Saya curiga, di Indonesia ini rapat bukan alat mengambil keputusan, tapi ritual pengganti doa bersama. Bayangkan kita berkumpul, duduk melingkar, bicara panjang lebar, berharap sesuatu berubah,tanpa benar-benar memutuskan apa pun. Kalau doa itu urusan langit, rapat ini urusan dunia, tapi hasilnya sama-sama misterius, serius, mari kita bedah.
Saya sudah ikut rapat sejak masih mahasiswa. Dari rapat kelas, organisasi, kepanitiaan, sampai yang judulnya “rapat persiapan rapat”. Dan dari semua itu, Saya belajar satu hal penting bahwa yang paling konsisten adalah tidak adanya keputusan.
Biasanya rapat dimulai dengan kalimat sakral, “kita mulai ya, biar nggak lama.” Kalimat ini selalu diucapkan oleh orang yang nanti justru paling banyak bicara. Setelah itu, masuk ke sesi laporan, sambutan, dan sedikit nostalgia tentang rapat sebelumnya yang juga tidak menghasilkan apa-apa. Tapi tidak apa-apa, yang penting suasana kekeluargaan.
Di tengah rapat, semua orang terlihat sangat bijak. Semua setuju bahwa masalah ini kompleks, perlu dikaji, dan tidak bisa diputuskan secara terburu-buru. Kalimat favoritnya: “Ini perlu dipikirkan matang-matang.” Entah sampai matang level apa? medium rare, medium well, atau well done? karena biasanya setelah itu ditutup dengan kesepakatan untuk… rapat lagi, hahaha.
Dalam rapat, tidak ada yang benar-benar mau bertanggung jawab
Satu hal yang paling menarik dari rapat adalah ketiadaan orang yang mau benar-benar bertanggung jawab. Meskipun kadang kala terdapat ketua dalam forum rapat, semua punya pendapat. Tapi begitu masuk ke tahap keputusan, suasana langsung hening. Orang-orang mulai saling lempar pandang, berharap ada yang rela jadi tersangka utama. Ini momen yang sangat menyebalkan menurutku.
Kalau ada yang nekat mengusulkan keputusan, biasanya langsung ditembak dengan kalimat pamungkas: “Takutnya nanti ke depannya gimana.” Kalimat ini sangat ampuh. Tidak spesifik, tapi cukup untuk membunuh keberanian. Karena di Indonesia, masa depan memang sering dipakai sebagai alasan untuk tidak melakukan apa-apa di masa kini, benar kan?
Saya pernah ikut rapat yang membahas satu masalah selama dua jam. Semua sudut pandang sudah dibahas. Semua risiko sudah disebutkan. Segala kemungkinan sudah diprediksi. Tapi ketika selesai, kesimpulannya cuma satu: “Belum ada keputusan.” Yang ada hanya notulen rapi dan foto bersama sambil berpose jempol atau tangan mengepal. Seolah-olah dokumentasi lebih penting daripada hasil
Di mana pun, sama saja!
Lucunya, budaya ini tidak mengenal kelas. Dari kampus sampai kantor, dari RT, karang taruna sampai lembaga resmi, polanya sama. Kita gemar berdiskusi, tapi alergi pada keputusan. Kita suka proses, tapi takut pada konsekuensi. Padahal keputusan itu memang tidak pernah netral pasti selalu ada yang senang, selalu ada yang kecewa. Tapi mungkin itu yang kita hindari.
Di rapat, semua orang ingin aman. Tidak ingin disalahkan, tidak ingin terlihat sok kuasa, tidak ingin namanya disebut kalau nanti ada masalah. Maka keputusan pun diperlakukan seperti barang panas dipindah-pindahkan,dilempar kesana kemari, tapi tidak pernah benar-benar berani ada yang memegang.
Jangan-jangan rapat ini semacam terapi psikologis
Saya lama-lama merasa rapat di Indonesia itu semacam terapi kolektif ala-ala psikologis, serius. Kita datang membawa keresahan, meluapkannya dengan bicara, lalu pulang dengan perasaan lebih lega meski masalahnya tetap ada, yang penting sudah ngomong. Sudah didengar. Soal beres atau tidak, itu urusan pertemuan berikutnya.
Hal yang bikin tambah galau lagi, hal ini sering dijadikan alasan untuk menunda kerja nyata. Kalau ditanya kenapa belum jalan, jawabannya simpel “Masih dibahas di rapat.” Padahal yang dibahas itu-itu lagi, dengan orang yang sama, dan ketakutan yang sama.
Saya jadi berpikir, mungkin kita memang tidak diajarkan mengambil keputusan. Kita diajarkan musyawarah, tapi lupa bahwa musyawarah itu seharusnya berujung pada mufakat bukan pada jadwal pertemuan selanjutnya. Kita terlalu menghormati keharmonisan sampai lupa bahwa konflik kecil kadang perlu agar sesuatu bisa bergerak.
Bukan berarti tidak penting. Hal ini masih perlu. Diskusi perlu. Mendengar banyak suara itu penting. Tapi kalau hanya jadi tempat menunda keberanian, ya buat apa, ini semacam untuk tidak melakukan apa-apa sambil terlihat sibuk.
BACA JUGA: Mempertanyakan Aturan Jam Malam Kalau Lagi Rapat Proker Organisasi
Pasang ekspektasi rendah
Sekarang, setiap kali saya diundang rapat, saya selalu menyiapkan dua hal catatan kecil dan ekspektasi rendah. Bukan karena pesimis, tapi karena pengalaman. Saya datang bukan berharap keputusan besar, tapi berharap selesai tepat waktu, itu saja menurutku cukup.
Sebab kenyatannya memang begini dan ya kalau ada suatu keputusan final pun, menurutku itu adalah keputusan yang tergesa-gesa. Sebab rapat yang serius menurutku cuma di awal untuk menentukan pembentukan kepanitiaan atau struktur dan rapat di akhir yang mbulet dan akhirnya berakhir antiklimaks.
Jadi untuk mengakhiri ini, mungkin di masyarakat yang suka banget rapat tapi nggak suka keputusan ini, yang benar-benar langka bukan ide, melainkan keberanian untuk menanggung akibatnya. Serius, ide-ide banyak tapi nggak ada atau jarang sekali yang mau bertanggung jawab penuh. Dan mungkin, sebelum kita menambah satu rapat lagi, ada baiknya kita belajar satu hal sederhana yakni berani memilih, lalu siap disalahkan.
Kalau tidak, ya kita rapat lagi saja. Minggu depan, jam sepuluh, dengan agenda yang sama.
Penulis: Krisdian Tata Syamwalid
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Rapat Organisasi yang Lama, apalagi sampai Tengah Malam Jelas Bukan Rapat yang Bermutu
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.


















