Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Harga Nuthuk di Jogja Saat Liburan Bukan Hanya Milik Wisatawan, Warga Lokal pun Kena Getahnya

Janu Wisnanto oleh Janu Wisnanto
21 Desember 2025
A A
Harga Nuthuk di Jogja Saat Liburan Bukan Hanya Milik Wisatawan, Warga Lokal pun Kena Getahnya

Harga Nuthuk di Jogja Saat Liburan Bukan Hanya Milik Wisatawan, Warga Lokal pun Kena Getahnya (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Setiap musim liburan, Jogja selalu punya dua wajah. Yang pertama ramah, sibuk, penuh plat nomor luar kota, dan kamera ponsel yang selalu siap merekam. Yang kedua, wajah yang jarang dibahas, wajah warga lokal yang pelan-pelan belajar menelan mahal di kotanya sendiri.

Saya tidak sedang bercerita soal turis yang kaget lihat nota makan. Itu cerita lama. Sebaliknya, ini cerita yang lebih sunyi ketika harga “wisata” tidak berhenti di wisatawan, tapi ikut nyasar ke piring orang lokal.

Pengalaman warga lokal Jogja makan di Malioboro

Suatu malam di sekitaran Malioboro, saya mampir ke salah satu lesehan yang namanya cukup terkenal. Tidak sedang ingin yang aneh-aneh. Dua porsi nasi, lauk ayam standar, dan dua es teh. Tidak ada embel-embel menu spesial, tidak ada tambahan topping, tidak ada upgrade rasa.

Makanannya ya… begitu. Sama saja seperti lesehan lain di Jogja. Tidak lebih enak, tidak lebih buruk. Biasa.

Ketika bayar, totalnya Rp55 ribu. Saya diam sebentar. Bukan karena tidak mampu, tapi karena refleks menghitung. Dengan menu yang sama, bahkan es teh yang rasanya lebih niat, di lesehan lain saya biasa keluar Rp35 ribu. Selisih dua puluh ribu untuk pengalaman rasa yang sama. Bedanya cuma satu: lokasi.

Belum selesai di situ. Motor diparkir, keluar uang lagi Rp5 ribu. Bukan mobil. Motor. Lima ribu. Rasanya bukan boncos secara ekonomi, tapi boncos secara perasaan. Ada sesuatu yang mengganjal, semacam perasaan “Lho, ini kota saya, tapi kok saya rasanya seperti tamu?”

Biasanya wisatawan yang mengeluh

Biasanya, keluhan soal harga nuthuk di Jogja selalu diarahkan ke wisatawan. Narasinya rapi, turis datang, harga naik, turis protes. Selesai. Tapi pengalaman seperti ini menunjukkan satu hal penting yang jarang dibicarakan bahwa harga wisata tidak hidup di ruang hampa. Ia menetes, menyebar, menular.

Jogja bukan kota dengan zona wisata yang steril. Malioboro bukan ruang tertutup yang bisa dihindari sepenuhnya oleh warga lokal. Banyak orang lewat situ bukan untuk jalan-jalan, tapi karena kerja, janjian, atau sekadar ingin makan cepat tanpa mikir jauh.

Baca Juga:

5 Masjid Unik Jogja yang Patut Dikunjungi biar Nggak ke Masjid Jogokariyan Melulu

Ironi Kos Eksklusif di Jogja, Tembok Tinggi Penanda Status Sosial di Kota yang Katanya Murah Meriah  

Lesehan itu, secara sejarah dan imaji, adalah ruang rakyat. Tempat makan sederhana, terbuka, dan membumi. Tapi belakangan, yang membumi tinggal konsepnya. Harganya sudah terbang.

Yang menarik, rasa makanan di situ tidak berubah. Tidak lebih istimewa. Tidak ada diferensiasi kualitas yang bisa membenarkan lonjakan harga. Ini penting dicatat. Masalahnya bukan “harga naik karena kualitas naik”. Masalahnya adalah harga naik karena asumsi pembeli siap membayar lebih.

Dan asumsi itu tidak lagi selektif. Tidak peduli pembelinya turis, warga, atau mahasiswa. Semua disamaratakan sebagai dompet yang bisa ditekan sedikit lagi.

Standar mahal Jogja lama-lama terasa normal

Sering ada argumen defensif “Ya jangan makan di situ.” Secara logika, benar. Tapi argumen itu juga menyingkirkan konteks hidup. Tidak semua orang makan karena ingin kulineran. Kadang karena capek, lapar, dan kebetulan lewat. Kadang karena tempat lain tutup. Atau kadang karena janji bertemu orang di area itu. Hidup tidak selalu seefisien saran netizen.

Yang lebih problematis, standar mahal lama-lama terasa normal. Parkir motor lima ribu jadi “ya sudah lah”. Es teh belasan ribu jadi “memang begitu di Malioboro”. Lama-lama, warga lokal Jogja ikut menyesuaikan ekspektasi. Bukan karena setuju, tapi karena tidak punya banyak pilihan. Di titik itu, harga wisata berubah jadi harga hidup.

Jogja istimewa, katanya

Tulisan ini bukan ajakan menyalahkan satu pihak. Pedagang ingin untung, itu wajar. Parkir ingin dapat rezeki, juga wajar. Wisatawan datang membawa uang, itu fakta. Bahkan kita yang tinggal di Jogja juga ikut menikmati ramainya kota ini entah dari kerja, relasi, atau sekadar rasa bangga karena kota kita selalu jadi tujuan.

