Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Ragam Cara Orang Jawa Mewartakan Orang Meninggal dan Nilai Sufisme di Dalamnya

Aly Reza oleh Aly Reza
21 April 2020
A A
mewartakan orang meninggal
Share on FacebookShare on Twitter

Bahasa Jawa, seperti yang kita tahu, memiliki corak yang unik sekaligus luas. Bahasa Jawa sebagai media komunikasi telah mengatur sedemikian rupa kaidah berbahasa yang sudah disesuaikan dengan objek atau lawan bicara. Seperti misalnya dalam komunikasi sehari-hari, ada beberapa klasifikasi yang mengatur bagaimana baiknya kita bicara dengan sesama, yang lebih tua, atau bahkan yang lebih muda sekalipun.

Antara lain, ngoko digunakan untuk ngobrol dengan sesama, minimal terhadap orang dengan usia sepantaran. Atau bisa juga diterapkan kepada yang jauh lebih muda. Sementara untuk yang lebih tua dan dihormati, baiknya menggunakan krama inggil (halus) meski boleh juga dengan krama madya (campuran antara ngoko dan inggil). Urusan bahasa memang diperhatikan betul dalam kehidupan masyarakat Jawa. Hal tersebut nggak lepas dari kultur masyarakat Jawa yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur seperti subasita (tahu diri), empan papan (tahu tempat), unggah-ungguh dan tata krama (sopan santun).

Sekarang coba bayangkan, seandainya bahasa Jawa tidak memiliki struktur bahasa yang sedetail itu. Bisa dipastikan bakal timbul kerancuan demi kerancuan di masyarakat. Misalnya, kalau menyapa yang lebih tua kan seharusnya menggunkan krama inggil. Lalu kalau justru salah menerapkan yang ngoko, maka pola pembicaraan jadi terlihat bias dan aneh. Dirasakan di hati kok ya nggak srek..

Contoh konkretnya, kalau kita hendak menyapa Pak Modin maka kata yang pas adalah penjenengan (kamu). Sedangkan kalau sama temen sendiri, sapaan kowe (kamu) sudah lebih dari cukup. Bayangkan seandainya polanya dibalik, atau nggak ada krama inggil sama sekali. Memanggil Pak Modin yang secara derajat lebih terhormat dengan kowe rasanya cukup ganjil. Seolah nggak ada bedanya antara Pak Modin dengan kapasitas ilmu agamanya yang otoritatif sama temen sebaya kita yang kalau subuh saja dicampur dluha. Meski sama-sama berarti ‘kamu’, tapi secara rasa sapaan panjenengan jauh lebih enak diucap dan didengarkan. Lebih jauh, kata panjengan beraksen lebih halus dan lebih sopan.

Kalau kata KH. Ahmad Mustofa Bisri a.k.a Gus Mus, yang begini ini namanya ilmu malakah. Yakni menimbang baik/tidaknya ucapan dengan mengandalkan daya rasa dan kepekaan telinga, “Kalau pas, berarti ya apik” begitu tutur blio dalam banyak kesempatan. Sebab bagaimanapun, rasa adalah satu dari tiga aspek pembangun suatu kebudayaan; cipta, karsa, dan rasa. Dan dalam teori kebudayaan, bahasa merupakan salah satu unsur yang terkandung di dalamnya, Untuk itu, bahasa dan rasa ini nggak bisa dipisahin, dong. Ibarat Bang Haji Rhoma dengan tagline ‘terlalu’-nya.

