Suzuki Aerio adalah salah satu model hatchback/compact car dari pabrikan otomotif Jepang, Suzuki Motor Corporation. Mobil ini diperkenalkan pertama kali ke publik pada tahun 2001 sebagai penerus dari model Suzuki sebelumnya seperti Baleno/Esteem atau Forza dalam beberapa pasar. Di Eropa, beberapa versi Aerio juga dikenal dengan nama Suzuki Liana, baik sebagai hatchback lima pintu maupun dalam bentuk sedan kompak.
Di Indonesia sendiri, Aerio mulai hadir pada 2002. Awalnya mobil ini diimpor dalam bentuk Completely Built Up (CBU), kemudian pada tahun berikutnya mulai dirakit secara lokal (Completely Knock Down/CKD) untuk membuat harganya lebih kompetitif di pasar domestik.
Suzuki Aerio diposisikan sebagai compact hatchback yang menawarkan ruang kabin luas, kenyamanan relatif baik untuk ukuran mobil kecil, serta mesin yang dikenal cukup irit bahan bakar. Karena desainnya yang unik dan fleksibel, Aerio berhasil menarik perhatian konsumen yang menginginkan mobil keluarga kecil atau mobil sehari-hari yang praktis serta mudah perawatannya.
Akan tetapi produksi Suzuki Aerio akhirnya dihentikan pada pertengahan dekade sekitar 2007, mengikuti perubahan strategi Suzuki dalam lini mobil penumpangnya.
Baca juga: Mobil Suzuki Bukan Terkesan Murahan, tapi Ia Adalah Mobil yang Rendah Hati.
Desain dan dimensi Suzuki Aerio
Suzuki Aerio memiliki tampilan eksterior yang cukup khas di masanya. Tidak sporty, tapi memiliki desain yang fungsional. Seperti yang saya katakan sebelumnya, Aerio termasuk compact hatchback dengan dimensi yang tidak besar sehingga nyaman dipakai di lingkungan perkotaan. Poin plus lainnya adalah kabinnya cukup lapang.
Aerio 2002 memiliki dimensi Panjang x Lebar x Tinggi: 4.230 mm x 1.690 mm x 1.550 mm. Sementara wheelbase (jarak sumbu roda): 2.480 mm. Hal ini menunjukkan bahwa mobil ini menawarkan ruang kabin dan bagasi yang cukup kompetitif untuk mobil di kelasnya.
Jangan remehkan performanya
Salah satu aspek yang membuat Suzuki Aerio tetap dicari hingga kini adalah mesin yang andal dan efisien. Versi yang paling umum ditemui di Indonesia menggunakan mesin 1.5 liter dengan kode mesin M15A, 4-silinder segaris, 16 katup dengan teknologi DOHC dan VVT. Mesin ini dikenal cukup responsif untuk penggunaan harian serta relatif hemat bahan bakar.
Ada dua opsi transmisi mobil ini yang bisa kita pilih, yakni manual 5-percepatan atau otomatis 4-percepatan. Mesin Aerio juga dipadukan dengan suspensi depan dan belakang sehingga nyaman untuk berkendara di berbagai kondisi jalan.
Interior biasa aja, tapi lega
Seperti yang saya katakan berulang kali sebelumnya, kabin Aerio dirancang cukup luas dengan ruang kepala yang lega. Hal ini membuat penumpang dewasa seperti saya merasa nyaman, bahkan saat mobil terisi penuh sekalipun. Kursi belakang bisa dilipat untuk menambah ruang bagasi jika diperlukan.
Meski mobil lawas, Suzuki Aerio dilengkapi fitur-fitur kenyamanan yang relatif lengkap untuk zamannya. Misalnya ada AC/pengatur suhu udara, power windows, kunci pintu sentral, audio system dengan CD/MP3 player dan speaker, hingga defroster jendela belakang. Keren betul, kan.
Fitur-fitur ini membuat pengalaman saya berkendara dengan Aerio cukup menyenangkan walau dibandingkan dengan mengemudikan LCGC.
Sementara itu dari sisi keselamatan, pada dasarnya mobil besutan Suzuki ini sudah menyediakan fitur dasar. Misalnya sabuk pengaman untuk semua penumpang dan rem ABS (ada di beberapa varian). Tetapi fitur keselamatan lanjutan seperti airbag ganda (driver dan passenger), sensor parkir, atau sistem keselamatan modern lainnya umumnya tidak tersedia di model-model awal yang dijual di Indonesia.
Kelebihan dan kekurangan Suzuki Aerio yang perlu jadi bahan pertimbangan
Harga bekas Aerio yang sangat terjangkau membuat mobil ini ideal menjadi mobil pertama. Atau kalau kalian cari city car dengan budget terbatas, boleh cek Aerio. Menurut saya mobil ini cukup irit BBM, kok. Perawatannya juga relatif mudah dan murah. Yah, khas mobil Suzuki lah. Soalnya suku cadangnya masih relatif mudah ditemukan di pasaran.
Kekurangan Suzuki Aerio menurut saya pribadi ada di peredaman kabin. Entah kenapa tiap naik mobil ini, suara dari luar cenderung masuk ke dalam kabin. Selain itu, desain eksteriornya sudah ketinggalan zaman jika dibandingkan dengan era sekarang. Tapi kalau yang ini bisa dimaklumi ya, karena kan mobil ini memang diluncurkan tahun 2000-an awal.
Nah, lantaran Aerio sudah berhenti diproduksi sejak lama, semua unit yang tersedia di pasar Indonesia saat ini adalah mobil bekas. Harganya tentu sangat bervariasi tergantung tahun produksi, kondisi mesin dan bodi, serta kelengkapan surat-suratan. Umumnya harga Aerio bekas di Indonesia mulai dari Rp60 jutaan untuk kondisi standar. Tapi ada juga yang dihargai Rp80-100 jutaan untuk unit yang masih terawat, kilometer rendah, dll.
Layak dipinang?
Menurut saya, Suzuki Aerio bisa jadi pilihan menarik di kelas mobil bekas. Selain karena harganya yang terjangkau, mobil ini juga mudah dirawat. Memang ada keterbatasan pada fitur keselamatan modern dan desainnya sedikit ketinggalan zaman, tapi mobil ini cukup oke kok buat jadi kendaraan sehari-hari. Biaya perawatannya juga nggak mahal.
Saran saya sih jika kalian ingin membeli Aerio sebagai mobil pertama atau kendaraan harian alih-alih LCGC, pastikan untuk mengecek kondisi unit secara menyeluruh. Pokoknya mesin, transmisi, kelistrikan, dll., jangan sampai luput. Soalnya berdasarkan pengalaman saya, kondisi mobil lawas sangat dipengaruhi oleh bagaimana pemilik sebelumnya merawatnya.
Penulis: Budi
Editor: Intan Ekapratiwi
BACA JUGA Suzuki Karimun Wagon R Boleh Mati, tapi Ia Mati Terhormat.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.


















