Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Mojokerto, Opsi Kota Slow Living yang Namanya Belum Sekencang Malang, tapi Ternyata Banyak Titik Nyamannya

Firda Fortuna Nasich oleh Firda Fortuna Nasich
17 Desember 2025
A A
Mojokerto, Opsi Kota Slow Living yang Namanya Belum Sekencang Malang, tapi Ternyata Banyak Titik Nyamannya

Mojokerto, Opsi Kota Slow Living yang Namanya Belum Sekencang Malang, tapi Ternyata Banyak Titik Nyamannya (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Malang sudah overrated soal slow living. Mending ke Mojokerto aja.

Dalam beberapa tahun terakhir, nama Kota Malang hampir selalu terdengar di telinga saya setiap kali orang-orang sedang bergerombol di laman media sosial membicarakan soal narasi slow living. Malang kerap disebut sebagai kota yang paling pas buat menurunkan ritme hidup bagi siapa saja yang ingin pensiun dengan menghirup udara sejuk tiap hari, tetap bisa nongkrong di kopi kalcer, dan melepaskan pandangan pada hamparan sawah dan kebun yang sering dilihat di kiri kanan.

ADVERTISEMENT

Namun semakin sering kota ini dibicarakan, semakin terasa pula banyak perubahan yang terjadi. Misalnya, beberapa waktu yang lalu saya pernah lewat Jalan Soekarno Hatta Malang. Jalan yang pada tahun 2019 terasa lengang itu kini kerap padat di jam-jam tertentu. Belum lagi banyaknya bangunan villa dan perumahan yang kian menjamur di area perkotaan. Perhalan-lahan fenomena ini menggerus area resapan air dan membuat banjir Malang bukan lagi dongeng belaka.

Di titik itu, saya mulai bertanya dalam hati, di mana lagi kota di Provinsi Jawa Timur yang masih layak dihuni untuk menghabiskan masa tua, tapi namanya jarang terdengar oleh banyak orang? Ingatan saya kemudian jatuh pada Kota Mojokerto yang tak lain adalah tanah kelahiran suami saya.

Mojokerto tidak memaksamu berubah total menjadi manusia udik

Meskipun tampak sepele, adanya transisi budaya dari orang yang awalnya lahir dan besar di tengah hiruk pikuk kota menjadi orang yang tinggal di desa tentu saja tidak membuat semua orang langsung siap. Mulai dari penyesuaian dengan pilihan makanan yang itu-itu saja atau nggak banyak tempat nongkrong kece bisa jadi pemicu seseorang menjadi burn out. Dan Mojokerto cukup bijak soal ini.

Di sini masih banyak menyisakan titik-titik nyaman versi kota besar tapi dengan ritme kehidupan yang pelan. Beberapa gerai makanan cepat saji yang sering ditemui di kota besar nyatanya masih tersisa di sini seperti Solaria, Marugame Udon, hingga Ramen Master. Mungkin terdengar receh, tapi buat orang yang baru saja pindah, hal-hal kecil seperti ini bisa jadi poin utama.

Gaji yang masih masuk akal dan jalanan yang tak pernah menguji kesabaran

Untuk ukuran kabupaten, gaji di Mojokerto masih tergolong kompetitif. Memang nominalnya tidak fantastis, tapi itu semua akan cukup jika ditambah dengan bumbu bersyukur di setiap harinya. Belum lagi kalau ditambah dengan bonus yang sering nggak didapatkan orang yang tinggal di kota-kota besar: pemandangan sawah atau ladang tebu yang masih sering ditemui. Kurang enak apalagi coba.

Kalau soal ritme jalanan, di Mojokerto jarang sekali macet. Jadi, kalau kamu mau berangkat kerja nggak perlu dikalkulasi pakai jadwal commuter line. Pulang kerja juga nggak akan diiringi dengan rasa dendam pada lampu merah. Karena ada beberapa orang pemusik yang masih memukul kolintang untuk menyenandungkan lagu mengusir penatnya hari setelah bekerja.

Baca Juga:

Trotoar Jalan Veteran Malang yang tak suantai sayang: trotoar tidak rata, penuh pkl, macetnya minta ampun!

Berhenti membandingkan Malang dan Surabaya: karakteristiknya beda, kenapa berusaha (terlalu) keras untuk membandingkannya?

Harga makanan masuk kategori waras dan rasanya tetap bintang lima

Kata waras yang saya pakai di sini, bukan sekadar murah, tapi juga nggak bikin pembeli merasa ditipu. Di Mojokerto tidak ada porsi “hemat” yang ujung-ujungnya cuma mengenyangkan perasaan saja. Mie ayam dengan isian lengkap masih bisa kamu temukan seharga Rp7.000. Bahkan di beberapa tempat yang agak nyelempit, ada juga yang menjualnya dengan harga Rp5.000. Meski harganya murah meriah, cita rasanya sungguh ada, toppingnya niat, dan bumbunya juga nggak malu-malu.