Termasuk dalam urusan mewartakan orang meninggal, tata cara beretorika dalam bahasa Jawa pun harus sangat diperhatikan. Sudah menjadi keharusan—utamanya bagi masyarakat yang tinggal di perkampungan—setiap ada yang meninggal maka harus diwartakan baik dalam bentuk verbal maupun papan tertulis. Dalam konteks sosio-linguistik masyarakat Jawa, ungkapan ‘meninggal’ memiliki beberapa anonim yang cukup halus dan enak didengar. Saya akan menguraikannya dengan sampel desa saya sendiri, antara lain:

Satu: Sampun Wangsul

Sampun wangsul menjadi ungkapan yang paling halus dan paling sering digunakan dalam mewartakan orang meninggal di desa saya. Sampun wangsul sendiri  berarti sudah pulang. Biasanya seorang pewarta yang mengumukan dari corong masjid akan berucap, “Innalillahi dst. Bilih wonten saat menika, sederek kita atas nami bapak “ini” sampun wangsul ngarsa dalem Allah Swt.” Terjemah bebasnya: Innalillahi dst. Bahwa pada saat ini, saudara kita atas nama bapak “ini” sudah berpulang ke haribaan Allah Swt.

Selain mewartakan orang meninggal, sebutan ini juga mengandung ajaran tasawuf mengenai hakikat keberadaan manusia. Manusia hidup di dunia ini nggak lebih dari bertamasya atau berkunjung. Dunia bukanlah tempat tinggal, dunia bukan rumah, melainkan hanya persinggahan sementara. Atau dalam pribahasa Jawa, urip mung mampir ngombe (hidup cuma mampir minum).

Baca Juga:

Banyuwangi Horor, Kebohongan yang Sempat Dipercaya Banyak Orang

Dear Aktor Ibu Kota, Tidak Semua Dialog Bahasa Jawa Harus Berakhiran O seperti “Kulo Meminto”

Dan sebagaimana mestinya orang singgah, pastilah nggak bisa lama-lama. Cepat-atau lambat dia harus segera pulang ke tempat asalnya. Dalam konteks orang meninggal, rumah sebenar-benarnya adalah Allah Swt. Kita berangkat dari-Nya, harus pulang juga kepada-Nya. Itulah kenapa ungkapan sampun wangsul dirasa lebih cocok, bukan sampun kesah/lunga (sudah berangkat/pergi). Sebab pada hakikatnya orang yang meninggal itu bukan pergi, tapi kembali. Sudah sangat sesuai dengan kalimat istirja (innalillahi dst) yang memiliki arti kurang lebih; Sesungguhnya kita milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.

Dua: Sampun Nilarake(n)

Nilarake(n) asal katanya adalah tilar yang artinya tinggal. Nilarake(n) diartikan dengan meninggalkan. Umumnya pewarta di desa saya akan berucap, “Innalillahi dst. Bilih wonten wekdal menika sederek kita ingkang asma ibu “ini” sampun nilarake(n) kita sedaya.” Terjemah bebasnya: Innalillahi dst. Bahwa sekarang ini, saudara kita yang bernama ibu “ini” sudah meninggalkan kita semua.

Konteks bahasa yang dihadirkan dalam ungkapan nilarake(n) atau meninggalkan merupakan bentuk pengakuan yang jujur tanpa ada tendensi teologis. Karena faktanya orang yang meninggal memang sudah meninggalkan kita semua. Atau jika menggunakan pendekatan tasawuf, maka ungkapan tersebut bisa saja bermaksud: Seseorang yang meninggal sejatinya memang pulang ke hadirat Allah Swt, sekaligus juga meninggalkan segala kepemilikannya selama di dunia.

Harta, pangkat, jabatan, anak, istri, dan segala gemerlap dunia nggak ada satu pun yang dia bawa. Semuanya harus ditinggalkan. Kalau orang-orang Jawa sering bilang, “Manungsa lahir gak gawa apa-apa, mati ya gak gawa apa-apa” (Manusia lahir nggak bawa apa-apa, mati juga nggak bawa apa-apa). Ungkapan tersebut seolah menegaskan, lalu apa yang hendak kita banggakan, kalau pada hakikatnya semua yang kita kejar dan miliki hanyalah sesuatu yang fana belaka?

