Selama ini, ada sebuah kepercayaan universal yang diamini oleh masyarakat kita bahwa kalau mau cari makanan enak, ikutilah ke mana PNS makan siang. Logikanya sederhana, PNS dianggap sebagai kelompok manusia yang paling paham titik koordinat makanan enak dengan harga yang tidak menyakiti. Tapi, mohon maaf, teori itu mungkin valid di kota-kota pusat birokrasi. Di Sidoarjo, teori ini agaknya terpatahkan.
Sebagai warga Sidoarjo, kabupaten penyangga yang lebih sering dikenal karena banyaknya pabrik-pabrik dan kemacetan abadi daripada tempat wisatanya, kami punya standar yang jauh lebih epik. Di sini, kasta tertinggi kurasi kuliner tidak ditentukan oleh bapak-bapak dan ibu-ibu berseragam cokelat muda, melainkan oleh ribuan orang yang keluar dari gerbang pabrik dengan jaket seragam dan helm yang masih terpasang, orang-orang waktu bubaran pabrik!
Penilaian rasa yang lebih valid dari Google Review
Sidoarjo adalah hutan beton industri. Dari Waru, Gedangan, Buduran, Lingkar Timur, sampai ke pelosok Krian, pabrik berdiri berjajar penuh sesak. Dari inilah lahir sebuah cara untuk mendeteksi warung makan yang benar-benar “enak” bukan dengan melihat mobil plat merah parkir, tapi dengan melihat sejauh mana trotoar di depan warung itu penuh sesak oleh motor-motor saat jam bubaran pabrik.
Kenapa buruh pabrik adalah kritikus kuliner paling valid? Jawabannya adalah soal ketahanan fisik mereka. PNS mungkin cari tempat yang tenang dan ber-AC agar bisa lanjut rapat dengan nyaman. Tapi buruh pabrik, mereka baru saja berkutat dengan mesin jahit, mesin produksi dan sebagainya selama delapan jam. Kalori mereka ludes. Mereka butuh asupan yang sanggup membangkitkan semangat hidup yang sudah layu.
Kalau mereka rela antre di sebuah warung dalam kondisi lelah lahir batin, berarti rasa makanannya sudah di tahap “bisa menyembuhkan trauma kerja shift”.
BACA JUGA: Saya Warga Sidoarjo, tapi Nggak Pernah Bangga dengan Kota Sendiri
Segitiga makanan : enak, murah, dan porsi pas
Selain rasa, ada faktor audit ekonomi. Buruh pabrik di Sidoarjo adalah manajer keuangan paling disiplin di muka bumi. Bayangkan mereka tahu persis indeks harga nasi bungkus dari radius lima kilometer. Bagi mereka, selisih harga lima ratus perak adalah masalah ideologis yang harus dipertimbangkan betul.
Jadi, kalau ada warung yang diserbu orang-orang bubaran pabrik jam 4 sore, itu artinya warung tersebut sudah lolos audit mereka. Murahnya masuk akal, porsinya manusiawi, dan rasanya nggak main-main. Di tangan mereka, makanan enak adalah hak segala bangsa. Kalau porsinya dikit atau harganya kemahalan, dalam sekejap warung itu akan masuk daftar hitam dalam obrolan di loker pabrik.
Sore jam 4 dan tengah malam jam 12, waktu emas di Sidoarjo
Ada dua jendela waktu keramat di Sidoarjo untuk mendeteksi warung makan enak ini, yakni jam 4 sore dan jam 12 malam. Di saat warga kota lain mungkin sedang bersantai atau sudah tidur, di jalur-jalur maut Sidoarjo seperti arah Bypass Krian atau Sepanjang, dan dari Buduran, Gedangan hingga Waru, kehidupan justru baru dimulai. Inilah saat shift sore dan shift malam bergantian.
Di jam-jam “setan” seperti itu, lidah manusia menjadi sangat jujur. Tidak ada orang yang mau membuang uang untuk makanan hambar saat kepalanya sudah pening karena target produksi. Kalau warung penyetan atau mie ayam dan bakso masih menyala terang dan dikepung motor-motor operasional di tengah malam, itu adalah pertanda bahwa jelas sekali makanan disitu sangat enak.
Mendeteksi warung enak melalui orang bubaran pabrik juga mengajarkan kita soal efisiensi. Di area industri, waktu adalah segalanya. Warung yang ramai buruh pabrik biasanya punya ritme kerja yang gila. Gak ada ceritanya pesanan datang setengah jam kemudian. Di sana, semuanya serba sat-set wat-wet beres!
Ikuti jaket perusahaan di Sidoarjo, maka kamu akan kenyang
Jadi, untuk Anda yang kebetulan sedang tersesat di Sidoarjo atau sedang iseng berkunjung ke Sidoarjo dan lapar melanda, tolong matikan aplikasi review di ponsel Anda. Jangan tanya Google Maps di mana tempat makan dengan rating bintang lima yang interiornya estetik tapi porsinya bikin sedih. Cukup tepikan motor kalian di area dekat pabrik-pabrik besar. Perhatikan jam tangan. Begitu waktu bubaran pabrik dan gelombang jaket perusahaan mulai mengalir, ikuti saja ke mana mereka berhenti.
Jika Anda melihat sebuah warung yang parkiran motornya tumpang tindih sampai ke bahu jalan, segera pesan satu porsi. Percayalah, itu adalah makanan yang sudah dipercaya oleh ribuan orang yang paling jujur dalam menilai rasa. Di Sidoarjo, rasa enak tidak butuh testimoni influencer, cukup pengakuan dari mereka yang baru saja “pulang kerja” dari pabrik.
Satu hal lagi terakhir, teori ini juga berlaku di kawasan-kawasan industrial lain yang banyak pabriknya juga, hahaha!
Penulis: Krisdian Tata Syamwalid
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Kalau Saya Nggak Merantau ke Sidoarjo, Saya Nggak Tahu 3 Sisi Gelap Sidoarjo Ini
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















