatian di kala bukber berkedok reuni
Tak berhenti di soal gaji, obrolan biasanya naik level ke jabatan dan pencapaian.
“Alhamdulillah, baru naik posisi.”
Lagi-lagi, tak ada yang salah dengan berbagi kabar baik ketika reuni. Justru kita seharusnya ikut senang. Tapi suasana bukber malah berubah jadi kompetitif. Tanpa sadar, orang-orang mulai membandingkan jalur hidup.
Teman yang berani menikah duluan merasa lebih “mapan”. Mereka yang sudah punya rumah, merasa lebih “stabil”. Lalu, yang sudah bawa anak ketika bukber, merasa lebih “dewasa”.
Sementara yang belum menikah? Ditanya kapan punya momongan. Belum punya rumah? Bisa nabung nggak sih. Karier mentok segitu doang? Hidupmu tuh ngapain aja? Seolah-olah hidup punya timeline seragam yang wajib dipatuhi. Bukber menjadi ruang evaluasi tak resmi: siapa yang sudah sampai mana.
Ujung-ujungnya, bukber berkedok reuni jadi ajang adu nasib
Semua kembali pada satu hal: nasib. Padahal kita tak pernah benar-benar tahu isi perjuangan masing-masing.
Ada yang kelihatan glamor, ternyata menderita karena banyak cicilan. Teman datang bukber kelihatan bahagia, ternyata pernikahannya di ujung tanduk. Jangan lupa, yang kelihatan santai, nyatanya menyimpan kecemasan tentang masa depan.
Tapi, di meja bukber, yang terlihat hanya permukaan. Dan permukaan itulah yang dibandingkan.
Ironisnya, setelah acara selesai dan foto-foto diunggah ke media sosial, semua tampak harmonis. Caption-nya penuh kata “silaturahmi”, “kebersamaan”, dan “masyaAllah reuninya seru banget”.
Bukber tetap bisa menjadi momen yang tulus, jika niatnya memang untuk menyambung hubungan, bukan membandingkan pencapaian. Masalahnya bukan pada acaranya, tapi pada mindset yang kita bawa.
Kalau datang hanya untuk validasi, maka yang kita cari adalah pengakuan. Bukber hanya untuk, kamu hanya akan menemukan kecemasan. Tapi, kalau datang untuk benar-benar mendengar kabar dan berbagi cerita, suasananya akan berbeda.
Mungkin, yang perlu kita ubah bukan tradisinya, melainkan cara kita memaknainya. Bukber kini hanya sebatas scam karena kita menjadikannya ajang kompetisi.
Penulis: Intan Permata Putri
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA 4 Alasan yang Bikin Saya Malas Datang Bukber, Bukan Cuma karena Jadi Ajang Pamer
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.