Tiga: Sampun Katimbalan

Akar kata dari katimbalan adalah timbal yang artinya panggil. Maksud katimbalan adalah dipanggil. Maka Sampun katimbalan di sini bisa diartikan, sudah memenuhi panggilan. Meski maknanya cukup bagus, namun ungkapan ini amat jarang digunakan oleh pewarta di desa saya. Pewarta biasanya akan bertutur, “Innalillahi dst. Bilih wekdal dalu menika sederek panjenengan sami ingkang asma mbah “ini” sampun katimbalan dening ngarsa dalam Allah Swt.”  Terjemah bebasnya: Innalillahi dst. Bahwa malam ini, saudara kalian semua yang bernama mbah “ini” sudah memenuhi panggilan Allah Swt.

Saya pribadi cenderung lebih srek dengan ungkapan yang satu ini. Selain enak didengar dan dilafalkan, katimbalan juga memiliki makna yang nggak kalah sufistik. Ungkapan ini sangat cocok dengan pepatah Jawa yang berbunyi, “Sejatine urip mung antri mati” (Sejatinya hidup hanya antre mati). Orang-orang sepuh di desa saya memudahkannya dengan pribahasa lain yaitu, “Urip iku mung nunggu timbalan saking Gusti” (Hidup itu cuma menunggu panggilan dari Tuhan). Atau jika merujuk apa kata Sabrang Mowo Damar Panuluh a.k.a Noe Letto, hidup ini hanya soal bagaimana mengisi waktu luang untuk menyongsong kematian. Hidup untuk mati, sederhananya seperti itu. Dari sini saya sendiri bisa memetik hikmah, betapa orang Jawa sudah menanamkan betul kesadaran dalam jiwanya, bahwa manusia di dunia ini nggak lama. Semua menunggu antrean, menunggu giliran dipanggil satu per satu oleh Sang Pemilik Kehidupan.

Sampun Kapundut

Dari tiga ungkapan yang sudah dibahas, yang terkahir ini bisa dibilang paling kasar dan hampir nggak pernah digunakan untuk mewartakan orang meninggal. Dari segi pengucapan saja sudah nggak enak dan nggak pas juga di telinga. Contohnya, “Innalillahi dst. Bilih wonten enjang menika sederek panjenengan sekalian ingkang nami mbak “ini” sampun kapundut.” Terjemah bebas: Innalillahi dst. Bahwa pagi ini saudara kalian sekalian atas nama mbak “ini” sudah diambil. Kapundut asal katanya adalah pundut (ambil). Maka kapundut bisa diartikan dengan diambil.

Meski begitu, penyebutan kata ini tetap memiliki nilai sufisme yang nggak kalah bagus dengan tiga istilah sebelumnya. Maksud ‘diambil’ mepet-mepet dengan arti kalimat istirja secara harfiah, Orang Jawa biasa menyebutnya dengan, “Ibarate nyawa mung silihan” (Ibaratnya nyawa hanya pinjaman). Secara hakikat, nyawa kita, hidup kita, hanyalah pinjaman dari Allah Swt. Dan Dia sebagai pemilik resminya berhak mengambil kepemilikannya kapan saja sekehendak yang Dia mau.

Secara lebih lebar bisa kita ambil kesimpulan, bahasa Jawa merupakan bahasa yang sangat puitis sekaligus sufistis. Di mana dalam berbahasa atau berkomunikasi, keindahan retoris saja nggak cukup. Orang Jawa merasa perlu untuk menyisipkan nilai-nilai luhur mengenai ajaran tentang hakikat kehidupan dalam setiap pilihan kata. Walhasil, selain berbahasa dengan baik, kita juga bisa belajar ilmu hakikat, termasuk di antaranya adalah hakikat tentang diri sendiri.

