Pertama, saya perlu menyampaikan disclaimer. Tulisan ini murni uneg-uneg warga kepada Bupati Mojokerto. Tidak ada niat sedikit pun untuk merusak nama baik “Gus”, apalagi menyeret-nyeret pondok pesantren. Jadi mohon jangan digiring ke sana ke mari. Saya justru percaya Gus Barra adalah tipe pemimpin yang mau mendengar keluh kesah masyarakat. Kritik ini saya sampaikan semata-mata karena ingin Mojokerto berkembang jadi daerah yang semakin baik.
Disclaimer ini perlu saya sampaikan di awal, sebab konon banyak pengikut garis kerasnya. Ini bukan saya yang ngomong, tapi warga sekitar sendiri yang menyampaikan. Dari sini sebenarnya sudah terlihat kalau ada kegelisahan yang dipendam, tapi enggan disuarakan secara terbuka.
Ketika warga mulai membandingkan
Saya sering ngobrol dengan warga desa. Dan dari obrolan-obrolan itu, satu hal yang kerap muncul adalah perbandingan dengan kepemimpinan sebelumnya. Memang, kalau dibandingkan dengan Lamongan, kondisi Mojokerto masih bisa dibilang oke. Tapi kalau dibandingkan dengan Bupati Mojokerto sebelumnya, banyak warga merasa ada penurunan, terutama dalam hal infrastruktur jalan.
Ini bukan berarti bupati yang sekarang tidak bekerja sama sekali. Tentu ada juga gebrakan yang dilakukan. Salah satunya pembangunan jembatan yang sempat viral, sampai-sampai warganya menggelar syukuran tepat di atas jembatan yang baru jadi itu. Artinya, ada upaya, ada kerja, dan itu tidak bisa dinafikan begitu saja.
Hanya saja, entah kenapa obrolan warga yang saya dengar sehari-hari lebih sering muncul justru bukan pujian atas proyek baru, melainkan keluhan soal jalan yang rusaknya pelan-pelan makin banyak. Seolah keberhasilan-keberhasilan itu kalah nyaring dibanding bunyi motor yang menghantam lubang. Dan dari situlah pembandingan itu muncul.
Ruas jalan by pass Jampirogo Sooko–Trowulan
Ruas jalan ini memang belum bisa disebut hancur. Tapi justru karena statusnya jalan besar, kerusakan kecil di sana-sini terasa lebih mengkhawatirkan. Lubang-lubang yang awalnya seukuran kepalan tangan pelan-pelan melebar. Tambalan aspal yang tidak rata membuat kendaraan harus mengurangi kecepatan secara tiba-tiba.
Selain itu, ada beberapa lampu penerangan jalan yang tampak miring dan seperti dibiarkan begitu saja. Padahal, ini bahaya betul. Terutama bagi pengguna jalan yang melintas. Yah, jalan besar seharusnya memberi rasa aman, bukan rasa waswas setiap kali kita mlewatinya.
BACA JUGA: Jalan Gempol-Mojokerto, Jalan Paling Berbahaya di Jawa Timur
Jalan Jabon-Bangsal perlu perhatian serius
Untuk ruas Jabon–Bangsal, kondisinya sudah cukup sering jadi bahan obrolan warga Mojokerto karena memang bergelombang dan berlubang. Apalagi ketika hujan turun, situasinya makin rumit. Lubang tertutup genangan, membuat orang sulit memperkirakan kedalaman atau posisi kerusakan.
Risiko kecelakaan tentu meningkat sebab jalan ini bukan jalur sepi. Banyak warga menggantungkan aktivitas harian di sini. Kalau kerusakan dibiarkan terlalu lama, dampaknya bukan cuma soal kenyamanan, tapi juga produktivitas.
Jalan Kecamatan Dawarblandong Mojokerto tak kalah memprihatinkan
Baik Dawar Wetan maupun Dawar Kulon, ceritanya hampir serupa. Lubang muncul di banyak titik dan memaksa pengendara ekstra hati-hati. Khususnya di daerah alasnya. Sebuah kombo maut di mana kondisi alas sepi dan jalan banyak berlubang. Apalagi ketika malam. Sungguh adrenalin sekali.
Ketiga jalan di atas murni berdasarkan jalan yang saya lewati sehari-hari. Bisa jadi di tempat lain kondisinya lebih parah, atau justru lebih baik. Namun ketiga jalan tersebut bagi saya sudah sangat perlu untuk dibenahi.
Pengajian jalan terus, jalan rusak di Mojokerto tak terurus
Banyak warga yang mulai “maido” soal betapa rajinnya Gus Barra menggelar pengajian, tapi di saat yang sama, jalan-jalan rusak seperti kurang mendapat perhatian serius. Perlu saya garis bawahi, ini bukan berarti pengajian tidak penting. Tentu saja penting. Ngaji itu kebutuhan batin. Tapi bukankah seharusnya urusan dunia dan akhirat itu bisa berjalan seimbang?
Bagi yang belum tahu, Gus Barra punya program ngaji bareng Gus Bupati setiap Jumat setelah Subuh. Jamaahnya banyak. Jamaah online-nya bahkan lebih banyak lagi. Dan harus diakui, materi ngajinya bagus. Ngena, jleb, dan mudah dipahami. Beliau memang gus andalan. Namun, Gus Barra bukan hanya gus, tapi juga bupati. Tugas utamanya adalah menjalankan pemerintahan, termasuk memastikan infrastruktur dasar seperti jalan berada dalam kondisi layak.
Terakhir, sebagai orang yang menikah dengan warga Mojokerto dan cukup sering mondar-mandir di daerah ini, saya punya harapan personal sekaligus emosional, yakni semoga Mojokerto bisa lebih baik lagi. Terutama soal infrastruktur jalan yang setiap hari dilewati, dirasakan, dan dikeluhkan. Iya, semoga saja.
Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA 5 Jalan Jahanam di Mojokerto yang Melatih Kesabaran Pengendara Saking Bobroknya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