Untuk ukuran kota besar, harga segitu mungkin cuma cukup untuk nambah kerupuk atau es teh kalau sedang makan siang di warteg. Itupun es tehnya tanpa gula. Sementara di Mojokerto, uang yang dianggap receh itu masih punya kehormatan dan tidak perlu ada acara negosiasi panjang dengan dompet ataupun rasa bersalah karena mampir jajan dan tidak makan masakan istri di rumah.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Jadi, Mojokerto mungkin bukan kota yang sering disebutkan dalam pembicaraan orang jika menyatut soal slow living. Tapi, justru di situlah letak nyaman dan istimewanya. Entah sampai kapan kondisi ini akan bertahan. Yang pasti, Mojokerto akan selalu menjadi sebuah kota yang tidak menjanjikan apa-apa selain kesempatan untuk mengirup udara sedikit lebih lega.

Penulis: Firda Fortuna Nasich
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Saya Sepakat kalau Mojokerto Dianggap Kota Layak untuk Hidup Bahagia sampai Tua, asalkan…

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 17 Desember 2025 oleh

Tags: kabupaten mojokertoMalangmalang slow livingMojokertoslow living
Firda Fortuna Nasich

Firda Fortuna Nasich

Penulis lepas yang kini tinggal di Mojokerto. Seorang istri yang gemar membaca buku dan menyeruput matcha di sela-sela harinya.

ArtikelTerkait

Jalan Mastrip Jombang, Jalur Utama Jombang-Mojokerto-Surabaya yang Bikin Anda Selangkah Lebih Dekat dengan Maut

Jalan Mastrip Jombang, Jalur Utama Jombang-Mojokerto-Surabaya yang Bikin Anda Selangkah Lebih Dekat dengan Maut

24 Januari 2024
Dinasti Parkir Kota Malang: Tak Hanya Jabatan yang Bisa Diwariskan, Lahan Parkir pun Bisa

Dinasti Parkir Kota Malang: Tak Hanya Jabatan yang Bisa Diwariskan, Lahan Parkir pun Bisa

5 Desember 2023
Rekomendasi Wisata Nol Rupiah di Kota Malang terminal mojok.co

Rekomendasi Wisata Nol Rupiah di Kota Malang

2 Desember 2020
Nestapa Perantau di Kota Malang, Tiap Hari Cemas karena Banjir yang Kian Ganas Mojok.co

Nestapa Perantau di Kota Malang, Tiap Hari Cemas karena Banjir yang Kian Ganas

13 Desember 2025
Slow Living di Magelang Adalah Keputusan Orang Kota yang Paling Bijak Mojok.co magetan

Slow Living di Magelang Adalah Keputusan Orang Kota yang Paling Bijak

17 April 2026
Srumbung, Daerah Underrated di Kabupaten Magelang yang Cocok untuk Pencinta Slow Living

Srumbung, Daerah Underrated di Kabupaten Magelang yang Cocok untuk Pencinta Slow Living

19 September 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Menjadi Tutor Bahasa Inggris untuk Anak TK dan SD Membuat Saya Sadar, "Hello" Jauh Lebih Penting daripada "Open Your Book"

Menjadi Tutor Bahasa Inggris untuk Anak TK dan SD Membuat Saya Sadar, “Hello” Jauh Lebih Penting daripada “Open Your Book”

7 Juli 2026
Setelah Perpusda Bangkalan Madura Punya Gedung Baru, Saya Kira Semua akan Berubah, Ternyata Tidak Terminal

Setelah Perpusda Bangkalan Madura Punya Gedung Baru, Saya Kira Semua akan Berubah, Ternyata Tidak

6 Juli 2026
Pengalaman Menjadi Penulis Novel Online Lebih dari 3 Tahun: Kalah sama Cerita Panas, Karier Jalan di Tempat

Pengalaman Menjadi Penulis Novel Online Lebih dari 3 Tahun: Kalah sama Cerita Panas, Karier Jalan di Tempat

9 Juli 2026
3 Minuman Tegal yang Aman untuk Lidah Orang Semarang yang Nggak Suka Kuliner Menantang Mojok.co

3 Minuman Tegal yang Aman untuk Lidah Orang Semarang yang Nggak Suka Kuliner Menantang

5 Juli 2026
Culture Shock Warga Cepu Pindah ke Malang, Banyak Orang Ngomong Kebolak-balik dan “Kasar” Mojok.co Surabaya

Malang Memang Sekarang Panas, tapi Tetap Lebih Nyaman daripada Merantau di Surabaya 

8 Juli 2026
3 alasan yang membuat saya nggak ikhlas kalau Jaklingko harus berbayar, sebaiknya benahi hal-hal ini dahulu Mojok.co

3 alasan yang membuat saya nggak ikhlas kalau JakLingko harus berbayar, sebaiknya benahi hal-hal ini dahulu

11 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.