BACA JUGA Hierarki Penyebutan Orang Meninggal dalam Bahasa Jawa dan tulisan Aly Reza lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 21 April 2020 oleh

Tags: Bahasa Jawamasyarakat jawaorang jawaorang mininggal
Aly Reza

Aly Reza

Muchamad Aly Reza, kelahiran Rembang, Jawa Tengah. Penulis lepas. Bisa disapa di IG: aly_reza16 atau Email: [email protected]

ArtikelTerkait

Dear Aktor Ibu Kota, Tidak Semua Dialog Bahasa Jawa Harus Berakhiran O seperti “Kulo Meminto” Mojok.co

Dear Aktor Ibu Kota, Tidak Semua Dialog Bahasa Jawa Harus Berakhiran O seperti “Kulo Meminto”

25 Januari 2026
Kalio Disangka Rendang Adalah “Dosa” Terbesar Orang Jawa di Rumah Makan Padang Mojok.co

Kalio Disangka Rendang Adalah “Dosa” Terbesar Orang Jawa di Rumah Makan Padang

8 Desember 2025
Medok Sebagai Identitas Bahasa Ibu, Bukan untuk Diremehkan MOJOK.CO

Medok Sebagai Identitas Bahasa Ibu, Bukan untuk Diremehkan

17 Juli 2020
Serba Salah Orang Jawa yang Lahir dan Besar di Sumatra: Mengaku Jawa Ribet, Mengaku Sumatra Nggak Dipercaya

Serba Salah Orang Jawa yang Lahir dan Besar di Sumatra: Mengaku Jawa Ribet, Mengaku Sumatra Nggak Dipercaya

25 Juli 2025
Mengenal Malam Satu Suro, Malam yang Terkenal Mistis bagi Orang Jawa Mojok.co

Kemistisan Malam Satu Suro Ditakuti Orang Jawa, Tidak Boleh Berpesta hingga Perlu Melakukan Ritual

26 Juni 2025
Culture Shock Orang Jogja Saat Mendengar Bahasa Jawa Orang Gresik

Culture Shock Orang Jogja Saat Mendengar Bahasa Jawa Orang Gresik

3 Maret 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Panduan Bertahan Hidup Warga Lokal Jogja agar Tetap Waras dari Invasi 7 Juta Wisatawan

Jogja Memang Santai, tapi Diam-diam Banyak Warganya yang Capek karena Dipaksa Santai meski Hampir Gila

2 Februari 2026
5 Menu Seasonal Indomaret Point Coffee yang Harusnya Jadi Menu Tetap, Bukan Cuma Datang dan Hilang seperti Mantan

Tips Hemat Ngopi di Point Coffee, biar Bisa Beli Rumah kayak Kata Netijen

3 Februari 2026
Es Teh Jumbo Cuan, tapi Jualan Gorengan Bikin Saya Bisa Kuliah (Unsplash)

Bisnis Kecil Seperti Gorengan dan Es Teh Jumbo Dipandang Remeh Nggak Bakal Cuan, Padahal Berkat Jualan Gorengan Saya Bisa Kuliah

2 Februari 2026
Pandawa Water World Sempat Jadi Destinasi Wisata Primadona Solo Baru Sebelum Mangkrak seperti Sekarang Mojok.co

Pandawa Water World Sempat Jadi Destinasi Wisata Primadona Sukoharjo sebelum Mangkrak seperti Sekarang

30 Januari 2026
Honda CRF, Motor Sok Gagah dan Menyebalkan yang Semoga Saja Segera Lenyap dari Jalanan Mojok.co

Honda CRF, Motor Sok Gagah dan Menyebalkan yang Semoga Saja Segera Lenyap dari Jalanan

1 Februari 2026
7 Kebiasaan Orang Kebumen yang Terlihat Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warga Lokal Mojok.co

6 Mitos di Kebumen yang Nggak Bisa Dibilang Hoaks Begitu Saja

3 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers
  • Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif
  • Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign
  • Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia
  • Film “Surat untuk Masa Mudaku”: Realitas Kehidupan Anak Panti dan Lansia yang Kesepian tapi Saling Mengasihi
  • Lulusan Sarjana Nekat Jadi Pengasuh Anak karena Susah Dapat Kerja, Kini Malah Dapat Upah 450 Ribu per Jam

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.