Tapi justru karena itu, pertanyaannya perlu digeser, sampai kapan Jogja hanya ramah pada yang datang, tapi menuntut warganya untuk terus mengalah?

Harga nuthuk bukan sekadar soal mahal. Ia soal batas yang kabur antara kota untuk dikunjungi dan kota untuk ditinggali. Ketika lesehan rasa biasa dihargai luar biasa, dan parkir motor diperlakukan seperti parkir premium, yang hilang bukan uang melainkan rasa memiliki.

Jogja tetap istimewa, kata orang. Tapi keistimewaan seharusnya tidak membuat warganya merasa jadi orang luar di rumah sendiri.

Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Jogja Itu Emang Romantis, tapi buat Pendatang dan Turis Aja.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 20 Desember 2025 oleh

Tags: harga nuthukJogjaMalioboropariwisata jogjatempat wisata jogjawisata jogjawisatawan
Janu Wisnanto

Janu Wisnanto

Mahasiswa semester akhir Universitas Ahmad Dahlan, jurusan Sastra Indonesia. Pemuda asli Sleman. Penulis masalah sosial di Daerah Istimewa Yogyakarta.

ArtikelTerkait

Nasib Pejalan Kaki di Jogja Begitu Menyedihkan, Dipaksa Bertarung Melawan para Perampok Trotoar

Nasib Pejalan Kaki di Jogja Begitu Menyedihkan, Dipaksa Bertarung Melawan para Perampok Trotoar

1 Desember 2024
Apa Benar Turis Indonesia Malu-Maluin Terminal Mojok

Katanya Turis Indonesia Malu-maluin, Apa Benar Gitu?

17 Desember 2020
KKN di Kota Jogja Ternyata Nggak Mudah, Nggak Semua Mahasiswa Mampu. Mending Pikir Ulang Sebelum Terjun ke Sana  Mojok.co

KKN di Kota Jogja Nggak Mudah, Nggak Semua Mahasiswa Mampu. Mending Pikir Ulang Sebelum Terjun ke Sana 

23 Mei 2024
KA Gajahwong, Kereta Kelas Eksekutif Rute Jakarta-Jogja Termurah yang Nggak Murahan

KA Gajahwong, Kereta Kelas Eksekutif Rute Jakarta-Jogja Termurah yang Nggak Murahan

29 Agustus 2024
Hujan di Jogja Memang Romantis, kecuali bagi Penduduk Bantaran Kali Gajahwong Jogja yang Berkawan (Kelewat) Akrab dengan Banjir

Kali Gajah Wong: Bakal Ambrol di Beberapa Titik, Penyelamat Kota Jogja dari Ancaman Bencana Banjir Ini Kondisinya Semakin Merana

10 Februari 2024
memborong rumah perumahan banguntapan mojok

Seperti Angkringan di Jogja, Mari Romantisasi Perumahan di Banguntapan

19 Agustus 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Makanan di Jawa Memang Terkenal Manis, tapi Kenapa Sambelnya Ikutan Manis?

Makanan di Jawa Memang Terkenal Manis, tapi Kenapa Sambelnya Ikutan Manis?

20 Februari 2026
Alas Purwo Banyuwangi Itu Nggak Semenyeramkan Itu kok, Kalian Aja yang Lebay alas roban

Alas Roban Terkenal Angker, tapi Alas Purwo Lebih Misterius dan Mencekam

19 Februari 2026
Turunan Muria: Jalur Tengkorak yang Semua Orang Tahu, tapi Seolah Dibiarkan Merenggut Korban

Turunan Muria: Jalur Tengkorak yang Semua Orang Tahu, tapi Seolah Dibiarkan Merenggut Korban

19 Februari 2026
5 Kasta Sirup Indomaret Paling Segar yang Cocok Disuguhkan Saat Lebaran Mojok.co rekomendasi sirup

Urutan Sirup dengan Gula Tertinggi hingga Terendah, Pahami agar Jangan Sampai Puasamu Banjir Gula!

15 Februari 2026
Honda Spacy: “Produk Gagal” Honda yang Kini Justru Diburu Anak Muda

Honda Spacy: “Produk Gagal” Honda yang Kini Justru Diburu Anak Muda

19 Februari 2026
7 Istilah Dingin dalam Bahasa Jawa, Mulai dari Adem sampai Sembribit Mojok.co

7 Istilah Dingin dalam Bahasa Jawa, Mulai dari Adem sampai Sembribit

14 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Mall Kokas, Tempat Paling Membingungkan di Jakarta Selatan: Bikin Pekerja “Mati” di Jalan, tapi Diminati karena Bisa Cicipi Gaya Hidup Elite
  • Mobil Pribadi Pilihan Terbaik Buat Mudik Membelah Jawa: Pesawat Terlalu Mahal, Sementara Tiket Kereta Api Ludes Dibeli “Pejuang War” KAI Access
  • Pemilik Kos di Jogja Muak dengan Tingkah Mahasiswa Jakarta: Tak Tahu Diri dan Ganggu Banget, Ditegur Malah Serba Salah
  • Niat Daftar LPDP Berujung Kena Mental, Malah Diserang Personal oleh Pewawancara dan Tak Diberi Kesempatan Bicara
  • Mie Ayam Surabaya Buatan Pak Man, Tempat Saya “Berobat” setelah Lelah di Perantauan meski Pedagangnya Tak Ramah
  • Kuliah di Austria Bikin Kena Mental: Sistem Pendidikannya Maju, tapi Warganya “Ketus” dan Rasis

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.